Cobalah menerima keadaan

1291 Kata
#7 Cobalah menerima keadaan Nares. Singkat, padat dan jelas sekali. Lelaki itu mengenalkan dirinya kepada Indira tanpa senyum. Garis bawahi tanpa senyum. Astaga Indira kenapa merasa jengkel sekali melihat wajah datarnya yang seperti triplek. Setelah mereka berkenalan dan tentu saja dengan permintaan maaf Indira karena sudah menganggap Nares sebagai pelanggaan yang datang untuk membeli kue, ternyata hanya di balas dengan anggukan saja oleh Nares tanpa ada niatan untuk mengatakan “Iya, tidak apa-apa.” atau “Nggak papa santai aja.” Indira tidak terlalu lama berinteraksi dengan Nares. Bahkan setelah itu Indira langsung pamit pulang pada Tante Dahlia, berjanji akan kembali besok lebih pagi untuk membantu Tante Dahlia membuka toko. Sementara Nares hanya diam memperhatikan gadis tersebut, yang semakin menjauh dari pintu toko kue sang ibu. “Bunda nggak bilang sama aku kalau hari ini ada yang mau bantuin di toko.” “Tadi Bunda lupa, terus kamu perginya pagi jadi deh nggak sempat cerita. Lagian Bunda senang sekarang ada teman kalau kamu nggak di toko.” “Biasanya juga nggak pake pegawai toko.” “Nggak apa-apa dong, lagian temannya Ines juga. Kasihan cari kerja apalagi merantau ke sini. Bunda juga langsung klik gitu waktu di kenalin sama Ines. Indira anaknya baik, ceria, selalu ada aja yang dia ceritain. Bikin Bunda jadi nggak kesepian kalau di toko kaya tadi.” Nares mengangguk saja. Kalau sudah begini, tidak bisa juga dia melarang sang ibu. Nares akui dia juga terkadang tidak bisa berada di toko, karena pekejaannya yang selain merintis toko kue bersama dengan sang ibu, Nares juga merupakan arsitek yang memiliki jam terbang cukup banyak. Tadi saja Nares baru bertemu dengan temannya yang meminta untuk di buatkan desain rumah. Di samping pekerjaannya yang memang seorang arsitek, Nares juga gemar sekali memasak dan membuat kue yang akhirnya di jual di toko, sungguh jauh berbeda sekali kan. Karena sering membantu sang ibu lah yang akhirnya membuat Nares belaja dan tidak di sangka kue buatannya pun kerap kali terjual habis. Salah satunya donat tadi yang juga dicicipi oleh Indira. Sepertinya selain merancang desain, tangan Nares juga di anugerahi kemampuan membuat kue enak. ** Indira baru saja sampai di rumah. Bi Sumi menyambut kedatangannya dengan aroma masakannya yang menggugah selera dari arah dapur. Meski sang nona muda tidak berada di rumah saat makan siang, tetapi untuk makan malam tentu saja Bi Sumi seperti biasa membuatkan makanan kesukaan Indira. Apalagi sudah lama di sini membuat Bi Sumi tahu apa saja yang disukai oleh anak majikannya itu. Indira melangkah ke dapur, melihat Bi Sumi sedang berkutat dengan bumbu dapur. Tidak ada makanan yang terlalu mewah karena sebenarnya Indira sangat menyukai masakan seperti telur balado, tumis kangkung, nasi tutug oncom pun menjadi salah satu kesukaannya kalau sudah berada di Bandung. “Wangi banget, Bi. Bibi masak apa?” Bi Sumi yang mendengar suara Indira menoleh, tersenyum hangat menyambutnya. Indira pun melihat makanan yang tengah di masak oleh Bi Sumi. Pantas saja baunya harum sekali sampai menggugah selera, ternyata sedang masak sala satu makanan kesukaannya. Indira jadi tidak sabar mencicipinya. “Bibi masak telur balado, kemarin kan non bilang sama Bibi pengen makan telur balado. Baru hari ini deh Bibi bikinnya, terus tadi Bibi juga udah bikin jamur krispi. Pokoknya nanti non Indi harus makan banyak,” balas Bi Sumi memberitahu apa saja yang di masaknya. Indira mengangguk antusias. “Iya, nanti Indi makan deh yang banyak. Apalagi makanannya kesukaan Indi banget, kapan-kapan ajarin bikin telur balado ya Bi. Indi juga mau bisa masak makanan kesukaan.” “Siap, non. Kalau gitu non bersih-bersih dulu aja, makan malamnya sebentar lagi selesai.” “Oke, Bi. Kalau gitu Indi ke kamar dulu ya. Gerah juga ini habis dari toko. Senang juga Indi bisa ada kegiatan di sini,” pamitnya yang mendapatkan anggukan dari Bi Sumi sebelum kembali pada masakannya. Indira pun melangkah menuju kamar, butuh air untuk menyegarkan tubuhnya kembali setelah seharian sangat sibuk di toko. Tetapi Indira tidak merasa lelah justru sangat senang dengan apa yang di lakukannya sekarang. Benar-benar menikmati apa yang menjadi pekerjaannya kali ini. ** Bastian tampak lelah sekali. Setelah mengantarkan sang istri ke rumah sakit dan berakhir dengan mendapatkan omelan dari sang ibu. Sekarang Bastian tengah duduk di depan ruangan di mana Atika akhirnya mendapatkan perawatan. Kata Dokter kondisi kehamilannya tidak begitu baik, terlalu banyak tekanan menimbulkan ibu hamil itu di dera stress. Halimah yang tentu saja khawatir dengan kondisi menantunya berakhir dengan mengomel kepada anaknya. Bastian harus bersikap baik kepada Atika agar kondisi kehamilannya baik-baik saja. Halimah juga mengatakan agar Bastian bisa sedikit saja memberikan perhatian kepada sang istri, mengesampingkan ego demi kehamilan anak mereka. Meski pernikahan ini tanpa adanya cinta di antara keduanya, tetapi Halimah ingin anaknya bisa menerima semua yang terjadi secara perlahan, karena bagaimana pun anak yang berada dalam kandungan Atika adalah darah dagingnya. Bastian akhirnya mengalah. Meski hatinya masih tidak rela menerima apa yang terjadai pada kehidupannya. Tetapi mau bagaimana lagi, kondisi Atika memang sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai suami. Mengingat tidak ada lagi orang tua yang Atika punya, pun dengan sanak saudara, meski ada Novi tetapi gadis itu tidak selalu bisa berada di samping sepupunya. “Mama pulang dulu.” Bastian mendongak menatap sang ibu yang keluar dari ruangan rawat. Mengangguk lemah membuat Halimah mengembuskan napas pelan. Halimah tahu tidak mudah untuk Bastian menerima semua ini, tetapi Bastian sudah menjadi seorang suami dan calon ayah yang tentu saja bertanggung jawab atas istri dan anaknya sekarang ini. “Jaga Tika. Mama benar-benar minta kamu buat berubah, Tian. Kali ini aja demi keselamatan istri dan anak kalian. Jangan egois dan merasa kamu yang menjadi korban di sini, karena korbannya adalah Atika, istri kamu yang bahkan tidak tahu apa-apa tetapi malah kamu nodaii. Mama hanya mengingatkan, dari pada kamu menyesal nantinya,” jelas Halimah sebelum meninggalkan Bastian yang masih termenung di tempatnya. ** “Makasih, Mas,” ucap Atika begitu pelan. Senang sekali mendapatkan perhatian dari sang suami, meski wajah Bastian masih begitu dingin kepadanya tetapi mau menyuapi dirinya seperti ini membuat Atika senang. Bastian tidak membalas, masih terus menyuapi Atika tanpa mengeluarkan suara. Tadi setelah ibunya pulang dan merenung cukup lama di luar ruangan, akhirnya Bastian masuk dan mendapati Atika tengah tertidur pulas. Sampai setengah jam kemudian perawat datang membawakan makanan, perawat tersebut meminta Bastian untuk membangunkan sang istri karena Atika memang harus kembali mengisi tenaganya. Bastian pun meminta perawat untuk tetap tinggal dan menyuapi istrinya ketika Atika sudah bangun dengan wajah yang masih pucat. Namun sayang sekali perawat tersebut menolak dengan cara lembut karena masih ada hal yang harus di kerjakan yang mau tidak mau membuat Bastian yang akhirnya menyuapi Atika karena kondisinya masih lemah. Tidak ada obrolan hangat layaknya suami istri, atau perkataan manis yang di layangkan Bastian kepada Atika ketika sedang menyuapi sang istri. Mulutnya seolah sudah di kunci begitu rapat sampai tidak mengeluarkan suara barang sedetik. Hening menyelimuti keduanya, hanya suara dentingan dari sendok dan deru napas mereka berdua yang teratur. Bastian beranjak, selesai menyuapi Atika dan kembali menyimpan alat makan itu di atas meja. Memberikan satu gelas air putih kepada Atika yang di terima dengan senyum mengembang di wajah ibu hamil itu. Untuk pertama kalinya Atika merasakan begitu bahagia karena apa yang sudah Bastian lakukan. “Gue tunggu di luar.” Senyum itu memudar, kenyataan yang terjadi tembok yang di miliki Bastian masih tetap sama, tidak bisa tersentuh oleh dirinya. Namun tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Sungguh Atika meminta kepada Tuhan untuk bisa masuk ke dalam relung hati suaminya, Atika ingin menjalani pernikahan seperti orang-orang di luar sana, meski berawal dengan sebuah keterpaksaan tetapi Atika pun sedang berusaha untuk menerima semuanya. Siapa yang tidak jatuh akan pesona Bastian Ardhana, bahkan dalam waktu singkat pun Atika sudah merasakan begitu mencintai Bastian. Terlepas dari apa yang Bastian lakukan, Atika tetap jatuh cinta kepada suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN