"Rama?" Tuan muda itu mengerutkan dahinya. Seolah mengingat sesuatu tentangku. "Dia ...."
"Stt. Mas, sudah." Mayang meletakkan tangan di d**a suaminya, seolah mencegah sesuatu. "Kita pergi saja." Wanita muda nan cantik itu mendorong tubuh suaminya yang menjadi calon atasanku di kantor.
Mereka membuatku bingung, ada apa sebenarnya? Sikap mereka menunjukkan seperti ada yang tak beres. Apa Mayang menceritakan semua tentang masalalu kami? Gawat jika lelaki itu akan membalas dendam padaku, bisa-bisa bukan hanya tidak terpilih jadi manajer tapi aku juga akan dipecat.
Kali ini keberuntungan sedang tak berpihak padaku, ah tapi kapan juga aku pernah beruntung? Satu-satunya keberuntungan yang kupunya hanyalah punya wajah tampan yang digilai banyak wanita, selain itu .... Huh. Aku terus mendesah panjang terhadap banyak hal yang kualami.
Sekarang aku melihatnya telah bahagia. Jujur saja, sakit hati melihat Mayang berjalan dengan suaminya. Sampai berandai-andai, jika saja aku yang sukses dan berdiri di samping mantanku. Memiliki anak lelaki yang juga tampan dan mirip denganku. Aku yakin, anak itu adalah anakku. Tapi kenapa Mayang dulu tak pernah bilang dia sedang mengandung?
Melihat kehadirannya membuat bayangan masa lalu kembali berputar. Di gubuk di pematang sawah, kami duduk menikmati udara setelah makan siang yang Mayang bawakan dari rumahnya.
"Wah, coba aku udah lulus ya, Mas. Kita bisa langsung nikah, kerja dan mengembalikan uang yang Mas Rama berikan untuk berobat ibu." Aku memang baru menyerahkan uang 10 juta pada bapaknya Mayang.
Sebelumnya aku meminjam pada Bank 200 juta untuk biaya operasi Bapakku sendiri yang sudah komplikasi dengan menjaminkan rumah yang kami tempati dan sawah kakek. Lalu ada sisa sekitar 15 juta, tentu aku tidak diam saja saat melihat ibu Mayang memerlukan uang untuk biaya rumah sakit.
"Kenapa kamu mikir gitu, fokus saja pada sekolahmu. Dua tahun bukan waktu yang lama."
"Tapi Mas, aku gak enak terus ngerepotin ...."
"Stt." Aku menutup mulutnya. Lalu mendaratkan ciuman di sana. Siapa yang sangka, Mayang yang selama ini selalu menjaga diri agar kami tak berbuat lebih, kini justru pasrah. Kami semakin larut. Hari itu lah pertama kali melakukan hal yang tidak boleh dilakukan kecuali suami istri.
Satu tahun sebelum kelulusan Mayang, Bapakku meninggal, kami memutuskan pindah ke kota. Karena aku harus bekerja mencicil hutang di Bank yang pernah aku pinjam. Berbulan-bulan mencari pekerjaan tak semudah yang kami pikir. Padahal aku juga harus membiayai sekolah Mia. Bekal dari desa hasil menjual rumah juga telah habis meski Mama telah bekerja.
Mayang sering menelepon, menanyakan kabar kami di kota. Ia akan bahagia mendengar kami baik-baik saja. Tapi dia tak pernah bilang jika hamil. Jika saja dia hamil aku pasti akan bertanggung jawab dan menikahinya. Aku bukan orang baik, tapi aku tak sejahat yang orang lain pikir.
Awalnya, perpisahan dengan Mayang terasa menyakitkan. Namun, jarak membuatku mulai bosan padanya. Hidupku terlalu keras untuk memikirkan kesetiaan.
"Huft." Aku meniup berat setiap kali mengingat beratnya hidup yang kupikul.
Dadaku ingin meledak rasanya. Kata orang ternyata benar, salah satu hal yang paling menyakitkan itu adalah melihat mantan bahagia jauh melampaui kita. Jika Mayang dendam, habislah aku.
Kuteguk habis minuman kaleng soda di tangan dan meremasnya. Berharap hal itu cukup untuk melampiaskan kekesalanku sekarang. Bahkan gairahku lenyap sepenuhnya pada Delia karena Mayang, melihat chat darinya saja malas. Ada banyak panggilan darinya sejak sore yang kuabaikan. Tak peduli seberapa marahnya dia nanti. Tiba-tiba saja aku takut, jika melepas Ratih, hal sama akan terulang lagi. Bagaimana jika nanti dia pun seperti Mayang? Aku pasti akan sangat menyesalinya.
Ah, mikir apa sih, aku ini? Bodoh sekali.
"Kamu pegawainya Wenda?" Suara bariton seorang laki-laki tetiba terdengar dekat di sampingku.
Aku menoleh pada asal suara. Pria itu duduk dengan tenang menuang sirup pada cangkir yang berisi es batu. Mataku menyipit, apa aku yang diajaknya bicara?
"Tuan bicara dengan saya?"
"Hem. Sepertinya kamu sangat gelisah." Pria itu terlihat berwibawa meski dengan pakaian kasual. Aku belum pernah melihat orang itu, tapi sepertinya familiar. Kutaksir usianya lima tahun lebih tua dariku. Tubuhnya tegap, wajahnya berseri dan tampan. Yah, meski tak lebih tampan dariku.
Aku memiringkan senyum mendengar ucapannya. Konyol sekali. Dia berusaha membaca apa yang aku alami. Pria itu pikir dia dukun? Roy Kiyosi saja tak aku percaya apalagi orang asing yang tak jelas asal-usulnya itu.
"Alendra! Ke mari lah!" Suara Bu Wenda dari kejauhan menyeru nama seseorang. Lelaki di sampingku berdiri.
"Maaf, aku harus pergi," pamitnya. Rupanya pria itu yang dimaksud.
Aku mengangguk, memberi penghormatan. "Silakan."
Apa dia suami Bu Wenda? Tapi selama ini tidak pernah kelihatan di kantor.
"Lo kenapa bengong begitu??" Dika membawa sepiring cake kecil di tangannya dan duduk begitu saja di sampingku.
"Apa itu suami Ibu Wenda?" Aku menunjuk pria yang tengah bicara akrab dengan bos kami.
"Hem?" Dika memusatkan penglihatannya. "Lo gak tau? Dia Alendra, produser terkenal. Kalo diperhatikan mirip dengan Bu Wenda, masa iya suaminya?" Pria berkulit hitam manis itu menggedikkan bahu. "Entahlah, gue malas bergosip kalau gak nguntungin buat gue." Dengan rakus Dika menyuap kue ke mulutnya.
Hiss dasar si Dika. Tapi siapa Alendra itu? Aku jadi penasaran. Melihatnya membuatku sadar, ternyata lelaki sempurna bertebaran di muka bumi. Bukan cuma tampan tapi juga sukses. Kalau saja aku satu dari mereka.
BERSAMBUNG
Kan, sejelek-jeleknya Rama dia juga pernah punya sisi baik dan bertanggung jawab.
Baca juga POV istri yang tak kalah seru.