#15 Berdamai dengan masa lalu
Satu tahun kemudian ...
Nares dan Indira tengah bahagia, apalagi kalau bukan karena akhirnya setelah satu tahun menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih, Indira resmi menjadi tunangan Nares. Mereka baru saja melangsungkan pertunangan satu minggu yang lalu di kediaman Indira yang berada di Bandung. Hanya keluarga inti saja seperti orang tua mereka yang menyaksikan pertunangan tersebut dan tentu saja ada Ines yang merupakan sepupu dari Nares menjadi bagian dari keluarga intinya, karena Indira tidak ingin mengadakan acara pertunangan yang terlalu mewah. Cukup keluarga saja yang penting suasana begitu hangat antar keluarga, Nares pun setuju saja selama kekasihnya senang.
Menjadi pasangan yang sudah bertunangan tidak membuat keduanya berubah, semua masih tetap sama seperti selama ini. Jangan pikir kalau dalam hubungan mereka tidak ada yang namanya beradu pendapat yang berujung kesal satu sama lain. Tentu saja ada, namun tidak membuat mereka menjadi merenggangkan hubungan. Seperti sekarang, keduanya tampak sedang berdebat perihal rencana pernikahan mereka.
“Semuanya udah berlalu. Dan aku sangat yakin kalau dia juga udah nggak ingat sama kamu. Kenapa kamu harus takut ketemu sama dia?” tanya Nares. Semenjak resmi bertunangan Nares sudah terbiasa dengan aku-kamunya.
Kali ini laki-laki itu kembali membahas tentang mantan tunangan dari Indira. Sejak lama, Nares selalu mengajak Indira untuk kembali ke Jakarta. Nares hanya tidak ingin Indira seakan melarikan diri dari kenyataan. Semuanya sudah berlalu dan sekarang hanya ada mereka berdua yang melangkah ke depan untuk menjadi lebih baik di masa depan. Yang terjadi selama ini, menjadi masa lalu, biarkan menjadi sebuah pelajaran.
“Mas enak bilang kaya gitu, aku yang ngerasain, Mas. Kenapa sih nggak ngerti banget,” sahut Indira yang tampak kesal. Membahas laki-laki itu malah menjadi perdebatan di antara mereka tetapi Nares selalu saja memulainya.
“Aku ngerti. Tapi aku udah bilang kan, dia masa lalu kamu. Seharusnya kamu bisa belajar untuk berdamai dengan masa lalu kamu. Biar hati kamu tenang, atau selama ini kamu belum bisa lupain dia?”
“Kamu ngomong apa sih!” seru Indira tidak terima dengan tuduhan yang Nares layangkan kepadanya. Tidak ... Indira tidak lagi memiliki perasaan pada Bastian, apa yang terjadi dulu semua sudah matii dan Bastian sendiri yang membuat hatinya matii.
“Udah ya, aku tahu banget ujungnya bakalan gimana. Aku nggak mau lagi kamu bahas dia di antara hubungan kita.”
“Bukan aku membawa dia dalam hubungan kita, tapi emang aku mau kamu berdamai aja sama masa lalu kamu. Kita mau pulang ke Jakarta dan aku udah setuju sama Ayah kalau pernikahan kita bakalan digelar di sana.”
“Mas kenapa nggak bilang sama aku?”
“Jangan pura-pura lupa, aku udah pernah bilang sama kamu. Keluarga kamu dan teman-teman kamu banyak di Jakarta dan ini pernikahan pertama sekaligus terakhir dalam kehidupan kamu, termasuk dengan kehidupan aku. Aku cuma mau kamu senang dengan kehadiran semuanya. Satu lagi, pikirkan juga rekan kerja Ayah.”
Indira diam. Memang yang di katakan Nares itu benar, semuanya ada di Jakarta karena Indira memang terlahir dan besar di kota itu, tetapi hatinya masih belum merasa yakin dengan kembali pulang ke Jakarta. Apa karena Indira masih belum berdamai dengan keadaan yang sebenarnya sudah lama berlalu. Bukan kah sekarang hanya ada dirinya dan Nares, kenapa juga harus memikirkan tentang Bastian?
Nares beranjak mendekati Indira yang memang duduk di hadapannya. Mereka sedang berada di ruang makan rumah Indira. Selesai makan siang dan berakhir dengan perdebatan seperti ini. Beruntung hanya ada mereka saja karena Bi Sumi sedang keluar sebelum jam makan siang tadi.
Nares menarik tubuh Indira ke dalam pelukannya. Kalau Indira sudah emosi seperti ini memang pilihan yang tepat adalah memeluk gadis itu. Bukan kah perempuan akan tenang ketika sedang emosi dan mendapatkan pelukan. Sudah sering juga Nares seperti ini, jika Indira menggebu-gebu makan Nares akan menjadi yang paling tenang. Tidak akan ada akhirnya kan jika keduanya sama-sama emosi.
“Karena kita akan memulai hidup baru, aku mau semua yang menjadi masa lalu sudah berdamai dengan kamu, aku pun begitu. Biar ke depannya nggak akan membuat hubungan kita terganggu, meski dalam sebuah hubungan tentu saja akan selalu ada permasalahan yang menjadi bumbu di antara kita, tetapi untuk sebuah masa lalu, aku ingin kita sama-sama berdamai dengan mereka.”
Tidak melepas pelukannya, Nares berbicara dengan Indira dengan gadis itu yang berada dalam dekapannya. Tubuh Indira tampak tenang sekali setelah sebelumnya begitu menggebu-gebu bahkan wajahnya yang tampak sekali emosi. Hanya karena pembahasan yang menghadirkan nama Bastian di dalamnya.
“Sebagai orang yang akan menjadi bagian dari hidup kamu, dari keluarga besar kamu. Aku ingin orang tua kamu juga bahagia, Bunda malah udah setuju kalau memang kita adain pernikahan di Jakarta. Malah awalnya Bunda sendiri yang kasih saran kan, karena Bunda tahu kamu lahir dan besar di sana udah pasti nggak akan pernah bisa lepas dan mengabaikan kota kelahiran kamu. Kalau urusan di sini, kita bisa bikin lagi acara kalau emang kamu mau ngadain acara di sini.”
“Aku juga lihat Ayah sangat berharap kamu bisa kembali walau sebentar ke Jakarta. Aku lihat Ibu yang berbinar waktu aku bilang kalau kita niatnya adain acara di Jakarta. Kamu nggak mau kan mengecewakan kedua orang tua kamu?”
Indira mengangguk dalam dekapan Nares membuat senyum di wajah laki-laki itu terlihat jelas. Bukan tanpa alasan Nares terus mengatakan mereka akan melakukan acara di Jakarta, selain karena tempat Indira lahir dan besar di sana. Sejujurnya Nares juga ingin bertemu dengan laki-laki bernama Bastian, Nares ingin memastikan bahwa laki-laki itu sudah benar-benar melepaskan Indira dari hidupnya.
**
Bastian tampak bersemangat untuk segera pulang dari restoran. Sudah satu tahun ini hidupnya tampak bahagia setelah kelahiran anaknya. Anak laki-laki yang begitu mirip dengan dirinya seolah memang benar-benar Bastian kecil tercetak dalam wajah anaknya membuat Bastian selalu merindukan malaikat kecilnya itu.
Kehidupannya memang banyak berubah setelah Rian –anaknya lahir dan menjadi pelengkap hidupnya. Hubungan dengan sang istri pun bisa di katakan semakin membaik dan mereka sudah terlihat seperti sepasang suami istri pada umumnya. Halimah pun senang melihat bahwa anaknya sudah berubah dan memprioritaskan keluarga kecilnya sekarang ini.
Sesampainya di rumah, Bastian langsung masuk ke kamar mencari keberadaan anak dan istrinya. Langkahnya yang tergesa membuat suara berisik saat masuk ke dalam kamar, Atika yang melihat pintu terbuka langsung memberikan isyarat untuk tidak berisik kepada sang suami.
Bastian meringis merasa bersalah karena hampir saja tingkahnya membuat sang anak terusik dari tidurnya. Melangkah dengan pelan, Bastian perlahan menghampiri istrinya yang berada di atas tempat tidur tengah menina bobokkan Rian, anak mereka.
Bastian mengecup puncak kepala istrinya, hal itu sudah lama dia lakukan kepada sang istri. Bahkan yang membuat Atika selalu ingat dan merasa terharu adalah ketika dirinya sedang dalam proses melahirkan. Bastian berada di sampingnya, terus menemani sampai anak mereka lahir. Dan apa yang di lakukan oleh Bastian menjadi sebuah anugerah untuk Atika, karena selesai melahirkan, Bastian memberikan kecupan di seluruh wajahnya sambil berterima kasih karena Atika sudah berhasil melahirkan anak mereka, mempertaruhkan nyawa untuk semuanya.
“Baru tidur ya?” tanya Bastian melepas kancing kemejanya setelah mencium kening sang jagoan yang tampak pulas sekali.
Atika mengangguk, “Dari tadi rewel banget, kayanya agak demam, Mas.” Beranjak dengan pelan dari tempat tidur kemudian menyiapkan pakaian ganti untuk sang suami, “Mas langsung mandi ya, aku siapin dulu,” ucapnya kembali.
“Iya,” balas Bastian.
“Nggak ke dokter aja? Aku takut dia kenapa-napa,” ucap Bastian masuk ke dalam kamar mandi setelah membuka pakaian dan celana menyisakan bawahan dengan tubuh yang tanpa tertutup apa-apa.
“Besok kalau masih demam ke dokter, kasihan kalau menjelang malam di bawa ke rumah sakit.” Atika yang sedang menyiapkan air untuk suaminya berendam tersentak ketika Bastian memeluknya dari belakang.
“Mandi bareng,” ucap Bastian membuat Atika meremang.
“Aku udah mandi, Mas.”
“Nggak apa-apa, kamu janji loh tadi pagi,” ucap Bastian yang tangannya sudah menggerayangi tubuh sang istri, pun dengan bibirnya yang sudah lihai mengecup leher Atika membuat wanita itu tidak bisa menolak.
Beberapa bulan lalu, setelah hubungan mereka semakin membaik. Bastian dan Atika memang sudah kembali menyatukan tubuh mereka. Bastian yang sebenarnya sudah tidak tahan apalagi cukup lama hidup bersama dengan Atika membuat gejolak dalam dirinya semakin membara. Dan ya ... tidak ada yang akan tahan kan apalagi sudah menjadi pasangan suami-istri. Bedanya kali ini Bastian melakukan dengan sadar dan penuh kelembutan dan setelah itu Bastian selalu menginginkan Atika.
Seperti sekarang kembali menyerang istrinya dan menuntaskan keinginannya apalagi pagi tadi sudah di berikan harapan oleh istrinya. Tentu saja Bastian tidak ingin berakhir dengan harapan palsu dan Bastian tidak pernah melepaskan istrinya.
**
“Jadi kamu udah setuju, Nak?” Farida tampak senang mendengar bahwa Indira akan pulang ke Jakarta bersama dengan Nares untuk mempersiapkan pernikahan mereka.
“Iya, Bu. Maaf karena selama ini Indira kaya lari dari kenyataan, Mas Nares udah bikin Indira sadar kalau udah seharusnya Indira berdamai dengan masa lalu,” ucap Indira.
Setelah perdebatan mereka tadi siang, akhirnya Indira setuju untuk mengadakan acara pernikahan di Jakarta. Dia pun setuju saat Nares mengajaknya untuk pulang ke Jakarta, sudah cukup lama dirinya di Bandung, hatinya memang tidak bisa di pungkiri bahwa Indira merindukan suasana ibu kota. Dan malam ini Indira pun segera menghubungi sang ibu bahwa dua hari lagi dia akan pulang bersama dengan Nares, selain mengantarkan Indira pulang, Nares pun memang ada kepentingan di sana, berencana untuk membuka toko kue di Jakarta.
“Nggak apa-apa, Ibu ngerti kamu butuh waktu dan sekarang yang Nares katakan ada benarnya, kamu harus berdamai dengan semuanya.”
“Kasih tahu Ayah juga ya, Bu.”
“Iya nanti Ibu bilang sama Ayah. Pasti Ayah senang karena kamu akhirnya pulang.”
“Ibu sama Ayah jaga kesehatan, dua hari lagi Indira pulang.”
“Iya, kamu juga. Salam untuk Nares.”
“Nanti Indira sampaikan. Kalau gitu sudah malam, selamat istirahat, Bu.”
“Selamat istirahat juga anak ibu.”
Indira menutup sambungan teleponnya, kemudian merebahkan tubuh menatap langit kamar. Dengan pandangan menerawang, apakah dirinya bisa berdamai dengan keadaan, menerima masa lalu menjadi sebuah pelajaran dalam kehidupannya. Tetapi kalau tidak, dirinya akan terus seperti ini, terpuruk dalam kekecewaan akan masa lalunya.
“Semoga kembalinya aku ke Jakarta nggak menjadi boomerang buat aku, jangan sampai aku ketemu sama dia, hati kecil aku belum bisa kalau harus bertemu.”
**