“Ra, ini ada uang buat beli buku.” Kata ayahku. “Iya yah bentar” aku yang lagi tiduran di kamar malah asyik bermain handphonr. Tiba-tiba kakakku yang ke tiga masuk kamar dan menutupnya. “Dih ngapain ditutup” batinku. “Rara cepetan kalo gamau, mau di beliin roko nih sama ayah.” “Ih jangan dong yah.” Aku langsung terburu-buru keluar kamar karena takut juga dengan tingkah kakakku itu.
Malampun tiba aku tertidur di ruang keluarga. Di rumahku biasanya ruang keluarga itu tidak pakai kursi, jadi kaya lesehan gitu suasananya. Di sampingku ada kakakku yang ketiga itu. Karena dia tidak punya kamar sendiri jadi tidurnya ya dimana aja sesuka dia. Aku merasakan malam yang aneh lagi, sama seperti kakak perempuanku. Ada pergerakan yang meraba pinggangku dengan kehati-hatiannya dia meraba ke bawah dan mengusap pantatku, sesekali meraba kemaluanku tapi tidak berlangsung lama, mungkin takut aku terbangun. Setelah beres dengan aksinya aku langsung terbangun dan pura-pura kaget karena di sampingku tidak ada Ibuku.
Akhirnya aku menggedor kamar orang tuaku dan masuklah aku ke kamarnya. Aku terus berpikir semalam, kenapa kakakku semuanya memperlakukan aku seperti itu. Dan sampai sekarang pun aku tidak pernah bisa melupakan semua kejadian itu.
Hari-hari selanjutnya ketika ada kesempatan semua kakakku memperlakukan aku seperti biasanya. Terlalu sulit bagiku untuk menghindarinya, dengan usiaku yang masih kecil itu tidak bisa berbuat apa-apa sungguh sangat disayangkan. Sampai SMP pun aku masih tidak mengerti dengan itu semua. Ternyata masa SMP itu, masa yang dimana orang-orang seusianya mengenal yang namanya cinta. Tapi tidak dengan Rara, dia malah benci dan tidak suka jika berdekatan dengan anak laki-laki, apalagi mengikuti kegiatan ekstra kurikuler sekolah.