#18 Kenyataan memang tidak bisa di hindari
Bastian mengurungkan niatnya untuk menghampiri Javi dan sang ibu. Memilih untuk memberikan pesanan sang ibu kepada satpam rumahnya, tentu saja jangan sampai ibunya tahu kalau dia datang ke rumah. Bastian ingin memastikan sampai mana sang ibu akan menutupi kebenaran ini dari dirinya. Setelah dari rumah ibunya, Bastian memilih kembali ke restoran.
Dan sampai sekarang saat dirinya sudah berada di restoran, Bastian masih memikirkan apa yang sudah di bahas oleh Javi dan ibunya, tidak menyangka bahwa kedua orang itu menutupi keberadaan Indira yang sekarang sudah ada di Jakarta.
Perasaannya kali ini tidak bisa di jelaskan, ada perasaan bahagia ketika tahu bahwa Indira akhirnya kembali dan kemungkinan mereka akan bertemu, namun di satu sisi hatinya merasa gelisah karena sekarang dirinya sudah berada di posisi berbeda, memiliki Atika dan Rian yang satu tahun ini membuat hidupnya berubah.
Memang tidak akan mudah untuk melupakan semua tentang Indira. Apalagi mereka menjalin hubungan cukup lama. Hanya karena kesalahan yang Bastian lakukan akhirnya dia kehilangan Indira seperti ini. Padahal dulu Bastian selalu membayangkan bagaimana kehidupannya nanti bersama dengan Indira. Berada di satu rumah yang sama yang sudah Bastian siapkan untuk tinggal bersama dengan Indira dan keluarga kecil mereka kelak.
Bukan rumah yang sekarang dia tempati dengan Atika. Tetapi ada satu rumah yang sudah di siapkan dari lama untuk Indira. Bahkan sesuai dengan apa yang Indira inginkan, tetapi sayang sekali belum sempat Indira melihat rumah mereka, hubungan mereka harus berakhir seperti ini.
“Sayang, kamu mau rumah yang kaya gimana buat kita nanti?” tanya Bastian.
Mereka sedang menikmati waktu berdua di apartemen milik Bastian. Karena ini hari minggu, seharian ini mereka melakukan kegiatan berdua. Tadi pagi olah raga bersama, kemudian di lanjutkan dengan Bastian yang menemani Indira ke salon, setelah itu mereka berada di apartemen sampai sore ini.
“Kok tanya soal rumah?” bukan menjawab bertanyaan Bastian, Indira malah balik bertanya.
“Ya emang kenapa sih, kan aku tanya. Nanti kalau udah ada rejeki, aku bakal buatin rumah, biar nanti kalau udah nikah kita langsung punya rumah dan tinggal berdua.”
“Kalau aku pengen rumah satu lantai aja, capek kalau harus sapu ngepel kalau rumahnya dua tingkat,” balas Indira membuat Bastian terkekeh.
“Ya nanti cari asisten rumah tangga dong, Sayang. Aku nggak akan biarin kamu capek beresin rumah kaya gitu. Lagian kamu istri aku ya dan aku bukan cari tukang beres-beres nantinya.”
“Tapi kan emang udah tugas istri kaya gitu.”
“Siapa bilang? Nanti tugas kamu itu melayani aku doang terus ngurus anak-anak kalau kita udah punya anak. Urusan yang lain kita bisa cari asisten rumah tangga.”
Indira mengangguk saja. Benar sih, tetapi selama ini Indira sudah belajar melakukan semuanya untuk membuat Bastian senang karena bisa melakukan tugas sebagai seorang istri dengan baik nantinya. Jujur saja, dia memang tidak begitu pandai dalam urusan rumah. Paling berada di dapur untuk membantu ibunya memasak, itu pun kalau memang dia tidak merasa malas.
“Jadi selain maunya rumah satu lantai doang, kamu mau kaya gimana lagi?”
“Aku pengen ada kolam ikan di samping rumah, ada gazebo, pokoknya suasananya itu asri banget deh.”
Bastian mengaggukan kepalanya sambil membayangkan rumah yang di inginkan oleh Indira. Kalau sudah tahu apa yang di inginkan oleh Indira, nanti dia tinggal mewujudkan semuanya. Tidak sabar rumah mereka selesai dan mereka bisa tinggal bersama setelah menikah. Pasti akan sangat membahagiakan.
Bastian tersadar akan lamunannya. Tidak seharusnya dia kembali mengingat yang sudah lama berlalu. Mengetahui bahwa Indira sudah kembali berada di Jakarta membuat kenangan bersama dengan Indira kembali teringat dalam benaknya. Tidak bisa di pungkiri bahwa Indira masih ada di dalam hatinya, meski sekarang sudah ada Atika yang perlahan memasuki relung hatinya.
Bahkan jika harus memilih, Bastian tidak tahu harus memilih antara Atika atau Indira. Karena keduanya memiliki posisi yang berbeda di dalam hatinya. Jika Indira adalah perempuan yang begitu di cintainya, maka Atika adalah perempuan yang sudah rela berjuang untuk melahirkan anaknya, ibu dari anak mereka.
Tetapi, memangnya Indira akan sudi menerimanya kembali setelah apa yang sudah Bastian lakukan kepada perempuan itu?
Bastian mengacak rambutnya, kesal. Kenapa sekarang keadaan membuat dirinya bingung seperti ini? Bastian menginginkan Indira kembali, tetapi Bastian juga tidak bisa begitu saja melepaskan Atika dari kehidupannya.
Satu tahun, meski tidak sebanding dengan apa yang dilewati bersama dengan Indira. Tetapi kehadiran Atika selama itu dengan perhatian dan kelembutannya tentu saja membuat Bastian terbiasa dengan istrinya. Bastian harus bagaimana?
**
Nares dan Indira sedang menikmati waktu mereka selama di sini. Setelah kemarin menghabiskan waktu dengan urusan masing-masing. Hari ini mereka bisa jalan berdua, tadi Indira mengajak Nares pergi ke bioskop. Kemudian mereka juga makan siang berdua di salah satu tempat makan cepat saji. Indira sedang ingin makan ayam dan kentang, kalau Nares yang penting Indira senang maka tidak masalah makan di mana pun.
Sekarang Indira dan Nares sedang berada di salah satu toko sepatu, tadi Nares yang meminta mereka untuk masuk ke dalam toko ini setelah setelai makan siang dan memilih untuk jalan-jalan dulu sebelum pulang.
Nares bilang ingin membeli sepatu. Cukup terkejut bagi Indira karena Nares kembali mengatakan sepatu couple untuk mereka berdua. Indira jadi gemas sendiri, semakin lama kenapa tunangannya ini semakin manis sekali. Meski wajahnya masih tetapi sama sih, datar begitu tetapi tidak masalah bagi Indira, yang jelas sekarang Nares semakin perhatian kepadanya.
Mereka sudah menemukan satu sepatu couple. Warnanya navy dan merupakan sepatu olahraga. Sepertinya Nares sedang memberikan kode kepadanya untuk sering berolahraga, sampai-sampai membelikan sepatu seperti ini.
“Kode banget, Mas nyuruh aku olahraga ya,” ucap Indira selesai Nares membayar sepatu yang tadi mereka pilih.
“Memang.”
“Singkat, padat dan jelas sekali jawaban anda, Tuan Nares,” bibirnya mencebik mendengar jawaban Nares.
“Biar kita bisa olahraga barengan.” Nares mengusap puncak kepala Indira dengan begitu lembut. “Kamu mau ke mana lagi?” tanya Nares setelah mereka keluar dari toko.
“Beli donat deh, tiba-tiba pengen.”
Nares mengangguk setuju. Kemudian mereka pun mencari toko donat yang di inginkan oleh Indira. Pokoknya hari ini mereka akan menghabiskan waktu berdua sampai malam karena memang Nares di undang untuk makan malam di kediaman Baskara. Selama di sini Nares sendiri tinggal di hotel, meski Farida meminta Nares untuk di kediaman mereka saja, tetapi Nares menolak dengan sopan.
Nares merasa dia dan Indira masih belum memiliki hubungan yang sah meski mereka sudah bertunangan tetapi Nares harus bisa menjaga Indira. Bukan tidak mungkin kan kalau mereka berada di satu rumah yang sama menjadi ada kesempatan untuk mereka berdua di dalam rumah. Bagaimana pun Nares adalah laki-laki normal.
**
Nares menunggu Indira memilih donat yang di sukainya. Duduk di kursi yang memang berada di toko ini. Pandangannya tengah fokus pada layar handphone, sesekali meski begitu tipis tetapi Nares tampak mengulas senyum. Sebuah desain rumah yang di rancangnya sendiri sebentar lagi akan rampung dan tinggal melakukan pengerjaan untuk membangun rumah yang sebenarnya.
Sudah satu bulan ini, Nares memang tengah gencar mempersiapan hunian untuk dirinya dan Indira yang akan mereka tempati setelah mereka menikah, waktu itu baru rencana saja sampai akhirnya Nares mencaritahu informasih rumah impian Indira dari mulut sang calon ibu mertua. Ternyata Indira menyimpan satu robekan yang tampak sekali bagunan rumah, entah Indira robek dari mana namun sang ibu menemukannya di kamar Indira.
Nares pun senang mengetahui apa yang di inginkan oleh Indira. Rumah lantai satu yang begitu asri. Namun tentu saja Nares mengubah sedikit, memilih rumah lantai dua untuk nanti di lantai dua adalah tempat yang mereka akan menghabiskan waktu bersama, Nares akan membuat ruang baca dan ruang menonton. Dua hal yang disukai oleh Indira.
Sementara Nares sedang fokus pada handphonenya. Indira sudah memilih donat yang dia inginkan, dua box sekaligus untuk orang di rumah. Selesai itu Indira membayarnya dengan uang yang sudah di berikan oleh Nares, bahkan bukan hanya uangnya, tetapi dengan dompetnya Nares memberikan itu kepada Indira, sudah seperti suami-istri kan mereka.
Indira sempat menolak tetapi Nares tidak pernah bisa di bantah kalau urusan membayar seperti ini. Sejak dulu saat mereka pergi ke mana pun maka Nares yang selalu membayar bahkan sebelum mereka resmi berpacaran, meski Indira merasa tidak enak hati saat itu tetapi susah untuk menolak apa yang sudah Nares lakukan.
“Indira ...”
Tubuh Indira menegang. Dia sangat tahu suara itu dan untuk pertama kalinya Indira tidak ingin mendengar suara itu. Suara yang membuat dirinya kembali sadar akan apa yang sudah di lakukan sang pemilik suara. Dan Nares tampak beranjak dari kursi melihat tubuh tunangannya yang tampak diam di tempat dengan seorang lelaki yang posisinya membelakangi Nares sekarang. Nares segera menghampiri Indira dan berdiri di samping gadisnya dengan tangan yang langsung merangkul pinggang Indira.
“Kenapa, Sayang?” tanya Nares. Perkataan Nares membuat laki-laki di hadapan mereka tampak terkejut. Namun belum membuka mulutnya, suara perempuan dari arah lain membuat mereka kompak menoleh.
“Mas Bastian ...”
**