Terlalu Banyak Lelaki Tampan

1496 Kata
Pria bernama Alendra kembali duduk di meja kami. Meneruskan ritual minumnya yang tertunda. "Kamu kalau dilihat tampan juga." Pria itu kembali mengajakku bicara. Aku hanya tersenyum mendengarnya, dia bukan pria pertama yang memujiku. "Hem, betul. Dia memang tampan, Pak. Boleh tuh jadi artisnya Bapak," celetuk Dika. "Gue bakal berhenti kerja dan jadi manajer lo kalau sampe lo jadi artis Ram!" Pria itu lalu bicara menatapku. Ah, dipuji dari dulu membuatku senang. Tuhan memang baik memberiku wajah tampan, hingga aku tak mudah diremehkan orang.  "Iya, kalau mau aku bisa mengorbitkanmu sebagai bintang besar. Kebetulan aku baru nemu cerita bagus dari seorang penulis. Em, judulnya "Aku (berubah) Seksi". Wah, kamu sangat cocok memerankan suaminya." "Wah, pasti suaminya sangat tampan dan baik ya, Pak." Ah aku jadi malu sendiri mengucap ini seperti sedang memuji diri sendiri. Namun, sayang sedikit pun aku tak pernah tertarik pada dunia selebriti. "Sebentar." Pak Alendra merogoh kantong. Mengeluarkan sebuah ponsel. Dan sibuk membalas pesan. "Nah, pas sekali." "Istrinya, Pak. Saya pikir Bapak suaminya Bu Wenda." Dika refleks menyahut. "Hahaha." Pak Alendra tertawa. Sial, tertawa saja itu orang tetap tampak bersahaja. "Bukan. Dia penulis yang kubilang tadi, kami sedang PDKT juga. Dan Wenda itu adikku." "Ooo ...." Mulutku dan mulut Dika membulat. "Aku ingin menyelamatkan wanita cantik itu dari suaminya yang tak tau diri." Alendra bicara tenang. Ia mengambil rokok, dan aku buru-buru menyalakan korek untuknya. Aku harus jaga sikap pada orang yang dekat dengan Bu Wenda. Siapa tahu suatu saat aku memerlukan bantuannya. Alendra menyodorkan rokok padaku dan Dika.  Temanku itu segera meraihnya tapi aku menolak. "Kenapa?" Alendra bertanya heran. "Dia tidak merokok, Pak! Katanya takut gantengnya luntur." Dika menyahut untukku yang kemudian kembali disambut tawa renyah Alendra. Selama ini aku memang tak merokok. Walau dulu sempat kecanduan. Karena setelah dihitung-hitung, akan banyak pengeluaran untuk disisihkan guna beli rokok.  Aku harus benar-benar berhemat. "Siapa penulis itu?" tanyaku untuk mengalihkan perhatian. "Namanya Ratih." "Ratih?" Aku terkejut lalu saling pandang dengan Dika. Rekanku itu seolah tahu apa yang kupikirkan. Tapi istriku bukan penulis. Ah, pasti Ratih yang lain. Namanya memang pasaran. "Dia akan segera bercerai dengan suaminya yang b******k dan menyia-nyiakan wanita sebaik dirinya." "Wah, bener-bener b******k!" umpat Dika refleks.  Entah, kenapa aku merasa Alendra menyindirku. Tapi berusaha tenang. Semua ini pasti hanya kebetulan. "Em, laki-laki jaman sekarang memang banyak yang kurang ajar, Pak." Aku bicara seolah mendukung Alendra, dengan tersenyum miris. Sial, kenapa perasaanku tak enak begini? "Oya, ini kartu namaku. Jika ingin jadi artis, hubungi saja aku." Alendra akhirnya bangkit. Produser sepertinya pasti sangat sibuk. Kuambil kartu nama pria yang telah pergi meninggalkan meja kami. "Wah, lo beruntung Ram. Pak Alendra pasti sedang mencari aktor. Kalau gue jadi lo bakal gue sikat itu tawaran." "Ya udah, lo ambil aja job ini." Kuserahkan kartu itu pada Dika. "Ck. Kan produser itu maunya lo, kenapa gue?" Dika mendorong tanganku. "Gaya lo, jadi gigolo kagak mau, sekarang jadi artis juga kagak mau." Aku tersenyum sinis pada Dika. Uang memang bisa membahagiakan kehidupan seseorang, tapi tidak semua cara harus ditempuh untuk mendapatkan uang, bahkan melakukan sesuatu yang sama sekali tak kita suka. Apa bagusnya jadi artis, lagian aku tak pandai pura-pura. Sekarang saja aku yakin,  bahwa Ratih tahu sebenarnya suaminya sedang jalan dengan perempuan lain. Kadang, diamnya Ratih terhadap kesalahanku, memmbuatku tetap percaya diri menegakkan kepala dan tenang di luar rumah. Entah, apa aku akan mendapatkannya dari Delia nanti? "Btw, Ratih bukan penulis 'kan, Ram?" tanya Dika tiba-tiba. Aku hanya menarik satu sudut bibirku mendengar pertanyaan konyolnya. Istriku itu mana sempat menulis di sela aktivitasnya. Merawat tubuhnya sendiri saja tak ada waktu. Meski akhir-akhir ini berbeda, sejak jadi manajer penampilannya berubah. Rasanya aneh saja, perbincangan dengan produser itu membuatku seolah aku menelanjangi diriku sendiri. Suami berengsek yang terus saja membuat istrinya menderita. Bagaimana jika Ratih memilih menjadi penulis itu? Mencari kebahagiaan lain dan mendapatkan pria sesukses Alendra. Oh tidak. Aku akan gila. Waktu terus berjalan, sebelum pulang kusempatkan membalas pesan Delia, agar ia tak menagih untuk video call sebelum tidur. Aku sangat lelah dan hanya ingin merebahkan diri di kamar. [Maaf Sayang. Mas beneran sibuk, gak bisa diganggu. Minggu depan aja Mas langsung ke rumah kamu, kirim alamatnya. Oke?! Loveyou] Namun, Delia sangat gigih. Meski chat tak terbalas dia mengirimnya lagi dan lagi. Ponsel terus bergetar akibat notif itu. Huft. Kadang-kadang menjadi orang tampan juga menyusahkan. Sebelum ke luar, aku yang beriringan dengan Dika bertemu Mayang yang berjalan tergesa membawa sesuatu di tangannya. Mata kami sempat beradu sebentar, dan wanita itu tersenyum padaku. 'Senyum itu sungguh menyakitkan May ....' "Haduh, gila. Enak bener jadi orang kaya ya, Ram. Bisa punya istri secantik itu." Pria di sampingku menggeleng-geleng. "Bentar lagi, suami dia bakal jadi bos kita yang baru. Gue kalau kaya itu bos bakal lamar Britney spears, Angelina Jolie dan BCL buat jadi istri gue," oceh Dika setelah berpapasan dengan Mayang. Aku juga geleng-geleng lihat kelakuan Dika. Kaya gak pernah lihat cewek cantik saja. Ck. Kalau saja Dika tahu Mayang adalah mantanku, bisa semaput itu orang. "Sudahlah, kalo halu jangan berlebihan." Kupercepat langkah menuju parkiran. Diikuti pria yang takjub dengan kecantikan Mayang. *** Sampai rumah, suasana sudah sepi Ratih dan Denisa pasti sudah tidur. Saat berjalan ke dapur, aku iseng membuka tudung saji di atas meja. Tak ada makanan. Ratih sungguh berubah, dia tak lagi memasak untukku. Aku ingin sesuatu yang menghangatkan sebelum tidur, tapi melihat wajah Ratih yang kelelahan jadi tidak tega. Sekarang dia manajer pasti pekerjaannya lebih berat dari sebelumnya. Ah, kenapa aku jadi peduli? Ini pasti efek pikiranku yang tak karuan setelah bertemu Mayang. Aku mulai takut, saat nanti dipecat dan Ratih meninggalkanku, apa yang bisa kulakukan? Ya, pasti karena itu bukan karena khawatir dia terluka lagi seperti Mayang atau aku jadi lemah dengan perubahan istriku yang drastis akhir-akhir ini. Pasti bukan karena itu. Sebelum tidur aku kembali mengecek ponsel. Ada sekitar 10 chat dari tiga nomor. Pertama, dari Mia. [Makasih Mas ganteng, kata Mama Mas ganteng suruh mampir, mau dibikinin semur jengkol kesukaan Mas.] Beralih nomor kedua, dari Delia. Dia mengirim alamat tempatnya tinggal. Dan oh ... aku bisa beneran gila karena ini. Wanita itu sudah tergila-gila padaku. Tak kuhiraukan, dia malah mengirim banyak gambar tak senonoh. Ya ampun. Apa aku sedang berpacaran dengan p*****r? Aku terlalu lelah, badan dan pikiran sekaligus karena insiden hari ini. Bahkan untuk membayangkan Delia pun, aku tak bernafsu. Lalu ada pesan terakhir dari nomor baru. [Mas, maaf soal tadi. Lain kali, aku ingin bicara berdua saja sama Mas Rama. Ayo kita bertemu akhir pekan besok.] Siapa? Kenapa gaya pesannya seperti sudah sangat akrab padaku? Penasaran, aku mengklik fotonya. Jantungku hampir saja meloncat saat melihat seorang wanita berpose dalam gambar. Mayang? *** Hari minggu, pagi buta Ratih sudah berpakaian sangat rapi. Istriku itu penampilannya jauh lebih segar dari yang dulu. Ia sedang bersiap sebelum mengantar Denisa ke pengasuhnya. "Em, kamu mau kerja? Bukannya sekarang libur?" Ah, kenapa bertanya saja aku jadi salah tingkah begini melihatnya sukses. "Ya, Mas. Ada program baru yang harus kami urus," jawabnya tanpa melihat padaku. Tangan terampilnya kini tengah memakaikan baju Denisa. Dia sepertinya terburu-buru. "Apa ... tidak ada makanan? Maksudku kamu pasti lama." Ratih, menghentikan gerak tangannya dan melirik padaku lalu melihatku dengan tatapan intens. "Oh, kalau kamu emang buru-buru biar aku masak sendiri, atau makan di warteg. Tak masalah," ucapku cepat sebelum dia menjawab. Belum pernah aku kelihatan sebego ini di depan Ratih. "Ya sudah, biar Denisa aku yang urus. Kamu pergilah!" Kuraih tubuh mungil Denisa dan melanjutkan apa yang Ratih kerjakan, tak peduli melihat tatapan anehnya padaku. "Kamu gak lagi kesambet 'kan, Mas?" tanya Ratih sebelum pergi meninggalkanku. "Oya, jangan buat dia menangis!" Ratih berbalik begitu sampai pintu. "Ya, ya. Kamu tenang saja sana!" Wanita itu akhirnya pergi. "Papa, Papa. Da kelja cama Mama." Denisa mengoceh. Lucu juga anak ini kalau dipikir-pikir. Dia seperti boneka kecil yang cedal. Tapi ... aku gak kuat menghadapinya saat rewel. "Nggak. Papa libur. Habis papa antar kamu ke rumah Nenek Mira, papa mau nemuin tante bohay." Aku iseng mengajaknya bicara. Denisa hanya tertawa mendengar jawabanku. Iya lah, mana dia paham omongan orang dewasa? Setelah meletakkan Denisa, aku berniat pergi ke rumah Delia. Ingin memberinya kejutan. Tadinya aku ingin santai di rumah karena tak mau Ratih curiga. Tapi karena Ratih ternyata pergi, ini kesempatanku menemui Delia. Minggu depan terlalu lama. Kasihan juga dia dari kemarin dicuekin. Kehadiranku pasti membuatnya senang. Hanya perlu mengetik alamatnya di google map aku bisa menemukannya dengan mudah.  Gak nyangka, teknologi sekarang luar biasa. Sampai di sebuah apartemen motorku berhenti. Melihat nama apartemen "Rose Resident" aku yakin di sini tempatnya. Langkah kaki pun memasuki gedung mewah itu. Tidak disangka ternyata Delia selain cantik juga kaya, tak salah aku memilihnya. Namun, saat mencapai lorong deretan pintu apartemen Delia kakiku berhenti melangkah. Lalu cepat bersembunyi di balik dinding belokan. Aku melihat Mayang ke luar dari pintu bersama Delia. Ada apa ini? Apa mereka saling kenal? Setelah Mayang pergi aku kembali meneruskan niatku menghampiri pacarku itu. Begitu menekan bel dan Delia keluar, wanita itu tampak terkejut tapi juga senang. "Mas Rama? Kok sudah ada di sini?" Delia memelukku begitu aku datang. Bersambung Kira-kira ada apa ini? Rama makin bingung mantannya dan pacarnya keliatan akrab, tapi dengan pedenya dia tetep ngadepin kenyataan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN