"Bagaimana, sayang? Apa kau nyaman dengan, Levin?" tanya Bu Fatma sambil mengaduk bubur kacang hijau buatannya yang masih di atas kompor. "Rasa nyaman itu lebih dari apapun lo, Ma, karena semuanya yang dicari adalah kenyamanan 'kan, tapi Arum belom menemukan rasa nyaman itu," jawab Arum tersenyum pada Mamanya. Hanya sebuah perasaan manusiawi ketika kata nyaman terucap, yang jujur tak ingin lagi terulangi. Namun untuk saat ini, Arum yakin kondisinya sudah berbeda. Dan nanti pernikahannya dengan Levin tengah Arum renungi sebagai sesuatu yang sebenarnya tampak seperti sebuah isyarat. "Rum, apa yang kamu ucapkan benar adanya. Namun Mama dan Papa tak salah kan jika menjodohkan kalian?" Arumi tersenyum. "Apapun itu pilihan Mama dan Papa yang terbaik." "Ya, mungkin saja Levin sudah jodoh

