Sejenak, keduanya kembali larut dalam arus yang tak mampu mereka elakkan lagi. Mereka terbuai tanpa sadar. Langkah Lansa telah membawa Yiska sampai pada dipan tempat tidur mereka dan kali ini keduanya seakan tak bisa berhenti. Aroma harum yang menguar dari tubuh Yiska seakan membius Lansa untuk terus menuntut sebuah kepuasan lebih, yang membuat keduanya terengah. Terengah oleh napas yang kian panas, terengah oleh keinginan primitif yang bahkan semakin sulit dikendalikan. Terlebih mereka terengah karena ada sebuah perang bathin yang kini bergolak di kepala keduanya. Pertentangan bahwa sebenarnya yang sedang mereka lakukan saat ini adalah salah karena mereka menikah hanya berdasarkan sebuah kesepakatan. Meski secara adat pernikahan mereka adalah resmi adanya. Dengan bertubi-tubi, Lansa teru

