Masa Lalu

1504 Kata
Elang merasakan sakit yang luar biasa, saat mengetahui jika adik yang selama ini ia sayangi ternyata bukanlah adik kandungnya. Bahkan tidak punya aliran darah, rasa kecewanya makin menjadi saat Arum, meminta izin menikahi lelaki itu. Saat ini udara terasa begitu dingin. Semilir angin halus menerpa pipi Arum, yang begitu halus dan lembut, dingin menyerap ke hati. Pancaran matahari perlahan tertutup awan kelabu. Seketika, langit pun mulai gelap. Rintik gerimis membasahi tanah, menghasilkan bau khas tanah yang dibasahi hujan. Seakan membawa Arum akan memori yang lalu. Terbawa akan suasana, hatipun terasa syahdu. memori yang indah sangat membuat Arum bahagia, bisa bertemu dengan lelaki terhebatnya. Namun tidak bagi Elang, rasa kesal, kecewa, benci, kini hinggap di hati Elang. "Pergilah dari sini, Rum? Lepaskan pelukanmu," ucap Elang, berdiri mematung, ingin sekali tangan ya menyentuh tangan Arum, namun apa dayanya. "Tidak, dan ini enggak akan, Arum lepas." Kata Arum sambil memeluk kakaknya erat. "Kita bukan muhrim, Rum. Tak ada gunanya juga kau mencariku bukan!" cerca Elang dengan nada yang sedikit terbata. Tak mampu Arum menjawab, ia lalu merenggangkan pelukannya. Lalu dengan pelan mundur beberepa langkah ke belakang. "Apa ... maksudnya?" Arum tidak tahan lagi permainan apa ini, Mengenang masa-masa kecil mereka, memasak masakan kesukaan bersama, bersenda gurau, sampai mereka lupa akan waktunya tidur. Begitupun tugas rumah, dilakukan bersama. Terasa ringan jika dilakukan bersama-sama. Elang berbalik, ia enggak tahan melihat Arum bersedih. "Kenapa, Mas ... mas Elang tega melakukan ini padaku? Lalu siapa aku?" Teriak Arum bingung penuh tanya. Elang mengandeng tangan Arum dan menyuruh masuk ke dalam mobil, Arum berontak dan akan berlari, dengan cepat Elang meraih tangan Arum. gerimis diluar terlihat makin deras, Elang menggendong tubuh Arum dan memasukkannya dalam mobil. "Lepaskan ... biarkan aku pergi!" Arum masih dalam posisi tak mengerti. "Ada yang harus kita bicarakan, Arum." Elang menarik napas kasar, kerinduan yang membuat Elang sesak dan tenggorokannya terasa kering. "Apa aku bisa menyalahkan takdir. Rum, menyalahkan takdir sama saja menggugat Allah bukan? Namun begitulah realita yang aku terima. Saat aku mengetahui kau bukan adik kandungku itu membuatku begitu syok." Cerita Elang tidak dihiraukan Arum. Arum terdiam bibirnya tak bisa dibuka. Hanya ada isakan tangis. "Rum...." Diam, tak ada suara di antara mereka berdua. Arum sesaat menunduk dan memberi jeda percakapan, hingga beberapa detik lamanya. "Maaf, jika, Mas pergi tanpa kabar!" Hati Arum menjerit, bagaimana bisa semua orang mempermainkannya. Dadanya bagaikan tertusuk sembilu. Sakit sekali. "Rum...?" panggil Elang lagi. "Apa masih ada, yang kamu sembunyikan, Mas?" Elang menarik napas pelan, ia tahu jika wanita ini sedang terluka. Apa gunanya menutupi rahasia, toh akhirnya Arum akan tahu juga. "Iya, Bibi Fatma adalah Ibu kandungmu." Tangisan itu makin deras, Arum begitu syok mendengar perkataan Elang. Arum menggeleng kasar. "Tidak ... kau bohong, Mas," elak Arum. * Elang memberikan Sebuah foto usang yang ada di tangannya, Arum pandang kembali dengan perasaan entah. Hanya selembar foto lecek itulah satu-satunya kenangan yang dilihatnya sekarang dengan sang Bibi bersama dirinya. Akan tetapi, gambar itu sudah tidak mampu lagi menghapuskan kesedihannya. Kenapa banyak kebohongan dalam hidupnya. Rasa rindu yang semakin lama semakin mengimpit dadanya, sehingga menjadi gumpalan sesak yang tak tertahankan. Membayangkan lelaki yang sangat ia kagumi ternyata bukan siapa-siapanya. Seolah dunia Arum telah runtuh. Ini lebih menyakitkan dari ditalak Damar. "Rum, maaf." Arum tersenyum getir. "Pantas saja, kau sudah tidak peduli lgi denganku, Mas, ini kah alasannya. Bahwa aku tidak penting bagimu, hah?" "Bukan begitu, Rum, bukan seperti itu," sesal merelungi jiwa Elang. "Baiklah, kau menginginkanku pergi 'kan?" "Rum...." Panggil Elang. Arum membuka mobil Elang dan berlari ditengah hujan. Ia berlari dipinggir jalanan, jiwanya sangat terluka, mendapati kenyataan yang begitu menyakitkan. Kenapa semua ini terjadi padanya. Elang terus mengikuti langkah Arum yang berlari, ia tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Pandangan Elang kembali tertuju ke arah langit hitam yang masih menghujani bumi. Matanya basah kenapa ia di pertemukan kembali, dan membuat Arum begitu terluka. Namun, sepertinya Arum tidak sedang baik-baik saja. Kendati Elang telah berusaha melakukan apa saja supaya bisa melupakan adiknya ini, serta membuka hatinya dan menikahi seorang wanita yang pada akhirnya ia pun pergi saat melahirkan Naura. Karena mengetahui rahasia jika Arum bukan adik kandungnya membuatnya kecewa dan inilah yang menjadi penyebab perpisahan dan menghilang. "Arum.... " Elang melotot melihat Arum berdiri di atas jembatan. Elang berlari sambil, menarik tangan Arum yang hampir saja melompat. Mereka jatuh dan bergulung-gulung posisinya Arum berada diatas Elang. "Biarkan aku pergi...!" Elang dengan napas yang tak beraturan karena lelah. Terus memeluk tubuh Arum yang berontak. "Lepaskan...!" "Aku mohon, Rum, sadarlah." Bentak Elang kenapa adiknya berubah jadi keras kepala. "Aku benci semuanya, Mas seolah takdir mempernainkanku." "Tidak kau wanita baik, Rum. Justru aku iri padamu. Tenanglah ya sudah. Mas tidak akan pergi lagi. Mas akan menjagamu. Maafkan, Mas." Elang memeluk wanita itu erat dan beranjak berdiri lalu menggendong tubuh langsing itu di bawah derasanya air hujan. Masuk ke dalam mobil. - "Bibi, tolong siapkan baju juga air hangat." Perintah Elang pada sang Bibi. Sambil menurunkan badan Arum yang basah kuyup. Di atas ranjang miliknya. "Baik, Den." "Siapa, Pa itu?" tanya Naura bingung. "Sebentar yaa sayang, Tantenya lagi pingsan. Biar diganti bajunya sama, Bibi. Kita keluar dulu yuk," ajak Elang. Naura mengangguk. "Baik, Pa." Bibi menganti pakaian dan diganti dengan baju yang agak tebal, selesai memberikan selimut tebal. Bibi memberikan minyak angin pada bagian leher, tengkuk, hidung dan juga pinggang. Bibi tersenyum sembari menginggat wajah penolong itu. Malam semakin larut, Arum masih larut dalam tidurnya. Mata Arum terpejam, tetapi batinnya tetap mengembara ke sana kemari membayangkan kehidupannya yang hancur. telah sirna tanpa jejak karena yang tersisa hanyalah air mata kerinduan berselimut tanya. "Sudah bangun, Non?" Arum masih memegang kepalanya yang begitu sakit juga berat. "Dimana ini?" tanya Arum dengan kepala yang begitu berat. "Minumlah teh hangat ini." Arum tersenyum. "Terima kasih, Bi." "Bagaimana keadaannya Non? Apa perlu Bibi ambilakan makan?" tanya Bibi itu. Arum menggeleng. "Enggak usah, Bi." Elang, mengeringkan badannya dengan handuk, sungguh ini semua di luar dugaannya. Bertemu lagi dengan Arum, ingin menolak namun sepertinya wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Sorot matanya menunjukkan bahwa banyak luka dalam mata itu. Degub jantung Elang tidak berhenti berdetak, sesak merelungi jiwanya. Pria itu berdiri dan menatap jendela yang tersibak oleh semilir angin. Akankah kali ini Arum akan menjauhinya? setelah mengetahui kebenarannya. Bahkan misteri itu belum terjawab hingga saat ini, siapa Ibunya Elang? Apa alasannya? Yang Elang tahu jika sang Ayah menikah dengan Ibu Ningsih beliau sudah membawa Elang yang masih sangat kecil. Jika Arum terluka, bukankah Elang juga merasakan hal yang sama? Tok ... tok Masuk. "Den, Non Arum sudah bangun, tapi ia tidak mau makan." Bibi memberitahukan keadaan Arum. "Apakah dia demam, Bi?" tanyanya begitu cemas. "Tidak, Den. Tapi, Non Arum matanya sembab dan masih menangis" "Ya sudah. Pergilah, Bi terima kasih sudah merawat, Arum." "Nggeh sami-sami, Den," ucap Bibi dan berlalu pergi dari kamar Elang. Rasa sesak seketika memasuki seluruh rongga dalam tubuh Elang. Hidupnya telah hancur bersama kenangannya bersama Arum. Namun, ia sadar ada Naura gadis kecil yang membutuhkannya. Kehidupannya kini benar-benar seperti berada di dalam titik terlemah setelah kehilangan Arum. Untuk saat ini Elang begitu kesulitan untuk sekadar menelan ludahnya sendiri, seakan ada duri yang tertancap di tenggorokannya. Ia berjalan ke kamar dimana Arum berada, dengan pelan ia membuka knop pintu. Dan mendapati Arum yang menggigil kedinginan. "Hey ... apa kamu baik-baik saja, Arum?" tanya Elang begitu cemas. Diam Arum hanya menggigil tanpa menghiraukan Elang. Dengan cepat Elang mengatur suhu dikamar temperature di ruangannya ia jadikan hangat. Elang lupa memberi tahu Bibi. Is cemas dan duduk di samping Arum serta memegang tangannya. "Tenanglah suhunya sudah hangat. Tidurlah." Arum terdiam dan terus diam tanpa menatap Elang. "Aku minta maaf, Rum, karena pergi menjauh darimu. Tapi bukan maksud aku menyakitimu." Elang merasakan jika tangan Arum begitu dingin. Ia terus menggosok dengan tangannya agar tubuh Arum kembali mengahangat. Namun, tangan Elang gemetar. Matanya berkaca-kaca. Rasa haru menyelimuti hatinya yang kian terkikis oleh rindu. "Kenapa kamu tega mas, sama Arum?" tanyanya sambil terisak. "Maaf, Rum." "Kasih tahu alasan Ibu, Eh Bibi Fatma menitipkan aku ke Ibu Ningsih, Mas" Arum berusaha bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar di ranjang. Elang mengelap pipi Arum yang basah, sungguh perhatian Elang dari dulu selalu membuat hati Arum melambung tinggi ke angkasa, seolah dialah wanita yang paling bahagia saat berada di dekat kakaknya ini. "Bibi Arum melakukan yang terbaik, Rum, beliau inginkan kau selamat dari keluarga, Papamu kala itu." "Oh." "Percayalah tidak ada seorang Ibu yang tega terhadap putrinya. Bukankah Bibi selalu baik padamu dari kecil." Elang mengusap rambut Arum dan menenagkannya. Arum semakin berderai air mata. Ada rasa bahagia ketika dirinya diperlakukan oleh Elang, seperti adik sendiri. Meski kenyataannya sebaliknya. Namun, sebongkah luka semakin menganga ketika mengingat Elang tidak ada saat Arum susah. "Sudah, jangan menangis. Jangan bersedih lagi, ya? Ada aku di sini yang akan menemanimu." Arum mengangguk pasrah. Dia sangat berharap hatinya lekas sembuh. "Rum, pernikahanmu?" tanya Elang begitu saja tanpa memikirkan perasaan Arum. Arum tersenyum. "Hancur, Mas." Elang tersenyum getir. Hatinya perih mendengar ucapan adiknya. Ia mendekat Arum dan memeluknya dengan erat. Debaran hebat yang Elang rasakan, hanya Arum wanita yang bisa membuat aliran darah Elang seakan berhenti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN