Mayang

1586 Kata
Pegawai toko segera mengambil dus yang menimpaku dan meminta maaf. "Kamu mengenalnya, Rat? Au!" tanyaku sembari bangkit. Apesnya, satu dus jatuh lagi menimpai bahu. Melihatku menahan sakit, istriku itu segera menolong. "Mas kamu gak papa?" "Nggak. Au!" Punggungku serasa remuk. Nyeri setiap kali bicara. Bisa jadi ada yang patah di bagian punggung atau keseleo area pundak. Ah, aku tak mengerti. Yang jelas rasanya sangat sakit. "Maafkan aku, Alendra, Shiva. Kami harus pergi," ucap Ratih pada dua orang yang datang bersamanya. Ia kemudian merangkulkan tanganku di pundaknya meninggalkan tempat itu. Namun, ia kesulitan karena tubuhku jauh lebih berat darinya. Tanpa diminta Alendra ikut membopongku ke parkiran diikuti teman Ratih yang dipanggil dengan Shiva. Ada apa sebenarnya ini? Kulihat wajah panik Ratih dan wajah datar Alendra. Keberadaan pria itu mengingatkan pada ucapannya di pesta Bu Wenda semalam. Dia kah Ratih yang dimaksud Pak Alendra? Apa keduanya punya hubungan di belakangku? Jika iya, 'Kamu sudah berubah Ratih.' Tapi, wanita mana yang bisa menolak Alendra? Lebih jika wanita itu teraniaya oleh suaminya seperti Ratih. Kenapa tidak mereka lemparkan saja aku dan ditinggal pergi? Dengan begitu merekaakan bebas melakukan apapun. Ah, jika benar ingin sekali aku bilang "Pergi sana ke bumi yang lain!" Seperti tema-tema viral di grup KBM. Ada banyak hal yang ingin aku katakan dan tanyakan, tapi rasa sakit di tubuh ini memaksa untuk diam saja. Oh Lord! Rama, bagaimana kamu akan bersikap setelah ini? Setelah lift sampai di lantai tiga tempat parkir mobil, pintu terbuka. "Kita bawa ke rumah sakit saja, ya. Naik mobilku." Alendra mengatakannya pada Ratih. Aku menggeleng cepat sambil meringis. Lebih baik pulang dari pada berhutang budi terlalu banyak pada Alendra. Itu hanya membuatnya terlihat lebih keren di depan Ratih. Huh!  Sakit sekali hati ini rasanya. Bukan karena cemburu, tapi mereka sudah melukai harga diriku dengan sangat dalam. "Mas, kamu harus ke rumah sakit." Ratih masih terlihat khawatir. "Nggak. Nanti diurut juga sembuh," ucapku susah payah. "Tapi, Mas." Aku menggeleng cepat. Ratih mendesah. "Ya sudah, kita pulang saja," ucapnya menyerah. "Maaf. Em, Alendra. Tolong masukkan saja dia ke mobilku," sambung Ratih pada produser tampan yang memegangiku dengan kuat. Lalu pria itu mengikuti apa yang Ratih katakan. "Rat, hati-hati!" seru teman perempuan Ratih yang mengikuti kami dengan khawatir. Istriku hanya mengangguk sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. "Terima kasih," Perempuan yang mengenakan kerudung berwarna cokelat itu mengucap sebelum menyalakan mesin dan meninggalkan Shiva dan Alndrea. Sepanjang jalan terasa hening. Aku seperti anak kecil yang duduk manis dibawa pergi ibunya. Tidak ada yang bisa kuucap dengan keadaanku sekarang. Sedang wanita di sampingku ada gurat rasa bersalah di wajahnya. Mungkin benar, jika aku memergokinya yang tengah ketemuan dengan Alendra. Sampai di rumah, Ratih meminta seorang tetangga membantu membawaku ke dalam rumah. Ia lalu pergi memanggil tukang urut untuk menanganiku. Setelah tukang urut itu melakukan tugasnya. Badanku lebih nyaman dari sebelumnya. Hanya sedikit nyeri di bagian yang tertimpa barang tadi. "Hanya keseleo. Untung yang kejatuhan bagian persendian belikat bahunya, jadi cuma sedikit bergeser dan tidak ada yang patah. Misalkan masih sangat sakit bawa ke rumah sakit saja, takut ada luka dan perdarahan di dalam. Minyaknya dioleskan saja sebelum tidur, walau bagaimana benda berat itu meninggalkan cidera dan rasa sakit." Pria yang ahli dengan teknik pijatnya itu memberi tahu pada kami. "Iya, Pak. Terima kasih," ucap Ratih pada pria itu. Kini tatapannya beralih padaku. "Apa masih sakit, Mas?" "Nggak," jawabku pelan. Sakit di badanku memang telah hilang tapi tidak di hatiku. Ratih yang kepergok. Kenapa aku yang malu bicara padanya. "Baiklah, kalau begitu saya permisi." Dukun pijat berpamitan pergi. Kini tinggal lah aku berdua dengan Ratih di rumah. Ia masih enggan bicara dan melakukan aktivitas di rumah seperti biasa. *** Malam hari sebelum tidur kusempatkan membuka ponsel, banyak panggilan dari Delia. Tak kuhiraukan. Lalu membuka buku kecil yang selalu kuletakkan di dalam tas kerja. Di sana kutulis secara rinci, jumlah hutangku pada Bank, tahun-tahun yang akan kuhabiskan membayar hutang selama sisa hidupku. Bunganya terus beranak pinak setiap kali aku telat membayarnya. Harusnya setahun lagi, hutang yang kubawa dari dessa lunas. Tapi, tanpa sepengetahuan Ratih pihak keluarganya minta mahar besar untuk pernikahan kami. Mereka bilang Ratih adalah tulang punggung, jadi aku harus membayar mahal untuk mendapatkannya. Mungkin itulah sebabnya, Mama selalu menganggap Ratih menjadi beban bagiku. Padahal, selama ini uangku tak cukup untuk biaya hidup rumah tangga kami dan Ratihlah yang menutupinya. Seseorang sedang memegang gagang pintu kamarku, itu pasti Ratih. Aku buru-buru menutup buku hutangku dan menyimpannya. Ratih datang dengan membawa salep di tangannya. "Berbaringlah, Mas! Aku akan mengoles salep ini," ucapannya terdengar dingin. "Tidak perlu, aku bisa melakukannya." Ratih mendesah. Ia mendekat dan memaksaku tidur dengan posisi tengkurap tanpa bicara apapun. Kenapa tiba-tiba ada rasa bersalah begini? Bahkan setelah semua rasa sakit yang kutimpakan padanya, ia masih peduli padaku. "Apa kamu ada hubungan dengan produser itu?" tanyaku pelan. Mendengarnya tangan Ratih berhenti mengoles tapi tetap berada di atas punggung. Agak lama akhirnya kudengar ia bicara. "Kenapa kamu membuatku bingung, Mas?" "Bingung?" "Iya, bukannya Mas sudah punya wanita lain. Kenapa masih peduli padaku?" tanya Ratih lagi. Kini suaranya lebih terdengar emosi dari sebelumnya. Benar dugaanku, ia tahu semua tentang Delia. "Jadi, kamu balas dendam?" Ratih mendesah. "Sudah selesai, tidurlah, Mas. Bukannya kamu besok juga harus kerja." Ia bangkit dan tak membahas apa pun lagi yang kutanyakan. Ada yang teremas di dalam d**a. Mungkinkah mereka sudah lama menjalin hubungan itu? Apa mereka sudah tidur bersama? Aku saja selama menikah dengannya tak pernah tidur dengan wanita lain. Arhg! Sial kenapa perasaanku tak karuan begini? *** Pagi hari saat ke luar kamar, rumah sudah sepi. Ada makanan di atas meja. Tumben sekali dia membuat sarapan untukku. Namun, saat akan mengambil nasi ke piring, sebuah catatan kecil tergeletak di atas piring kosong. "Ayo kita ambil keputusan terbaik. Pernikahan kita sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Aku sudah memberi banyak waktu padamu, Mas. Tapi kamu tak juga berubah." Aku mendesah panjang. Jadi dia ingin bercerai? Padahal aku sudah mengurus surat cerai itu, tapi kenapa rasanya tak terima dengan keputusan Ratih. Sebenarnya tak ada lagi gunanya kupertahankan Ratih jika alasannya untuk promosi jabatan. Kehadiran Mayang sudah melenyapkan semua harapan di kantor sekarang. Wanita itu terus saja menghadirkan firasat buruk. Boro-boro jadi manajer, tidak dipecat pun sudah untung. *** "Makasih ya, Ram." Dika yang wajahnya lebam-lebam mengucap loyo. Ah, sialan emang. Karena insiden kemarin, bukan hanya punggung sakit tapi juga harus mentraktirnya makan siang sebulan. Tapi, kasihan juga melihatnya. Kemarin pasti dia babak belur oleh istri dan mertuanya. "Hem." "Lo marah?" Tangan Dika menggenggam tanganku, refleks aku menariknya. Ih, najis! Kulempar tangannya cepat. Bukan hal lumrah lelaki memegang tangan lelaki lain. "Lo gak waras pegang-pegang gue?" "Hem. Bukan gak waras, tapi gue butuh waras untuk menghadapi perceraian. Kalau aja waktu bisa diputar gue bakal setia sama bini gue." Kini wajah pria yang biasanya terlihat ceria itu sangat memelas. "Kasihan anak-anak. Gue biasa ke kamar mereka pas malam. Kalau kami pisah, siapa lagi yang buat gue semangat kerja?" Aku berhenti mengunyah mendengar ucapannya. Lalu tiba-tiba ingat pada Denisa. Tapi, bukankah jika aku dan Ratih bercerai Denisa jauh lebih bahagia mendapat papa baru yang kaya dan baik hati. Semua kebutuhannya akan tercukupi. Bukan papa sepertiku, yang banyak hutang dan sering membentaknya karena stres. "Apa buruknya bercerai? Gue juga akan bercerai?" ucapku sok tegar, dan tetap menyuap makanan ke mulut. "Oya, betul. Lo udah ngurus perceraian lama. Tapi, gue kagak mau cerai, Ram. Sudah banyak kasus perceraian yang meninggalkan problem dan ... em,  dan karma." "Apaan karma?" "Maksud gue, balasan buat pihak yang cari gara-gara." "Azab Indosiar kali. Heh!" "Iya, bisa jadi itu. Kata Pak Ustaz kagak ada yang namanya karma adanya azab buat tukang selingkuh." Dika terus bicara. Jelas sekali dari raut wajahnya ia ingin ada yang mendengar masalahnya. Di waktu bersamaan, sebuah chat masuk. Dari nomor Mayang. Ada apa dengan wanita ini? Sejak malam itu ia seolah terus menggentayangiku. [Mas, boloslah dua jam. Aku menunggumu di Lily Cafe. Sekarang.] Kenapa Mayang menungguku? Apa ini respon dari sikapku ke Delia kemarin? Hem, pasti karena itu. Kalau aku tidak ke sana, dia bisa saja marah dan bikin ulah di tempat kerja. "Dik, sorry, Bro! Gue kudu pergi sekarang." Aku bangkit meninggalkan Dika. "E, eh. Ram tunggu! Ini siapa yang bayar?!" seru Dika yang suaranya makin mengecil karena aku menjauhinya. *** "Ada apa?" tanyaku datar pada wanita yang mengenakan kemeja dan pantofel juga sepatu hak tinggi di seberang meja kafe. "Katanya Mas kemarin kejatuhan benda berat ya? Apa masih sakit?" "Kamu tau dari mana? Kamu mata-matain aku?" "Kenapa sambutannya gak enak gini? Kita udah lama lho gak ketemu?" Mayang protes atas sikapku. Tadinya aku ingin bersikap hangat padanya, dan minta maaf atas kesalahanku dulu. Tapi, kedekatannya dengan Delia membuat keinginan itu lenyap. Artinya dia punya niat lain yang tak aku ketahui. "Aku aja atau kita yang lama gak ketemu?" Jujur saja, aku curiga Mayang sudah tahu lama tentang kehidupanku. "Mas Rama kenapa, sih? Harusnya aku yang marah sama Mas. Kenapa malah Mas yang gini?" Aku mendesah panjang. "Ya sudah. Langsung ke intinya aja. Kamu kenal Delia 'kan?" Mayang memutar bola mata malas. Hal yang belum pernah aku lihat saat bersamanya dulu.   Gadis polos itu benar-benar berubah. Lama dia tak menjawab. Akhirnya aku memutuskan pergi. Namun,  cepat ia menyeru. "Mas Rama! Tunggu!" Langkahku pun terhenti. "Duduklah, aku akan bicara yang sebenarnya," sambung Mayang meyakinkan, hingga aku memilih duduk kembali. "Delia itu pegawaiku, Mas. Sebenarnya aku sudah lama ada di sekitar Mas. Tapi menunggu waktu tepat untuk menyapa. Saat tau, Mas ikut taaruf online aku merasa punya kesempatan. Maka aku pun meminta Delia ikut dan berpura-pura jadi janda lalu meminta admin mempertemukan kalian." "Untuk apa, balas dendam?" Mayang terdiam. Ekspresinya cukup untuk menjawab apa yang kupikirkan selama ini. "Kamu mau balas dendam?!" tekanku lagi. "Mas. Aku, aku ... hanya belum bisa meluapakan Mas Rama." "Apa!? Apa maksudmu?" BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN