Persidangan

1585 Kata
"Kau ini, coba lihat lukamu basah kan? Aku ganti ya?" Arum hanya mengangguk. "Lain kali hati-hati, Rum. Kau tak pernah berubah dari dulu sangat ceroboh." Arum hanya terdiam tidak menjawab, merasakan embusan nafas Elang yang menerpa wajahnya. Entah ada rasa nyaman di dalamsana. "Lukanya dalam kah?" "Tidak, begitu." Keduanya saling diam diselimuti keheningan. Hanya terdengar suara detak jarum jam yang menempel di dinding, juga suara tangan Elang yang mengambil alat untuk membersihkan luka Arum yang basah. Di luar sana rembulan malam mungkin tidak muncul karena hujan masih membasahai bumi. Elang merasakan getaran yang tidak biasa dari dalam tubuhnya, Elang mengunting kain kasa dan melepaskannya, lalu mengganti dengan yang baru. Ia membersihkan lupa dengan diolesin salep lalu mengambil kain kasa baru dan menutupnya kembali terakhir dengan memberi plaster perekat lalu mengguntingnya. Arum hanya diam. Memandangi wajah yang sudah lama ia rindukan. "Sudah selesai, tidurlah ini sudah malam." "Iya." Arum tersenyum kecil sambil mengangguk, saat pria itu di samping wajahnya kali ini terlihat seperti kelelahan. Ada banyak keringat di dahinya, yang sejujurnya Elang begitu salah tingkah. "Ya sudah selamat malam." Arum mengulas senyum. "Iya, Mas." Elang pergi meninggalkan Arum dengan segudang luka, entah ia senang atau tidak yang jelas kali ini hidupnya kembali terusik saat kehadiran Arum lagi dalam hidupnya. Ia masuk ke dalam kamar dan bersandar di ranjang tempat tidurnya. Menatap langit-langit kamarnya, dibawah langit yang sama dan atap yang sama, Elang bahagia karena bau tubuh Arum tercium dari kamar Elang, bau tubuh wangi bunga Lili ciri khas kesukaan Arum. Elang memejamkan mata, merasai getaran dalam dadanya. - Bibi Fatma begitu cemas beberapa kali panggilannya tidak terjawab oleh Arum. Rasa cemas menghantuinya, biasanya Arum tidak pernah seperti ini. Mana ini hujannya lebat banget. Bibi Fatma berusaha menelepon Levin. [Hallo nak, Arum belum pulang? Ini sudah sangat malam kemana dia ya?] [Serius, Bi] [Iya, duh Bibi khawatir sekali, Levin.] [Baiklah, saya akan kesitu, Bi] Bibi Fatma sedikit lega setidaknya ada Levin yang menemaninya. d**a Bibi Fatma bergetar hebat ia tidak mau terjadi apa-apa pada putrinya. Bibi ingat jika ia menyimpan nomor Lestari, beliau akhirnya menghubungi nomor Lestari. [Iya, Bi.] [Nak, Tari maaf mengganggu. Apa Arum bersama, Nak Tari?] [Tidak Bi, memang tadi sore kami makan bertiga baso bersama, oh iya Bi, tadi terakhir Arum bertemu dengan, Mas Elang Bi.] Deg. [Baiklah, terima kasih ya, Tari] [Sama-sama, Bi] Bibi Fatma menutup teleponnya dengan hati yang gundah gulana. Ada rasa sedikit lega saat tahu Elang telah kembali, namun bagaimana dengan Arum? Segera beliau mengusap air mata yang membasahi pipi, meski mungkin, Arum akan sangat bahagia namun, bukankah Elang sudah menikah? Bibi Fatma wajahnya terlihat sedikit pucat. "Kau sudah datang Lev?." "Apa Arum belum pulang, Bi?" "Belum, Lev. Tapi kata Tari tadi ia bertemu dengan kakaknya." Bibi terlihat sangat cemas. "Kakak?' Bibi Fatma tersenyum. "Iya, Lev." "Oh!" "Pulanglah, Nak, pasti Arum baik-baik saja." "Tapi besok persidangan perdana, Arum. Bi." Bibi menghembuskan napas pelan, dan mengangguk. "Besok?" "Iya." Elang memang hanya masa lalu yang tiba-tiba datang kembali. Dan entah kenapa bayang-bayang kenangan mereka yang hidup berjuang berdua membuat Bibi Fatma resah, karena Bibi Fatma tahu betul jika Elang sangat menyayangi Arum lebih dari apapun. Jika Arum mengetahui mereka bukan kakak adik entahlah.... - Fajar kuning sudah nampak di ufuk timur, Arum masih dalam posisi kepala sedikit berat, ia beringsut dan mengendap-endap. Ia berusaha keluar dari rumah besar itu. Berharap ingin pergi dari rumah ini secepatnya. "Kenapa ngendap-ngendap di situ, Rum?" tanya Elang, membuat Arum malu dan berhenti. Arum hanya mengangguk. "Arum mau pulang," jawab Arum tanpa menoleh ke belakang. "Apa kau tidak nyaman, berada di sini?" Elang menepuk pelan bahu Arum. "Ya, aku tahu ini semua enggak mudah untukmu, Rum. Posisi kamu sulit aku mengerti itu." "Arum masih belum siap, menghadapi ini semua?" "Semua terserah padamu, Rum. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Jangan pernah berbuat bodoh lagi." Kalimat itu membuat Arum terdiam. Karena ia khilaf, ia sampai mau melompat dari jembatan. Beberapa lama mereka terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Arum dengan hati yang gundah dan Elang dengan hati yang tertekan. "Emm, hari ini Arum harus kerja pagi," jawab Arum cemas. "Sudah, nanti aku antar ya." Ucapnya santai. "Kamu percaya padaku, kan?" "Iya." Elang hanya mengangguk, lalu mengajak Arum ke dapur. Arum baru sadar bahwa ponsel dan tasnya berada di dalam mobil Elang. Sejenak Arum memejamkan mata, lalu menghembuskan nafas kasar, merasakan tidak enak. Berulang kali ia menghembuskan napas kasar. Hari ini terasa tidak bersemangat lagi, karena akan menghadapi persidangan. Arum masih menunduk, lalu mendongak menatap lekat binar mata kakaknya. "Kamu ada masalah, ya, Rum? "Nggak, Mas!" "Yakin?" Arum mengangguk. "Iya." Terasa jantung Elang berhenti berdetak sekarang. Tubuhnya tak bisa ia gerakkan kaku. Semenderita inikah Arum sejak kepergiannya. Baiklah aku mandi dulu, kau tunggu disini ya? Ingat! Jangan pergi." Arum mengangguk. "Iya, Mas." Saat Elang masuk kamar, dengan cepat Arum mengambil tas miliknya dan bergegas pergi meninggalkan rumah mewah bercat abu-abu itu. Entah namun Arum berusaha untuk menghindari kakaknya saat ini, lagian bukannya dia sudah menikah? - [Pak Levin tolong jemput ya, aku shere lock] [Ok, tunggu disitu ya] Levin bergegas melajukan mobilnya dimana Arum mengirimkan lokasinya. Arum duduk di kursi sebuah mini market, ia takut jika Elang mencarinya. Saat Levin datang ia baru keluar dan berlari menuju mobil Levin. "Terima kasih, Pak." Levin mengembuskan nafas kasar, "kau ini, Rum setidaknya kasih tahu kabar. Bibi semalaman enggak tidur nunguin kamu," jawab Levin kesal. "Maaf, Pak, semalam, Arum tak sadarkan diri." Levin mengangguk. "Ya sudah kita pulang baru ke pengadilan ya?" "Baik, Pak." Damar melangkah masuk bersama seorang pengacaranya, rasa was-was menghantuinya. Degup jantungnya berpacu lebih cepat, dia duduk di bangku bersebelahan dengan Arum di depan Hakim. Entah perasaannya saat ini begitu terpukul akhirnya kisahnya akan segera berakhir. Hakim menanyakan tentang identitas juga pekerjaan masing-masing, semua pertanyaan Hakim dijawab mereka. satu persatu pertanyaan selesai hingga Hakim merasa sangat disayangkan pasangan muda harus berpisah apalagi pernikahannya yang baru beberapa tahun. Dan Hakim belum bisa menemui titik temu. Karena Damar bersedia mencarikan sang muhalil untuk Arum. Arum dan pengacaranya Pak Dibyo saling pandang, juga Damar berusaha kekeh dengan pengacaranya. Arum merasa begitu takut bagaimana jika Damar menghambat sidangnya. "Pak, bagaimana, sudah talak tiga kenapa Damar masih kekeh, menolak ingin bercerai?" tanya Arum dengan nada gugup dan sangat lirih. "Tenang saja, biarkan kita ikuti dulu, Bu." Arum berusaha setenang mungkin, bagaimana bisa ia mengendalikan perasaannya yang campur aduk antara takut juga gelisah. "Apa itu perlu, Pak?" "Sangat perlu, Bu jika nanti Damar menolak, dipersidangan berikutnya kita pakai bukti perselingkuhannya, vidionya masih kan?" "Oh, iya masih." Kebetulan Arum. Menyimpannya di akun Facebooknya dan di privasi jaga-jaga jika hilang. Pak Hakim itu tersenyum sambil memperkenalkan diri pada penggugat dan tergugat, pria itu masih berusaha mencairkan suasana sebelum bicara pada inti masalahnya. "Dengan, Ibu siapa?" "Arum, Pak." Arum mengeraskan rahang, berusaha meredakan gemuruh hebat di dadanya. Kembali Arum mengalihkan pandangan ke samping. "Ya, dan Anda?" "Saya, Damar. Pak." Damar juga merasakan panik, bagaimana ia akan benar-benar kehilangan istrinya. Karena talak tiga membuatnya sulit untuk mempertahankan pernikahannya. Hakim mulai mediasinya dengan tegas beliau berkata jika menginginkan mereka untuk rujuk, namun Damar inginkan pernikahannya utuh kembali, dan ia berusaha mencarikan sang muhalil sebagai syaratnya. Damar bersikukuh jika kesalahannya membuatnya sadar dan akan berusaha memperbaiki semuanya. Arum berkata jika sebuah hubungan pernikahan jika telah dinodai apakah masih bisa di pertahankan? sedangkan talak tiga sudah terucap. sebuah pernikahan apakah harus saling menyakiti? Berbagai cara telah ditempuh untuk membuat mereka rujuk namun tidak menemukan titik temu. Membuat sang Hakim memutuskan untuk melanjutkan persidangan bulan depan. Mereka saling diam. Arum dengan rasa sakitnya, dan Damar dengan rasa sesal yang ingin mempertahankan hubungannya. Arum merasa kecewa dengan sikap Damar, ia melangkah dengan hati yang begitu terluka. Sidang akan diadakan lagi satu bulan ke depan. "Pak, benar kan? Bagaimana ini, ia kekeh?" "Sabar lah ikutilah sesuai prosedur Bu. Semua pasti akan kita menangkan." Nasehat Pak Dibyo. - Arum berjalan mendekati Levin dan Bibi Fatma yang masih duduk di ruang tunggu. Bibi Fatma tersenyum. "Bagaimana, Rum?" tanya Bibi cemas. "Emm, ditunda bulan depan Bi," ucap Arum sedih. Sang bibi tahu jika Arum begitu terluka, suaminya memang benar-benar tak tahu malu. "Ikuti prosedurnya, sabarlah, Rum." "Tapi, Bi ...." "Sudah biar diurus sama Pak pengacara ya." Sesaat Arum menatap mata teduh Bibinya yang ternyata adalah Ibu kandungnya, begitu baik. Dalam keadaan apapun sang Bibi tidak pernah mengedepankan egonya ia berfikir begitu tenang dan juga santai. Selalu ada buat Arum, ia merasa berdosa jika marah kepada orang yang telah berjuang mempertaruhkan nyawa saat melahirkannya. "Iya, Bi." Arum terdiam, apa ia harus kecewa? Haruskah ia berontak, tidak. Dengan pelan Arum memeluk tubuh Bibinya dengan haru. Sang Bibi mengelus rambutanya. Beliau menangis tak mampu mengutarakan kebenarannya kepada Arum. Karena Bibi Fatma tahu jika Arum masih terluka. "Arum.... " panggil Damar. Arum menoleh ke arah suara. "Iya." "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, aku akan menyewa sang muhalil untuk menikahimu lalu kita balikan!" Ancam Damar. "Hah, kau pikir aku mau kembali padamu? Jangan mimpi Damar, selama ini aku sudah sabar menjadi istrimu yang tidak pernah kau anggap ada bukan! Apa lagi yang kau rencanakan? Menjadi pelayanmu ditempat tidur? Atau menjadi pelayan Ibu juga kakakmu?" Arum dengan air mata yang sudah dipelupuk mata siap untuk tumpah. "Rum, aku janji aku akan membahagiakanmu." "Terus kemana kau selama beberapa tahun ini hah, pura-pura tidak tahu apa gimana?" "Terserah ... kau tidak akan aku lepaskan!" Ancam Damar lagi. "Silahkan jika kau bisa." Levin datang ditengah-tengah mereka. "Kau...." "Kenapa ... aku orang pertama yang akan maju saat kau mengancam Arum." Damar begitu kesal, ia malas berurusan dengan Levin bos nyebelin itu, ia lalu pergi dengan segudang luka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN