#12 Pelukan itu
Bastian tampak pucat sekali. Hal ini di karenakan sejak tadi pagi tiba-tiba Bastian merasakan mual yang luar biasa. Padahal sebelumnya dia merasa baik-baik saja Atika tentu saja begitu khawatir saat melihat suaminya yang berlari ke dalam kamar mandi dan langsung mengalami muntah-muntah.
Selama tinggal kembali di rumah orang tuanya, Bastian memang tidur di kamar yang sama dengan sang istri. Bahkan sudah satu bulan ini mereka tidur di satu ranjang yang sama, tidak terjadi apa-apa, hanya tidur dan Bastian yang meski tergoda berada di satu ranjang yang sama dengan seorang perempuan apalagi sudah menjadi istrinya tetapi Bastian tetap menahan apa yang di inginkannya. Tidak mau mengulang kesalahan yang sama.
“Pusing nggak?” tanya Atika masih terlihat khawatir. Tadi Atika pun meminta asisten rumah tangga mereka untuk membawakan teh hangat karena Halimah yang memang tidak membolehkan Atika untuk melakukan pekerjaan apalagi naik turun tangga sendiri.
Bastian menggeleng. Sudah tidak mual dan pusing tetapi kenapa dia iingin sekali di peluk oleh Atika. Apa benar kalau istri hamil, suami bisa mengalami ngidam dan sekarang dirinya tengah mengidam. Tetapi Bastian gengsi untuk meminta hal tersebut, tidak ingin Atika terlalu menaruh harapan kepadanya.
Bagaimana pun perasaan yang Bastian miliki tidak berubah, masih tetap sama dan untuk perempuan yang sama. Bastian tidak ingin membuat istrinya jatuh cinta yang berakhir dengan luka. Kenapa dirinya sampai memikirkan hal tersebut?
Bastian memilih kembali membaringkan tubuhnya. Tidak ingin meminta kepada sang istri untuk memeluknya meski sekarang dia sangat ingin sekali. Kenapa Atika yang hamil tetapi dirinya yang malah tersiksa seperti ini.
Bastian tidak sadar saja bahwa calon anak mereka tengah berusaha mendekatkan kedua orang tuanya. Dengan cara Bastian yang merasakan ngidam meski Atika yang sedang mengandung buah hati mereka.
“Mas pengen sesuatu?” tanya Atika. Setelah tadi sang ibu mertua mengatakan bahwa Bastian tengah mengidam, hatinya menghangat karena ini membuktikan kalau ikatan anak dan ayah benar-benar sangat dekat. Atika senang sekali meski sempat heran selama ini tidak pernah mengidam ternyata malah suaminya sendiri yang mengalami.
Bastian menggeleng. Bohong sekali kalau dia tidak ingin sesuatu padahal sejak tadi Bastian ingin sekali di peluk oleh sang istri.
“Kalau gitu aku tinggal ya, aku mau bantuin mama masak di bawah,” ucap Atika hendak beranjak dari tempat tidur mereka. Namun tangan Bastian lebih dulu mencekalnya.
“Boleh peluk,” ucap Bastian. Singkirkan gengsi, dia benar-benar tidak menahannya lagi. Keinginannya untuk di peluk oleh Atika malah semakin menjadi.
Atika masih terpaku. Kali pertama Bastian meminta untuk di peluk olehnya. Tentu saja Atika kaget luar biasa karena selama ini tidak ada kontak fisik yang begitu dekat dari keduanya. Sentuhan tangan mungkin bisa tetapi pelukan, mereka bahkan tidak pernah melakukannya.
Meski sangat kaku tetapi Atika terlihat menganggukkan kepalanya yang membuat senyum di wajah Bastian terukir. Lagi-lagi Atika merasa detak jantungnya tidak bisa di kendalikan apalagi dengan sikap Bastian yang seperti ini.
Boleh kah Atika semakin berharap bahwa Bastian akan membuka hati untuk dirinya dan menerima pernikahan mereka?
Bastian masuk ke dalam pelukan Atika. Ibu hamil itu tampak ragu sekali memeluk suaminya tetapi Bastian yang semakin mendekatkan tubuh mereka membuat kedua tangan Atika terulur sampai akhirnya memeluk Bastian dengan begitu erat. Kedua mata Atika berkaca-kaca, mungkin juga karena mood ibu hamil dengan hal kecil pun merasa terharu seperti ini.
Bastian semakin masuk ke dalam dekapan istrinya, menyamankan posisi, menghirup aroma tubuh sang istri yang membuat dirinya semakin tenang. Untuk pertama kalinya Bastian merasakan begitu tenang sekali selain dalam pelukan sang ibu. Bahkan tidak pernah seperti ini meski Bastian menjalin hubungan dengan Indira, rasanya sangat berbeda.
Sementara di balik pintu kamar mereka, Halimah tampak terharu melihat sang anak yang memeluk Atika. Halimah hendak memanggil Atika dan melihat kembali kondisi anaknya yang sejak tadi merasa mual. Tetapi justru di sajikan pemandangan yang begitu menyentuh hati, Halimah yakin Atika akan menembus pertahanan hati Bastian, perlahan Bastian akan semakin sadar bahwa apa yang di milikinya sekarang adalah kebahagiaan yang di kirim Tuhan untuknya. Bahwa Atika ada perempuan yang akan mendampingi dirinya sampai maut memisahkan mereka berdua.
**
“Kalau saya suka sama kamu gimana?”
Indira masih mencerna perkataan Nares. Benar-benar tidak menyangka sekali akan mendapatkan kejutan seperti ini. Nares malah tampak santai sekali seolah tidak pernah mengatakan apapun sedetik tadi.
“Mas, tolong cubit dong. Kayanya aku lagi mimpi deh,” ucap Indira merasa sedang bermimpi bahwa Nares mengatakan hal tadi.
Nares mendekat, posisi mereka bahkan cukup di katakan terlalu dekat, Indira saja sampai ingin menahan napas karena Nares berada tepat di hadapannya. Nares tinggi sekali, Indira saja hanya sebatas dadaa laki-laki itu, mendongakkan kepala hanya untuk manatap laki-laki yang sekarang berdiri di hadapannya. Tangan Nares terulur, mencubit kedua pipi Indira membuat gadis itu meringis.
“Sakit, Mas.”
“Kamu nggak lagi mimpi kan. Udah sadar?”
Indira mengangguk dengan tatapan polosnya, Nares sampai gemas sekali dengan gadis yang berada di hadapannya ini. Kalau sudah sah mungkin tidak akan membiarkan Indira keluar sendirian. Ah ... kenapa Nares berpikir sampai jauh sekali, menerima jawaban dari Indira saja belum. Bagaimana kalau dirinya mendapat penolakan?
“Coba deh tadi Mas Nares bilang apa? Aku takut salah dengar,” ucap Indira.
Nares mengembuskan napas pelan, mencoba untuk sabar menghadapi gadis ini. Tidak tahu saja kalau Nares juga bisa gugup, Indira malah memintanya untuk mengulangi perkataan yang tadi dia katakan. Kalau sampai Indira masih tidak mendengar, Nares janji akan langsung membawa gadis ini ke depan penghulu!
“Indira, saya suka sama kamu. Tapi saya nggak mau pacaran, maunya serius sama kamu,” ucap Nares dengan penuh penegasan.
“Hah??” Indira melongo.
“Hah-hah, jawab. Nggak lucu ya kalau kamu bilang kamu nggak dengar apa yang saya katakan tadi, kalau sampai seperti itu detik ini juga saya nikahin kamu.”
“Eh?!”
“Indira.” Nares gemas sekali.
“Kaya mimpi.”
“Sudah saya bilang kalau kamu nggak lagi mimpi. Perlu saya cubit pipi kamu kaya tadi?” tanya Nares. Indira menggeleng cepat.
“Mas ini beneran?”
“Saya serius.”
“Sejak kapan?”
“Maksud kamu?”
“Ya sejak kapan Mas suka sama aku?”
“Lebih dari suka. Saya sayang sama kamu, nggak tahu pastinya kapan tapi semakin kita mengenal saya merasa ingin melindungi kamu dan memiliki kamu untuk saya sendiri. Katakan saja saya begitu egois tetapi saya benar-benar tidak ingin kamu menjadi milik siapapun kecuali untuk saya sendiri.”
Indira terperangah, tidak menyangka Nares akan berbicara cukup panjang seperti itu, biasanya kan laki-laki itu irit sekali dalam urusan kosakata. Namun tidak bisa di pungkiri, hatinya senang sekali mengetahui bahwa Nares menyayangi dirinya.
Indira pun merasa semakin yakin bahwa Nares lah yang memang sekarang ini di butuhkannya, bukan karena dia ingin menjadikan Nares sebagai pelarian tetapi karena memang Nares lah yang bisa membuat hatinya kembali utuh.
Kedua mata Indira berkaca-kaca membuat Nares malah khawatir dan beranggapan bahwa apa yang di katakannya salah. Tanpa di duga Nares menarik tubuh Indira ke dalam dekapannya, mengelus punggung gadis itu dengan begitu lembut.
“Maaf,” ucap Nares.
Indira mendongak melihat kedua mata Nares, tidak ada keraguan di sana bahkan Indira merasa tatapan Nares kepadanya begitu lembut di balik sorot tajam kedua matanya. Pelukannya begitu menenangkan, semakin merasa bahwa Nares mampu melindungi dirinya. Indira membalas pelukan Nares tak kalah erat membuat tubuh laki-laki itu menegang tak lama setelahnya tampak rileks.
“Kenapa minta maaf?” tanya Indira masih dalam dekapan Nares.
“Nggak tahu. Takut perkataan saya ada yang membuat kamu sakit hati.”
Indira tersenyum, “Mas beneran sayang sama aku?” Nares menganguk tanpa ragu membuat senyum Indira semakin lebar. “Makasih ya, Mas.”
“Jadi?”
“Nggak tahu dari kapan aku juga suka sama Mas Nares.”
Entah kenapa panggilan itu malah membuat Nares tersipu. Mungkin karena sekarang keadaannya sudah berbeda. Semakin manis saja saat Indira memanggilnya dengan panggilan tersebut.
Perasaan itu tidak bisa di hindari, datang tanpa permisi, masuk ke dalam hati. Seperti halnya perasaan yang saat ini mereka berdua rasakan, dalam waktu yang singkat, dengan kedekatan mereka yang hampir setiap hari bertemu membuat keduanya terbiasa satu sama lain yang akhirnya membuat perasaan itu hadir di hati masing-masing. Perasaan yang semula tampak biasa menjadi begitu berdebar, jatuh cinta dalam waktu yang sama.