"Apa, Mas selalu seburu-buru ini?" Mataku mengecil seketika. Buru-buru? Bukannya dia akan ke LN? Kenapa bertanya seperti itu? Harusnya Mayang yang harusnya buru-buru. "Apa kamu tidak perlu bersiap?" tanyaku yang tengah menggendonh Rama kecil. "Aku ... aku tidak buru-buru, Mas. Em, perlu kah kita bicara sebentar di kafe seberang kantor. Akan kujelaskan semua tentang Rama, jadi saat aku pergi Mas bisa mengatasinya dengan mudah kalau-kalau dia rewel." "Oh, itu tidak perlu, May. Kita bisa bicara lewat videocall nanti. Dan aku bisa bertanya lewat WA." "Tapi aku akan sibuk, Mas." Mayang memaksa. Padahal harusnya dia tahu, bukan cuma dia yang punya urusan. Aku pun punya urusan, sangat penting malah. Ratih kini sudah menunggu untuk segera pulang. "Om, Om. Tapi Lama lapay mo matan duyu." R

