#14 Semoga mendapatkan bahagia
Indira sudah mengatakan kepada Nares bahwa sang ayah ingin bertemu. Nares sama sekali tidak masalah, mengingat dirinya memang baru bertemu dengan Farida –ibu Indira- waktu itu dan saat Indira mengatakan bahwa ayahnya ingin bertemu tentu Nares langsung mengiyakan dan bertanya kapan mereka akan bertemu.
Setelah kembali berbicara dengan sang ayah, akhirnya hari ini pun mereka bertemu. Sesuai yang Baskara katakan akan kembali ke Bandung di minggu depan dan sang ayah pun datang kembali dengan ibunya.
Siang ini Indira mengajak Nares untuk bertemu dengan orang tuanya. Mereka akan makan siang bersama. Tentang Indira yang merupakan anak dari Baskara, tentu Nares sudah tahu karena Indira akhirnya menceritakan semuanya kepada Nares, termasuk dengan mengapa dirinya berada di Bandung.
Nares awalnya terkejut apalagi mendengar nama Baskara, sempat ingin mundur dengan hubungan mereka mengingat Nares merasa tidak lah cocok untuk bisa bersanding dengan putri tunggal dari seoang Baskara. Nares tentu saja tahu siapa beliau apalagi pernah mendesain kantor milik Baskara dan mereka pernah bertemu namun tidak sering, hanya karena urusan pekerjaan saja.
Tetapi kembali Nares berpikir bahwa dirinya mencintai Indira tanpa tapi. Meski sempat tidak percaya diri mengingat keluarga Baskara yang begitu kaya raya sementara dirinya hanya lahir di dalam keluarga yang bisa di katakan biasa saja, namun Nares begitu mencintai Indira. Kalau memang tidak mendapatkan restu dari Baskara, Nares akan berjuang demi hubungan mereka. Indira adalah perempuan yang berarti untuknya, tidak mungkin Nares tidak memperjuangkan kekasihnya di depan Baskara.
“Mas gugup?” tanya Indira saat mereka berjalan dari arah parkiran ke dalam restoran tempat mereka dan orang tua Indira akan makan siang.
Nares menggeleng, “Biasa aja,” katanya.
“Kok tangannya dingin?” Indira terkekeh melihat wajah Nares yang memerah.
Nare mengacak rambut kekasihnya, gemas sekali. Padahal memang dia sedang menutupi kegugupannya tetapi karena tangannya tiba-tiba dingin saat di genggam oleh Indira, membuat Nares ketahuan sekali kalau sedang gugup. Memang siapa yang tidak gugup kalau akan bertemu dengan orang tua dari sang kekasih.
“Udah kita cepat jalan, tidak enak kalau orang tua kamu menunggu lama,” ucap Nares mengalihkan pembicaraan mereka.
Mereka pun masuk ke dalam restoran kemudian menyebutkan nama Baskara saat seorang pelayan restoran bertanya apa mereka sudah reservasi. Pelayan tersebut mengantar Indira dan Nares menuju lantai dua di mana kedua orang tua Indira sudah menunggu. Karena tadi Indira sempat ke toko untuk berkegiatan seperti biasa, jadi dia pergi bersama dengan Nares kali ini.
Nares menyapa kedua orang tua Indira dengan begitu sopan. Tampak Baskara yang masih setia dengan ekspresi dinginnya, meneliti dengan begitu lekat laki-laki yang datang bersama dengan anak kesayangannya.
“Saya kayanya nggak asing sama kamu,” ucap Baskara saat Nares dan Indira sudah menempati kursi mereka masing-masing.
Nares tampak tenang menantap Bskara yang duduk di hadapannya, “Saya arsitek yang pernah desain kantor punya Pak Baskara,” balas Nares begitu formal. Sudah seperti berhadapan dengan atasan, begitu pikir Indira yang duduk di samping Nares.
Baskara mengangguk, sudah mengingat dengan laki-laki yang berada di hadapannya ini. Pantas saja merasa tidak asing dengan nama sekaligus profesi yang di katakan oleh Indira waktu mereka berbicang via telepon.
“Kamu benar-benar mencintai anak saya?” tanya Baskara kembali membuat Indira menoleh menatap ayahnya. Pun dengan Farida yang berada di samping suaminya yang menggelengkan kepala mendengar perkataan suaminya.
“Ayah ... nggak usah serius amat deh, ini kaya lagi introgasi.”
Belum sempat Nares membuka kembali mulutnya, Indira sudah melayangkan protesnya. Mereka akan makan siang bukan sedang interview atau introgasi seperti ini, lagipula ayahnya ini sejak kapan menjadi orang yang banyak sekali bertanya.
Tawa berderai dari Baskara membuat Indira mendengkus melihat kelakuan ayahnya. Benar kan ayahnya ini bercanda sekali, lihat saja sudah membuat Nares sejak tadi begitu serius. Padahal sebelumnya Indira sudah bilang tidak usah terlalu serius, makan siang dengan santai saja.
“Ayah, sudah ah. Kasihan Nares tegang gitu,” ucap Farida tersenyum melihat kekasih dari anaknya yang tampak sekali tegang sejak tadi.
“Biar seru, Bu.”
“Ayah ini emang jahil banget,” ucap Indira.
“Iya-iya ampun deh, ayah kalau sudah diserang sama dua bidadari mengalah saja. Dan kamu Nares nggakk usah panggil saya Pak, panggil saja Ayah seperti Indira,” ucap Baskara kepada Nares.
“Iya Pa—eh Ayah, terima kasih,” balasnya.
“Sama Tante juga panggil aja Ibu,” ucap Farida tidak mau kalah. Nares pun mengangguk mengiyakan. Cukup lega karena kehadiran dirinya di sambut dengan baik oleh keluarga Indira. Berharap hubungan mereka akan selamanya dan Nares bisa mengikat Indira dalam sebuah pernikahan. Nares selalu berdoa akan hal itu, karena yang dia lakukan dalam hubungan ini tidak lah main-main.
**
Sembilan bulan merupakan waktu yang singkat jika di nikmati setiap detiknya. Seperti halnya Atika yang begitu menikmati kehamilan ini. Sampai tidak terasa akan bertemu dengan malaikat kecilnya yang tinggal menghitung minggu.
Selama itu pun Bastian mengalami perubahan yang cukup luar biasa di mata Atika. Suaminya mulai memberikan perhatian kepada dirinya saat kandungan semakin membesar, tidak jarang Bastian begitu memperlakukan dirinya dengan begitu lembut, mengajak berbicara anak mereka yang di dalam perut membuat senyum di wajah Atika terukir.
Halimah pun senang melihat perubahan anaknya. Apalagi yang dia tahu dari Javi, Bastian tidak pernah lagi mencoba untuk mencari keberadaan Indira setelah beberapa bulan ini tidak mendapatkan perkembangan. Sebenarnya mudah saja tetapi akhir-akhir ini kesibukan di restoran membuat Bastian lupa dengan hal tersebut, apalagi ketika di rumah fokusnya sudah pada kandungan sang istri.
Memang cinta akan datang karena terbiasa. Seperti itu yang di rasakan oleh Atika kepada suaminya. Bahkan saat dirinya menjadi istri Bastian di hari pertama setelah mereka menikah, Atika sudah jatuh hati pada laki-laki itu dan semakin lama dengan semua yang mereka lalui bersama, membuat Atika semakin mencintai suaminya.
Bastian sendiri sudah mulai terbiasa dengan semuanya, perasaan sayang sudah muncul di hatinya untuk sang istri. Tidak bisa di pungkiri lagi dengan kelembutan dan perhatian yang di berikan oleh Atika mampu membuat hatinya luluh.
Selama sembilan bulan ini juga Bastian masih mengalami ngidam di saat kandungan Atika masuk tujuh bulan setelah itu semuanya kembali seperti biasa. Namun karena itu juga Bastian semakin dekat dengan istrinya, sampai usia kandungan ke tujuh, Bastian selalu ingin berada di samping Atika. Tentu saja Atika bahagia bisa dekat dengan Bastian.
**
“Jadi sekarang lo udah jatuh cinta sama istri lo?” tanya Javi.
Saat ini mereka sedang berada di restoran milik Bastian. Tadi memang Javi menghampiri Bastian yang sedang berada di restoran, katanya sambil minta makan. Untung saja Javi ini sahabatnya, kalau bukan sudah Bastian tendang saja karena tidak tahu diri meminta makan gratis. Meski hanya candaan saja tetapi ujungnya Bastian selalu memberikan makan siang gratis kepada Javi, seperti kali ini.
“Gue nggak tahu, tapi ya sekarang gue udah terbiasa sama kehadiran dia. Malah kalau dia lagi nggak ada misal pergi sama mama, gue sering cari dan malah aneh aja kalau jauhan,” balas Bastian begitu jujur.
Javi bisa melihat sendiri bagaimana Bastian yang perlahan berubah, sejak hari itu di mana Javi yang tidak mengatakan tentang keberadaan Indira kepada Bastian, dia tidak lagi membahas tentang Indira di hadapan Bastian. Meski masih merasa bersalah karena hubungan Bastian dan Indira seperti ini karena dirinya yang mengajak Bastian ke kelab, tetapi Javi ingin memperbaiki semuanya. Bukan kembali membuat Bastian dan Indira bersama, tetapi ingin membuat Bastian sadar bahwa dalam hidupnya saat ini adalah tentang dirinya dan Atika, sang istri.
Javi tahu Bastian begitu mencintai Indira. Tetapi semua yang terjadi tentu saja sudah di gariskan oleh Tuhan. Perpisahan mereka dengan cara seperti ini mungkin saja sudah menjadi rencana Tuhan dalam kehidupan keduanya. Bastian dan Indira tidak berjodoh untuk selamanya, itu yang Javi ambil dari semua yang terjadi.
Javi ingin Bastian bahagia bersama dengan Atika apalagi ada anak di antara mereka, tidak ingin Bastian melakukan kesalahan yang sama dengan melukai seorang perempuan, Javi selalu berharap hati Bastian akan terbuka untuk Atika. Dan sekarang Javi bisa melihat sendiri, Bastian yang dulu selalu enggan membahas tentang Atika, sekarang bahkan saat mereka sedang bersama Bastia selalu saja menceritakan soal Atika kepadanya, entah tentang kehamilannya, ngidam Atika yang selalu ingin Bastian turuti, juga Bastian sendiri yang ngidam dan selalu ingin di dekat Atika. Semua Javi ketahui.
“Perkiraan anak lo lahir kapan? Udah tahu jenis kelamiinya?” tanya Javi kembali.
“Kata Dokter sih di minggu-minggu ini, gue sama Tika sepakat buat nggak tahu dulu jenisnya. Biar jadi kejutan,” balas Bastian. Kedua matanya berbinar setiap menceritakan tentang anaknya.
Javi mengangguk, ikut senang. Semoga setelah hadirnya anak Bastian dan Atika, mereka benar-benar semakin dekat dan menjadi keluarga bahagia. Pun dengan Indira yang sudah Javi anggap seperti temannya sendiri mengingat beberapa kali mereka kerap bertemu apalagi kalau Bastian mengajak Indira. Semoga Indira menemukan kebahagiaan di mana pun gadis itu berada.
**