Levin menatap laptop tak terasa waktu sudah menunjukkan jam istirahat, ia berjalan dan makan di kantin. Ia berusaha tetap menjadi seorang yang enggan untuk menyerah, menghadapi fase di setiap ujian-Nya. Pada panas yang begitu terik, bersama semilir angin yang begitu meneduhkan. Semoga hati Levin selalu mengerti, bahwa Allah akan selalu menjadi yang utama dalam kehidupannya. "Pak, meeting akan dilakukan sepuluh menit lagi." Sang asisten mengingatkan. "Baik, siapkan berkas-berkasnya. Saya mau tidak ada kesalahan seperti kemarin," ujar Levin. Wanita bertubuh sintal itu mengangguk. "Baik, Pak." Sesaat Levin menatap layar ponselnya ada beberapa chat dari calon istrinya. Ia tersenyum sembari mengetik layar canggih ditangannya untuk membalas chat Arumi [Naura, datang. Mas] [Baiklah semoga

