Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menyadari bahwa wanita itu sangat berarti bagi Damar, tetapi Damar tidak berarti apa-apa bagi Arum lagi. ya Arum sudah tak menganggapnya ada. Damar menatap langit-langit ruang kerjanya, entah bayangan Arum selalu berada di benaknya. "Damar, kamu kemarin ngak hadir ya di acara pertunangan mantan istri kamu dengan, Bos Levin?" tanya teman kerja Damar Aldi. Sesaat tubuh Damar membeku. "Apa, tunangan?" "Iya, MasyaAllah, mantan istri kamu cantik banget. pertunangan yang super wah dan keren." Wajah Damar seketika memanas. "Kapan itu?" tanyanya antusis. "Semalam. Aku punya vidionya, mau lihat?" Damar mengangguk. "Boleh." Lelaki itu tersenyum. "Ok, sudah ya, aku ke ruangan bos dulu." Damar tersenyum. "Thanks, brow." "Asiapp." Tangan Damar be

