Kehidupan yang baru

1658 Kata
#16 Kehidupan yang baru “Anak Ayah ganteng banget sih,” ucap Bastian menghampiri anaknya yang baru saja selesai mandi. Saat weekend seperti ini Bastian selalu memberikan waktu untuk keluarga kecilnya yang dinikmati mereka bertiga di rumah bahkan di hari kerja pun ayah satu anak itu tidak pernah lagi pulang sore, sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaan lebih awal. “Mas jagain dulu ya, awas loh jangan sampe nangis. Aku juga mau mandi dulu,” ucap Atika selesai membereskan perlengkapan anaknya. “Iya siap, Bunda,” balas Bastian tersenyum hangat. Kalau weekend begini Atika selalu mandi setelah anaknya mandi, karena pekerjaan rumah dia yang urus, Atika meminta kepada Bastian untuk mempekerjakan asisten rumah tangga hanya sampai hari jumat. Bahkan untuk urusan masak sehari-hari, tetap di lakukan oleh dirinya. Karena Atika ingin suaminya memakan masakan hasil dari tangannya, kecuali kalau memang sedang repot sekali dengan anaknya, tetapi sampai sekarang Atika menikmati semua itu. Tidak pernah merasa repot setelah memiliki anak. Bastian sendiri tidak memaksa dan menolak ketika istrinya menginginkan asisten rumah tangga yang hanya bekerja sampai hari jumat. Semenjak mereka tinggal di rumah baru setelah dua bulan anak mereka lahir, semua urusan rumah sudah Bastian berikan kepada sang istri. Hubungannya memang semakin membaik saat itu. Atika pun segera masuk ke dalam kamar mandi, melakukan ritual mandinya. Sebisa mungkin selalu tampil bersih dan wangi untuk suaminya. Atika bertekad untuk terus menarik hati suaminya, karena merasa belum sepenuhnya Bastian menerima dirinya meski mereka sudah kembali melakukan hubungan suami istri. Atika hanya merasa bahwa Bastian adalah laki-laki normal yang memang membutuhkan kehangatan. Apalagi mereka sudah sah menjadi pasangan suami-istri dan karena itu Atika ingin memiliki Bastian, bukan hanya tubuh tetapi hatinya. Kali ini boleh kah dirinya egois untuk mempertahankan rumah tangganya. Setelah melihat Atika masuk ke kamar mandi, Bastian pun tampak senang berdua dengan anaknya. Benar-benar copy-an dirinya setiap kali melihat sang anak, Bastian tidak menyangka bahwa sekarang dirinya sudah menjadi seorang ayah. “Ayah sayang banget sama kamu,” ucap Bastian sembari mengelus pipi anaknya dengan begitu pelan. Seolah tidak ingin sang anak merasakan sakit karena sentuhannya, Bastian memang selalu berlebihan jika berhubungan dengan anaknya. ** Hari ini akhirnya datang. Indira akhirnya akan pulang ke Jakarta bersama dengan Nares. Sejak kemarin perasaannya tidak menentu, entah kenapa meski setuju untuk pulang ke Jakarta tetapi hatinya masih saja gelisah. Nares tetap meyakinkan Indira bahwa semuanya akan baik-baik saja. Selama ada dirinya di samping Indira maka Nares akan selalu menjaga Indira dengan seluruh kemampuannya. Indira dan Nares akan pergi ke Jakarta menggunakan mobil. Hanya pergi berdua dengan Nares yang menjadi supirnya. Hal tersebut karena untuk memudahkan Nares pergi ke mana-mana saat berada di sana untuk mengurus toko kue yang akan di bangun. Pun karena jarak antara Bandung dan Jakarta masih bisa ditempuh dengan menggunakan mobil pribadi. Jadi Nares tidak masalah kalau harus menyetir sampai ke Jakarta. “Bi, Indira pulang dulu ya. Makasih banget selama di sini Bibi udah temanin Indi terus masakain makanan buat Indi,” pamit Indira kepada Bi Sumi. “Sama-sama, Non. Bibi malah senang ada Non Indira di sini. Rumah jadi nggak sepi.” “Indira pasti ke sini lagi, udah lama juga di sini kasihan Ibu sama Ayah.” “Non hati-hati ya, pokoknya Bibi bakalan senang kalau Non Indi selalu datang ke sini. Mas Nares, Bibi titip ya. Hati-hati bawa mobilnya,” ucap Bi Sumi kepada Indira dan Nares. Bi Sumi senang sekali mengetahui anak majikannya bertunangan dengan laki-laki yang begitu baik, bahkan selama Indira di sini, yang biasanya tampak murung sudah tidak lagi setelah menjalin hubungan dengan Nares. “Iya, Bi. Kalau begitu kita berangkat dulu,” pamit Nares. Mereka pun segera masuk ke dalam mobil setelah Nares memasukkan barang-barang milik Indira. Sengaja pergi pagi untuk menghindari kemacetan di weekend, meski tetap saja akan terkendala macet karena mereka pergi saat weekend seperti ini kan. ** “Mau mampir beli makanan?” tanya Nares setelah mereka keluar dari tol. Menempuh perjalanan yang tidak begitu panjang akhirnya mereka sampai di ibu kota. Sejak menginjakkan kembali di kota ini perasaan Indira tidak menentu, kerap kali kedapatan melamun oleh Nares. “Nggak perlu, Mas. Kita makan di rumah aja nanti.” “Buat ganjal perut kamu, tadi kamu makan dikit kan.” “Belum lapar kok, Mas. Tenang aja nanti aku pasti bilang sama kamu kalau emang aku lapat.” Nares mengangguk dan kembali fokus pada jalanan di depannya. Sebentar lagi mereka sampai di kediaman orang tua Indira. Sejak di perjalanan bahkan Farida sudah menghubungi Indira dan menanyakan baru sampai di mana atau sudah sampai Jakarta apa belum. Sepertinya sang ibu memang tidak sabar untuk bertemu dengan dirinya. Mobil milik Nares akhirnya memasuki halaman rumah megah milik keluarga Indira. Suasana tampak begitu asri, ada taman kecil di samping rumah dengan air mancur yang letaknya di tengah-tengah. Nares cukup kagum dengan rumah ini bahkan tidak menyangka bahwa keluarga Indira menerima kehadirannya dan merestui hubungan mereka seperti sekarang sampai akhirnya mereka bertunangan. Narea menoleh ke samping mendapati Indira yang tampak lelap. Padahal tadi saat perjalanan dari Bandung ke Jakarta Indira tidak tidur, tetapi saat perjalanan ke rumah begini malah terlelap. Nares tersenyum tipis suka sekali melihat wajah tenang dari tunangannya ini ketika tidur. Tunangan ... dan Nares selalu menyukai sebutan itu, karena mengingat hal tersebut membuat Nares tidak menyangka sebentar lagi mereka akan menjadi suami-istri. Nares membuka pintu dan keluar dari mobil, tampak Farida yang baru saja membuka pintu rumah. Mungkin salah satu asisten rumah tangganya yang memberitahu karena tadi Nares sempat melihat seorang perempuan yang baru saja selesai menyiram tanaman. Nares menghampiri Farida lebih dulu, mencium tangannya dengan begitu santun seperti biasa yang selalu Nares lakukan. Farida tersenyum hangat menyambut kedatangan calon menantunya. “Apa kabar, Res?” “Baik, Bu. Ibu gimana sehat kan? Maaf baru hari ini bisa datang ke Jakarta,” balas Nares meminta maaf kepada Farida. “Ibu juga baik. Nggak papa yang penting kalian sekarang udah sampai di sini, Ibu senang banget waktu dua hari lalu Indira bilang mau pulang. Makasih ya, kamu udah bisa bujuk Indira pulang ke Jakarta.” “Nggak perlu berterima kasih, Bu. Memang sudah waktunya Indira pulang kan.” Nares mengulas senyum. Dia juga senang karena akhirnya Indira mau pulang dan menginjakkan kakinya kembali di kota kelahirannya. “Indira mana? Kok belum keluar dari mobil?” tanya Farida yang baru menyadari bahwa anaknya belum juga keluar dari mobil. Farida malah asyik bertanya kabar kepada Nares bukan mencari keberadaan anaknya. “Tidur, Bu. Kayanya kecapekan, biar nanti Nares gendong. Mau keluarin koper sama barang-barang dulu,” ucap Nares. “Biar Pak satpam yang bantu.” Farida pun memanggil satpam yang tidak jauh dari mereka dan menyuruh membawa koper beserta barang-barang yang berada di mobil ke dalam rumah. Sementara Nares menghampiri Indira yang masih terlelap, benar-benar tidak terusik, memang sepertinya kelelahan karena pertama kali lagi perjalanan Bandung-Jakarta. Nares menggendong Indira ke dalam rumah. Tidak tega kalau membangunkan kekasihnya dan memilih untuk menggendong meski sebelumnya tidak pernah seperti ini. Pertama kali Nares melakukannya karena tidak mungkin kan menyuruh orang lain apalagi sampai satpam di rumah ini, Nares tidak bisa terima kalau kekasihnya di gendong laki-laki lain. ** “Jadi kamu berencana buka toko kue di sini, Res? Sudah ada lokasihnya?” tanya Farida saat Nares bercerita bahwa akan membuka toko di Jakarta. Mereka sedang makan bersama, ada Baskara juga yang satu jam lalu baru saja sampai di rumah. “Sudah, Bu. Besok Nares mau cek ke sana. Memang punya teman jadi langsung ketemu sama tempatnya, kalau di lihat sih cukup strategis dan cocok kalau buka usaha di sana.” “Semoga nanti lancar ya usahanya.” “Aamiin, terima kasih, Bu.” “Ayah lagi mau renovasi lagi, kamu bisa nggak Res?” tanya Baskara memecahkan keheningan setelah Nares selesai bercerita. “Kapan, Yah?” “Dua bulan lagi sih, yang kantor cabang lain biar karyawan makin betah dan semangat kerja,” ucap Baskara. Laki-laki paruh baya itu memang selalu memikirkan kenyamanan pekerja di kantornya. Setelah merenovasi kantor yang lain waktu itu, giliran yang satunya lagi melakukan renovasi. “Bisa nanti Ayah bilang aja mau diubah kaya gimana.” “Kalau itu nanti kamu lihat dulu tempatnya, semuanya Ayah serahkan sama kamu.” Nares mengangguk saja. Mendapatkan kepercayaan dari calon mertuanya tentu Nares tidak akan membuat mereka kecewa kepadanya. Pun dalam pekerjaan seperti ini, Nares akan melakukan yang terbaik. “Jangan bahas kerjaan dong, bosan banget,” celetuk Indira yang sejak tadi hanya sebagai penyimak saja. “Ya sudah kalau begitu bahas yang lain. Kapan kalian mau mempersiapkan pernikahan?” tanya Baskara akhirnya mmbuat Indira tersedak karena pertanyaan sang ayah. Baskara mengernyit, kenapa anaknya ini berlebihan sekali. Ini bukan hal yang mengejutkan kan sampai tersedak begitu. Nares memberikan minum kepada Indira, menepuk pelan punggung kekasihnya. Membuat Farida tersenyum senang, melihat bagaimana Nares yang memperlakukan anaknya dengan sangat baik tentu sebagai ibu, Farida sangat senang. “Pelan-pelan makannya,” ucap Nares masih menepuk punggung Indira. “Kamu ditanya soal pernikahan sampe kaget begitu, aneh-aneh aja,” ucap Baskara. “Ayah sih dadakan banget,” sahut Indira. “Katanya tadi mau bahas yang lain nggak usah bahas kerjaan.” “Tapi kan—“ “Udah, kamu kok sama ayah malah nyahut terus. Nggak baik tahu,” sela Nares melihat Indira yang seolah tidak mau kalah dengan terus membalas perkataan sang ayah. “Iya, Mas.” “Emang cuma Nares yang bisa bikin anak ayah jadi manis. Penurut pula,” ucap Baskara kembali berbicara. “Udah makan lagi,” ucap Nares kepada Indira yang hendak membuka suara. Indira mendengkus menatap Nares, padahal mau membalas perkataan ayahnya, sejak kapan memang dirinya tidak menurut. Mereka pun kembali makan dengan membahas tentang rencana pernikahan Indira dan Nares. Seperti yang memang sudah di rencakan di awal saat mereka berangkat ke Jakarta, mereka akan membahas perihal pernikahan, Indira saja yang memang terlalu berlebihan sampai kaget, padahal sudah tahu akan membahas hal tersebut. Dan malam itu mereka baru sepakat untuk menggelar pesta di Jakarta, seperti yang selama ini di harapkan oleh kedua orang tua Indira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN