Apa Hubungan Alendra dan Ratih?

1167 Kata
Pelukan Delia seperti setrum yang daya kejutnya di atas 1000 Kwh. Oh s**t! Sudah lama aku tidak merasa seperti ini. Mendapatkan pelukan dari wanita dengan tubuh berisi. "Kamu kenal sama Mayang?" tanyaku saat masuk ke dalam apartemennya. "Mayang? Siapa, Mas?" Delia tampak berpikir. "Em, tadi soalnya papasan sama temenku. Kali dia kenal sama kamu dan baru ketemuan di sini." "Elah, Mas. Apartemen di gedung ini kan banyak. Udahlah gosah bahas yang lain. Aku udah kangen nih sama Mas." Wanita itu berkelit. Dan akhirnya dia memilih berbohong. Ini kebetulan yang aneh. Baru semalam ketemu Mayang, sekarang dia keluar dari kamar pacarku. Apa dia pikir Rama sebodoh itu? Heh, dia hanya belum jauh mengenalku, selain tampan intuisiku juga tajam. "Bentar ya, Mas. Aku ganti baju dulu gerah, nih." Delia bangkit. Ia masuk ke kamarnya. Apa yang sebenarnya mereka rencanakan? Tak lama wanita itu keluar dengan pakaian sangat tipis. Ya, Tuhan. Mataku ternodai lagi. Perempuan itu mengerdipkan matanya dengan nakal. Ia berjalan ke dapur dengan beberapa kali mengedip genit padaku. Dasar Delia. Dia pikir aku ke sini mau jajan sama p*****r. Aku hanya tertawa melihatnya. Setelah meletakkan gelas, perempuan seksi itu duduk menempel di sampingku. Siapa yang tahu jika minuman itu diletakkan sesuatu di dalamnya? "Beneran gerah, ya?" Kukibaskan kemeja bagian d**a. "Mau dibuka Mas?" Tangan Delia nakal memegang kemeja depanku. Kali ini imanku sangat diuji. "Ehm. Tidak perlu." Kupegang tangannya. "Ish. Mas Rama sok jaim. Padahal udah kangen banget kan sama aku. Udah berminggu-minggu lho kita nahan." "Delia." "Ya?" Wanita itu akhirnya mendongak menatap mataku setelah dari tadi berusaha melucuti kelaki-lakianku. "Kamu pernah dengar berita p*****r yang dibunuh pacarnya sendiri karena berdusta?" "Apa?!" Mata wanita itu melebar. "Maksud Mas?" Delia menarik tanganya kasar dan mundur menjauhiku. "Mas hanya bertanya, kenapa kamu marah? Semalam Mas baca berita itu di tajuk kriminal." Aku berusaha mencairkan suasana yang kaku ini. "Oh, kirain Mas nganggep aku pelacur." Delia kembali mendekat. "Yah, gak lah Sayang. Mas akan mengistimewakanmu dari pada kekasih-kekasih Mas sebelumnya. Mas tidak akan menidurimu sebelum menghalalkanmu." "Apa?!" Mata lentik Delia melebar sempurna. "Yah baiklah, Delia Sayang. Kamu pasti bingung sama sikap Mas. Sama deh Mas juga bingung, kenapa kamu gak mau jujur sama Mas?" Aku mendesah untuk menekan ucapanku yang pelan. Perempuan itu mengerutkan dahinya. "Maksud Mas apa, sih?" "Oke. Gini aja ya. Kita bisa kembali komunikasi seperti sebelumnya, begitu kamu mau jujur semua tentangmu. Seperti halnya Mas, yang udah jujur ke kamu bahwa Mas masih menikah dan baru mengurus surat cerainya. Begitu juga kenapa akhir-akhir ini Mas sibuk, karena gak bisa serta merta ninggalin istri sah Mas. Lantaran bos menuntut tak ada perceraian dalam keluarga pegawainya yang dipromosikan." Delia memanyunkan bibirnya. Ah, andai aku tak sedang kesal sudah kucipok bibir mungilnya itu. Padahal harusnya hari ini pertama kami bisa saling bersentuhan lebih intim dari sebelumnya. Tapi, kehadiran Mayang lagi-lagi mengganggu. "Okey, terserah Mas. Kalau aku jujur apa Mas tetep mau sama aku?" tanya Delia mengiba. Melihat keraguan di wajahnya aku memilih bangkit untuk kemudian berpamitan. Namun, baru melangkah tangan wanita itu meraih lenganku. "Apa gak bisa kita bicarakan lain kali, Mas? Hari ini aku ingin bersama Mas Rama?" Apa wajahku terlihat sangat polos baginya? Hingga dengan mudah wanita itu mengungkapkan kemauannya yang jelas tak mungkin dituruti pria waras sepertiku? Masalahku dan Mayang bukan hal sepele. Dia cinta pertamaku dan aku cinta pertama baginya. Bukan hubungan yang terjalin seperti Bunda-Papanya anak SD. Luka hati perempuan itu pasti sangat dalam padaku, lebih jika benar anak laki-laki yang bersama Mayang malam itu lahir dari perbuatanku. Kumiringkan senyum dan bicara selemah mungkin pada Delia sembari melepas tangannya. "Pikirkan, pria mana yang mau dipermainkan? Hem?" Jika memang tak ada masalah dan dia tidak salah, harusnya bicara dengan jujur, siapa Mayang dan ada hubungan apa dengannya? Akhirnya kutinggalkan Delia dengan gurat kekecewaan yang tergambar jelas di wajahnya. Ah, aku takjub pada diriku sendiri, tak percaya bisa bertindak sekeren itu menolak wanita cantik dan seksi sepertinya. *** Motor kupacu dengan kecepatan sedang, baru saja akan memasuki kompleks rumahku, ponsel mendengung. Nada 'bahaya' dari kontak Dika. "Ah, sialan. Kenapa lagi itu anak?" Kutepikan kendaraan dan merogoh ponsel dari saku celana. "Ya, Dik. Ngape sih, lo?" tanyaku kesal. Dia pasti mau merepotkan jika menelepon di jam begini. "Ram, tolongin gue." Suara Dika terdengar panik. "Kenapa ketauan selingkuh lagi?" "Sekarang bukan waktunya bertanya. Lo buruan deh, ke sini! Gue terjebak di ruang ganti. Di luar pacar, istri dan mertua gue lagi milih baju." "Oh, gila lo! Ogah. Males gue!" Kututup telepon dan memasukkan kembali ke kantong. Kebiasaan tuh orang. Enaknya aja gak bagi-bagi. Begitu ada masalah bikin ribet. Namun, baru akan menyalakan mesin motor ponsel berbunyi lagi. "Aishhh. Si Dika!" Terpaksa aku membuka panggilannya lagi. "Ram, ayolah! Katanya kita temen. Tar gue traktir makan siang seminggu penuh deh." Dika memohon-mohon agar aku datang menolongnya. Aku mendesah panjang mendengar itu. Gak tega juga rasanya lihat dia dipecat jadi mantu. "Sebulan gimana?" Yah, lumayan juga sebulan gratis makan siang 'kan? "Oke-oke, buruan. Gue di Mall. Kalo sampe kelamaan terus istri gue tau, lo yang traktir sebulan!" Dika menutup ponselnya. Huh, dasar aneh itu orang. Dia yang ngerepotin, aku yang harus rugi. Tanpa berpikir panjang lagi, aku berbalik arah. Melaju ke Mall yang Dika maksud. Sampai gedung yang ramai manusia di akhir pekan itu, aku segera berputar-putar mencari toko pakaian yang Dika maksud. Sudah lebih 10 menit dan tak juga kutemukan. Dika terus memanggil. "Hallo, Ram. Lo di mana?" "Gue udah di Mall, lo di mana?" "Untunglah. Di lantai enam, toko deket bioskop!" Aku berjalan lebih cepat, menaiki eskalator menuju lantai tiga. Namun, baru menjejakkan kaki di lantai enam langkahku memelan melihat Ratih berjalan dengan seorang wanita ke luar dari pintu bioskop. "Hem? Apa dia persentasi dalam bioskop?" Aku menggedikkan bahu tak ingin peduli, tapi saat akan melangkah ke toko yang dimaksud Dika teriakan seorang pria berpakaian seragam toko membuatku berhenti. "Awas! Awas! Barang berat!" Pegawai toko itu membawa tumpukan dus barang di atas troli. Gila, kenapa dia nekad mengangkut barang di luar kapasitas? Dus-dus yang tampak berat itu berguncang, dan hampir jatuh, anehnya pegawai itu tetap nekad mendorong. Di saat yang sama Ratih yang berjalan dari arah lain yang tidak melihat karena terhalang dinding di belokan akan kejatuhan benda-benda itu jika tidak berhenti. Kenapa dia bisa seceroboh itu? Bagaimana jika badannya yang kurus 'penyet' kejatuhan dus besar itu? Aku berlari ke arah Ratih sebelum dus itu akan menjatuhinya. "Ratih! Awas!" Kupeluk tubuh Ratih dan mendorongnya ke belakang. Wanita itu kaget melebarkan mata melihatku yang datang tiba-tiba dan memeluknya. Benar saja, dus-dus itu berjatuhan di belakang kami karena pegawai kesulitan berbelok. Dan satu dus mengenai punggungku. 'Au!' Aku mengaduh di sela nafasku yang tersengal karena lelah berlari sedang Ratih menatapku tak percaya. "Mas Rama?" "Kenapa kamu seceroboh ini? Kalau jalan pakai matamu!" omelku padanya. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? Aku sangat khawatir. "Ratih, kamu mengenalnya?" Perempuan di samping Ratih tersenyum, dia melihat dengan tatapan kagum padaku. Mungkin karena aku menolong temannya. "Ratih, kamu gak papa?" Suara seorang pria di belakang istriku terdengar khawatir. "Pak Alendra?" Mataku melebar melihat produser itu, dan kenapa dia juga kenal pada Ratih? Mungkin kah .... Bersambung Rama gimana pun kondisi, gak mati gaya.Apa yang terjadi selanjutnya setelah tau Ratih yang dimaksud Alendra adalah istrinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN