Kehadiran orang baru

1673 Kata
#6 Kehadiran orang baru Indira benar-benar menikmati apa yang tengah dia kerjakan. Seharian berada di toko dengan pembeli yang cukup rama di hari pertama dia bekerja, tidak membuat Indira merasa kelelahan. Apalagi bisa berbincang dengan Tante Dahlia membuat Indira seperti menemukan sosok ibu di sini mengingat Indira memang sedang jauh dari keluarganya. Tante Dahlia juga kelihatan sekali nyaman dengan kehadiran Indira. Gadis yang begitu ramah dan terkadang cerewet sekali namun membuat hatinya menghangat. Seperti tengah bersama dengan anak perempuannya seharian berada di toko bersama dengan Indira yang banyak sekali menceritakan dari masa kecilnya sampai kenapa Indira berada di Bandung seperti sekarang ini. Indira sendiri tidak tahu mengapa bisa dengan mudahnya menceritakan semua kepada Tante Dahlia. Senang sekali ketika ada orang yang dengan begitu terbukanya mendengar curahan hatinya. Apalagi selama di sini Indira tidak bisa bercerita, hanya di pendam sendiri. Untuk bercerita kepada orang tuanya pun hanya bisa lewat telepon. Masuk waktu makan siang, Indira mencari makan untuk dirinya dan Tante Dahlia. Kata Tante di dekat toko ada warung makan yang memang menjadi langgaanan untuk makan siang. Banyak juga yang membeli ke sana. Indira pun menawarkan dirinya untuk membeli makanan sementara Tante Dahlia tinggal di toko. Warung makan yang di tuju memang tampak ramai. Apalagi letaknya begitu strategis, dekat dengan beberapa toko yang tentu pegawainya akan membeli makan ke warung tersebut. Membuat Indira harus menunggu dengan sabar pesanannya di siapkan oleh sang pemilik warung tersebut. Tidak butuh waktu lama, Indira sudah berjalan ke toko kue Tante Dahlia dengan satu kantung plastik yang berisi makanan mereka. Pertama kali juga Indira makan di luar rumah dan membeli dari warung makan seperti ini, mengingat kalau makan siang biasanya dia memilih ke salah satu tempat makan cepat saji atau makan siang dengan menu masakan Bi Sumi di rumah. Indira memang tidak pilih-pilih soal makanan, sejak kecil dirinya juga di didik untuk hidup sederhana meski terlahir di keluarga yang berada dan sanggup untuk hidup mewah. Tetapi Baskara dan Farida –orang tua Indira- mendidik anak semata wayangnya dengan begitu baik, meski kerap memanjakan tetapi tidak lantas membuat Indira menjadi sosok anak yang selalu di berikan apapun yang di inginkan, tetap Indira harus menyelesaikan tugasnya ketika dia ingin sesuatu. Misalnya saja waktu sekolah dulu, Indira ingin mengganti handphonenya, dia harus mendapatkan nilai yang bagus di saat ujian semester. Masuk ke dalam toko, Indira melihat Tante Dahlia yang sudah menunggunya duduk di salah satu kursi yang berada di pojok samping etalase kue. Indira pun segera menghampiri Tante Dahlia dengan makanan yang sudah dia beli tadi. Meminta maaf karena menunggu cukup lama, mereka pun mulai menikmati makan siang masing-masing. Indira memesan ayam serundeng, tahu, tempe dan sambal seperti yang sudah di pesan oleh Tante Dahlia tadi. Sementara Indira membeli tempe kering dengan kacaang dan juga ati ampela yang tadi sempat menggodaa lidahnya. Penasaran dengan rasanya apakah Indira akan merasakan masakan seperti di rumah, di mana sang ibu selalu memasak ati ampela untuknya. Yang tentu saja tidak begitu mirip namun bisa menghilangkan rasa rindunya pada masakan sang ibu. Mereka tampak makan di selingi berbincang kecil, terlihat seperti ibu dan anak ketika mereka sedang berdua seperti ini. Tante Dahlia benar-benar senang dengan kehadiran Indira seperti ini. Mengingat tidak memiliki anak perempuan membuat Tante Dahlia menganggap Indira seperti anaknya sendiri, padahal mereka baru bertemu hari ini. Toko biasa tutup di jam empat sore, masih banyak waktu untuk Indira melakukan pekerjaannya di sini. Indira juga sudah mengatakan pada Bi Sumi bahwa sekarang dia lebih sering menghabiskan waktu di luar, tentu saja menjelaskan juga kalau dia sudah mulai bekerja, tetapi tidak mengatakan di mana dirinya bekerja. Bi Sumi tentu tidak banyak bertanya, malah beliau senang melihat anak dari majikannya sudah tidak tampak murung seperti pertama kali datang ke sini, yang entah alasannya pun apa karena Bi Sumi juga tidak mau terlihat terlalu mencampuri urusan. Indira lambat laun sudah melupakan kesedihannya. Bahkan mungkin tanpa gadis itu sadari akhir-akhir ini sudah tidak mengingat laki-laki bernama Bastian Ardhana. ** “Maaf Mas, tokonya sudah mau tutup.” Indira yang baru saja membereskan barang di dalam etalase berucap saat mendapati seorang laki-laki yang baru saja masuk ke dalam toko. Laki-laki itu pun tampak diam di dekat pintu masuk toko. “Kuenya juga sudah habis semua.” “Kamu siapa?” tanya laki-laki itu malah bertanya kepada Indira membuat gadis itu mengernyit. “Loh Mas ini kok malah tanya, ya saya pegawai di sini lah. Mangkanya saya bilang kuenya sudah habis jadi besok datang lagi,” balas Indira. “Res, kamu baru pulang.” Tante Dahlia datang dari belakang menyabut kehadiran laki-laki tadi. Mendengar Tante Dahlia yang menyapa dengan begitu ramah laki-laki yang datang tadi membuat Indira menoleh secara bergantian ke arah Tante Dahlia dan lelaki tersebut. “Tante Lia kenal?” tanya Indira kepada Tante Dahlia. “Ini loh anak tante yang tadi tante ceritain sama kamu,” balas Tante Dahlia membuat kedua mata Indira membulat begitu terkejut. Astaga malu sekali dia karena tadi menganggap laki-laki tersebut adalah pelanggaan toko. Padahal anak dari pemilik toko ini. “Maaf, Tante. Aku kira tadi yang mau beli kue,” ucap Indira agak kikuk. Tante Dahlia terkekeh melihat Indira yang kelihatan malu, pipinya sampai merona membuat dia gemas sekali dengan gadis itu. Sementara laki-laki yang sejak tadi hanya diam sembari memerhatikan dua perempuan yang berada di hadapannya. Pandangannya terfokus pada gadis yang tadi mengira dirinya sebagai pelanggaan toko. Tersenyum begitu tipis bahkan mungkin kedua perempuan tersebut tidak menyadari bahwa laki-laki itu baru saja tersenyum. “Ini Indira temannya Ines terus sekarang bantuin Bunda di toko. Soalnya butuh kerjaan selama merantau di sini,” jelas Tante Dahlia pada anak lelakinya. Indira yang tengah di perhatikan oleh laki-laki tersebut tampak salah tingkah. Kenapa juga dia harus salah tingkah seperti itu, atau karena ketahuan salah mengira. Kalau begini ingin sekali Indira melarikan diri, malu sekali dia. “Halo, Mas. Saya Indira, yang tadi maaf ya. Kirain mau beli kue,” meski tampak ragu akhirnya Indira memberanikan untuk mengenalkan dirinya. Tidak sopan kan kalau dia hanya diam saja apalagi di depan anak dari pemilik toko di mana dia bekerja. “Nares.” ** “Kamu harus menerima kehadiran Atika, Tian.” Halimah sudah berulang kali memberitahu anaknya tentang ini. Tetapi memang Bastian yang begitu keras kepala malah acuh saja dan tidak ada niatan untuk mengiyakan apa yang di katakan oleh ibunya tentang Atika. Bastian terlanjur kesal pada keadaan, pada dirinya sendiri dan kepada Atika yang hadir dalam kehidupannya. Meski Bastian tahu anak yang berada dalam kandungan perempuan tersebut adalah anaknya. Iya, Bastian mengakui itu karena sekarang dia sudah mengingatnya bagaimana Bastian menjadi yang pertama yang mengoyak apa yang selama ini Atika jaga, keperawanannya tengah di renggut oleh Bastian. Tetapi sekali lagi, yang Bastian inginkan adalah Indira menjadi istrinya, bukan perempuan lain termasuk Atika. Apa yang dia lakukan hanya untuk bertanggung jawab dan tanpa melibatkan perasaan. Sudah Bastian katakan itu berulang kali kan. Tidak ada yang bisa menggantikan Indira dalam hatinya. Hanya saja, Halimah –ibunya- tidak berpikir seperti itu. Apa yang sudah terjadi harus bisa di pertanggung jawabkan dengan baik. Pernikahan yang sah secara hukum dan agama bukan untuk di permainkan dan Bastian seharusnya menjadi suami yang baik untuk istrinya, menerima semua takdir yang mungkin sudah di gariskan Tuhan seperti ini, Halimah hanya ingin Bastian tidak menyesal di kemudian hari. “Dan berapa kali Bastian bilang sama Mama, kalau Tian hanya ingin Indira. Lagian udah bagus Tian nikahin cewek itu biar anaknya punya status jelas nanti. Jangan minta lebih dari ini karena Tian nggak bisa memberikannya, termasuk memberikan hati Tian kepada perempuan lain selain Indira, Bastian nggak bisa melakukannya.” “Mama hanya ingin kamu nggak menyesal di kemudian hari, Tian. Perlakukan istri kamu sebaik mungkin apalagi dia sedang mengandung anak kalian. Semakin besar kandungannya nanti, tentu sebagai ibu hamil menginginkan perhatian dari suaminya. Mama hanya mau kamu berpesan sebagai mana mestinya, meski hati kamu masih belum menerima kehadiran Atika tetapi sikap kamu nggak seharusnya terlalu cuek sama istri kamu.” Bastian mengembuskan napas kasar. Benar-benar pusing sekali memikirkan apa yang terjadi pada kehidupannya. Belum Bastian menemukan keberadaan Indira, ibunya malah meminta dia bersikap baik kepada Atika sebagaimana sikap suami kepada istri. Sejujurnya Bastian masih belum bisa, karena setiap kali melihat Atika, sering kali Bastian menyadari kesalahannya. Bukan kesalahan pada Atika melainkan kesalahan dirinya kepada Indira yang telah menyakiti hati sang pujaan hati sedalam ini. ** Bastian masuk ke dalam apartemen, tampak sepi sekali seolah tidak ada kehidupan di dalam sini. Heran, biasanya ada Atika yang tampak sibuk di dapur atau tengah menonton televisi tetapi kali ini Bastian tidak menemukan keberadaan istri terpaksanya itu. Bastian melangkah menuju kamarnya, kamar yang tentu saja terpisah dengan Atika. Berusaha tidak perduli meski tidak melihat keberadaan perempua itu. Bastian masuk ke dalam kamar, memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian. Selesai mandi dan berganti pakaian, Bastian kembali keluar kamar. Masih tidak ada keberadaan Atika di sekitarnya. Ingin Bastian menyangkal kalau dia tidak mengkhawatirkan perempuan itu tetapi yang ada, Bastian memeng tengah khawatir. Mungkin karena sudah beberapa hari ini tinggal bersama dengan Atika dan selalu melihat keberadaannya meski tak jarang Bastian sendiri begitu acuh pada sang istri. Sekarang saat tidak ada Atika dalam pandangannya, Bastian merasa ada yang aneh. “Mungkin lagi keluar,” gumam Bastian. Duduk di sofa dan mulai menyalakan televisi. “Sialaan! Kenapa gue malah kepikiran,” umpaat Bastian kemudian beranjak dari sofa dan melangkah menuju kamar di sebelah kamarnya di mana Atika yang tidur di sana sejak pertama kali mereka tinggal berdua di apartemen. Klek. Bastian membuka pintu secara perlahan, begitu terkejut melihat Atika yang tergeletak tak sadarkan diri di bawah tempat tidurnya. Berlari menghampiri sang istri, Bastian tampak begitu panik. Kalau terjadi apa-apa, Bastian juga yang kena karena mereka tinggal berdua. Tidak lucu kalau sampai orang beranggapan kalau dirinya melakukan kekerasaan dalam rumah tangga. Padahal tidak begitu adanya. “Tika!” seru Bastian menepuk pipi perempuan itu. Tidak mendapatkan respon akhirnya Bastian menggendong Atika keluar dari kamarnya, memutuskan untuk membawa sang istri ke rumah sakit. Memang tidak bisa di pungkiri, sekuat apapun Bastian menyangkal dan tidak akan perduli, sejujurnya dia sangat khawatir apalagi menyangkut keselamatan anaknya, darah daginya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN