Wajah Naura memerah, sedih, serasa kehidupannya sama seperti dulu, tak bisa dibayangkan oleh gadis kecil itu nyatanya wanita yang menolongnya saat itu begitu baik dengannya. Ingin rasanya Naura berteriak karena rindu sekali pada wanita yang menjadi penolong hidupnya, semua hanya menggumpal di d**a, seakan semua kata enggan untuk bisa keluar dari bibir gadis kecil itu. Naura membayangkan bisa bertemu dengan wanita cantik itu lagi, namun itu hanya diangan-angannya saja. Ia tak mau membuat Ibunya marah ataupun sedih. Ia hanya bisa memendam rindunya pada Arumi. Zhiandra menoleh, menatap tajam putrinya yang lagi termenung lalu duduk di sampingnya. Bibirnya kini menyunggingkan senyum sinis. "Ayo dimakan sayang, kenapa diam saja?" tanyanya. Zhiandra menambahkan lauk pada piring Naura. "Ayo di

