Bab 4

1704 Kata
Via tiba di sekolah sang anak dengan menumpang angkutan umum. Mobil bekas yang di beli oleh sang suami, terparkir indah di garasi rumahnya tanpa pernah sekalipun ia gunakan. Selain memang tak bisa mengemudi, Via lebih suka bepergian kemana-mana menggunakan angkot atau ojek online. "Bunda..!" Seru Ryu dari kejauhan. Senyum lebar anak itu mengurai lelah di tubuh ringkih Via. Wanita itu memang mengalami perubahan selera makan selama kehamilannya kali ini. Itu kenapa berat badannya menurun drastis. Belum lagi beban batin yang harus Via tanggung seorang diri. "Jangan lari-lari nak, Ryu bisa jatuh nanti." Tegur Via lembut. Wanita itu lekas menyambut sang anak dengan pelukan hangat penuh kasih sayang. "Ryu kangen bunda sama adik bayi," balas anak itu tersenyum polos. Hati Via menghangat sekaligus merasa sedikit sedih. Andai suaminya mengetahui kehamilannya ini, apakah pria itu akan seantusias Ryu atau nampak biasa saja. "Bun..kok malah melamun sih," tegur Ryu membawa kembali kesadaran Via pada realita. Dan ya, di sana hanya ada mereka berdua saja seperti hari-hari sebelumnya. "Ah ya, Ryu tanya apa tadi? Maaf, bunda kepikiran soal rumah. Bunda lupa.. apa sudah di kunci pintu atau belum," sahut Via beralasan. Ryu hanya mengangguk paham lalu mengajak sang ibu berjalan kaki menuju penjual es buah. "Satu saja mas," ucap Via ketika hendak memesan. Sang anak menatap heran, biasanya mereka akan membeli dua porsi. "Kenapa satu? Biasanya 'kan dua..." Tanya Ryu menatap Via penasaran. "Bunda seperti akan flu, leher bunda rada kurang enak belakangan ini." Jawab Via memberikan alasan singkat yang mudah di pahami oleh sang anak. Via sedang mengalami ngidam, dan ia sudah ingin muntah dari sejak pertama menoleh ke arah gerobak penjual es buah tadi. Namun wanita itu tak ingin mengecewakan sang anak hanya karena ia tak menyukainya. Lagi-lagi Ryu hanya bisa mengangguk tanda ia mengerti, lalu duduk di salah satu kursi plastik yang kebetulan kosong. "Silahkan duduk mbak," ujar seorang pemuda memberikan kursi plastik miliknya ke arah Via yang setia berdiri di belakang sang anak. Wanita itu menoleh kemudian menggeleng pelan sebagai penolakan. Tak lupa wanita itu tersenyum meski di balik maskernya, namun garis wajahnya yang memang ramah tak tersembunyi oleh penutup mulut tersebut. "Tidak apa-apa mas, saya berdiri saja. Terimakasih sebelumnya," tolak Via tersenyum ramah. Pria tersebut tengah menikmati es buah mana mungkin ia biarkan berdiri. Lagi pula pemuda itu telah lebih dulu duduk di sana sebelum mereka tiba. "Aku tidak masalah berdiri, wanita harus duduk. Silahkan, atau aku akan merasa tak enak hati membiarkan wanita berdiri sementara aku enak-enak duduk tanpa perasaan." Ujar pria tersebut sedikit memaksa. Via terlihat ragu, juga tak enak hati. "Duduk saja bun, om nya sudah ngasih kursi tuh. Makasih banyak ya om, om baik banget." Via tersenyum kikuk, sang anak rupanya tak mengerti arti penolakannya. "Ya sudah, terimakasih banyak ya mas. Saya duduk nih," ujar Via terkekeh kecil. "Silahkan mbak," sahut pria tersebut ikut melontarkan senyum manisnya. "Mbak pasti lupa sama saya?" Ucap pria itu tiba-tiba. Membuat Via yang sedang membuka aplikasi chatnya menoleh. "Maaf, masnya kenal sama saya?" Tanya Via cengo. Pria tersebut terkekeh geli mendengar pertanyaan Via. Mereka bertemu lebih dari tiga kali, dan wanita itu masih belum mengenali wajahnya sama sekali. Sejurus hatinya merasa tak rela jika ia begitu mudah untuk di lupakan. "Saya Andra mbak, yang kerja di minimarket depan komplek perumahan tempat tinggal mbak." Terang pria tersebut yang rupanya si pegawai minimarket. Entah bagaimana bisa Andra berada di sana sembari menikmati es buah yang mangkal tak jauh dari sekolah sang anak. "Ya ampun mas, maaf... saya benar-benar tidak kenal. Berarti mas yang tadi nolongin saya, bukan?" Andra hanya mengangguk kecil membenarkan perkataan Via. "Wah kebetulan sekali kita bertemu di sini. Mas pasti mau jemput anaknya ya?" Tukas Via membuat Andra tersedak. Pria tersebut jelas terkejut mendengar pertanyaan Via, mengingat dirinya masih perjaka ting ting, bagaimana bisa dirinya di sana dalam rangka menjemput seorang anak. "Aduh, mas maaf...ini.." Via memberikan tisu miliknya dari dalam tas. Ia merasa bersalah karena telah membuat pemuda itu tersedak hingga kedua matanya mengeluarkan air. "Its ok, aku baik. Terimakasih tisunya..boleh aku bawa pulang?" "Hah?" Dengan mulut membentuk huruf o, Via berusaha mencerna perkataan Andra. Pria itu tertawa gemas melihat ekspresi Via yang sangat lucu di matanya. Ingin sekali tangan gatalnya menjawil pipi tirus Via saking gemasnya. Sabar hati, masih istri orang. Monolog Andra ambigu. Roman-romannya Andra seperti berniat untuk menjadi seorang pebinor yang terniatkan. "Ini.. tisunya aku bawa pulang. Mbaknya masih ada stok lain 'kan?" Andra mengangkat sebungkus tisu ukuran kecil milik Via. "Oh, saya pikir apa. Silahkan, saya masih punya banyak di rumah." Sahut Via yang baru ngeh. "Wah, kalau begitu aku bisa dong kapan-kapan minta tisu lagi kalau yang ini sudah habis?" Canda Andra dengan mimik wajah serius. Namun Via yang lurus, menanggapinya sebagai sebuah candaan belaka. "Boleh, asal tidak untuk di jual saja. Soalnya stoknya tidak banyak-banyak amat," balas Via tertawa kecil. Dan ya, Andra menanggapi perkataan Via dengan serius di dalam benaknya. Ia bertekad akan makan es buah di sana hingga flu melanda. Maka akan lebih sering ia mendapatkan stok tisu dari wanita itu, sebagai wadah membersihkan hidung melernya. Andra diam-diam tersenyum licik, dengan segala rencana konyol yang ia susun di kepalanya. Senyum devil di sudut bibir Andra terangkat sempurna, kala semua rencananya berjalan mulus. "Ok, siap mbak." Ujar Andra sembari tertawa. Di tempat lain, Aslan tiba-tiba saja merasa rindu pada sang istri pertama. Tanpa sengaja, ia melihat story Wa sang istri tengah nongkrong di penjual es buah kesukaan sang anak. Entah mengapa hati Aslan begitu ingin berjumpa dengan kedua bidadarinya itu. Namun tak mungkin, ia sudah berjanji pada istri sirinya untuk tak mengunjungi Via sebelum mendapatkan ijin dari sang istri simpanan. Lagi pula keduanya hanya tau jika ia kini tengah berada di jakarta. "Ayah kangen sayang. Kangen banget, sama bunda juga Ryu." Lirih pria itu menatap foto yang terpampang di layar monitor komputernya. Karena tak mungkin baginya menyimpan foto anak juga istrinya di album ponsel. Istri barunya pasti tak akan suka dan berujung pada pertengkaran tak berarti. Aslan lelah menghadapi pertengkaran yang nyaris terjadi setiap hari. Kinara selalu mengungkit perkara sang istri yang hingga kini masih menguasai indah seluruh relung hatinya. Pria itu kembali mengirimkan sebuah pesan teks yang lumayan panjang. Sejak kemarin Via tak sama sekali membalas pesannya. Itu membuat hatinya resah. Apakah sang istri telah mencurigai dirinya? berbagai pertanyaan membuat ketenangan hati Aslan terganggu. Beberapa menit menunggu, Via tak kunjung membuka pesannya. Perasaan Aslan kian tak karuan. Namun beberapa detik kemudian, pesannya telah di baca. Hati Aslan bagai Remaja yang sedang jatuh cinta. Senyum pria itu mengembang sempurna. Ia harap kali ini pesannya akan terbalaskan. Namun hingga menit kelima, pesannya tak kunjung di Balas meski telah terbaca oleh sang istri. "Ada apa denganmu sayang? jika kau mengetahui sesuatu tentangku, cecar aku dengan berbagai pertanyaan, hubungi aku, maki aku. Tapi jangan abaikan aku seperti ini. Rasanya sangat menyakitkan, bun." Lirih Aslan mengusap kasar wajahnya. Ia tak memahami sifat dasar sang istri meski telah 10 tahun bersama. Via yang kalem dan penurut, membuatnya tak pernah berpikir untuk menyelami kedalaman hati wanita cantik itu. Kini dirinya sangat menyesal, andai dia sedikit saja peka akan perubahan sikap istrinya, ia akan tau bagaimana cara menghadapinya. Berbeda dengan Kinara, wanita itu akan melakukan pemberontakan atas apa yang membuatnya tak suka. Seperti saat sang sekretaris salah mengirimkan pesan padanya, saat itu juga, Kinara mendatangi kediaman Lusi untuk melabrak wanita malang itu. Meski Lusi sudah menjelaskan, jika ia telah salah mengirimkan pesan namun Kinara sama sekali tak mau menerimanya. Berbeda dengan Via, memeriksa ponselnya pun, wanita itu tak pernah. Kembali pada Via, wanita itu sedang berdebat kecil dengan Andra kala pria itu sedikit memaksa akan mengantar mereka pulang menggunakan motornya. Via wanita yang patuh dan setia, ia tak ingin sedikit kesalahan yang ia buat akan berakibat pada keharmonisan rumah tangganya. "Ikut aja bun, panas loh... Ryu capek nih," Via memejamkan kedua matanya dalam. Bukannya ia kesal pada sang anak, karena Ryu sama sekali tak memahami apapun. Namun dia hanya kesal pada Andra karena terus mengompori sang anak agar Ryu ikut membujuknya. "Ya sudah, sampai di depan gerbang komplek saja ya, kita akan jalan kaki dari sana masuk ke dalam." Nego Via akhirnya. Ryu nampak cemberut, namun Andra melengkungkan senyum penuh kemenangan. Tak masalah, toh dirinya lah yang mengendalikan kemudi motor. "Ayo sayang...di depan ya, biar kena angin sepoi-sepoi." Kata Andra lalu membantu Ryu naik. Via dengan malas naik di jok belakang. "Pegangan mbak, takut terbang." Seloroh Andra mencairkan suasana. Ia tau Via sedang kesal padanya. Tanpa sadar Via berdecak di belakang punggung lebar Andra. Andra menahan tawa geli, ia senang jika Via merajuk padanya. Ia merasa seperti seorang suami yang sedang berseteru ringan dengan istrinya. Sepanjang perjalanan, Ryu tak henti mengomentari apa yang ia lihat. Termasuk sebuah wahana bermain yang tak jauh dari tepi jalan yang mereka lalui. "Ryu suka naik kincir angin om! itu yang mutar-mutar di sana itu..." tunjuk Ryu dengan suara yang sedikit nyaring. Ia berlomba dengan deru angin yang menerpa wajahnya. Andra mengikuti arah telunjuk Ryu, lalu terbersit ide cemerlang di otak liciknya. "Ryu suka ke pasar malam tidak?" tanya Andra yang merasa telah mendapatkan peluang emas untuk lebih dekat dengan kedua wanita cantik itu. "Su..." "Tidak! Ryu gampang masuk angin kalau keluar malam." Sahut Via dari balik punggung Andra. Ryu memanyunkan bibirnya karena kalimatnya di potong oleh sang ibu. Andra terdiam, ia tak memiliki alasan Karena ia tak ingin anak secantik Ryu harus sakit karena egonya. "Baiklah, kapan-kapan kita jalan ke taman bermain yang bukanya siang saja, bagaimana?" tawar Andra memberikan solusi. Ryu bertepuk tangan karena antusias, sedangkan Via lagi-lagi mencebik di jok belakang. Andra tersenyum simpul mendengar suara kicapan kesal yang berasal dari lidah Via. Sedangkan Aslan masih merana, hatinya galau karena di abadikan oleh istrinya sendiri. Terbersit keinginan untuk pulang, namun mengingat Kinara selalu mengancam akan menyakiti bayi mereka, Aslan akhirnya hanya bisa mengesah pasrah dalam rasa rindu yang kian menggebu. Hatinya lelah karena harus berbagi rasa yang tak mudah untuk ia lakukan. Kini sesal sudah sangat terlambat untuk ia sesali, karena dirinya telah jauh terperosok pada semar yang ia buat sendiri. To be continued Bagaimana gaesss, sampai bab ini masih seru tidak. Sayangnya novel ini tak akan tayang panjang-panjang, karena sesuai kisah seorang sahabat yang sedikit author tambah dengan bumbu-bumbu yang halus di dalamnya. Dengan penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN