Perasaan asing

1248 Kata
#8 Perasaan asing Indira semakin menikmati apa yang di kerjakannya. Menjadi pegawai toko kue tidak selelah apa yang di bayangkannya. Malah Indira senang sekali, apalagi dia bisa belajar membuat kue dari Tante Dahlia. Siapa tahu nanti bisa Indira praktekan setelah berada di Jakarta, membuat kue untuk ibu dan ayahnya. Hari ini hanya ada Indira bersama dengan Nares di toko karena Tante Dahlia sedang pergi dengan Tante Rossa –mamanya Ines. Sejak tadi Indira juga memilih untuk berkutat di dekat etalase kue saja, sementara Nares tengah duduk di kursi yang ada di toko bagian pojok, sembari berkutat dengan beberapa kertas yang Indira tidak tahu apa, tapi tadi sedikit mengintip sih ada desain seperti sebuah rumah. Sudah masuk jam makan siang tetapi Indira ragu sekali untuk keluar dari toko dan mencari makan. Indira masih belum bisa mengobrol dengan Nares, bahkan untuk bertegur sapa saja malah takut sekali karena wajah Nares yang kepalang dingin sekali. Nares juga bicara seadanya saja. Beruntung toko ramai seperti biasanya jadi Indira tidak perlu canggung meski ada Nares di dekatnya. Merasa perutnya sudah meronta minta di isi, Indira mau tidak mau beranjak dari tempatnya. Biar lah dia mencoba untuk bicara dengan Nares, lagipula Nares juga manusia kan untuk apa Indira takut. Sama-sama makan nasi juga. “Mau ke mana?” Belum sempat Indira berbicara dengan Nares, laki-laki itu malah menatapnya dengan kedua matanya yang pekat. Tersentak mendengar suara Nares membuat kedua tangannya berada di daada. Nares ini bikin kaget saja bisanya, kalau Indira punya penyakit jantung bagaimana. “Ke-keluar Mas, saya mau cari makan.” “Nggak perlu, saya udah pesan makan siang buat kita berdua.” Jawaban Nares membuat Indira terdiam. Tidak menyangka saja kalau Nares sudah memesan makan siang untuk mereka berdua. Padahal tidak terlihat tadi Nares memesan makanan, sejak kapan laki-laki itu mengutak-atik handphone untuk memesan makanan. Indira mengangguk pelan kemudian kembali ke tempatnya. Jantungnya berdebar di tatap dengan begitu intens oleh Nares. Tetapi ada perasaan asing dalam dirinya, entah kenapa bibirnya melengkung ke atas menunjukkan senyum tipis mengingat Nares memesan makanan untuk dirinya juga. ** Indira dan Nares makan siang berdua di toko. Ternyata Nares memesan satu paket lengkap untuk mereka berdua dari salah satu tempat makan cepat saji yang memang tidak jauh dari toko. Awalnya Indira kembali ragu makan berdua dengan Nares, tetapi perutnya minta di isi dan tidak mungkin Indira menolak setelah Nares membelikan juga untuknya. Tidak boleh menolak rejeki kan. Namun tidak menyangka Nares malah kembali mengajaknya untuk makan bersama di satu meja. Makan dengan di temani keheningan di antara keduanya, hanya suara kendaraan yang berlalu lalang di depan toko menjadi pemecah keheningan tersebut. Nares tampak biasa saja makan berdua dengan Indira, malah berbanding terbalik sekali dengan Indira yang agak kaku. Malah sejak tadi makan dengan sedikit-sedikit, takut saja di kira kelaparan padahal memang sedang lapar. “Kamu nggak suka menu makanannya?” tanya Nares yang diam-diam ternyata memerhatikan gadis yang tengah duduk di hadapannya. Indira makan dengan pelan sekali bahkan menyuapkan nasi begitu sedikit. “Hah?! Ng-nggak, Mas. Suka kok suka,” balas Indira agak gelagapan karena Nares bertanya seperti itu. Untung saja tidak ada adegan dirinya yang tersedak makanan, bisa malu sekali Indira kalau sampai itu terjadi. Nares mengangguk singkat, kembali menikmati makanannya. Pun dengan Indira yang sekarang sudah makan dengan biasa, tidak mau di anggap kalau dirinya tidak menyukai makanan yang di pesankan oleh Nares. Selesai makan, Indira dengan inisiatif membereskan bekas makan mereka, sementara Nares berjalan masuk ke bagian toko yang berada di belakang. Indira bernapas lega setelah melihat Nares berjalan ke arah toilet yang berada di belakang, sejak tadi napasnya seperti mau habis karena dekat dengan Nares. Tidak tahu kenapa Indira merasa grogi sekali bersama dengan Nares dan hanya ada mereka berdua. Membuang bungkus bekas makanan ke luar toko, Indira kembali ke dalam dan membawa minum yang memang sudah tersedia di sini. Melihat jam, masih ada waktu sepuluh menit lagi untuk toko kembali di buka setelah jam makan siang mereka. Indira memilih kembali ke dekat etalase, melihat stok kue yang hari ini di jual. “Saya mau ketemu teman dulu, kamu bisa jaga toko sendiri?” Nares datang dari arah belakang, lagi-lagi membuat Indira terkejut. “Maaf,” ucap Nares melihat Indira yang tersentak karenanya. “Nggak apa-apa, Mas. Kalau memang mau ketemu teman, biar saya saja yang jaga di sini. Lagian udah mau tutup juga kan, tenang aja.” Nares mengangguk dan pamit kepada Indira. Tadi selesai dari toilet, temannya memang kembali menghubungi. Katanya akan membahas rumah yang hendak di bangun, ada beberapa bagian rumah yang ingin diubah membuat Nares harus kembali membicaran hal tersebut dengan temannya. ** Sejak Atika dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan. Bastian tidak pernah meninggalkan Atika di rumah sakit, apalagi sang ibu selalu memiliki cara agar Bastian yang menjaga istrinya di rumah sakit, kalau seperti itu tidak bisa menolak lagi. Karena Bastian tidak mau membuat ibunya kembali kecewa. Hari ini Atika bisa pulang setelah di rawat selama dua hari. Bastian sedang membereskan pakaian yang sempat di bawa ke rumah sakit. Sementara Atika sedang berganti pakaian di dalam kamar mandi, sebelumnya Bastian juga yang memapah sang istri ke dalam kamar mandi. Karena meski di bolehkan pulang, kondisinya masih cukup lemah dan perlu perhatian dari keluarga. Selesai memasukkan pakaian sang istri ke dalam tas, bertepatan dengan Atika yang juga selesai berganti pakaian. Tanpa menunggu lama, Bastian pun langsung mengajak Atika untuk segera pulang, tentu kembali membantu sang istri untuk berjalan keluar dari ruangan perawatan. Administrasi sudah Bastian selesaikan tadi sebelum membereskan pakaian, jadi mereka tidak perlu mengurusnya lagi. ** “Kita nggak pulang ke apartemen, Mas?” Atika yang menyadari arah pulang mereka tidak menuju apartemen, menatap suaminya dan bertanya. Karena sejak tadi Bastian tidak mengeluarkan suaranya dan tidak mengatakan akan pulang ke mana. Atika pun baru berani bertanya setelah berpikir cukup lama dan dia pun begitu penasaran. “Nggak.” Begitu singkat dan terkesan dingin membuat Atika mengatupkan bibirnya. Tidak ingin bertanya kembali. Atika memilih untuk memejamkan matanya, masih terasa pusing memang, mungkin karena terlalu lama mencium bau rumah sakit. Perutnya juga merasa bergejolak. Tidak suka bau rumah sakit, padahal sebelumnya baik-baik saja. Ah ... dia lupa, sekarang kan dia sedang hamil. Perjalanan pun kembali di selimuti dengan keheningan. Bastian terus melajukan mobilnya tanpa melirik ke arah sang istri. Ibunya memang menyuruh dia kembali membawa Atika untuk tinggal di rumah, mengingat tidak ada yang menemani saat Bastian bekerja sementara kondisi Atika sedang hamil. Takut kembali terjadi sesuatu kepada Atika seperti sebelumnya membuat Halimah meminta Bastian untuk kembali ke rumah. Meski Bastian mengatakan akan menyewa asisten rumah tangga tetapi Halimah tetap pada pendiriannya dan akhirnya Bastian pun kalah, tidak bisa berbuat apa-apa. Bukan tidak ingin tinggal dengan ibunya, tetapi kalau dia dan Atika tinggal di rumah orang tua mereka tentu saja Bastian harus berada di satu kamar yang sama dengan istrinya, tidak masalah memang karena mereka sudah menikah, tetapi Bastian masih begitu asing kalau Atika berada di dalam satu kamar dengan dirinya. Dan Bastian tidak ingin berakhir tidur di sofa seperti yang sudah-sudah. Dan satu lagi, Bastian laki-laki normal, tentu saja. Kalau tidak normal, tidak mungkin kan ada nyawa lain di dalam perut Atika. Jangan sampai ada malam kedua di antara mereka, bisa-bisa Bastian semakin merasa bersalah kepada Indira, sampai hari ini Indira masih menempati relung hatinya. Meski tidak dapat Bastian pungkiri ada perasaan lain yang tengah bergejolak dalam hatinya membuat Bastian merasa bingung. Apalagi kalau bukan perasaan ingin menjaga calon anaknya, Bastian perlahan menerima kehadiran malaikat kecilnya itu. ** Jangan bilang mereka sedang menggalau karena perasaan baru. Wkwkwk
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN