Dilema Hati

1374 Kata

Arum malu, ia masih bergelut dengan kebingungan sampai beberapa saat. Sementara di depan sana, Levin masih berdiri tegak, dengan sekuntum mawar merah dalam genggaman. Lalu menghampiri Arumi. "Untukmu." Arum tersenyum. "Makasih." "Aku nggak bisa berpuisi, Arumi. Aku hanya cuma punya cinta untukmu." "Huuu." Lagi-lagi, seruan para pengunjung kafe itu menggema meneriaki Levin yang sedang bucin. "Disaksikan semua orang di sini, aku berjanji akan selalu setia, dan mencintamu." Tak peduli pada semua mata yang menyaksikan Levin, Arumi menenggelamkan diri dalam pelukan Levin. Levin mendekap seerat seakan-akan tak ingin berpisah lagi. Sebab rasa dalam hatinya sama dengan yang melanda hati ini, mungkin rasanya lebih dalam lagi. Arumi menjeda pelukan, dan menatap Levin dengan gemas. Akan tet

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN