Ketika Istri di atas Suami

1192 Kata
Tenang Rama. Tenang! Kamu harus bisa mengendalikan dirimu di depan Ratih. Jangan sampai kegantengan dan kewibawaanmu jatuh di hadapan wanita kurus itu karena merasa iri. Ya, aku bukannya iri hanya terkejut saja. Aneh rasanya. Apa dia mendekati Bosnya? Tidak mungkin, mana ada lelaki normal yang tertarik padanya? Bagaimana wanita yang tidak menarik seperti Ratih bisa kepilih jadi manajer. Apa dia main dukun? Iya pasti itu. Dia pasti juga main dukun dulu buat narik perhatianku hingga aku ninggalin wanita secantik Mayang. Heuh. Tapi ... kenapa aku mikir gitu? Hais, aku pasti sudah gila karena ini. "Aku masuk kamar dulu, gerah!" Wanita bertubuh setipis ATM itu berjalan ke kamarnya. Memang sudah lama aku berpisah kamar dengannya karena kehilangan mood untuk hidup, setiap kali mendengar suara rewel Denisa dan sosok jelek Ratih. Sekarang, pasti aku terlihat cengo merespon kabar darinya. "Kruk!" Suara yang berasal dari perutku terdengar. Akhirnya kaki melangkah ke dapur untuk makan. Sial memang! Sudah kelaparan tanpa makanan berjam-jam, stress menjaga Denisa, begitu Ratih datang dapat kabar bahwa dia  jadi manajer. Ini yang namanya sudah jatuh ketimpa pohon. Harusnya aku yang mendapat jabatan itu. Apalah Ratih dibanding aku? Karena aku laki-laki, kompeten, disiplin, juga tampan. *** Pagi yang cerah, kami sarapan sebelum berangkat kerja. Jika hari-hari biasa makanan terlihat sederhana tapi nikmat karena dimasak oleh tangan Ratih. Makanan pagi ini terasa begitu mewah dan lezat, perempuan itu belanja banyak sepulang kerja kemarin. Penampilan Ratih juga sedikit berbeda. Pasti karena dia jadi manajer, makanya berusaha tampil maksimal. "Kamu pakai make-up?" tanyaku sambil menyuap makanan tanpa melihat padanya di seberang meja. Seminggu belakangan, wajah Ratih terlihat lebih cerah, tidak sebutek biasanya. "Ya?" Ratih berhenti menguyah sejenak. Ia melihat padaku. "Em. Ya, Mas. Itu karena aku harus terlihat lebih baik dari biasanya. Lagian ada gajiku sudah nambah, Mas. Jadi tak masalah jika aku menyisihkan uangku untuk penampilan. "Ya, bagus. Harusnya dari dulu kamu lakukan itu." Aku mengucap pelan. Kali ini dia adalah seorang manajer, jadi aku tidak boleh berbicara keras yang kemudian membuatnya sakit hati dan melakukan sesuatu padaku dengan mudah. "Dari dulu? Gaji karyawan biasa berapa sih, Mas? Mungkin kalau gajiku yang hanya standar UMR hanya untukku saja pasti aku bolak-balik ke salon kecantikan. Lha ini? Rumah aku yang bayar, listrik, air, dapur, keperluan Denisa aku yang beli. Lalu aku kebagian apa?" Ratih bicara pamjang lebar. "Kok kamu nyolot?" tanyaku seketika. Baru juga jadi menajer Ratih sudah berani bicara dengan nada tinggi di depanku. Lihat saja nanti kalau aku sudah jadi general manajer. "Huh." Ratih mendesah berat. Ponsel di kantongku bergetar beberapa kali, pasti dari Delia kalau nggak dari Mama yang minta jatah bulanan padaku. Tak kuhiraukan kali ini. "Kamu jangan kufur nikmat pada suami, kamu lupa kalau kadang-kadang aku juga membayar listrik dan air. Kamu kan tau kita harus menabung untuk masa depan." "Oh jadi selama ini, Mas menanbung? Berapa emang sekarang tabungan,  Mas?" "Em, itu ... yaa ... adalah. Apa kamu harus tau tentang semua hal?" Ratih membuatku kesal saja. Tidak mungkin aku jujur padanya jika selama ini,  50% gajiku tiap bulan untuk bayar hutang. Sedang sisanya terkadang buat bantu Mama dan adekku juga keperluanku seperti bensin, kuota dan makan siang. Lalu menabung sedikit jika ada sisa. Hidup ini memang kejam, aku lelah tiap hari bekerja tapi tidak cepat kaya seperti orang lain. Ratih mencebik mendengar jawabanku. Ia lalu menyodorkan sebuah amplop di atas meja. "Berikan ini untuk Mama dan Mia. Bilang aku sudah jadi manajer, jadi tak perlu lagi menghinaku. Oya satu lagi, Mas akan sangat menyesal jika berniat membohongiku lagi." "Apa?" Ratih tidak menjawab. Ia bangkit lalu meraih tasnya dan pergi berangkat kerja. Dia pasti juga baru gajian sama sepertiku kemarin, dan mengambil tabungannya untuk merayakan kenaikan jabatannya. Kenapa dia begitu royal? Wah, harga diriku benar-benar terluka. Wanita itu sudah menginjak-injaknya sekarang. Tapi, sayang juga jika uang ini dianggurkan. Kubuka amplop itu, dan ada uang lembaran 100 ribuan sebanyak 20 lembar. Gila! Berapa Memangnya gaji manajer di perusahaan tempat Ratih bekerja? Aku saja memberi Mama 200 per bulan mikirnya seribu kali. *** Saat jam istirahat kantor, aku duduk di teras mushola membuka banyak panggilan dan pesan yang kusilent. Panggilan dari Mia ada lima, lalu kubuka satu chat darinya. [Kakak yang jahat, cepat temui Mama. Kasih duit.] Anak tengil itu gak ada akhlak. Meminta pun masih dengan memakiku. [Jangan berisik, Mas gak bisa pulang nanti ku tf 1,5jta buat Mama dan kamu] Belum ada satu menit dia membalas. [Apa? Gak usah banyak cincong. Boro-boro 1,5jt, 500 aja kudu ngemis dulu bertahun-tahun. Dasar anak durhaka.] Aku tersenyum licik. Dasar Mia. ABG labil. Lihat saja nanti begitu nominal 1,5 jt masuk ke rekeningnya. Kubuka panggilan dan pesan lain dari Delia. [Mas kenapa gak diangkat? Aku dah kangen banget sama Mas. Ayo dong ketemuan.] [Sabar ya, Sayang. Mas masih sangat sibuk. Selain bolak-balik ngurus perceraian, Mas juga harus serius bekerja supaya dapat promo jadi manajer. Sabar ya. Muach!] [Oya, pulsa kamu masih ada?] Aku basa-basi untuk membuatnya terkesan dan tidak marah. Lumayan lah, dengan uang dari Ratih aku tidak perlu memberi uang pada Mama jadi bisa kugunakan buat membelikan pulsa Delia. Malah aku untung 500, lumayan buat nraktir Delia minggu depan. [Baiklah. Tapi janji ya, minggu depan ketemuan. Iya, nih Mas. Pulsa yang Mas kirim kemarin udah habis. Makasih ya Sayang.] Hah, segampang itu, hari ini menyenangkan rasanya. Uang selalu bisa membuat orang bahagia. "Ram!" Dika mengagetkanku. "Sialan lo!" "Eh, malam ini acara kantor dipindah ke rumah Bu Wenda." "Oya, katanya sekalian nyambut adeknya yang baru datang dari Belanda." Dika melanjutkan. "Wah, bagus dong. Berarti kita makan enak gratis." Sungguh kenikmatam bertubi-tubi. Aku tersenyum saking bahagianya. "Lo saraf senyum-senyum terus gitu?" Sialan, Dika mengejek lagi. Tapi tak masalah karena aku sedang bahagia. *** Pesta berlangsung meriah. Bukan hanya karyawan perusahaan kami, tapi juga orang-orang penting hadir di sana. Bu Wenda sangat kaya, jadi wajar jika relasinya banyak dari kalangan atas. Di atas panggung kecil yang didekor mewah, Bu Wenda memberi sambutan dan memperkenalkan adik laki-lakinya yang baru pulang dari Belanda. Dia lah yang nanti akan menjadi general manajer di perusahaan kami sebelum naik jabatan menjadi direktur, lalu presdir. Orang kaya kadang-kadang tidak aku mengerti, mereka bisa saja langsung duduk menjadi presdir, tapi seperti adat, tuan muda mereka wajib duduk di jabatan yang lebih rendah dulu. Pria itu sangat tampan, penampilannya sangat elegant dengan jas mahal yang membalut tubuhnya. "Ah sial, bikin iri saja. Huft!" Saat mengambil makanan, seseorang mengalihkan perhatianku. "Mas Rama??" Suara lembut seorang wanita mengejutkanku. Sontak menoleh dengan dahi mengerut menatap wanita yang sepertinya tak asing itu. "Siapa?" tanyaku pada perempuan yang mengenakan pakaian modis dan menggandeng seorang anak tampan seumuran Denisa. Anak itu mirip seseorang. Duh, siapa ya?  Aku mencoba mengingat. "Mas lupa sama aku?" Senyum wanita itu sungguh tak asing. Memoriku berputar, bibir yang dulu tampak ranum kemerahmudaan dipoles lipstik tebal menyala. "Kamu? Mayang?" Akhirnya aku ingat wanita dengan tampilan berkerlas di depanku. Pakaian branded yang mantanku kenakan itu membuatku tertegun lama. "Oya, Mas. Ini ... anakku, namanya Rama." "Rama?" "Iya, supaya ... em ...." "Tunggu!" ucapku membuat Mayang menggantung ucapannya. "Apa dia anakku?" "Em ...." "Sayang," ucap seseorang yang datang merangkul pundak Mayang. Mata melebar karena terkejut lagi. Pria itu adalah adik Bu Wenda di atas panggung tadi. Mayang tersenyum menyambutnya. "Oya, Mas Rama ini suamiku." Wanita cantik itu memperkenalkan suaminya. BERSAMBUNG Bantu responnya Kakak, biar semnagat nge-Up ga kangen apa sama Rama?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN