#10 Satunya tulus, satunya tidak
Kedekatan Nares dan Indira tentu saja disadari oleh Tante Dahlia. Senang sekali ketika melihat anaknya bisa dekat dengan seorang perempuan. Mengingat selama ini Nares tidak pernah mengenalkan teman perempuan yang dekat dengannya kepada beliau. Dan sekarang melihat Nares dekat dengan Indira membuat Tante Dahlia senang luar biasa, tampak cocok sekali anaknya bersama dengan Indira.
Memang semakin lama, Indira dan Nares semakin dekat meski sikap Nares masih sama saja namun bisa di bilang tidak begitu dingin pada Indira, sesekali laki-laki itu terlihat perhatian meski tidak begitu kentara.
Indira pun semakin nyaman bersama dengan Nares, rasanya sudah kembali merasa baik meski sempat di dera sakit hati yang luar biasa. Namun perlahan luka itu sembuh dengan sendirinya, Indira juga sudah berusaha untuk ikhlas melepaskan yang memang bukan jodohnya. Kehadiran Nares pun bisa di katakan menjadi obat dari rasa kecewanya, karena tanpa Indira sadari semakin lama dirinya jatuh pada pesona Giandra Nareswara.
“Gimana sama Indira?” tanya Tante Dahlia kepada sang anak. Mereka sedang makan malam bersama, setelah memperhatikan kedekatan Nares dan Indira, Tante Dahlia penasaran dengan mereka berdua. Apakah memang tengah menjalin hubungan atau masih dalam tahapan pendekatan saja.
“Gimana apanya, Bun?” Nares mengernyit, tidak begitu paham dengan maksud dari ibunya.
“Ya hubungan kalian, kamu sama Indira pacaran atau gimana?”
“Apa sih, Bun. Siapa yang pacaran.”
Memang benar kan mereka tidak sedang berpacaran. Hanya dekat saja selama ini meski Nares tahu perasaannya kepada Indira tidak sebagai teman. Tetapi perlahan dirinya tertatik dengan gadis itu. Ketertarikan seorang laki-laki pada perempuan. Hanya saja Nares masih belum bisa menyimpulkan perasaannya apa memang menyukai Indira atau hanya sebatas kagum saja pada gadis itu.
“Tapi kamu suka kan sama dia?”
“Emang kenapa, Bun?” Nares tidak menjawab malah balik bertanya kepada ibunya. Tidak biasanya sang ibu seolah begitu penasaran pada kedekatan dia dengan perempuan. Meski harus Nares akui memang hanya Indira saja perempuan yang bisa dekat dengan dirinya seperti ini. Hatinya tidak bisa menolak kehadiran Indira dalam hidupnya.
“Kok malah balik tanya sih. Ya Bunda senang aja kalau kalian sama-sama, cocok gitu. Pengen deh Bunda punya menantu kaya Indira. Baik, rajin, ramah, pokoknya udah klop banget sama Bunda.”
“Harusnya kan klop sama Nares,” balas Nares.
“Tu kan, akhirnya ngaku juga. Kamu suka kan sama dia?”
“Ngaco deh, Bunda.”
“Lah ngaco gimana, jelas-jelas kamu udah ngaku sendiri. Itu barusan bilang harusnya kan klop sama kamu. Maksudnya apa tu kok klop-klop gitu, udah pasti kamu emang suka sama Indira kan. Bunda dukung deh kalau kamu sama Indira.”
“Nggak tahu deh, Bun. Nares nggak berani juga terlalu menaruh perasaan sama dia.”
Akhirnya Nares jujur juga. Memang kalau sudah dengan orang tua tidak bisa menutup kebenaran, pasti saja akan mengatakan yang sejujurnya. Apalagi selama ini Nares tinggal berdua bersama dengan sang ibu dan sudah pasti mereka pun tidak jarang berbagi cerita. Sebagai seorang ibu tentu saja Tante Dahlia selalu membuka diri untuk anaknya bisa dengan leluasa bercerita apapun kepadanya.
Karena itu juga Nares tidak pernah bisa menutupi apa-apa dari sang ibu. Meski berusaha mengelak seperti tadi, bagaimana perasaannya kepada Indira. Akhirnya semua ketahuan juga kalau memang Nares memiliki perasaan kepada Indira. Rasa yang tumbuh begitu nyata di dalam hatinya karena mereka sering sekali bersama. Mungkin juga Nares sudah begitu terbiasa dengan Indira di hidupnya.
“Kok kamu kaya nggak percaya diri banget. Cowok itu mau di terima atau nggak tetap aja harus bisa mengutarakan perasaannya. Nggak boleh pengecutt dan menutup perasaan, yang ada nanti terlambat mengutarakan.”
“Belum saatnya buat bilang sama Indira, Bunda.”
“Tapi benar kan kamu suka sama dia?”
“Bukan suka tapi Nares udah sayang.”
Tante Dahlia tersenyum, bersyukur karena akhirnya ada perempuan yang mampu menyentuh hati anaknya. Berharap akan ada kebahagiaan untuk sang anak bersama dengan pilihan hatinya. Meski belum tahu bagaimana dengan Indira namun Tante Dahlia akan berdoa untuk Nares, jika memang di jodohkan maka mereka akan dipersatukan.
**
Indira kedatangan orang tuanya. Farida dan Baskara sengaja mengunjungi anak semata wayangnya yang sedang berada di Bandung. Mereka begitu merindukan sang anak apalagi sudah berjauhan cukup lama, karena Indira masih belum menginjakkan kakinya kembali di Jakarta, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pergi ke Bandung.
Tadi sore mereka baru sampai dan malam ini Indira senang sekali karena kembali makan bersama dengan kedua orang tuanya. Indira tadi sempat membantu Bi Sumi menyiapkan makanan untuk menyambut orang tuanya, sekaligus mempraktekkan kue yang sudah dia pelajari bersama dengan Tante Dahlia. Hasilnya memang tidak begitu bagus kalau di lihat dari bentuknya tetapi rasanya lumayan untuk pemula seperti dirinya. Kue itu di nikmati Indira dan kedua orang tuanya tadi sore saat sampai di sini.
Sekarang mereka tengah menyantap makan malam, diselingi dengan obrolan yang tampak hangat sekali. Indira yang sejak tadi menceritakan apa saja kegiatannya selama berada di sini membuat Farida dan Baskara tersenyum. Senang rasanya melihat Indira tidak sesedih dulu, bahkan sekarang wajahnya pun tampak lebih cerah dari biasanya.
“Boleh dong Ibu kenalan sama Bu Dahlia, sekalian terima kasih banget soalnya anak ibu jadi bisa bikin kue, enak lagi kuenya.”
“Ibu bisa aja, dari tadi muji terus kan Indi jadi malu. Lagian itu resep dari Tante Lia terus aku praktekin deh. Sayang banget bentuknya agak aneh,” ucapnya mengingat kembali bentuk dari cup cake yang dia buat tadi. Tidak secantik milik Tante Dahlia yang di jejerkan di etalase kue. “Kalau Ibu mau ketemu, besok bisa ketemu kok. Sambil Indi kerja gitu,” lanjutnya.
“Boleh, kalau Ibu bisa beberapa hari di sini. Kalau Ayah lusa udah harus ke Jakarta lagi. Biasa orang sibuk,” ucap Bu Farida.
“Seminggu deh Ibu di sini.”
“Ya jangan dong, Sayang. Ayah nanti kesepian di rumah,” timpal Pak Baskara mendengar perkataan sang anak.
Indira terkekeh, “Lagian kalau di rumah juga Ibu di tinggal sama Ayah kan.”
“Tapi kan kalau malam ketemu, nanti Ayah nggak bisa tidur.”
“Ayah ih kaya anak kecil,” ucap Indira membuat Bu Farida tertawa pelan melihat anak dan suaminya.
“Jadi besok ya Ibu ketemu sama Bu Dahlia?” tanya Bu Farida kembali membahas Tante Dahlia, seseorang yang sejak tadi di ceritakan oleh anak perempuannya.
Indira mengangguk, “Iya besok. Tapi jangan sama Ayah.”
“Loh kenapa?” tanya Pak Baskara.
“Kalau Ayah ikut nanti jadi tahu kalau Indira anak Bapak Baskara.”
“Memangnya kenapa kalau tahu?”
“Indira nggak mau aja nanti Tante Dahlia jadi canggung dan malah nggak bolehin Indi kerja lagi sebagai pegawai toko. Kalau Ibu kan jarang banget di ekspos jadi nggak begitu kentara nanti, pokoknya Indira mau di kenal sebagai anak biasa aja.”
“Ya udah deh gimana kamu aja. Ayah nggak masalah, lagian besok Ayah mau ketemu sama seseorang. Ada kerjaan sama dia,” ucap Pak Baskara.
“Tu kan, Ayah itu emang nggak pernah lepas dari kerjaan. Padahal lagi ngunjungin aku loh di Bandung tapi tetapi ada kerja.”
“Sebenernya sekalian ketemuan sama rekan kerja.”
“Jangan terlalu capek kerja Ayah, ingat kondisi kesehatan.”
“Iya, Sayang. Anak ayah ini kalau udah nasehatin persis sekali sama ibunya.”
“Ya namanya juga anak dan ibu.”
**
Bastian mengantarkan Atika ke rumah sang ibu seperti yang sudah dia katakan kemarin kalau dirinya akan mengantar sang istri. Atika tentu saja sangat senang karena perlahan Bastian memberikan perhatian kepadanya, apalagi Bastian sudah jarang sekali memakai kalimat gue-lo, entah keajaiban dari mana suaminya itu sudah menggunakan aku-kamunya, membuat Atika bahagia luar biasa.
Di perjalanan menuju rumah mertuanya saja Atika tidak pernah berhenti tersenyum. Mungkin Tuhan sudah mendengar doanya agar sang suami bisa sedikit saja membuka hati dan memberikan perhatian kepadanya, sekarang semua terkabul. Perlahan sikap Bastian memang berubah kepadanya. Atika sangat bersyukur.
“Nggak usah terlalu banyak gerak, bantuin mamanya jangan kecapekan.”
Bastian duduk di sebelah Atika, mereka memang baru saja sampai di rumah Halimah. Sejak tadi Bastian sudah mewanti-wanti kepada Atika untuk tidak terlalu banyak melakukan kegiatan yang membuat kelelahan. Bastian memang sudah sedikit merubah sikapnya, hal ini karena dia sudah merenungkan perkataan ibunya.
Mungkin benar Bastian harus bersikap baik kepada Atika setidaknya untuk menjaga calon anak mereka. Karena bagaimana pun, meski datang karena sebuah kesalahan tetapi anaknya tidak salah. Dirinya lah yang salah.
Tidak, jangan pikir sikapnya yang berubah ini berati membuat Bastian membuka hati kepada Atika. Hatinya masih tetap sama hanya untuk Indira, perempuan yang begitu dia cintai meski sampai sekarang Bastian masih belum menemukan di mana keberadaan Indira. Bastian sangat merindukan gadisnya.
“Iya, Mas.” Atika tersenyum cerah, senang karena Bastian terus memperhatikannya. Kalau seperti ini bisa saja Atika semakin jatuh hati kepada suaminya. Laki-laki yang merupakan ayah dari anaknya.
“Kalau gitu aku pergi dulu,” ucap Bastian beranjak dari sofa.
“Mas nggak tunggu Mama?”
Bastian menggeleng, “Bilang aja kalau aku ada urusan, teman aku udah nunggu,” jawabnya.
“Iya, hati-hati, Mas.”
Bastian mengangguk lalu berjalan keluar dari rumah. Dia memang tengah ada janji dengan Javi. Kemarin sahabatnya itu memberitahu bahwa sudah menemukan titik terang dari keberadaan Indira. Tentu saja membuat Bastian semangat saat mendengarnya, sampai kapan pun Bastian tidak akan menyerah untuk mencari keberadaan Indira. Meski kali ini ada Atika yang menjadi istrinya namun sampai anak itu lahir dan Bastian akan melepaskan Atika.
Sungguh jika Atika tahu alasan Bastian berubah sikap kepadanya, tentu Atika akan lebih dari sakit hati dari pada sebelumnya. Perempuan itu memang begitu malang, akan di lepas ketika anak dalam kandungannya lahir.