Elanor POV Perlahan-lahan aku menyikap gorden ruang kerja Agusta, mengintip kegiatan si jalang yang masih betah berkemah di halaman rumah pacarku sejak 2 minggu yang lalu. Yang benar saja? Si jalang dengan santainya meniup gelembung sabun sambil menari aneh di depan tendanya, aku menatapnya takjup. Apakah benar dia orang yang sama dengan pria yang berlutut dikakiku memohon maaf dariku? Dengan cepat rasa sedihnya lenyap begitu saja. Itukah yang Marvis sebut sebagai cinta? Dia bahkan tidak terlalu peduli melihatku bermesraan dengan Agusta. Dasar jalang bodoh! Harusnya dia merasa cemburu. Lalu buat apa dia meninggalkan kehidupan mewahnya dan tinggal di tenda seperti seorang gelandangan? Kurasa dari pada Marvis membuang waktunya untuk mengacau hidupku dan Agusta, lebih baik dia menemui psi

