#11 Keadaan yang berbeda
Bastian kesal sekali. Jelas saja karena saat dirinya sudah berada di hadapan Javi, sahabatnya itu malah mengatakan hal yang berbeda dengan apa yang di katakannya kemarin. Javi mengatakan kalau dia sudah mengetahui keberadaan Indira, namun sekarang laki-laki itu malah mengatakan hal yang membuat Bastian tersulut emosi.
“Lo main-main sama gue!”
Javi yang di tatap dengan begitu tajam oleh Bastian malah tampak biasa saja, sejujurnya dia memang sudah mengetahui keberadaan Indira. Meski awalnya sulit untuk melacak keberadaannya apalagi dengan kekuasaan yang di miliki oleh Bapak Baskara, tetapi dengan perlahan Javi pun bisa mengetahuinya.
Hanya saja ketika semua ini diketahui olehnya. Javi teringat dengan perkataan Halimah –Ibu Bastian- yang bahkan sampai memohon untuk tidak membantu Bastian mencari keberadaan Indira. Halimah ingin anaknya bisa menerima pernikahan ini dengan hati yang tulus bukan karena terpaksa. Sebagai Ibu tentu saja Halimah tahu bahwa Bastian belum sepenuhnya menerima pernikahan dengan Atika, meski sikap Bastian sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya kepada Atika, tetapi perasaan seorang ibu tidak pernah bisa di bohongi.
Javi yang memang begitu dekat dengan orang tua Bastian, bahkan selama ini sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri, mengingat sejak lama kedua orang tuanya sudah tiada dan Halimah pun seolah seperti sosok ibu untuk Javi selama dia mengenal dan bersahabat dengan Bastian. Melihat Halimah yang sampai memohon kepadanya, tentu saja Javi tidak tega dan ya seperti sekarang, urung memberitahu Bastian.
“Bas, gue pikir lo nggak usah deh cari Indira lagi. Sekarang lo punya istri, bentar lagi punya anak. Terima semua keadaan ini, mungkin Indira bukan jodoh lo dan lo bisa bahagia sama istri dan anak lo, jangan sampai lo berakhir dengan penyesalan.”
“Tahu apa lo soal jodoh! Lo bukan Tuhan, Jav!” seru Bastian merasa kesal karena merasa di bohongi oleh sahabatnya sendiri. Padahal Bastian sejak tadi sudah tidak sabar mengetahui keberadaan Indira, tetapi ternyata Javi membohonginya.
“Dan nggak usah lo sama kaya ibu gue, sampai kapan pun gue nggak akan bisa menerima Atika di hidup gue. Gue cinta sama Indira dan lo tahu itu. Selama ini bahkan gue mencoba untuk jadi laki-laki baik buat Indira. Gue nyesel udah ikut lo ke kelab dan berakhir seperti ini. Kalau aja gue nggak tidur sama Tika atau kalau aja dia nggak tiba-tiba masuk di kehidupan gue, nggak akan gue kehilangan Indira kaya gini.”
“Berhenti menyalahkan istri lo, Bas. Di sini lo juga salah karena udah nudurin dia bahkan lo niggalin dia gitu aja. Lo anggap dia kaya perempuan malam yang tidur lalu di bayar. Setelah gue ketemu sama istri lo, gue lihat begitu polosnya dia dan gue tahu kalau dia orang baik. Tapi sayang jodohnya lo laki-laki yang merusakk masa depannya.”
“Lo ngatain gue brengsekk?!”
“Bukan gue, tapi lo sendiri yang bilang. Tapi emang kenyataannya kaya gitu kan, Bas,” sahut Javi tampak kembali menyulut emosi Bastian.
“Bangsaatt!”
**
Hari ini Indira mengajak sang ibu untuk bertemu dengan Tante Dahlia di toko. Indira juga sudah mengatakan kepada Tante Dahlia lewat sambungan telepon tadi malam bahwa dia akan datang bersama dengan ibunya. Hal tersebut di sambut antusias oleh Tante Dahlia, senang kalau memang Indira akan mengenalkan sang ibu kepadanya.
Indira sudah memesan taksi online untuk mereka pergi ke toko milik Tante Dahlia. Biasa kalau pergi ke toko untuk bekerja, dirinya menggunakan angkutan umum, awalnya Indira kebingungan karena tidak mungkin memakai kendaraa pribadi, mobilnya terlalu mewah untuk seorang pegawai toko. Akhirnya Indira pun memutuskan untuk naik angkutan umum, agak sulit apalagi beberapa warna angkutan umum hampir sama, dengan warna hijau yang tentu kita harus melihat jalur yang tertera di bagian kaca angkutan tersebut.
Pernah Indira salah naik angkutan umum, yang akhirnya menghubungi Tante Dahlia dan Nares yang menjemput karena Tante Dahlia tidak ingin Indira tersesat sampai jauh meski Indira juga bisa bertanya. Tetapi Tante Dahlia melarang Indira untuk kembali naik angkutan umum, memutuskan bahwa Nares yang akan menjemput.
Sungguh pertama kalinya berada di dalam mobil dengan Nares membuat Indira saat itu benar-benar tidak tahu harus melakukan apa, sepanjang jalan sampai sampai di toko hanya di selimuti dengan keheningan.
“Wah sudah datang ternyata,” sambut Tante Dahlia saat Indira datang bersama ibunya. Ada Nares yang tidak jauh dari mereka segera menghampiri.
Suasana toko belum ramai meski sudah di buka. Indira juga tadi sudah meminta ijin tidak bisa datang lebih pagi seperti biasa. Malah Tante Dahlia membiarkan Indira datang nanti siang sekaligus kenalan dengan orang tua Indira. Tetapi malah masih cukup pagi juga Indira datang ke toko.
“Saya Farida, Bu.”
“Dahlia. Senang banget Ibu bisa datang ke sini, semalam Indira memang bilang katanya mau ajak Ibu ke sini. Oh iya ini anak saya Nares,” ucap Tante Dahlia.
Nares mencium tangan Bu Farida dengan penuh hormat, “Nares, Tante,” ucapnya.
“Oh ini yang kamu ceritain sama Ibu, Ra,” ucap Bu Farida membuat Indira terkejut dan tentu saja malu karena sang ibu mengatakan hal tersebut.
“Ibu ...”
Rengekan Indira membuat mereka tertawa, kecuali Nares yang tampak tersenyum tipis namun kedua matanya tidak lepas dari gadis yang tengah malu. Nares jadi penasaran apa yang Indira ceritakan kepada ibunya tentang dia.
“Ayo mari duduk di sebelah sini,” ajak Tante Dahlia.
Mereka pun duduk di salah satu kursi bahkan Tante Dahlia sudah menyiapkan kue untuk menyambut kedatangan orang tua Indira. Nares malah baru tahu saat gadis itu datang dengan ibunya, karena sang ibu tidak mengatakan apapun kepadanya. Saat bertanya kenapa Indira belum datang, ibunya hanya menjawab akan datang terlambat.
Tante Dahlia dan Bu Farida tampak sedang berbincang. Terlihat seperti teman lama karena keduanya langsung dekat dan akrab seperti ini. Sementara dua orang lain yang sejak tadi bersama dengan mereka, siapa lagi kalau bukan Indira dan Nares malah diam saja menyimak obrolan ibu mereka.
Diam-diam Indira mencuri pandang kepada Nares yang memang duduk di hadapannya. Masih malu sekali karena ketahuan kalau dirinya menceritakan Nares kepada sang ibu. Sebenarnya bukan cerita macam-macam sih, Indira hanya mengatakan kalau Tante Dahlia memiliki anak laki-laki yang usianya dua tahun lebih tua darinya, lalu sang ibu menanggapi dengan positif dan sempat penasaran dengan hubungan anak dan laki-laki bernama Nares.
Tetapi Indira tidak mengatakan apa-apa lagi, lagipula hubungan mereka memang selayaknya teman biasa kan. Meski Indira akui semakin lama ada perasaan asing di dalam hatinya. Indira menyukai Nares yang begitu sederhana sekali dan membuat Indira merasa begitu terlindungi setiap bersama dengan Nares.
Membiarkan dua wanita itu berbincang dengan begitu akrab, Indira memilih untuk menyibukkan diri di balik etalase kue. Pun dengan Nares yang juga berada di balik meja kasir. Keduanya memilih beraktivitas seperti biasa karena sudah ada beberapa pembeli yang datang ke toko. Mereka tidak tahu saja diam-diam kedua ibu mereka sedang melakukan rencana untuk mendekatkan Indira dan Nares.
Baik Bu Farida maupun Tante Dahlia sangat senang jika Indira dan Nares bisa menjalani hubungan lebih dari sekedar teman. Mereka merasa keduanya sangat cocok, Bu Farida merasa Nares bisa melengkapi anaknya yang begitu manja, pun dengan Tante Dahlia yang merasa Indira mampu memberi warna di hidup anaknya yang tampak datar sekali.
**
Kedua ibu itu benar-benar menikmati waktunya. Setelah mereka makan siang bersama, keduanya malah mengatakan akan pergi berdua. Membiarkan Nares bersama dengan Indira menjaga toko. Untung saja Nares tidak ada pekerjaan hari ini jadi tidak masalah juga untuk berlama-lama di toko sampai tutup. Tetapi masalah untuk Indira, bukan apa-apa sih sejak tadi Nares terus memberikan kode meminta penjelasan tentang Indira yang bercerita mengenai dirinya kepada sang ibu.
“Kamu cerita apa sama ibu kamu?”
Indira tersentak. Baru saja kembali dari belakang, Nares sudah mengagetkan dirinya dengan memberikan pertanyaan seperti itu. Indira kan jadi kembali ingat dan malu karena ketahuan seperti ini.
“Nggak apa-apa kok, Mas.”
Indira mencoba untuk biasa saja lalu berjalan kembali ke arah etalase, namun tidak di duga Nares malah mengikutinya. Aneh sekali untuk Indira melihat Nares yang seperti ini, biasanya kan tampak acuh.
“Jadi nggak mau bilang?”
“Pokoknya bukan bicara yang aneh-aneh.”
“Emang yang aneh-aneh itu seperti apa?”
“Ya gitu pokoknya.”
“Gitu gimana?”
“Mas!” seru Indira. Kenapa Nares jadi menyebalkan begini, dia kan semakin malu. Lihat saja pipinya sudah memerah karena Nares terus meminta penjelasan, tidak mau kalau sampai Nares tahu dirinya cerita tentang Nares kepada sang ibu, termasuk tentang kedekatan mereka. Nanti malah Nares jadi ilfeel kepadanya.
“Kan cuma tanya.”
“Lagian bukan cerita apa-apa, orang cerita kalau sering jalan sama Mas Nares. Eh—“ Indira menutup mulutnya, kenapa malah membocorkan rahasinya sendiri di depan Nares seperti ini. Kalau seperti ini ya sama saja semua terbongkar dan Indira semakin malu.
Nares yang melihat wajah Indira tampak panik karena sudah ketahuan membeberkan rahasianya malah terkekeh. Lucu sekali melihat wajah Indira sedang panik seperti sekarang, benar kata ibunya, Indira adalah warna baru yang hadir di kehidupannya. Yang perlahan memasuki relung hati, bahkan selama ini tidak pernah ada yang berhasil masuk, tetapi Indira mampu mendobrang pertahanan itu.
Indira sendiri melihat Nares yang terkekeh malah mematung. Terpesona sekali melihat Nares dengan wajah yang berseri. Selama ini memang tidak pernah melihat Nares yang tertawa, wajahnya benar-benar datar sekali padahal kerap kali dirinya melontarkan lelucon tetapi Nares malah tersenyum begitu tipis, tidak pernah terkekeh apalagi terbahak. Tapi sekarang melihat Nares yang tengah terkekeh membuat jantungnya berdebar tidak menentu, sebenarnya ada apa dengan hatinya?
Nares mengelus puncak kepala Indira dengan begitu lembut membuat Indira semakin terpaku dengan perlakuan Nares kepadanya. “Kamu kelihatan kalem ternyata aslinya begini ya, lucu banget,” ucapnya membuat kedua pipi Indira merona.
“Kalau saya suka sama kamu gimana?”