TRAGEDI VIVI

1076 Kata
Bram membuka kedua matanya dan melihat langit- langit ruangan yang terlihat asing. Ia mencoba mengingat- ingat hal yang terjadi semalam, setelah minum minuman keras sampai mabuk ia di goda oleh seorang wanita seksi di bar sebelah hotel dan memberinya nomer kamar di hotel ini. Kemudian dengan terhuyung- huyung ia mencari nomer kamar, tulisan itu bertuliskan nomer 6 atau 9 ia sedikit bingung. Ia mencoba membuka kamar nomer 6 yang ternyata tidak dikunci. saat masuk ke kamar ia melihat wanita cantik dengan pose menggoda sedang tertidur 'ah dia sedang menggodaku rupanya' Bram berbicara dalam hati. Ia mendekati tempat tidur. Bram mulai melepas celananya, ia kini telah telanjang bulat. Ia mulai membuka satu persatu baju wanita itu, dengan setengah kesadaran ia mencium wanita itu dengan sangat bernapsu. Wanita itu mendesah saat Bram mulai menjilati satu persatu bagian tubuhnya. Wanita itu membuka matanya dan menjerit sakit karna Bram mulai memasukinya. Bram mulai sedikit merasa bersalah karena ternyata wanita itu masih perawan, namun ia tetap melanjutkan kegiatannya karna kini wanita itu terlihat menikmatinya. Bram mulai bercinta semalaman dengan wanita itu. Setelah mengingat itu ia melirik kearah sprei yang telah bernoda dengan darah. Bram memeluk wanita yang ada di sampingnya ia menciumi tengkuk wanita itu. Wanita itu tiba- tiba menjerit dan melihat ke arah Bram dengan marah. "Apa yang lu lakuin ke gue!" Bram terkejut karena di hadapan nya bukan wanita yang menggodanya semalam, melainkan Vivi pacar dari sahabatnya. "Maaf kukira kau.. kau" Bram berbicara terbata- bata. Sedangkan Vivi mulai menangis, ia merasa telah mengkhianati Rocky. Bram yang memegang pundak Vivi segera di tepis olehnya. Bram kini tengah memakai bajunya "sorry Vi kalau suatu saat lu kenapa napa gue bakal tanggung jawab". Vivi masih menangis. Bram pun keluar dari kamar itu. Ia melihat wanita semalam baru saja keluar dari kamar nomer 9 dengan wajah marah melihar Bram, Bram pun menatap balik tajam padanya. Bram segera pergi, sekali lagi ia menengok kebelakang melihat kamar nomer 6. Mungkin hari ini adalah hari terakhir dia akan tidur bebas dengan wanita karena merasa bersalah kepada gadis yang baik seperti Vivi. . . . Chiko yang sudah memakai baju pemberian Citra segera keluar dari kamar menghampiri Citra yang duduk sambil menonton TV. "Saya mau pulang dulu" Chiko pamit kepada Citra. "iya" Jawab Citra tanpa menoleh. " Bajunya akan saya kembalikan besok" "Iya" Chiko mendesah pasrah. "Maaf tadi saya tidak sengaja" "Lupain aja pak, saya juga gak sengaja ngeliat punya bapak" ucap Citra lalu menutup mulutnya, sepertinya ia keceplosan. Chiko pun membalas perkataan Citra. "Mana saya bisa lupain yang kaya gitu" Citra melihat ke arah Chiko dengan marah. "semua laki- laki emang busuk ya" "Jadi bapakmu juga ?" "kecuali ayah saya" "saya juga gak b******k itu" "masa ? bapak sudah tidur dengan berapa wanita ?" ucap Citra kini berdiri. "aku bukan penyuka seks bebas sepertimu pemburu s****a" Chiko melihat Citra dengan tajam. Citra yang emosi kini mendorong dorong badan Chiko untuk segera pergi dari apartementnya. Namun ia malah tersandung karpet dan sukses mendarat di pelukan Chiko. Tum Paas Aaye, Yoon Muskuraaye Tumne Na Jane Kya, Sapne Dikaaye Kya Karon Hai, Kuch Kuch Hota Hai Suara lagu india dari TV berhasil manjadi backsound atas kejadian romantis itu. Citra lekas berdiri sedangkan Chiko pun segera membuang mukanya, wajah Chiko sedikit merah karna tak sengaja menyentuh d**a Citra. Saat akan pergi Citra berbicara kepada Chiko. "pak saya itu bukan pemburu s****a. Bahkan saya masih perawan kok. Sumpah" Citra menceritakan hal yang ia alami sehingga ingin melakukan hal yang di anggap gila oleh semua orang. "Lalu anda tau ? dia mengirimiku undangan pernikahannya" ucap Citra menghentikan ceritanya. "Jadi kamu tak ingin menikah ?" "Jika ada pria setia seperti Hades, aku mau" "Jelek tak apa ?" " Hmmm gak juga sih. Kalau anak kami seperti ku semua gak masalah. Tapi kalau seperti ayahnya hmmm" Citra mulai memikirkan nya. "Bagaimana kalau aku ? " Citra melihat Chiko dengan raut wajah bertanya. "Seumpama aku yang mendonorkan spermaku" "Hahahaha mana mungkin pak. Saya masih waras, anda juga harus melanjutkan garis keturunan keluarga anda yang kaya raya" Citra berbicara sambil tertawa. "Haha yang gila itu kamu" Chiko ikut tertawa. Jam telah menunjukan pukul 02.00 dini hari, mereka masih mengobrol dengan hati yang senang. Mereka merasa cocok satu sama lain. "aku itu sekolah bisnis pak di HKU Business School" Citra bicara dengan pamer. "Mengapa melamar menjadi pegawai ?" tanya Chiko penasaran, ia sangat tau bahwa HKJ Business School adalah salah satu kampus tempat para orang kaya bersekolah bisnis. Chiko yakin Citra bukanlah orang biasa. "Karena aku ingin mandiri saja" jawab Citra sambil memainkan ujung rambutnya. "pemikiranmu sangat bagus" Chiko semakin dibuat tertarik dengan wanita berambut panjang itu. . . . Di tempat lain Fika yang sudah sadar dari pingsannya mulai melihat orang- orang yang ada di sekitarnya. Ia melihat Pandu guru olahraganya melihatnya dengan raut wajah khawatir, ibunya yang sedang menangis, ayahnya yang berwajah marah. Ia juga melihat kakaknya Shinta sedang berbicara dengan seseorang melalui telefon raut wajahnya terlihat gembira, sepertinya dia tak peduli adiknya akan hidup atau mati. Namun jantungnya seakan berhenti berdetak ketika polisi yang memeriksanya semalam masuk ke dalam ruangan nya. Polisi itu berbicara kepada ayah dan ibunya sementara kakak nya pergi entah kemana dan pak Pandu juga pergi keluar sepertinya tak ingin ikut campur lebih dalam. "Seperti yang anda tau putri bapak dan ibu tersidak telah masuk kedalam club, ia juga tak mempunyai kartu identitas yang resmi yang berarti dia masih di bawah umur" Wajah ayah dan ibunya terlihat malu. "Tes narkobanya terbukti positive ia tidak akan kami rehab untuk sekarang ini karena.." polisi itu sedikit bingung untuk menjelaskan keadaan. "Anak bapak positive telah mengandung bayi selama 3 minggu, dan semalam ia mengalami pendarahan ringan. Untung saja bayinya masih bisa di pertahankan" lanjut Polisi itu lalu segera pamit undur diri. Ayah dan ibunya menangis histeris, Shinta yang mendengar tangisan itu lalu kembali masuk ke dalam ruangan. "Ada apa ?" tanya Shinta kepada ayah dan ibunya. "Fika shin" ibunya tak dapat melanjutkan perkataannya. "Adikmu positive memakai narkoba dan kini ia tengah hamil" Ayahnya berbicara dengan nada bergetar lalu segera berjalan keluar ruangan. Shinta yang mendengar itu lantas marah, emosinya melonjak naik. Dengan marah ia berbalik ke arah Fika, lalu mulai memukulinya. "Dasar anak bodoh!" "Gue udah bilang lu gakusah main ke club!" "Lu kalo mau jual diri gak usah balik ke rumah!" "Lu bikin malu keluarga!" "Ampun kak, sakit!" Fika berteriak kesakitan. Ibunya hanya menangis sambil menyaksikan Ia yakin ibunya menangisi hal yang memalukan menimpa dirinya dan suaminya bukan karna hal yang Fika alami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN