Tidak baik-baik saja

1211 Kata
#19 Tidak baik-baik saja Indira tidak menyangka begitu cepat pertemuan mereka kembali, padahal Indira pikir mereka tidak akan bertemu secepat ini bahkan bukan hanya ada Indira dengan Bastian saja tetapi mereka berempat, dirinya, Bastian, Nares dan juga Atika. Ya benar, di toko donat tadi Indira melihat Bastian bersama dengan Atika, bahkan ketika mendengar Atika memanggil Bastian dengan panggilan Mas-nya, Indira cukup terkejut dan merasakan perasaan yang entah ... dia sendiri tidak bisa menjelaskan sebenarnya ada apa dengan hatinya. Namun mereka tidak berbicara apa-apa, karena setelah Atika mendekat, Indira menggenggam tangan Nares begitu kencang membuat Nares cukup peka dan akhirnya mengajak Indira untuk segera pergi dari sana. Tanpa sepatah kata pun, bahkan Bastian yang masih begitu terkejut dengan kehadiran laki-laki yang bersama dengan Indira, pun dengan keberadaan Indira yang ada di depan matanya tampak mematung dan tidak lantas mencegah kepergian Indira dengan Nares. Smeentara Atika memperhatikan arah Indira yang berlalu dan ke arah suaminya yang tampak mematung, hatinya gusar dengan hadirnya Indira ke dalam hidup mereka. Setelah Nares mengantarkan Indira sampai rumah kemudian laki-laki itu memilih untuk membiarkan Indira mengambil waktu sendiri, Nares pun segera pulang tanpa mengatakan apapun kepada Indira. Perasaannya pun sama, tidak sedang baik-baik saja. Indira bahkan melewati sang ibu yang sedang berada di ruang tengah, padahal seruan ibunya cukup keras namun tidak membuat Indira menoleh, kedua matanya yang sudah berkaca-kaca membuat langkah kaki semakin cepat dan masuk ke dalam kamar. Tidak ingin ibunya tahu tentang apa yang terjadi tadi, Indira masih perlu waktu untuk menerima apa yang sudah terjadi beberapa waktu lalu. Dan sekarang sudah satu jam berlalu Indira menangis di kamarnya. Meski dia mengatakan bahwa dia sudah baik-baik saja dengan apa yang di lakukan oleh Bastian waktu itu, tetapi ternyata tidak semudah itu mengatakan baik-baik saja karena kenyataannya berbanding terbalik. Bahkan ada rasa yang masih menyakitkan ketika tahu bahwa sekarang Bastian sudah menjadi milik perempuan lain. Indira tahu mungkin dirinya begitu bodoh sudah menangis karena melihat Bastian bersama dengan perempuan lain, Indira selama ini nyatanya tidak pernah merasa merelakan apa yang memang sempat dia miliki, semua itu tidak mudah. Meski sudah satu tahun dia tidak pernah bertemu dengan Bastian, tetapi semuanya bahkan kembali berputar dalam benaknya, di saat Indira kembali bertemu dengan Bastian. “Kita pacaran udah berapa lama sih, Yang?” tanya Bastian kepada Indira. Malam ini mereka sedang makan malam bersama. “Tiga apa masuk empat tahun ya.” Bastian mengangguk, “Bosan nggak?” “Maksudnya?” “Ya kamu bosan nggak sama hubungan kita kaya sekarang,” ucap Bastian dengan kedua mata yang tampak begitu serius. “Kamu ngomong apa sih, pake bosan segala. Kenapa tiba-tiba bahas gitu?” tanya Indira tidak suka dengan apa yang baru saja Bastian katakan. “Kamu bosan sama aku?” ketus Indira kemudian. “Ya habisnya udah lama banget sih,” balas Bastian seolah tidak merasa bersalah atau merasa perkataannya menyakiti hati Indira. Indira tampak berkaca-kaca, Bastian tega sekali mengatakan seperti itu. Apa sekarang kekasihnya itu yang sudah merasa bosan kepadanya, lalu ada perempuan lain yang akan menggantikan dirinya. Padahal Indira pikir hubungan mereka akan baik-baik saja sampai mereka memutuskan untuk melanjutkan ke arah serius, tetapi Bastian malah mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu. Bastian yang melihat kekasihnya sudah berlinang air mata beranjak dari tempat duduknya. Mereka memang sudah menyelesaikan makan malam, tinggal menunggu hidangan penutup saja. Mendekat ke samping kekasihnya, Bastian tiba-tiba berlutut di dekat kursi yang Indira duduki membuat gadis itu menoleh dan terperangah melihat apa yang Bastian lakukan. “Indira Khanza, aku nggak mau terlalu basa-basi sama kamu. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku sangat mencintai kamu bahkan kamu adalah bagian yang paling penting dalam kehidupanku. Dan sekarang, will you marry me?” Tidak pernah di sangka Bastia akan melamarnya seperti ini, apalagi makan malam yang mereka lakukan adalah makan malam biasa saja. Meski Indira sempat keheranan karena restoran tampak sepi sekali, mereka berada di lantai atas bagian restoran ini. Namun Indira tidak curiga apapun, apalagi mereka makan dengan menggunakan pakaian biasa saja meski Bastian tampak rapi sih dengan kemeja yang dia gunakan. Sementara dirinya memakai dress sebatas lutut berwarna cokelat. Indira tampa ragu mengangguk, mengiyakan lamaran Bastian membuat senyum di wajah laki-laki itu semakin melebar. Kemudian Bastian menyematkan cincin di jari kekasihnya, mencium kening Indira dengan begitu lembut, memeluk dan mengatakan terima kasih karena Indira sudah menerima lamarannya. Indira tiba-tiba saja teringat momen di mana Bastian melamarnya. Sayang sekali setelah pertunangan mereka, semua yang mereka rencakan harus kandas di tengah jalan. Indira benar-benar terluka karena pernikahan impiannya dengan laki-laki yang dia cintai harus berakhir begitu saja. Dan sekarang setelah satu tahun lebih mereka tidak pernah bertemu, semesta kembali mempertemukan mereka dengan keadaan yang berbeda. Bukan lagi ada mereka berdua, tetapi kali ini ada Nares dan Atika yang memiliki tempat tersendiri untuk mereka masing-masing. Setelah pertemuan yang tidak di sengaja tadi, Indira kembali mengingat semua yang dia lewati bersama dengan Bastian. Kenapa hatinya menjadi resah seperti ini, di satu sisi sudah ada Nares yang selama ini menemani dirinya dan membuat hatinya kembali membaik. Tetapi di sisi lainnya, Bastian kembali membuat kenangan mereka seolah berputar dalam benaknya. Apa yang harus Indira lakukan sekarang? Bahkan dia tidak tahu sama sekali. ** Sejak bertemu dengan Indira tanpa sengaja, Bastian tampak diam setelah sampai di rumah. Bahkan perkataan Atika sama sekali tidak mendapatkan respon dari laki-laki itu, pun dengan Bastian yang biasanya langsung bermain dengan Rian, saat ini malah memilih untuk ke ruang pribadinya, menyendiri di sana. Atika tidak bisa apa-apa, paham sekali dengan apa yang Bastian rasakan sekarang. Meski dia takut setelah ini Bastian memutuskan untuk berpisah dengannya tetapi Atika akan berusaha lebih dulu untuk membuat hubungan mereka tetap seperti ini, Rian adalah alasan yang harus Atika pertahankan dalam hubungan mereka. Bukan hanya Bastian saja yang terkejut, Atika juga sama. Tidak menyangka setelah selama ini tidak pernah mendengar kabar dari mantan tunangan sang suami, sekarang mereka malah di pertemukan seperti ini. Tadi mereka berada di rumah orang tua Bastian. Membiarkan Rian bersama dengan neneknya dan Bastian mengajak Atika untuk membeli donat. Selesai membayar, tiba-tiba Atika ingin ke toilet dan mengatakan kepada Bastian untuk menunggu di toko tersebut. Bastian pun mengiyakan dan menunggu istrinya. Lalu Bastian yang tadinya menatap ke sekeliling memastikan apakah istrinya sudah kembali malah di kejutkan dengan seseorang yang mirip sekali dengan Indira. Awalnya Bastian merasa dirinya sedang halusinasi karena akhir-akhir ini kembali memikirkan Indira setelah tahu bahwa mantan tunangannya itu ada di Jakarta. Sampai akhirnya Bastian merasa perempuan yang di lihatnya adalah Indira, Bastian pun menghampiri Indira dan memanggil namanya yang membuat Indira menoleh kemudian mematung di tempatnya. Bastian senang sekali karena bisa kembali bertemu dengan Indira, ingin rasanya dia menceritakan semua yang terjadi kepada Indira selama ini. Menjelaskan semuanya agar Indira tidak membencinya, namun sebelum Bastian menarik tangan Indira dan meminta bicara, seorang laki-laki menghampiri mereka dan merangkul Indira dengan begitu posesif, bahkan panggilan sayangnya membuat rahang Bastian mengeras. Brak! Bastian menggebrak meja, merasa kesal sekali karena mengingat kembali Indira yang bersama dengan laki-laki lain. Merasa cemburu ketika Indira sudah bersama dengan yang lain. Padahal Bastian ingin sekali berbicara dengan Indira, tetapi laki-laki itu lebih dulu membawa Indira pergi bahkan sialnya dia tidak bisa melakukan apapun saat itu. Sudah seperti orang begoo saja. “Nggak! Aku nggak bisa melihat kamu bahagia sama cowok lain!” “Kamu itu milik aku, Ra!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN