Siapa?

1817 Kata
Manusia dikaruniai nafsu dalam dirinya untuk kemudian bisa dikelola dengan baik. Jangan sampai manusia dikendalikan oleh nafsu sehingga menjerumuskannya ke dalam kemaksiatan hingga berbuat sesuatu yang melampaui batas. Takutlah kita pada kebesaran Allah yang punya kuasa untuk mencabut beragam kenikmatan yang telah kita miliki. Tumbuhkan dan jaga terus rasa takut itu di hati kita sehingga menjadi benteng untuk menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. . Damar memukul tembok, dadanya begitu sesak. Karena kecerobohannya ia akan kehilangan Arum untuk selama-lamanya. Astaga bagaimana ini? Ia mencari cara agar bisa merebut hati Arum lagi. Ia harus berusaha merebutnya kembali pasti bisa. Damar sangat tahu bahwa Arum sangat mencintainya. "Bagaimana sidangnya berhasil kan? Syukurlah wanita kampung itu tak layak jadi istrimu, Damar." Herlin mencoba bicara dengan Damar. Damar menarik napas kasar. "Kenapa Mbak, puas kan? Senang kan? Melihat Arum keluar dari rumah ini, namun apakah Mbak tahu hati Damar hancur, Mbak," jawab Damar membentak kakaknya. "Ya gampang, tinggal cari lagi beres kan!" "Keterlaluan apa, Mbak sedikit saja enggak punya hati 'hah? Apa ini cara, Mbak memeperlakukanku sebagai adik Mbak sendiri?" Herlin hanya diam, dan tersenyum sinis. "Ada apa sih ini ribut-ribut enggak jelas, malu sama tetangga." Sang Ibu datang bertanya. "Tanya sama anak kesayangan Ibu ini, muak aku dengan semuanya. Capek aku," ucapnya dan berlalu pergi. "Ada apa sih, Lin?" tanya wanita paruh baya itu penasaran. "Entahlah, kesambet kali, Bu." "Hus, enggak boleh ngomong begitu Lin, pamalik." Herlin mendengus kesal. "Habisnya Arum lagi Arum lagi bosan, Bu." "Cobalah untuk sedikit sabar Lin, lihatlah adikmu sangat marah, baru kali ini Ibu lihat ia marah sampai segitunya." Herlin mengangguk. "Iya deh, Bu." Herlin begitu kesal, dalam hati ia senang karena Arum tak lagi jadi bagian dari rumah besar ini. - Selain mengadu pada Sang pencipta, hanya Bibi yang sanggup memberikannya secercah harapan, Arum benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa. "Arum rapuh, Bi." "Jangan lupa Nak, Allah maha besar dan tidak akan meninggalkan kita." Arum tersenyum kecut. "Iya," jawab Arum datar. Arum pandangi foto pernikahannya dalam album kenangan, dirinya dan Damar, senyum mereka berdua begitu mengembang saat itu. Saat itu mereka berdua sama-sama bahagia. sebenarnya Arum rindu, rindu saat dimana Damar yang selalu perhatian kala itu. "Arum, boleh, Bibi bertanya?" "Ada apa Bi," jawab Arum penasaran. Ibu hanya tersenyum dan mengelus rambut Arum. "Kau bertemu dengan kakakmu Elang?" Arum mengangguk. " Bukan kakak kandung kan Bi," jawab Arum membuat d**a Bibi Fatma bergetar hebat. Bibi Fatma sedikit terbata saat bicara ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. "Oh, kau sudah mengetahuinya, bagaimana perasanmu, Nak?" tanya Bibi cemas. "Entahlah, Bi, yang Arum tahu semuanya sudah menjadi takdir dari sang pemberi kehidupan bukan! Apa mas Elang sudah menikah Bi? Tapi rumahnya sepi hanya ada si Bibi saja." "Yang, Bibi tahu, dia sudah menikah sebulan setelah kau menikah, Nak," jawab sang Bibi. "Oh, Bibi tahu dengan siapa?" tanya Arum penasaran. Bibi menggeleng. "Entahlah, Bibi pun tak tahu. Jauh dilupuk hati Arum ia sangat terluka, bayangkan saja selama ini Kakaknya telah menghilang, entah alasan apa, dan mendapati kenyataan jika Bibi Fatma adalah Ibu kandungnya. Yang jelas Arum akan diam saja menunggu Bibi berkata jujur padanya. - Senja sudah mulai menguning, pertanda hari sudah mulai petang. Arum mencoba membuat pisang goreng keju cokelat, dibantu Bibi Fatma, tangan Arum mengaduk pisang dalam pengorengan. Sesaat Levin datang, Arum tengah serius menuangkan adonan ke dalam penggorengan. setelah matang dia angkat dan ditaruh ke sebuah piring. Keadaan Arum sudah membaik, begitu pula dengan tangan kirinya yang kini sudah bisa digunakan walaupun masih agak kaku karena selama ini terbalut perban. "Rum, sibuk." Suara panggilan Levin tidak membuat Arum berhenti mengoles pisang dengan keju juga