Dara membuka selembar kertas yang ada di bawah laci kamarnya. Kertas usang yang tidak akan pernah dia buang dan lupakan. Sebuah ancaman yang membuatnya pergi ke psikiater dan menjalani beberapa terapi disana. Dara hampir gila setiap memikirkan ucapan wanita paruh baya itu. Dengan Darah, wanita paruh baya itu menuliskan, Kamu dan adikmu akan mati jika menikahi Keponakanku Anisa. Cukup dengan kalimat itu Dara tidak berani berkutik. Dia teramat sangat takut kalau sampai terjadi hal buruk kepada dirinya dan juga adiknya. Hingga dia memaksa adiknya untuk segera membatalkan rencana pertunangannya dengan Anisa. Meski Dara memaksa adiknya untuk membatalkan pertunangan itu, Dara juga menyelidiki semuanya tentang wanita paruh baya itu dan juga anaknya. Dara tahu kebusukan mereka berdua. "Andai k

