#13 Hubungan yang mulai membaik
Hubungan Nares dan Indira di sambut baik oleh keluarga keduanya. Bahkan Tante Dahlia saja begitu antusias karena sang anak akhirnya menjalani hubungan dengan perempuan. Karena selama ini Nares memang tidak pernah terlihat berpacaran atau mengenalkan teman perempuan kepadanya. Jadi ketika dekat dengan Indira sampai akhirnya menjalani hubungan seperti sekarang tentu saja Tante Dahlia bahagia sekali.
Pun dengan keluarga Indira. Meski sang ayah belum terlalu merestui karena memang belum sempat bertemu dengan laki-laki yang sedang menjalin hubungan dengan putrinya, tetapi melihat bagaimana Indira yang bahagia perlahan Baskara membiarkan sang anak memilih pasangan sendiri. Kalau untuk sang ibu, tentu saja sangat mendukung karena sudah bertemu dengan Nares yang dimatanya merupakan anak yang begitu sopan.
Satu minggu mereka resmi menjadi sepasang kekasih, tidak ada yang berubah di antara keduanya. Indira masih sama saja, bekerja di toko yang kerap kali Nares pun akan membantu di toko kalau tidak ada pekerjaan yang memang mendesak. Sebenarnya Nares cukup fleksibel dalam bekerja karena dia tidak terikat dengan kantor mana pun, sejujurnya Nares lebih fokus pada perkembangan toko kue yang di rintis oleh sang ibu dengan dirinya.
Sejak dulu memang jurusan yang di pilih saat kuliah adalah keinginan dari sang ayah, mendiang ayahnya yang memang ingin sekali melihat anaknya sukses dalam dunia arsitek, Nares pun memenuhi keinginan sang ayah apalagi setelahnya beliau sering saki-sakitan. Meski keinginan sang ayah tetapi Nares melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh sampai akhirnya lulus dengan nilai terbaik.
Lalu saat ayahnya meninggal kemudian sang ibu memilih untuk membuka toko kue sesuai dengan keahlian yang Tante Dahlia kuasai, akhirnya Nares pun membantu ibunya merintis toko tersebut, bahkan karena keahliannya dalam mendesain bangunan, toko milik sang ibu pun merupakan desain yang dibuat oleh Nares.
**
“Minggu depan kalau ayah ketemu sama Nares gimana?” tanya Baskara kepada putrinya. Mereka sedang melakukan panggilan telepon, setelah mengunjungi sang anak di Bandung, komunikasi mereka kembali lewat telepon.
“Tapi Indi mau bicara dulu sama Mas Nares, Yah. Mau jujur, takutnya ngerasa dia di bohongi selama ini.”
“Jadi sampai sekarang kamu belum kasih tahu dia tentang semuanya? Termasuk kenapa kamu pergi dari Jakarta ke Bandung?”
“Belum, Indira takut kalau Mas Nares nggak terima.”
“Kalau dia mencintai kamu, dia pasti menerima kamu. Entah kamu anak dari Baskara atau pun bukan. Dan Ayah harap dia nggak kaya laki-laki brengsekk itu,” ucap Baskara yang tentu saja masih kesal setiap kali ingat dengan apa yang sudah Bastian lakukan kepada anaknya.
“Ayah ... Indi udah lupain dia, lagian Mas Nares beda sama orang itu,” balas Indira yang tidak ingin menyebutkan nama Bastian. Entah ... masih sakit saja saat Indira tahu kenyataannya.
“Ya sudah. Yang jelas minggu depan ayah mau ketemu sama Nares, ayah jadi penasaran laki-laki seperti apa dia sampai membuat kamu kembali membuka hati. Dia bekerja di mana?”
“Seorang arsitek, Yah.”
“Arsitek? Sebentar ... Ayah jadi ingat kaya nggak asing gitu nama dia.”
“Memang ayah pernah ketemu?”
“Nggak terlalu ingat sih, tapi namanya nggak asing gitu di telinga kalau memang dia seorang arsitek. Tetapi nggak masalah pekerjaannya apa yang penting kerja halal dan ayah nggak melihat seseorang dari pangkat atau apapun itu, asal orang itu dapat dipercaya dan bekerja keras tentu saja akan mendapat nilai plus dari ayah.”
“Nanti Indi kasih tahu ayah lagi kalau memang Mas Nares bisa ketemu sama ayah.”
“Ya harus mau, memangnya dia nggak mau dapat restu dari ayahmu ini.”
“Iya-iya, Indir tutup dulu teleponnya ya.”
“Iya, kamu jaga kesehatan di sana. Kalau ada masalah cepat hubungi ayah.”
“Siap, Ayah!”
**
Bastian benar-benar merasakan namanya ngidam yang kerap kali di rasakan oleh ibu hamil. Calon anaknya itu sepertinya sedang menjahili dirinya dengan cara seperti ini. Sudah satu minggu Bastian merasakan mual-muali setiap pagi. Kalau kata dokter, Bastian ini mengalami yang namanya morning sickness.
Morning sickness ini merupakan mual muntah yang terjadi saat hamil. Meski di sebut dengan morning sickness tetapi mual muntah tersebut tidak hanya terjadi pada pagi hari, bisa juga di siang hari atau malam hari. Dan yang Bastian rasakan adalah gejala mual muntah yang terjadi di pagi hari saat sedang nyenyak tidur.
Tidak tahu karena apa karena tidak ada aroma yang membuatnya sampai mual di pagi hari, itu terjadi begitu saja dan anehnya hanya dengan memeluk Atika saja rasa mual itu bisa hilang. Benar-benar Bastian memang baru menyadari mungkin sang anak dalam kandungan istrinya memang ingin dia dekat dengan Atika sampai hanya bersama dengan Atika lah, Bastian tidak mengalami pusing dan mual. Mencium parfum sang ibu saja Bastian malah kembali berlari ke kamar mandi dan berakhir dengan tubuh yang lemas karena mual, hal itu juga menjadi alasan sekarang Bastian jarang sekali bekerja untuk sekedar mengecek keadaan restorannya. Bastian satu minggu ini lebih sering di rumah, tetapi Atika malah senang karena dia bisa selau dekat dengan suaminya meski terkadang tidak tega melihat Bastian yang muntah-muntah sampai wajahnya pucat. Melihat itu membuat kedua mata ibu hamil itu berkaca-kaca. Tetapi mau bagaimana lagi memang kehamilan anak pertama ini seolah keduanya merasakan dan menikmati setiap waktunya.
Kalau urusan ngidam, akhir-akhir ini tidak hanya Bastian yang merasakan. Tetapi Atika juga sudah mulai merasakan yang namanya ngidam, keduanya kompak sekali dalam urusan itu. Pernah malam hari saat orang-orang sudah terlelap, tiba-tiba Atika bangun dan ingin sekali makan martabak dengan keju yang melimpah, tetapi ragu untuk membangunkan Bastian yang saat itu tengah terlelap.
Atika pun memilih pergi sendiri, namun sebelum keluar dari kamar mereka, Bastian terbangun seolah sadar bahwa sang istri sudah tidak berada di sampingnya. Melihat Atika yang berada di dekat pintu membuat Bastian bertanya-tanya, setelah mengetahui alasannya, Bastian pun marah besar mengetahui kalau Atika akan keluar sendirian dengan keadaaan hamil seperti ini.
Memangnya dia tidak bisa membangunkan Bastian dan meminta untuk membelikan martabak itu, meski Bastian tidak mencintai Atika tetapi tidak mungkin kan membiarkan perempuan itu keluar rumah di tengah malah dalam keadaan hamil. Semenjak itu pun Bastian selalu bertanya apa Atika menginginkan sesuatu sebelum Atika sendiri yang meminta, karena menunggu Atika meminta tidak akan pernah terjadi, Atika terlalu ragu untuk memenuhi ngidamnya kepada sang suami. Atika hanya tidak ingin merepotkan Bastian saja.
**
Setelah hubungan Indira dan Nares resmi. Tante Dahlia meminta Nares untuk mencari pegawai toko mereka. Tidak ingin calon menantunya itu kelelahan kalau harus bekerja setiap hari di toko. Tante Dahlia memang begitu, sudah menganggap Indira sebagai calon menantu meski Nares kerap kali menegur karena mereka belum sampai ke tahap itu, tetapi Tante Dahlia mengatakan biar saja, lagian ucapan adalah doa. Memangnya kamu nggak mau Indira jadi calon istri kamu.
Kalau seperti itu Nares diam. Tentu saja Nares menginginkan itu bahkan bukan hanya sebagai calon istri tetapi menjadi istri sesungguhnya. Bersama Indira, Nares menemukan warna baru dalam hidupnya. Jika orang bilang pasangan sejati itu saling melengkapi, maka hal tersebut sudah Nares miliki bersama dengan Indira. Mungkin baru sebentar mereka resmi menjadi pasangan kekasih tetapi hubungan yang mereka jalani tentu saja Nares tidak main-main. Ingin Indira menjadi yang pertama, terakhir dan satu-satunya. Jika Tuhan berkehendak, Nares ingin Indira menjadi jodohnya.
Setelah mendapatkan pegawai baru. Pekerjaan Indira di toko tidak sesibuk sebelumnya, malah lebih sering hanya membuat kue bersama dengan Tante Dahlia atau kalau Nares sedang ada di toko maka mereka akan membuat kue bersama-sama, bukan untuk di jual tetapi seringnya untuk mereka nikmati berdua.
Kalau sudah berada di dapur, Tante Dahlia senang sekali melihat keduanya yang begitu kompak. Tidak pernah melihat senyum di wajah Nares meski sangat tipis namun sebagai seorang ibu tentu Tante Dahlia melihat bagaimana Nares yang bahagia bersama dengan Indira. Seperti sekarang keduanya sedang asyik di dapur dengan peralatan memasak dan bahan kue. Tante Dahlia tidak ingin mengganggu dua sejoli itu, membiarkan saja dan memilih untuk kembali ke depan, membantu pegawainya.
“Mas jangan jahil deh!” seru Indira menyadari tangan Nares yang kotor karena tepung malah mengelus pipinya. Bukan mengelus sih tetapi sengaja membuat kedua pipinya jadi cemong karena tepung tersebut.
Nares?
Jangan di tanya, laki-laki itu malah terkekeh melihat raut wajah kekasihnya yang tampak garang. Bukan takut malah gemas melihat ekspresi Indira seperti itu.
Mereka sedang membuat adonan pancake, Indira sedang ingin makan, kebetulan Nares bisa dan memang bahan-bahan untuk membuat pancake cukup mudah, di toko pun sudah tersedia. Akhirnya mereka pergi ke dapur yang berada di belakang toko untuk membuat pancake yang di inginkan oleh Indira.
“Bahan-bahannya segini, Mas?” tanya Indira.
Di atas meja sudah ada dua butir telur, margarin, baking powder, gula pasir, suusu cair dan tepung terigu. Nares yang tadi menyiapkannya, dibantu oleh Indira yang membawa dua butir telur dari lemari pendingin dan tepung terigu yang berada di lemari khusus bahan kue. Kalau bahan lainnya Nares yang menyiapkan.
“Iya, tinggal bikin dan kamu yang harus belajar bikin.”
“Kalau gagal gimana?”
“Kan ada saya yang bantuin.”
“Mending semuanya Mas yang bikin aja biar nggak gagal.”
“Kalau seperti itu kamu nanti nggak akan tahu dan nggak akan bisa bikin sendiri.”
Indira cengengesan setelahnya mengangguk dan mulai menyiapkan alat-alat untuk membuat pancake. “Pertamanya ngapain?” tanya Indira.
“Campur terigu, gula sama baking powder,” ucap Nares memberikan arahan, “Jangan lupa pakai garam sedikit,” lanjutnya yang diangguki oleh Indira.
Dengan begitu serius Indira mulai melakukan apa yang tadi Nares katakan. Mencampur semua bahan yang disebutkan oleh sang kekasih.
Semuanya sudah ditakar jadi Indira tinggal mencampur saja tanpa menakar seberapa banyak bahan yang di masukkan. Setelah itu Indira mengaduk bahan tersebut sampai rata, memasukkan telur dan suusu cair dan terakhir maemasukkan mentega yang juga sudah di cairkan oleh Nares, Indira pun kembali mencampur bahan tersebut hingga rata dan menjadi adonan lembut.
Nares sendiri sedang menyiapkan teflon, mengolesinya dengan mentega dan memanaskan di atas koompor. Nares mengambil alih wadah yang berisi adona tadi, membuat Indira sekarang bak murid yang sedang memperhatikan gurunya.
Nares tampak lihai sekali kalau sudah berad di dapur. Indira bahkan sempai insecure karena dia yang perempuan saja tidak pandai saat di dapur, kalah sekali dengan Nares yang laki-laki. Tetapi bagi Nares malah tidak masalah, toh mereka bisa belajar sama-sama, memasak sekarang bukan hanya keahlian perempuan kan, tetapi laki-laki juga sudah pandai dalam hal tersebut.
“Cantik banget bentuknnya, kalau aku yang tuangin adonan itu pasti nggak secantik ini,” decak Indira melihat bentuk pancake yang hampir sempurna.
Bulat begitu cantik di pandangnya. Bahkan warnanya pun tidak ada yang gagal, sampai bentuk yang keempat semuanya berwarna kuning kecokelatan yang mampu menggugah selera apalagi kalau sudah di tambah dengan esk krim. Membayangkannya saja sudah membuat Indira tidak sabar mencicipi.
“Nanti di kasih es krim ya, Mas.”
“Memangnya ada?”
“Kemarin aku beli terus ditaruh di kulkas, masih sisa dikit.”
“Pantesan sekarang kamu minta bikin pancake.”
“Habisnya tadi lihat postingan akun makanan gitu jadi mau.”
“Ini selanjutnya kamu yang buat, pelan-pelan aja.”
“Takut penyok.”
“Yang penting bisa di makan.”
“Tapi nanti nggak cantik,” keluh Indira.
“Nggak usah banyak alasan, ayo belajar.”
“Ih nyebelin banget! Untung sayang.”
Nares mengelus puncak kepala Indira, mengecupnya singkat sebelum berlalu begitu saja membuat Indira menjadi patung dalam beberapa detik. Nares ini selalu saja membuat hati Indira meleleh dengan perlakuannya. Meski jarang sekali menunjukkan keromantisan tetapi sekalinya Nares manis seperti ini, Indira tidak kan jadi makin cinta.