s**u cokelat. "Rum," panggil Levin, lagi. "Apa, Pak?" Arum menatap Levin dan tersenyum. "Sudah dulu, nanti capek." "Iya, nanti. Tanggung, tinggal satu gorengan lagi." Levin menarik napas dengan kasar, ia tidak mau Arum sakit lagi, Arum dikagetkan oleh sebuah tangan besar di tangannya. "Istirahat dulu," sapa Levin berada di belakangnya. "Sebentar lagi pak? Ini cicipin dulu enak ga?" tanya Arum, sambil berbalik dan kini berhadapan dengan pemuda itu. "Lumayan, lah, enak, " jawab Levin, sambil tersenyum. Arum mendengkus kasar, lalu mematikan kompor, Setelah itu dia membuatkan secangkir teh hangat, juga satu piring pisang goreng ke gazebo belakang. Ada Levin juga sang Bibi disana. Wanita itu tampak menikmati udara sore hati yang begitu sejuk, sambil terus memandangi wajah Bibi Fatma yang tengah serius bicara dengan Levin. Ada yang aneh terasa di hatinya. Setelah diperhatikan wajah Levin mirip sekali dengan Bibi Fatma? Apa akan ada rahasia lagi? "Arum ... kenapa melamun saja, Nak." "Eh, enggak papa, Bi." "Nanti malam datang ya, ke acara ulang tahunku Bi, Rum?" Levin mengajak Arum juga Bibi Fatma. "Hah, kayak anak kecil saja dirayain pak," jawab asal Arum. "Papa yang adain acara kalau Levin ma, masa bodoh, Rum." "Yakin, ngundang kita pak Levin, enggak malu, takutnya keluarga pak Levin bakalan ngusir kita." "Papa baik kok, Rum tenang saja, ini sudah Levin belikan baju buat Bibi juga kamu, untuk nanti malam." Arum menggeleng pelan. " Harus datang ya Pak Levin?" tanya Arum malas. "Iya Lah, kan mau aku kenalin sama Papa." Deg ... ada rasa yang entah. Arum merasa jika akan ada sesuatu. Hatinya tidak enak. Namun ia menatap sang Bibi dan beliau mengangguk pertanda Arum harus bersedia datang ke acara pesta itu. Astaga ini yang membuat Arum jadi malas. - "A-arumi ... luar biasa ...." Levin tercengang melihat Arum. Hingga tanpa disadarinya, ia begitu gugup dan tak berkedip. Arum tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah Levin yang berubah menjadi kaku. "Bi, itu benar. Arum cantik sekali." Levin tercengang melihat penampilan Arum yang begitu memukau dengan baju pemberian Levin tadi siang. Dres selutut warna cream dengan manik-manik kecil, sengaja Arum menguncir rambutnya dengan diselipkan pita love disamping membuatnya terlahat elegan, juga flat shoes dan tas senada dengan baju. Dengan riasan tipis natural membuat Arum terlihat begitu anggun. "Sudah nggak usah benggong gitu, pak. kayak liat hantu saja," goda Arum pada Levin. Levin tertawa melihat dirinya yang memang begitu terpukau melihat Arum yang sangat cantik. Namun, wajah Arum seperti tidak asing buat Levin. Begitu juga dengan Bibi Fatma warna yang sama dengan hijab yang sama membuat beliau juga terlihat sangat cantik. "Ayo, berangkat nanti ditungguin, Papa!" ajak Levin seraya melangkah menuju mobil yang sudah terparkir tak jauh dari depan pintu utama rumah Bibi Fatma. Kali ini Levin mengantar mereka, didalam perjalanan Arum terlihat begitu cemas. Begitupun dengan Bibi Fatma. Beliau memegang tangan Arum yang begitu dingin. Jauh di dalam hatinya ia malas berurusan dengan orang kaya. Namun bagaimana lagi, selama ini Levin sudah begitu baik dengannya. Arum melihat kearah samping, lampu gemerlap sudah menyala, jalanan begitu padat, muda mudi mengendarai sepeda motor. Ini malam minggu pantas saja banyak orang menikmati malam minggu. Suasana terasa ramai bagi pecinta dunia malam. Arum mengehela nafas berat hatinya tak karuan. Semoga nanti akan baik-baik saja? Mobil berbelok ke sebuah hotel, ternyata keluarga Levin menyewa sebuah hotel dan tidak berada dirumahnya. Parkiran hotel sudah dipenuhi dengan tamu undangan, d**a Arum berdetak hebat ia begitu nervous bagaimana ini? Ia sangat takut bertemu dengan keluarga Levin. "Bi, Arum takut!" Bibi Fatma tersenyum. "Ada, Bibi. Nak. Bibi akan menjagamu ya." "Silakan turun, Rum, Bi!" Levin memakai jas dengan warna yang sama, membukakan pintu untuk mereka. "Terima kasih, Nak." Levin mengangguk. "Ayo masuk." Ajak. Levin pada mereka berdua. Arum bersiap untuk turun. Para tamu undangan sudah memenuhi lobi hotel, lalu lalang orang yang datang, hanya untuk datang keacara ulang tahun pemuda tengil ini. "Ayo...." Ajak Levin pada keduanya yang sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka berjalan beriringan, memasuki hotel, suara musik sudah mengalun juga suara MC sudah menggema dari luar hotel. Para tamu undangan menatap takjub Arum juga Levin yang baru datang. Sesaat Arum menjadi malu, namun Levin terus memegang tangan wanita itu. Sampai di ruang inti, Levin menyalami beberapa rekan kerjanya juga para tamu undangan. Arum hanya tersenyum tidak mengerti seraya memegang tangan sang Bibi. "Bi, Arum malu. Banyak sekali orang disini," bisik Arum pada Bibinya. Bibi Fatma tersenyum. "Bibi juga grogi Nak, ini jauh lebih mewah dari yang Bibi bayangkan." "Aduh jangan buat Arum tambah gugup Bi." ''Entahlah Arum, hati Bibi tidak enak" "Sama, Bi" Keduanya hanya saling pandang seperti orang asing. Mereka ada disini. Levin terlihat begitu bahagia. "Namun, sepertinya ini bukan acara ulang tahun? lalu apa Bi?" tanya Arum penasaran. Bibi Fatma menoleh kanan kiri. "Iya, Rum. Ada apa ini," jawabnya. "Baiklah mohon perhatiannya, silahkan menikmati hidangannya sebelum acara inti diumumkan, penyerahan perusahaan oleh Tuan muda Levin." Senyum mengembang dari Levin ke arah Arum juga sang Bibi, Arum dan sang Bibi hanya saling pandang. Kali ini mereka sudah dibohongi oleh Levin, Levin menyuruh pramusaji membawakan makanan untuk Arum juga Bibi Fatma. Tak seperti yang lain para tamu undangan mengambil sendiri. Ini khusus untuk Arum dan juga Bibi Fatma. Arum dan sang Bibi menikmati hidangan yang mungkin tak asing bagi Bibi Fatma namun, sangat asing dilidah Arum. Dengan pelan ia menikmati setiap sendok yang ia masukkan dalam mulutnya, begitu mengoda lidah. Malam semakin larut tiba saatnya pengumuman penyerahan perusahaan. Arum dan sang Bibi mendampingi Levin di bawah karena Levin yang meminta. "Baiklah kita sambut pemilik perusahan Cahaya groub Bapak Dibyo prambudi. Beliau adalah Presiden Direktur perusahaan." Suara gemuruh tepuk tangan terdengar dari sudut ruangan hotel. "Terima kasih sudah hadir memenuhi undangan kami, akhir-akhir ini Perusahaan kita berkembang pesat sejak tiga tahun terakhir ini. Baru-baru ini aku mendirikan beberapa kantor cabang di beberapa daerah juga di kota ini. Saat ini banyak kayawan baru yang kita rekrut. Semua berkat anakku satu-satunya Levin." Pak Dibyo membuka pembicaraan ketika kami dalam perjamuannya. "Kali ini aku akan menyerahkan semua perusahaan kepada putraku Levin." "Terimakasih buat, Papa atas kepercayaannya pada Levin, semua atas bantuan kalian semua. Membuat perusahaan kita maju pesat, dan juga sebagai motifasi hidupku Bibi Fatma juga Arum beliau ini sosok wanita yang sangat aku kagumi pekerja keras juga baik hati." Levin menunjuk ke arah Arum juga sang Bibi. Namun, Bibi Fatma hanya menunduk, air matanya sudah hendak tumpah. Ia mau pergi tak enak dilihat banyak orang akhirnya beliau hanya diam seribu bahasa. Acara serah jabatan telah selesai, Bibi Fatma mengajak Arum pergi. Padahal acara masih banyak. "Bibi enggak enak badan, Rum, ayo kita pulang." Ajak Bibi Fatma tiba-tiba. "Sekarang, Bi." "Iya." "Baiklah, Bi kita pamit sama, Levin?" "Tidak usah, Nak, ayolah Bibi sepertinya masuk angin." Mereka keluar hotel, dengan cepat Bibi Fatma mengajak Arum pergi mereka keluar Hotel. Dan hendak mencari taksi ada suara yang memanggil dari belakang. "Fatma.... " Mereka berhenti, dan Bibi Fatma menggandeng tangan Arum dan melangkah berjalan lagi. "Fatma kumohon...." Lelaki paruh baya itu berjalan mendekat dan sudah berada di depan Arum juga Bibi Fatma. Bibi Fatma diam dan menunduk tubuhnya serasa sulit untuk digerakkan. Badannya kaku tak berani mendongak melihat pria paruh baya itu. "Maaf biarkan kami pergi, Tuan." Bibi Fatma bicara terbatah. "Aku yang minta maaf, Fatma! Aku mencarimu kemana-mana namun kau menghilang bagai ditelan bumi." Arum hanya mematung tidak mengerti dengan Papa Levin juga Bibi Fatma. Apa mereka saling kenal?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN