#20 Hubungan yang tidak baik
Nares tampak termenung. Tidak bisa di pungkiri kalau keadaan hatinya saat ini tidak baik-baik saja. Bagaimana dia bisa baik-baik saja kalau kenyataan sekarang adalah mantan tunangan Indira sudah bertemu dengan mereka. Tidak menyangka akan secepat ini mereka bertemu bahkan Nares pikir waktunya tidak tepat sekali, padahal dia dan Indira baru saja bersenang-senang tetapi berakhir dengan pertemuan mereka yang tiba-tiba.
Nares tahu dia adalah orang baru dalam kehidupan Indira, tetapi memangnya dia tidak boleh egois. Bahwa Nares tidak ingin Indira kembali kepada masa lalunya, Nares ingin Indira menjadi miliknya dan menjadi istrinya. Meski Nares tidak tahu dan tidak ingin berpikiran negatif pada tunangannya, tentang bagaimana perasaan Indira sekarang kepada laki-laki yang Nares ketahui bernama Bastian.
Nares mengetahui semuanya tentang Bastian dari Indira. Tentu saja setelah Indira mau mengatakan semuanya dengan jujur termasuk kenapa Indira bisa pergi dari Jakarta ke Bandung. Dan sekarang saat Bastian kembali hadir ke dalam hidup mereka, sejujurnya Nares takut. Nares khawatir sekali apa yang dia mimpikan akan terjadi. Kehilangan Indira adalah hal yang sama sekali tidak pernah Nares bayangkan dan inginkan.
Namun jika Indira ingin kembali kepada Bastian, Nares bisa apa. Bukan kah kehadiran Nares di hidup Indira tidak sebanding dengan kehadiran Bastian, tentu sangat lah berbeda. Tetapi sekali lagi Nares katakan, bolehkan ia egois.
Setelah mengantarkan Indira sampai rumah, Nares kembali ke hotel. Sebenanya lusa Nares harus sudah pulang mengingat tidak ada yang menemani ibunya di Bandung, Nares selalu khwatir ketika meninggalkan sang ibu dalam waktu yang cukup lama. Meski ibunya tidak masalah, tetapi sebagai anak tentu saja akan selalu mengkhawatirkan orang tua.
Tetapi situasinya sekarang berbeda, Nares juga khawatir dengan Indira yang berada di sini apalagi setelah tahu bahwa Bastian mengetahui keberadaan Indira kembali. Nares percaya dengan Indira, tetapi tetap saja sebagai kekasih sekaligus tunangan Nares merasa takut sekali kalau sampai Bastian kembali merebut Indira.
**
Sarapan pagi ini di kediaman Baskara sungguh berbeda. Tentu saja karena kehadiran Nares di antara mereka. Farida memang kerap kali menyuruh calon menantunya itu untuk sarapan bersama apalagi jarak hotel yang menjadi tempat menginap Nares tidak begitu jauh dengan kediaman mereka. Nares pun tidak masalah dengan permintaan calon ibu mertuanya.
Tetapi keheningan membuat suasana tidak seperti biasanya. Terutama Indira yang sejak tadi lebih banyak diam, sementara Nares dan Baskara sesekali mengobrol pun dengan Farida yang ikut menanggapi. Nares menyadari diamnya Indira, tentu saja alasannya karena kemarin bertemu dengan Bastian.
Apa Indira masih memikirkan mantan tunangannya itu?
“Indira!”
Indira tersentak mendegar suara ayahnya. Sejak tadi dia memang tidak begitu fokus, apalagi setelah kemarin tidak sengaja bertemu dengan Bastian dan Atika, setelah itu malamnya Indira tidak bisa tidur karena memikirkan semuanya.
“Kamu kenapa? Dari tadi Ayah perhatikan cuma aduk-aduk makanan, bukannya di makan,” ucap Baskara. Meski sejak tadi tampak berbincang dengan Nares tetapi masih memperhatikan anaknya yang sedang melamun dan tidak begitu fokus.
“Maaf, Ayah,” gumamnya tidak enak karena kedapatan melamun dan tidak begitu napsu untuk sarapan.
“Kamu sakit, Nak?” Farida tampak khawatir. Wajah Indira memang agak pucat, tidak seperti kemarin yang terlihat baik-baik saja.
Indira menggeleng, “Nggak, Bu. Indira nggak apa-apa,” balasnya. Tidak mungkin Indira mengatakan yang sebenarnya apalagi di hadapan sang ayah. Pasti ayahnya akan langsung malah karena kembali membahas tentang Bastian.
Baskara memang masih marah kepada mantan calon menantunya itu. Ia juga ikut kecewa apalagi anak perempuan satu-satu yang dia miliki di sakiti oleh laki-laki seperti Bastian. Itu mengapa Baskara sangat memperhatikan Nares dan melihat perlakuan Nares kepada Indira. Bahkan sampai menyuruh seseorang untuk mengikuti Indira ke mana pun selama berada di Bandung.
Menurut laporan dari orang kepercayaannya, selama Indira bersama dengan Nares tidak ada gerak-gerik Nares yang tampak mencurigakan atau menyakiti Indira. Meski begitu Baskara pun tak lantas menyudahi memata-matai anaknya. Baskara selalu mengawasi sampai detik ini. Satu hal yang tidak Indira ketahui, bahwa ayahnya tahu tentang Bastian yang kemarin bertemu dengan mereka.
Ya ... jangan meragukan seorang Baskara. Dia akan tahu segalanya apalagi yang menyangkut keluarganya, istri dan anaknya.
“Terus kenapa makanannya? Nggak enak?” tanya Baskara.
“Nggak, Yah. Masakan ibu enak.”
“Kalau begitu habiskan, ayah nggak mau kamu sampai sakit. Apalagi kalian akan mulai merencanakan pernikahan.”
Indira mengangguk kemudian kembali memakan sarapannya. Meski tidak napsu makan tetapi Indira tidak ingin orang tuanya khawati apalagi sampai curiga. Sementara Nares sejak tadi diam tengah memperhatikan keadaan Indira. Lelaki itu mengembuskan napas pelan, kemudian kembali menyantap sarapannya dengan hati yang dibuat gelisah akan keadaan Indira. Nares tidak tahu keadaan hati Indira saat ini bagaimana setelah kembali bertemu dengan mantan tunangannya, Nares hanya berharap hubungan mereka baik-baik saja dan apa yang akan mereka rencanakan berjalan dengan lancar.
**
Indira mengatakan kepada Nares akan bertemu dengan Ayana. Nares tentu saja mengijinkan dan seperti biasa mengantar tunangannya itu ke cafe yang sudah menjadi tempat janjian Indira dengan Ayana. Nares akan memberikan waktu kepada Indira, membiarkan gadis itu bercerita kepada sahabatnya. Meski Nares ingin sekali mereka bicara berdua lebih dulu tentang pertemuan kemarin dengan Bastian.
Untuk persiapan pernikahan mereka memang tidak begitu terburu-buru. Nares mencoba untuk mengerti dengan keadaan Indira apalagi sekarang tengah tidak fokus. Seharusnya hari ini mereka melihat pakaian yang akan di kenakan di acara pernikahan nanti, akad dan resepsi. Namun tentu saja tidak akan berjalan dengan baik apalagi melihat mood Indira yang tidak sedang baik-baik saja.
“Nanti aku jemput lagi,” ucap Nares sebelum Indira keluar dari mobil.
Indira mengangguk singkat kemudian keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun. Hal tersebut membuat Nares mengembuskan napas pelan, kenapa semua jadi seperti ini. Di saat mereka seharusnya mempersiapkan pernikahan dengan hati yang baik-baik saja, wajah yang berseri.
Justru keadaan menjadi seperti ini, bahkan Indira tidak menyadari bahwa sejak tadi dia mendiamkan Nares selama mereka berada dalam perjalanan. Meski Nares mengajaknya bicara, gadis itu hanya menanggapi seadanya.
Apakah Indira tidak tahu bahwa Nares juga sedang tidak baik-baik saja?
Apakah Indira tidak tahu bahwa mereka seharusnya bicara berdua lebih dulu?
Nares kembali menjalankan mobilnya setelah melihat Indira masuk ke dalam cafe. Setelah ini dia tidak memiliki tujuan apa-apa, sebentar lagi akan pulang ke Bandung. Yang sebenarnya Nares ingin memperbaiki semua lebih dulu dengan Indira, tetapi Nares juga tidak tega meninggalkan ibunya dengan waktu yang lama.
Benar-benar di luar rencana, kenapa harus ada Bastian kembali di antara mereka?
**
“What?! Lo ketemu sama Bastian?”
Ayana tampak terkejut dengan cerita Indira. Meski dia sendiri sudah menduga hal itu akan terjadi tetapi tetap saja merasa terkejut apalagi Indira mengatakan kalau mereka bertemu berempat, ada Indira, Nares, Bastian dan Atika. Sungguh Ayana merasakan sekali bagaimana situasi mereka yang mendadak bertemu.
“Terus gimana? Kalian bicara?”
Indira menggeleng, “Gue kaget dan Mas Nares akhirnya narik gue buat pulang. Mas Nares peka banget sama kode gue, masalahnya gue masih belum bisa buat bicara atau mendengar penjelasan Bastian.”
“Dan lo nggak bahas ini dengan Nares?”
“Gue bingung, jadi kita nggak bahas apapun habis itu dan gue baru sadar kalau sikap gue jadi aneh sama Mas Nares, tadi aja waktu dia ajak ngomong respon gue gitu doang, seadanya. Gue jadi nyesel, dia pasti marah sama gue.”
“Aduh ... Indira! Kenapa lo itu begoo banget sih!” Ayana kesal sekali dengan sikap Indira kepada Nares. Kenapa malah jadi seperti itu dan sekarang dia malah di sini bukannya menjelaskan semua kepada Nares. “Lo harusnya bicara dulu berdua sama dia, sebelum lo cerita sama gue. Apalagi lo berdua itu mau nikah, nggak seharusnya malah menyimpan masalah kaya gini. Bukannya dua orang yang udah berkomitmen itu harus bisa menjaga komunikasi dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Kalau sikap lo malah kaya gitu sama Nares, nggak menutup kemungkinan sih dia bakalan marah sama lo.”
Indira mengigit bibirnya. Kenapa dia begitu ceroboh, kenapa dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Indira menyesal atas apa yang sudah dia lakukan tadi, apalagi Nares yang tampak biasa saja mengajaknya bicara saat di perjalanan tadi malah Indira respon dengan seadanya. Indira tidak ingin kalau Nares sampai marah kepadanya.
“Ya sekarang lo pulang dan ngomong sama Nares!” seru Ayana tidak sabaran. Ayana tidak ingin hubungan Indira dan Nares berakhir karena kehadiran Bastian kembali, ayo lah ... mereka sebentar lagi akan menikah, mereka akan mempersiapkan pernikahan yang Indira impikan, tidak lucu kalau sampai karena Bastian pernikahan itu tidak terjadi dan tidak adil untuk Nares yang selama ini sudah berjuang sampai Indira membuka hati.
“Tapi—“
“Apa lagi sih, Di!” Astaga ... gue gemes banget dah sama lo!” sela Ayana, Indira ini terlalu banyak berpikir padahal sekarang tinggal meminta Nares untuk menjemputnya kembali lalu mereka berbicara secara empat mata, menyelesaikan kesalahpaaman dan masalah yang terjadi, selesai. Begitu saja kan. Apa iya Ayana harus menarik Indira untuk segera menemui Nares?
“Gue cuma takut sama respon Mas Nares, Na.”
“Lo belum mencoba, Di. Gue yakin cowok lo akan menyelesaikan masalah tanpa melibatkan emosi.”
Indira percaya itu apalagi Nares tidak pernah sekali pun membentak atau menaikkan nada bicaranya saat mereka sedang memiliki permasalahan. Nares jutsru akan bersikap tenang menghadapi dirinya yang kerap kali menggebu-gebu. Tetapi kali ini situasinya berbeda, Indira melakukan kesalahan yang mungkin menyinggung perasaan Nares.
“Ada gue kalau emang Nares nanti marah,” ucap Ayana penuh keyakinan. Indira itu sahabatnya sudah pasti dia selalu di samping Indira. Bahkan tanpa Indira tahu bahwa Ayana pernah menampar dan memaki Bastian karena perbuatan laki-laki yang sudah menyakiti sahabatnya. Ayana tidak suka kalau Indira terluka karena laki-laki, karena selama ini saat dirinya sedang sakit hati, Indira juga selalu ada di sampingnya.
“Makasih, Na.”
“Udah seharusnya sahabat begitu kan.”
“Kalau gitu gue pergi dulu, kayanya gue yang akan susul Mas Nares.”
“Semoga kalian bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.”
“Doakan.”
Indira pun beranjak dan keluar dari cafe tersebut, Indira akan menemui Nares. Mungkin tunangannya itu kembali ke hotel karena setahu Indira, Nares tidak memiliki janji dengan siapa pun hari ini bahkan dia baru ingat kalau mereka seharusnya ke butik untuk melihat pakaian mereka. Gara-gara dia, semuanya jadi tidak sesuai rencana.
“Indira ...”
Tubuh Indira menegang mendengar suara itu, perlahan menoleh dan benar saja Bastian berada tidak jauh darinya. Kenapa mereka harus kembali bertemu dan sekarang Indira sedang sendiri, tidak mungkin memanggil Ayana yang sedang berada di dalam cafe apalagi Indira juga tidak ingin membuat orang-orang memperhatikan mereka karena melakukan keributan.
“Aku mau bicara.”
“Nggak ada yang harus di bicarakan,” balas Indira.
“Ada. Aku mau jelasin semuanya sama kamu, aku mau kita balikan dan memulai semuanya, Ra.”
“Semua udah berlalu, aku nggak mau.”
“Aku masih sayang sama kamu, Ra.” Mendengar perkataan Bastian yang terdengar tulus membuat hatinya berdesir. Ada apa dengan hatinya kenapa Bastian bicara seperti itu.
“Dari dulu sampai sekarang, aku masih sayang kamu, Ra. Aku cinta kamu dan yang aku mau itu kamu,” lanjutnya.
Kedua mata Bastian menatapnya lekat bakan tanpa Indira sadari satu tangannya sudah menggenggam tangan kanan Indira. Gadis itu seakan terbawa dengan suasana, tidak menyangkal atau menolak apa yang di lakukan oleh Bastian. Dan di restoran seberang mereka, tanpa Indira sadari Nares mematung melihat Indira bersama dengan Bastian.
Ya ... setelah Nares mengantarkan Indira, tujuannya ke hotel malah kembali berbelok arah, Nares akhirnya menunggu di restoran yang bersebrangan dengan cafe yang tadi Indira datangi. Namun belum sempat Nares menghampiri Indira ketika gadis itu keluar dari cafe, Nares sudah lebih dulu melihat keberadaan Bastian.
Nares tahu mereka butuh waktu berbicara meski Nares sendiri tampak menahan gejolak amarahnya. Nares tidak suka melihat pemandangan di hadapannya, Indira yang tidak menolak dengan sentuhan Bastian.
“Mungkin kamu masih sayang sama dia,” gumamnya.
Nares memilih pergi, keputusan ada pada Indira. Jika gadis itu ingin mengakhiri semuanya, Nares akan terima karena pada kenyataannya Nares hanya menjadi orang ketiga di antara mereka. Nares adalah orang baru dan tidak sebanding dengan Bastian. Kenapa Nares menjadi tidak percaya diri seperti ini.