#5 Menjadi pegawai toko
Bastian sudah tidak perduli lagi dengan keberadaan istri sahnya. Yang dia perdulikan adalah tentang Indira. Masih belum bisa dia temukan sampai hari ini, seolah semua akses di tutup dan sudah Bastian duga bahwa Baskara yang menjadi penyebab dirinya kesulitan untuk menemukan keberadaan sang kekasih hati.
Rasanya sudah tidak berarti lagi apa yang dia kerjakan, tidak ada lagi seseorang yang selalu membuat dirinya bersemangat menjalani hari demi hari meski pekerjaan menumpuk tetapi ketika pulang dan bertemu dengan Indira, semua lelah langsung hilang begitu saja dengan senyum lembut milik Indira yang sekarang begitu Bastian rindukan. Ingin merengkuh tubuh sang kekasih, meminta maaf atas apa yang telah dia perbuat.
Perubahan dalam diri Bastian tentu di sadari oleh sang ibu. Halimah melihat bagaimana anaknya tampak kacau sekali setelah ditinggalkan oleh mantan calon menantunya. Halimah tahu betapa Bastian mencintai Indira, pun dengan dirinya yang begitu senang ketika pada akhirnya sang anak akan menikah dengan perempuan yang menjadi calon menantu idamannya. Namun nasi sudah menjadi bubur, kesalahan yang Bastian perbuat mengharuskan semua impian itu kandas di tengah jalan. Tidak ada pernikahan bersama dengan Indira, yang ada sekarang menantunya adalah Atika.
Halimah tidak lantas membenci keberadaan Atika. Wanita paruh baya itu justru senang sekali dengan kehadiran sang menantu, meski keberadaannya di rumah sangat singkat namun Halimah bisa melihat bagaimana dengan begitu telatennya Atika menyiapkan semua keperluan Bastian, meski suaminya itu tampak acuh sekali. Halimah juga melihat Atika yang begitu cekatan di dapur menyiapkan makanan untuk mereka.
Halimah hanya bisa berdoa dan berharap setelah Bastian tinggal berdua dengan Atika, akan muncul perasaan jatuh cinta kepada sang istri. Pernikahan sang anak meski di mulai dengan ketidaksengajaan, bisa berakhir dengan harmonis. Bastian bisa menerima kehadiran Atika dan calon anak mereka dalam hidupnya.
**
“Lo kelihatan kacau, Bas.”
Javi tampak prihatin sekali melihat kondisi sang sahabat akhir-akhir ini. Lebih tepatnya setelah hari pernikahan Bastian bersama perempuan yang Javi ketahui bernama Atika. Sebenarnya ada rasa bersalah dalam hatinya mengingat bagaimana awal dari semua ini terjadi. Javi merasa menjadi orang yang terlibat pada retaknya hubungan Bastian dengan Indira.
“Diam lo! Gue lagi nggak mood buat ladenin omongan lo,” desis Bastian. Masih kesal sebenarnya karena Javi memaksa dia untuk datang dan minum di kelab waktu itu sampai akhirnya membuat Bastian kehilangan Indira seperti ini.
“Gue minta maaf, Bas. Gue juga nggak tahu kalau akhirnya bakalan kaya gini, lagian lo juga kenapa nggak tahan sih, perempuan yang nggak di kenal malah lo seret buat enak-enak. Eh tapi jago juga lo ya, langsung jadi padahal sekali lakuin. Berapa kali lo keluar?”
“Settan!” umpatt Bastian. “Mati aja lo Anjingg! Emang otak lo selangkangann mulu, pergi sana! Bikin gue mau bunnuh lo tahu nggak!” seru Bastian yang benar-benar kesal mendengar perkataan Javi.
Javi terkekeh. Iya sih dia merasa bersalah karena membuat Bastian harus pergi ke kelab, tetapi di sini tetap saja Bastian yang memang tidak bisa menahan hasratt untuk berciinta. Jadi mereka sama-sama bersalah kan di sini.
“Selow lah, Bas. Ini gue mau bantuin lo biar bisa temuin Indira. Karena gue sahabat yang baik sejagat raya ini jadi gue dengan senang hati bakalan bantuin lo sampai benar-benar ketemu sama Indira. Tapi sebelum itu, gue mau tanya dulu sama lo.”
“Apaan?” ketus Bastian.
“Gimana malam kedua lo sama istri, masih enak kaya yang pertama kan?”
“Emang settan!!”
**
Indira kembali bertemu dengan Ines. Kemarin temannya itu memberitahu kalau dia bisa bekerja di tempat milik tantenya Ines. Tentu saja Indira sangat senang karena setelah ini dia bisa memiliki kegiatan dan tidak hanya berdiam diri di rumah atau jalan-jalan seperti yang kerap kali Indira lakukan saat pertama kalinya dia sampai di Bandung.
“Aku tanya lagi ini, kamu beneran kan nggak apa-apa kalau kerja di toko kaya gini? Nggak berat sih, nungguin toko doang sama temanin tante aku,” ucap Ines kembali memastikan. Takutnya Indira berubah pikiran karena pekerjaannya hanya berada di toko sebagai penjaga toko.
“Seratus persen aku nggak apa-apa. Aku udah bilang kan, bosan banget di rumah kalau nggak ada kerjaan dan aku gak mau jadi guru kaya di Jakarta.”
Ines mengangguk. “Kalau gitu sekarang kita berangkat, nanti aku kenalin kamu sama Tante Dahlia, orangnya baik banget. Tinggal berdua doang sama anaknya karena suami tante aku udah meninggal.”
“Jadi namanya tante Dahlia.”
“Nanti kamu juga nggak perlu sungkan, aku udah bilang kalau kamu teman aku.”
“Sekali lagi makasih ya, Nes. Kamu sampe mau bantuin aku cari kerjaan kaya gini.”
“Sama-sama, aku udah bilang juga kan dulu kamu sering banget bantuin aku. Lagian kita teman jadi apa salahnya kalau saling bantu.”
**
“Nah tante, ini teman aku namanya Indira. Yang kemarin aku bilang lagi butuh kerja.”
Indira dan Ines sudah sampai di toko kue milik tanten Ines. Kedatangan mereka di sambut dengan begitu ramah oleh sang pemilik tempat yang Indira sudah ketahui dari Ines bernama Tante Dahlia. Tempatnya menurut Indira begitu nyaman, sudah pasti akan merasa betah melakukan kegiatan yang begitu baru untuknya. Semoga dirinya bisa melakukan pekerjaan dengan baik dan tidak membuat kesalahan.
“Aku Indira, Bu,” ucap Indira mengenalkan dirinya.
“Iya tante sudah tahu dari Ines kemarin katanya kamu mau kerja ya, panggil aja tante Lia,” balasnya tersenyum hangat. Senang sekali bisa memiliki teman di toko, saat kemarin sang keponakan membertahu bahwa salah satu temannya butuh pekerjaan, Tante Dahlia yang memang butuh teman mengobrol menyetujui dan meminta Ines untuk mengenalkan dirinya dengan Indira.
Memang tidak begitu membutuhkan pegawai, apalagi selama ini dia bersama dengan sang anak yang mengelola toko kue yang sudah lama di rintisnya. Tetapi entah mengapa saat Ines mengatakan temannya membutuhkan pekerjaan dan tengah merantau ke kota ini, membuat hatinya tidak tega untuk menolak.
“Iya tante, terimak kasih sudah berkenan mempekerjaan Indi di sini.”
“Semoga kamu betah ya,” balasnya.
Indira mengangguk, mengaminkan. Setelah saling mengenalkan diri, Tante Dahlia pun mengajak Ines dan Indira untuk duduk di salah satu kursi. Kebetulan toko belum buka sepenuhnya karena masih terlalu pagi, mereka pun berbincang sebentar sebelum akhirnya Ines pamit untuk bekerja.
Indira pun bersama dengan Tante Dahlia mulai beberes karena sebentar lagi toko akan di buka. Indira langsung akrab dengan pemilik toko ini, senang sekali bisa mengenal Tante Dahlia yang begitu baik dan ramah. Bahkan di hari pertama Indira resmi menjadi pegawai di toko ini, Indira sudah merasa sangat nyaman berada di sini dan tentu dia akan betah.
“Tante tiap hari siap-siap sendiri?” tanya Indira setelah membalikkan tulisan close menjadi open dan kembali menghampiri Tante Dahlia yang menata kue di etalase. Kue-kue yang di jual sebagian besar merupakan kue tradisional, seperti bolu kukus, putu ayu, risoles, talam, dan lemper. Namun ada juga kue lain yang di sajikan begitu cantik dalam etalase.
“Nggak, biasanya ada anak tante juga. Tapi hari ini ada keperluan, tadi pagi-pagi banget udah berangkat.”
Indira mengangguk. Dia kira Tante Dahlia menyiapkan semuanya sendiri selama ini, mengingat toko ini memang tidak begitu besar tetapi kalau hanya sendiri saja tentu kerepotan. Harus menyiapkan kue dan membuka toko, belum lagi beres-beres sebelum pelanggann datang. Bagaimana pun kebersihan harus di utamakan agar yang datang tidak merasa risih karena tempat kotor mengingat mereka menjual makanan.
“Tante siapin kue ini dari jam berapa?” tanya Indira lagi, entah sudah berapa pertanyaan yang dia layangkan sejak tadi namun semuanya di jawab dengan begitu baik oleh Tante Dahlia. Justru wanita itu senang karena ada teman berbincang di toko seperti ini kalau anaknya sedang tidak berada di toko.
“Habis subuh, tapi ada juga yang titipan dari teman tante. Jadi emang nggak semuanya produk buatan tante sendiri. Kaya risol ini, teman tante yang buat terus donat ini spesial buatan anak tante.”
“Bukannya kata Ines anak tante ini cowok, beneran bikin donat?”
Tante Dahlia mengangguk, “Iya memang cowok tapi senang bikin kue. Kan sekarang nggak asing kalau cowok bikin kue. Banyak chef laki-laki kan.”
Indira membenarkan. Jaman sekarang profesi tidak selalu khusus perempuan atau laki-laki. Contohnya saja chef yang malah kebanyakan laki-laki, hasil makanannya pun tidak kalah enak dengan chef perempuan.
“Anak tante sekolah masak?”
“Nggak, tapi emang udah sering bantuin tante di toko terus akhirnya belajar gitu jadi deh sekarang ada beberapa kue yang dia buat dan di jual di toko.”
“Keren banget, Indi aja belum bisa bikin kue.”
“Nanti bisa belajar sama tante atau anak tante.”
“Eh! Malu kalau sama anak tante.”
“Nggak apa-apa, nanti tante yang bilang.”
“Jangan deh, mending Indi belajar sama tante aja.”
“Boleh, tapi kalau bikin donat ya anak tante jagonya. Mau cobain?”
“Emang bolehm, Tan?” tanya Indira, sejak tadi dia memang tengah memperhatikan donat yang kelihatan begitu enak. Penasaran saja dia dengan rasanya, apalagi donat yang di taburi gula harus. Itu kan kesukaan Indira.
“Memangnya siapa yang larang. Ambil aja.”
“Indi jadi malu,” ucapnya namun tak urung mengambil donat tersebu. “Enak, Tan.”