#17 Kenyataan yang di sembunyikan
Nares mengantarkan Indira ke salah satu Cafe. Katanya Indira akan bertemu dengan Ayana –temannya. Hari ini pun Nares akan melihat lokasi untuk membuka toko kuenya. Jadi seharian ini mungkin mereka tidak akan menghabiskan waktu bersama selama di sini, tetapi Nares mengatakan akan pulang sebelum jam makan siang.
Indira sebenarnya agak ragu untuk pergi keluar seperti ini. Karena bagaimana pun dirinya sedang berada di Jakarta dan tidak menutup kemungkinan Indira akan bertemu dengan Bastian. Tidak untuk sekarang, Indira masih tidak bisa kalau harus dipertemukan dengan Bastian setelah cukup lama.
Mobil yang Nares kendarai sampai di depan Cafe. Indira pun segera mengecek tas yang dia bawa, memastikan bahwa dompet dan handphone miliknya sudah Indira masukkan ke dalam tas.
“Nanti kasih tahu kalau kamu pindah tempat atau pergi ke mana, aku jemput lagi,” ucap Nares sebelum Indira membuka pintu mobilnya.
Indira menoleh menatap Nares kemudian mengangguk. “Iya, Mas Nares. Kamu udah bilang itu sejak kita pergi dan aku pasti ingat.”
“Iya-iya, siapa tahu kamu lupa.”
“Memangnya aku udah tua kaya kamu.”
“Dan lelaki tua ini sebentar lagi menjadi suami kamu, Sayang.”
Indira cekikikan. Benar juga, tetapi Indira senang kalau menggodaa Nares dengan membahas umurnya. Padahal umur mereka berdua tidak jauh jaraknya, hanya berbeda dua tahun lebih tua Nares saja. Tetapi kalau sudah membahas tua-muda maka Indira akan selalu menyebut Nares tua. Nares sih tidak masalah, toh memang begitu kan.
“Yaudah aku pamit ya, Mas hati-hati. Jangan ngebut loh,” ucap Indira mengingatkan.
Nares mengangguk lalu mengulurkan tangan kanannya membuat Indira mengernyit.
“Apa?”
“Salim dulu sama suami,” katanya.
“Suami? Astaga ... sejak kapan kamu percaya diri kaya gini, Mas.” Indira menggeleng namun tak urung mencium tangan Nares persis sekali seperti seorang istri kepada suaminya, meski terkikik geli dengan perkataan Nares. Mereka kan belum resmi menjadi suami-istri, tetapi Indira jadi gemas sendiri melihat Nares seperti ini.
“Membiasakan diri, Nyonya.”
“Siap Tuan. Kalau gitu aku pamit ni, keluar sekarang. Ada lagi yang aku lupakan?”
Nares mencondongkan tubuhnya kemudian mencium puncak kepala Indira dengan begitu lembut, “Selamat bersenang-senang,” katanya.
Indira tersenyum lebar, “Jangan ngebut ya, Mas.” Setelah itu benar-benar membuka pintu dan keluar dari mobil.
Nares kembali menjalankan mobilnya setelah memastikan Indira masuk ke dalam Cafe dan tidak lepas dari perhatiannya. Tingkah Nares memang sekarang seperti itu, entah Nares merasa tidak ingin sedetik saja Indira lepas dari pandangannya, selalu ingin memastikan kalau Indira sedang bersama dengan siapa, berada di mana.
Sudah dua malam ini, Nares bermimpi bahwa dia kehilangan Indira. Dan tentu saja tidak ingin mimpi itu menjadi kenyataan. Nares bahkan tidak menceritakannya kepada Indira, bukannya mimpi buruk tidak boleh di ceritakan kepada orang lain. Nares tidak bisa kalau sampai mimpi itu menjadi kenyataan dan dia kehilangan Indira.
**
Indira senang sekali karena bisa kembali menikmati waktu santainya dengan Ayana seperti dulu. Memang sejak dia berada di Bandung waktu yang biasa dia habiskan bersama teman tidak ada karena tidak selalu sering Ayana ke Bandung dan Indira pun merasa tidak enak kalau harus terus meminta Ayana untuk ke sana.
Sekarang mereka sedang bercerita tentang perkembanagn hubungan Indira dan Nares. Ayana memang tahu bahwa Indira sudah bertunangan dengan Nares, tetapi dia memang waktu itu tidak bisa datang ke acara tersebut. Apalagi waktu itu Bastian seolah masih mengawasinya untuk menemukan keberadaan Indira. Bahkan kalau Ayana ke Bandung saja selain tidak bisa sering datang karena pekerjaan juga, Ayana tidak ingin membuat kecurigaan Bastian saat itu. Bisa saja Bastian meminta seseorang untuk mengikutinya.
“Jadi udah fix adain acara pernikahan di sini?” tanya Ayana.
Indira mengangguk, “Iya, lagian permintaan Ayah sama Ibu dan gue nggak mungkin mengecewakan mereka.”
“Nares setuju?”
“Malah dia yang selalu bujuk gue,” balas Indira.
“Gue senang banget karena sekarang lo menemukan laki-laki yang emang pengertian banget, sayang sama lo, melindungi lo. Ah beda sama Bastian,” celetuk Ayana yang menyebutkan kembali nama Bastian padahal sejak tadi tidak ada pembahasan tentang laki-laki itu.
Indira terdiam mendengar nama Bastian. Langsung menyadarkan Ayana kalau perkataannya tadi benar-benar salah. Seharusnya dia ingat untuk tidak menyebutkan nama Bastian saat bersama dengan Indira seperti ini. Kenapa dia sampai keceplosan menyebutnya.
“Sorry, Di”
Indira mengulas senyum, “Nggak. Gue gak apa-apa. Mas Nares bilang kalau gue harus bisa berdamai sama masa lalu. Sama semuanya yang membuat luka di hati gue, emang susah tapi gue harus bisa dan berusaha.”
“Gue semakin yakin kalau Nares memang yang terbaik buat lo.”
“Gimana kabar dia, Na?”
Ayana paham apa yang di maksud oleh Indira. Dia yang di maksud sudah pasti Bastian. Memang selain bertemu dengan Indira seperti ini, Ayana sebenarnya ingin mengatakan kabar yang dia dapat tentang Bastian.
Ayana hanya ingin memastikan saja bahwa perasaan Indira sudah tidak ada lagi untuk laki-laki itu. Bagaimana pun mereka tidak mungkin bersama kembali apalagi Ayana tahu Indira sudah lebih baik-baik saja dari sebelumnya, Indira sudah mendapatkan kebahagiaannya. Bahkan sebentar lagi akan menikah dengan laki-laki yang begitu baik seperti Nares.
“Baik dan hubungan dia sama istrinya udah nggak sekaku dulu. Sekarang terlihat seperti keluarga kecil bahagia dan pasangan suami-istri pada umumnya.”
“Anaknya udah lahir?”
Ayana mengangguk singkat.
“Syukur kalau begitu, karena dia mau mempertanggung jawabkan perbuatannya.”
“Itu karena lo, Di. Alasannya adalah lo,” ucap Ayana. “Waktu itu Bastian masih begitu mencintai lo bahkan dia nggak pernah sedikit pun berhenti buat cari keberadaan lo. Tapi ya ... lo tahu sendiri bagaimana kekuasaan ayah lo kan. Bastian nggak mudah menemukan keberadaan lo yang di Bandung,” lanjutnya.
“Gue harap gue nggak ketemu sama dia lagi sih.”
“Tapi, nggak menutup kemungkinan kalian ketemu. Secara sekarang lo ada di sini, Di. Jakarta emang luas, tapi selalu ada kemungkinan yang pada akhirnya kalian bertemu dan gue harap lo mempersiapkan diri. Gue emang nggak berhak ikut campur, tapi gue harap kalau memang kalian ketemu, lo nggak lagi jatuh pada hati yang sama. Meski Bastian nanti mungkin ingin kembali, gue harap lo lihat Nares bagaimana dia yang selalu ada buat lo selama ini. Gue nggak mau lo kembali tersakiti.”
“Karena gue bisa lihat di mata lo, meski Bastian menjadi alasan lo pergi dari Jakarta karena rasa sakit yang dia berikan sama lo. Tetapi kedua mata lo nggak bohong, Di. Lo masih belum sepenuhnya menghapus perasaan lo untuk Bastian.”
Indira diam mendengar perkataan Ayana. Benar kah dirinya begitu?
**
Bastian mengernyit melihat mobil sahabatnya berada di halaman rumah sang ibu. Kemudian laki-laki itu bergegas keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Biasanya Javi akan memberitahu Bastian kalau memang akan berkujung ke rumah, meski tidak asing kehadiran Javi di sini karena sang ibu sudah menganggap Javi seperti anak sendiri tetapi heran saja karena di jam kerja seperti ini Javi ada di rumahnya.
Bastian sendiri datang ke sini untuk mengantarkan pesanan sang ibu, nanti dia juga akan langsung kembali ke restoran dan pulang sebelum jam makan siang. Seperti biasa akan makan siang di rumah dan menikmati masakan istrinya.
Langkah Bastian terhenti saat mendengar dua orang yang tampaknya sedang mengobrol begitu serius. Telinganya tiba-tiba di pasang begitu tajam, penasaran apalagi suara ibunya terdengar menyebut namanya.
“Bastian jangan sampai tahu, Jav. Kamu yakin kalau mereka di Jakarta?”
“Iya, Tante. Kemarin Javi nggak sengaja lihat dia sama cowok di salah satu restoran. Lagi makan malam gitu, kebetulan waktu itu Javi ada di sana karena ketemu teman juga.”
“Gimana keadaan dia sekarang?”
“Javi lihat baik-baik aja, Tante. Mungkin udah menjalin hubungan sama cowok itu. Soalnya kalau mereka berteman, kayanya nggak mungkin deh. Javi lihatnya kaya lagi pacaran gitu.”
“Tante mohon sama kamu, jangan sampai Bastian tahu. Tante nggak mau nantinya berimbas pada hubungan Bastian sama Atika. Kamu sendiri udah lihat kan gimana hubungan Bastian sama Atika sekarang, apalagi sudah ada anak di antara mereka. Tante ingin rumah tangga mereka bisa bertahan sampai kakek-nenek.”
“Javi sangat tahu, Tan. Javi juga senang karena perlahan Bastian bisa membuka hati untuk Atika.”
“Kamu bisa janji kan sama Tante.”
Javi mengagguk, “Iya, Tante. Javi nggak akan kasih tahu sama Bastian kalau Indira sudah ada di Jakarta. Javi sudah janji.”
Degh.
Indira di sini?
Bastian mematung di tempatnya. Mendengar nama Indira disebutkan oleh Javi membuat hatinya berdesir. Apakah yang di maksud adalah Indira yang sama, yang merupakan mantan tunangannya dulu. Tetapi memang ada Indira yang lain yang Javi dan mamanya kenal selain dia.
**