Menikmati waktu berdua

1473 Kata
#9 Menikmati waktu berdua Satu bulan bekerja di toko milik Tante Dahlian membuat Indira dan Nares semakin dekat. Meski Nares masih tetap sama dengan sikap yang begitu kaku tetapi bisa di bilang mereka lebih dekat dari sebelumnya. Kali ini kalau sedang berdua dengan Nares di toko, keduanya akan terlibat obrolan ringan. Indira juga sudah belajar banyak dari Tante Dahlia bagaimana membuat kue. Ada beberapa kue yang sudah cukup Indira kuasai dalam membuatnya dan itu membuat Indira begitu senang karena dia bisa membuatkan kue tersebut untuk ayah dan ibunya. Selain banyak belajar membuat kue dari Tante Dahlia. Indira juga belajar membuat donat dari Nares. Seperti yang pernah di katakan oleh Tante Dahlia, kalau urusan dengan donat maka Nares jagonya dan setelah mereka cukup dekat, Indira pun berani untuk meminta tolong di ajarkan kepada Nares, pun dengan laki-laki itu yang tidak menolak. Hari minggu ini kebetulan Tante Dahlia menutup toko kuenya. Hal itu karena Tante Dahlia ingin Indira istirahat lebih dulu, merasakan liburan setelah bekerja cukup rajin di toko. Karena libur bekerja Indira di ajak oleh Nares untuk jalan-jalan. Entah ada angin apa laki-laki itu mengajak Indira namun tidak masalah jsutru Indira senang kalau jalan-jalan ada teman. Ngomong-ngomong soal jalan-jalan. Masih ingat hari di mana Indira pergi ke Alun-alun sendirian. Saat Indira menikanati sosis yang di belinya kemudian ketahuan tengah memperhatian seseorang. Tahu siapa orangnya? Ya. Nares. Laki-laki itu juga baru menyadarinya beberapa waktu lalu. Pantas saja saat melihat Indira di toko saat pertama kali Indira mengiranya sebagai pembeli. Nares merasa tidak asing sekali dengan gadis itu, ternyata benar saja memang Indira yang waktu itu sempat bertatap mata dengan dirinya. Waktu itu Nares memang sedang beristirahat di masjid Alun-alun sambil membaca, hal yang kerap kali Nares lakukan saat senggang. Nares juga tiba-tiba merasa tengah di perhatikan saat itu. Tanpa diduga kedua mata mereka bertemu, namun Indira memilih berpaling ke arah lain dan saat itu Nares yang juga langsung pergi dari tempatnya. Tidak menyangka kalau mereka kembali bertemu di toko sang ibu dan Indira menjadi pegawai di sana. “Mas sering makan di sini?” tanya Indira. Mereka sedang makan siang, Nares mengajak Indira makan di salah satu tempat makan dengan menu khusus sayap ayam di lumuri berbagai macam pilihan rasa. Tidak jauh dari jalanan asia-afrika yang tadi sempat mereka lewati. Hari ini setelah mengajak Indira ke Alun-alun kembali karena katanya ingin naik ke atas dan melihat pemandangan kota Bandung dari atas masjid Agung. Indira baru tahu dan karena sedang bersama dengan Nares, akhirnya Indira mengiyakan tawaran Nares tersebut. Senang sekali ada di lantai atas masjid dan bisa melihat sekitaran Alun-alun dan jalanan kota Bandung yang saat itu tampak ramai, apalagi di hari minggu seperti ini. Setelah puas, sempat juga naik bis keliling yang di namakan Bandros (Bandung tour on bus) dan lagi-lagi baru pertama kalinya Indira menaiki bis tersebut, bahkan Nares sempat menolak karena sebagian besar yang naik bis adalah keluarga dan anak-anaknya, sementara mereka hanya orang dewasa dan dua orang saja. Tetapi melihat Indira merajuk malah membuat Nares tidak tega dan akhirnya mengiyakan membuat Indira memekik senang. Persis sekali seperti anak kecil di mata Nares. “Lumayan. Kenapa? Menunya kurang suka?” Mereka memang masih memilih makanan lewat buku menu, Indira sejak tadi membaca dengan begitu serius. Melihat menu yang tersedia ayam dan beberapa minuman, membuat Indira senang sekali karena ada tempat makan seperti ini yang mengkhususkan sayap ayam sebagai andalannya. “Suka kok. Aku pecinta daging ayam dan segala makanan lainnya,” ucap Indira kemudian kembali melihat buku menu. “Yang enak apa ya, Mas? Kok jadi pengen cobain semua rasanya,” lanjutnya. Fyi sekarang mereka berbicara begitu santai, lebih tepatnya sejak dua minggu lalu karena Indira merasa tidak nyaman saja, meski di awal dengan perkataan saya-kamu tetapi kalau sudah cukup dekat tidak enak rasanya. Mereka pun akhirnya sepakat untuk berbicara dengan santai apalagi Indira yang kembali menggunakan aku-kamu. Kalau Nares, jangan di tanya laki-laki itu terkadang lupa dan masih dengan saya-kamu. Nares pun sama melihat buku menu. Memang bukan kali pertama, bisa di katakan dia cukup sering makan di sini, apalagi kalau sudah bersama dengan teman-temannya semasa kuliah dulu. Selain harganya terjangkau di kantung mahasiswa, menu yang di sediakan pun memang enak sekali. Pertama kali Nares di ajak oleh salah satu teman satu kelasnya sampai akhirnya Nares ketagihann kembali makan di sini. “Coba satu dulu yang mau banget di coba, nanti kalau suka lain kali kita ke sini lagi,” ucap Nares membuat kedua mata Indira berbinar. Artinya Nares akan kembali mengajak dia ke sini kan nanti? Benar-benar Nares yang bersama dia selama satu bulan ini, yang kaku sekali ternyata bisa mengajaknya seperti ini. Indira kira Nares akan selamanya kaku dan memang sifatnya begitu kepada perempuan, kecuali kepada Tante Dahlia. Tetapi tidak seburukk yang Indira bayangkan, kedekatan mereka layaknya teman lama apalagi kalau sudah ada satu topik yang membuat keduanya asyik sekali berbincang. Indira mengangguk setuju dengan perkataan Nares. “Aku mau coba yang pedas aja deh, enak banget kayanya,” ucap Indira akhirnya memilih rasa yang akan dia pesan. Nares pun segera memanggil pelayaan dan menyebutkan pesanan mereka, sayap ayam super pedas dengan kentang goreng untuk Indira karena katanya tidak ingin makan nasi, lalu sayap ayam rasa chesse lava dengan nasi untuk Nares. Mereka berdua memilih lemon tea untuk minumannya. Tambahan lagi dengan onion ring dan kulit ayam kesukaan Indira. Tidak pakai nasi tetapi Indira memilih begitu banyak makanan. Nares sendiri tampak tidak masalah dengan apa yang menjadi pilihan Indira. Sembari menunggu pesanan mereka di antar ke meja, Nares dan Indira tengah berbincang. Kalau orang-orang melihat mereka mungkin akan beranggapan mereka adalah sepasang kekasih apalagi tampak berbincang dengan Indira yang kadang tertawa begitu manis, sementara Nares hanya tersenyum tipis. Pesanan mereka pun sudah di atas meja, Indira dan Nares mulai menikmati makanan mereka. Indira tampak lahap sekali meski makan tanpa nasi tetapi di ganti dengan kentang, diam-diam Nares juga memperhatikan gadis yang tengah makan di hadapannya. Tersenyum kecil melihat Indira begitu menggemaskan sekali saat makan. Tunggu ... Jangan bilang kalau sekarang dirinya tengah terpesona karena gadis yang berada di hadapannya ini. Memang sih mengingat mereka satu bulan ini cukup dekat membuat Nares pun terbiasa dengan kehadiran Indira dalam hidupnya. Perlahan ada ketertarikan pada gadis itu apalagi mengetahui Indira begitu mandiri tinggal jauh dengan orang tuanya di kota ini. Indira memang sudah bercerita kepada Nares, kalau dirinya tinggal bersama dengan asisten rumah tangga karena orang tuanya berada di Jakarta. Tidak mengatakan kalau Indira sedang menenangkan diri, tetapi Indira mengatakan kepada Nares bahwa memang dia ingin mandiri dan bekerja di sini. Indira juga tidak mengatakan bahwa dirinya anak tunggal dari Bapak Baskara. Tentu Nares akan tahu tentang hal tersebut apalagi menurut cerita Ines, Nares pernah mengurus proyek bersama dengan Baskara, yaitu desain salah satu kantor yang memang di kerjakan oleh Nares beberapa tahun lalu. Indira tidak ingin saja kalau sampai Tante Dahlia tahu juga yang akhirnya tidak bisa bekerja karena segan mempekerjakan dirinya. Indira sih berpikir seperti itu. ** Atika sedang menyiapkan makan siang untuk sang suami. Akhir-akhir ini harus Atika syukuri karena Bastian sudah mau makan masakannya. Tidak ada penolakan dari Bastian lagi, mereka pun sering sekali makan bersama terutama saat makan malam. Kalau makan siang hanya sesekali, kecuali kalau memang weekend yang pastinya Bastian berada di rumah dan akan sarapan, makan siang sampai makan malam bersama. Wajah Atika begitu cerah sekali, hal tersebut karena untuk pertama kalinya Bastian minta di masakan menu yang memang permintaan dia untuk makan siang kali ini. Biasanya apa yang di masak Atika maka Bastian akan langsung makan tanpa meminta apa-apa. Kali ini benar-benar berbeda dan Atika merasa sangat senang. Selesai menyiapkan makan siang, Atika memanggil Bastian untuk segera mencicipi masakannya. Mereka pun mulai makan siang bersama dengan Atika yang tentunya mengambilkan makanan untuk Bastian. Hal tersebut sudah membuat Bastian terbiasa, semua yang di perlukannya sekarang sudah Atika yang siapkan. Tanpa di sadari oleh Bastian, laki-laki itu sudah membuka diri, terbiasa sekali dengan adanya Atika dalam kehidupannya. “Tadi Mama telepon, Mas.” Bastian yang tengah menikmati makanannya menoleh seolah, “Mama bilang apa?” tanya Bastian lalu kembali menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya. “Besok di rumah ada arisan, terus aku di suruh ke sana. Aku boleh ke rumah Mama, Mas?” Memang Atika sudah sadar dengan posisinya sebagai seorang istri yang tentu kalau ke luar rumah harus atas ijin suami. Jadi ke mana pun Atika pergi memang selalu mengatakannya kepada Bastian. “Iya boleh,” balas Bastian. “Makasih, Mas.” “Nanti aku anter.” “Eh?!” Atika tampak mematung. Apa dia tidak salah dengar? Bastian tadi mengatakan aku? bukan gue seperti biasa? Entah kenapa hatinya menghangat mendengar bagaimana Bastian yang sudah sedikit berubah. “Kenapa?” tanya Bastian menyadari istrinya terkejut seperti itu. Atika menggelang, tersenyum lebar. “Nggak apa-apa, Mas besok nggak sibuk?” Bastian menggeleng. “Makasih, Mas.” Atika kembali tersenyum. Hari ini dia benar-benar bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN