#4 Menata hidup kembali
Indira sepertinya harus mencari kegiatan selama dia tinggal di Bandung dengan waktu yang masih tidak tahu sampai kapan Indira berada di sini. Meski Indira begitu menikmati apa yang di lakukannya selama di Bandung, tetapi tentu saja tidak seharusnya dia terus jalan-jalan tanpa melakukan pekerjaan lain. Apalagi dengan enaknya hanya memakai uang yang selalu ayahnya kirimkan, meski bagi orang tuanya tidak apa-apa tetapi tidak mau lah Indira terus seperti itu. Hidup enak di Bandung dengan uang yang di transfer oleh ayahnya.
Di Jakarta, Indira sebenarnya memiliki pekerjaan. Dia merupakan seorang guru musik di salah satu sekolah menengah pertama. Tetapi sudah resign karena waktu itu Bastian tidak ingin Indira bekerja sampai akhirnya Indira pun memilih untuk berhenti setelah acara pertunangan mereka di langsungkan, pun karena persiapan pernikahan yang ingin Indira lakukan dengan begitu baik tanpa sibuk dengan hal-hal lain termasuk pekerjaannya.
Namun semua itu sudah berlalu, tidak ada rencana pernikahan impian yang selama ini Indira bayangkan, tidak ada lagi pertunangan yang sudah mereka selenggarakan, semuanya sudah berakhir dan sekarang yang tersisa hanya luka dalam hatinya membuat Indira begitu sakit karena seorang Bastian Ardhana.
“Iya, Bu. Indi baik-baik aja di sini. Kan ada Bi Sumi yang temanin Indi di sini. Ibu jangan khawatir, jaga kesehatan di sana ya.”
Sejak tadi Indira tengah bertelepon dengan sang ibu, seperti biasa bertanya tentang kabarnya. Padahal mereka kerap kali bertukar kabar tanpa pernah terlewat satu hari pun, sang ibu selalu mengatakan begitu merindukan dirinya. Pun dengan Indira yang merindukan ayah dan ibunya, namun Indira belum siap untuk kembali dalam waktu dekat, apalagi mendengar bahwa Bastian sudah menikahi Atika, Indira masih butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya.
Memang kabar pernikahan Bastian tersebut sudah di ketahui oleh Indira, adalah Ayana, temannya yang memberitahu tentang berita tersebut. Nana -begitu Indira memanggil nama temannya- mengatakan bahwa dia sempat datang ke acara pernikahan Bastian dan Atika yang di selenggarakan dengan cukup sederhana, bahkan pernikahan tersebut menjadi tranding di kalangan teman-teman satu angkatan, mengingat sebelumnya acara pernikahan Bastian dan Indira adalah berita terupdate untuk mereka tetapi berakhir dengan Bastian yang menikahi perempuan lain.
Nana juga mengatakan bahwa teman-teman sempat bertanya-tanya mengapa Bastian malah menikah dengan perempuan lain dan Indira tidak menghadiri pernikahan tersebut membuat mereka menebak-nebak bahwa hubungan Bastian dan Indira benar-benar berakhir dengan tidak baik. Banyak yang menyayangkan juga mengapa pasangan yang dulu begitu di elu-elukan tidak lantas berakhir di pelaminan.
Mendengar cerita dari Nana, tidak membuat Indira bersedih. Sedikitnya Indira sudah membayangkan apa yang akan terjadi ketika kabar pernikahan Bastian dengan perempuan lain di ketahui oleh teman-temannya. Indira berhak bahagia dan tidak ingin terus terpuruk karena pernikahannya dengan Bastian tidak terjadi seperti apa yang Indira bayangkan sebelumnya. Indira harus menata hidupnya kembali, menata masa depannya dan berusaha untuk selalu baik-baik saja. Anggap saja Indira dan Bastian memang tidak seharusnya bersama dan Tuhan tidak menyatukan mereka untuk selamanya, jodoh mereka hanya cukup sampai di sini.
“Kapan-kapan Ibu sama Ayah ke sana. Kamu jangan sampai telat makan ya, Nak. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, yang lalu biarkan berlalu. Ibu yakin kamu perempuan yang kuat, anak ibu yang luar biasa.”
“Iya, Bu. Indi bahkan sudah merasa baik. Pokoknya Ibu sama Ayah tenang aja, Indira sudah tidak apa-apa.”
“Iya, Ibu sangat percaya bahwa anak ibu perempuan yang kuat.”
“Oh iya, Bu. Sebenarnya Indi pengen kerja di sini. Nggak ada kerjaan banget, masa Indi cuma diam di rumah atau malah jalan-jalan terus. Indi juga mau cari uang sendiri, nggak melulu di kirim sama Ayah.”
“Ibu sih terserah kamu saja. Lakukan apa yang membuat kamu senang, Nak. Ibu dan Ayah selalu mendukung kamu.”
“Makasih ya, Ibu. Nanti Indi pasti kasih tahu sama Ayah, Ibu tahu sendiri kan Ayah itu nggak bisa kalau nggak pakai rayuan.”
“Ya karena kamu anak ayah dan ibu satu-satunya. Tentu Ayah nggak ingin kamu merasa kekurangan dan terlalu lelah bekerja.”
“Tapi kan Indi sudah besar, sudah dua puluh empat tahun, Bu.”
“Iya, anak ibu sudah besar dan selalu menjadi anak yang manja sekali.”
“Ibu ...”
Terdengar derai tawa dari seberang telepon karena rajukan Indira yang memang selalu menjadi begitu manja jika bersama dengan orang tuanya. Apalagi bersama dengan sang ibu, kalau seperti ini Indira jadi ingin memeluk ibunya, merasakan dekapan hangat yang selalu menjadi penenang di saat dirinya merasa tidak baik-baik saja.
**
Seperti yang sudah Indira rencanakan. Dia ingin mencari pekerjaan di sini, tidak harus menjadi seorang guru seperti yang sudah dia lakukan saat di Jakarta. Mungkin pekerjaan lain yang bisa dia lakukan untuk mengisi waktunya selama tinggal di sini. Tetapi masih bingung akan bekerja apa dan di mana dia harus mencari pekerjaan. Mengutak-atik kameranya, Indira memang sedang berada di taman kota. Tadi pagi memang ingin menikmati udara pagi kota Bandung di hari minggu dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke taman kota yang tidak begitu jauh dari rumahnya.
“Indira!”
Seruan itu membuat Indira yang sejak tadi memerhatikan foto yang dia ambil, menoleh dan mendapati seorang perempuan yang tampak asing sekali tengah berjalan ke arahnya dengan tatapan tampak beribinar.
“Ih beneran Indira. Untung aja aku nggak salah orang,” ucap perempuan tersebut setelah berada di hadapan Indira dan memastikan bahwa orang yang di lihatnya memang benar-benar Indira.
Berbanding terbalik dengan perempuan tersebut yang tampak sekali begitu antusias, Indira malah bingung karena benar-benar tidak kenal atau mungkin dia lupa pernah bertemu dengn perempuan ini.
“Ya ampun, aku tebak kamu pasti lupa kan. Aku Ines teman sekolah kamu dulu, yang di SMA Bhakti.”
Mata Indira melotot tidak percaya, kemudian memeluk perempuan yang tadi mengatakan bahwa namanya Ines. Tentu saja Indira lupa dengan perempuan yang tengah dia peluk ini, penampilannya begitu berbeda dari waktu sekolah dulu. Siapa lagi kalau bukan Ines yang dulu menjadi teman sebangkunya dengan kacamata tebal, namun lihat lah sekarang tidak ada kacamata tebal yang membingkai wajahnya.
“Ini beneran kamu, Nes?” Indira melepas pelukan mereka, memastikan bahwa yang di hadapannya ini adalah Ines yang sama yang merupakan teman sekelasnya.
“Iya lah, ini aku. Sumpah nggak nyangka banget kita ketemu setelah berapa tahun semenjak aku pindah sekolah.”
“Aku senang banget. Dulu sempat bingung hubungin kamu karena nomor kamu udah nggak aktif terus kamu kan nggak pake medsos waktu dulu, aku cari aja nggak ketemu terus medsos kamu. Gimana kabar kamu sekarang?”
Ines tersenyum lebar, “Aku baik. Maaf banget lama nggak hubungin kamu, waktu itu handphone aku rusak total dan semua kontak hilang termasuk punya kamu. Aku sempat kirim pesan kamu lewat medsos tapi nggak dapat jawaban, padahal aku kangen banget sama kamu. Karena kita yang nggak satu sekolah lagi gara-gara aku pindah.”
“Maaf ya mungkin aku lupa waktu itu, tapi sekarang aku senang banget karena ketemu sama kamu di sini. Kamu udah lama di Bandung?”
“Aku memang akhirnya pindah ke Bandung waktu itu, ya setelah Papa sama Mama pisah, aku ikut mama ke sini. Padahal waktu itu senang banget karena di sekolah baru kita bisa jadi teman, tapi aku harus pindah waktu kenaikan kelas.”
“Aku beneran nggak tahu karena kamu tiba-tiba pindah.”
“Semua udah berlalu, sekarang aku udah senang tinggal sama Mama, sama Ayah juga. Lagipula Papa udah meninggal setahun lalu, jadi aku sudah memaafkan kesalahan Papa yang ninggalin aku sama Mama waktu itu.”
“Aku turut berduka, Nes. Oh iya kamu dari mana?” tanya Indira mengalihkan pembicaraan, tidak ingin di kali pertama mereka kembali bertemu malah membahas kesedihan yang Ines rasakan.
“Aku tadi habis jogging, eh tahunya lihat kok kaya mirip kamu, sempat ragu banget tapi akhirnya aku panggil nama kamu deh. Ternyata beneran Indira yang aku kenal.”
“Sendirian?”
Ines mengangguk, “Lagian nggak jauh dari rumah, kamu sendiri lagi apa di sini? Kamu sejak kapan ada di Bandung?”
“Aku lagi menikmati taman kota di pagi hari dan sendirian juga.”
“Terus kamu lagi liburan di sini?”
Indira menggeleng, tersenyum kecil menatap Ines. “Udah lumayan lama sih aku di sini, nanti deh aku pasti cerita. Yang jelas aku bakalan tinggal di sini entah sampai kapan.”
Ines paham dan tidak ingin mencaritahu lebih lanjut, biar Indira sendiri yang bercerita kepadanya nanti kalau memang temannya itu ingin menceritakannya. Sekarang yang penting mereka senang karena bisa bertemu kembali setelah cukup lama tidak berkomunikasi dan benar-benar hilang kontak setelah kepindahannya ke Bandung.
Setelah itu mereka pun memilih untuk mencari tempat makan, banyak hal yang mereka ceritakan satu sama lain. Terutama tentang masa sekolah mereka yang akhirnya harus lulus di sekolah yang berbeda karena Ines dulu pindah dari Jakarta ke Bandung. Indira juga menceritakan setelah kepindahan Ines, dirinya sempat sulit untuk mencari teman baru sampai akhirnya kedatangan murid baru yang tak lain adalah Ayana membuat mereka berteman baik.
“Jadi karena kamu nggak tahu mau ngapain selama di Bandung, kamu mau cari kerja gitu? Terus kenapa nggak jadi guru aja sesuai sama apa yang kamu kerjain waktu di Jakarta?”
“Mau cari suasana baru, lagian aku kalau jadi guru kan nggak bawa surat-surat kaya ijazah gitu. Aku ke Bandung cuma bawa diri aku dan pakaian aja. Terus bakalan susah juga sih cari sekolah yang butuh guru baru sekarang ini.”
“Gimana ya, kamu nggak mungkin juga kerja di tempat aku. Secara nggak akan sesuai, kamu lulusan musik lah aku kan jurusan hukum. Nggak nyambung nanti. Tapi kalau kamu emang mau kerja mengisi waktu luang kamu selama di sini, kalau kamu kerja di toko mau? Kebetulan tanteku punya toko gitu dan aku bisa lah minta bantuan dia buat kasih kamu kerjaan.”
“Beneran? Boleh juga sih, biar ada pengalaman baru.”
“Tapi nggak apa-apa ni kalau kamu jadi pegawai di toko?”
“Emangnya kenapa? Kan sama-sama kerjaan,” balas Indira.
“Ya kan kamu anaknya Bapak Baskara, masa kerja di toko. Aku lupa banget deh, kalau gitu nggak jadi di toko. Aku cariin tempat lain aja, bisa kena omel aku kalau sampai ketahuan anak dari Bapak Baskara malah jadi pegawai toko di kota Bandung.”
“Emangnya kenapa sih? Lagian nggak masalah, aku udah bilang sama Ibu kalau mau kerja dan apapun itu yang penting aku senang dan nyaman.”
“Yakin?”
Indira mengangguk begitu tegas. Tidak masalah kalau dia menjadi pegawai toko, yang penting dia bisa mengisi waktunya selama di sini. Tidak selalu berada di rumah dan berakhir bosan seharian. Dan lagi kalau dia sibuk dengan kegiatan lebih mudah kan untuk Indira melupakan rasa sakitnya.
Ines tidak bisa mengelak lagi kalau Indira sudah yakin seperti ini, “Nanti aku hubungin kamu kalau tanteku udah kasih kabar juga.”
“Makasih ya, Nes. Kamu mau bantuin aku cari kegiatan di sini.”
“Iya sama-sama, nggak masalah. Dulu kamu juga suka bantuin aku.”