Bab 5

1670 Kata
Satu bulan telah berlalu, hati Aslan kian merana. Pria itu tak pernah mendapatkan balasan pesan dari sang istri, juga panggilannya tak pernah di gubris sama sekali. Aslan mulai yakin, jika sang istri telah mengetahui perselingkuhannya. "Gelisah amat sih mas? tidak biasanya seperti ini." Tanya Kinara yang baru saja menghabiskan sarapannya. Sedangkan Aslan hanya duduk menatap makanannya tanpa minat. "pekerjaan di kantor semakin menumpuk, beberapa minggu ini aku 'kan lebih banyak di rumah." Sahut Aslan apa adanya. Namun tanpa ia sadari, jika jawabannya telah mematik perseteruan pagi ini. "Jadi maksudmu aku ini sebagai penyebab dari terbengkalainya pekerjaanmu mas?!" sergah Kinara yang tersinggung berat. Aslan lagi-lagi hanya bisa mengesah lelah. Ia salah berucap dan beginilah reaksi yang akan Kinara tunjukkan. "Aku tak bilang seperti itu Kinar, aku hanya mengungkapkan fakta bahwa pekerjaan kantor sedang padat-padatnya karena aku jarang turun. Bukan bermaksud untuk menyalahkanmu, tidak sama sekali." Ungkap Aslan dengan wajah memelas yang terlihat sangat lelah. Ia tak suka memulai hari dengan suasana hati yang kacau, sudah cukup pikirannya memikirkan perubahan sikap sang istri sah. "Terserah! ah ya, jangan lupa transfer jatah bulananku mas, sekalian juga untuk adikku juga orang tuaku." Kinara beranjak dari meja makan menuju pintu dapur. Ia tak pernah benar-benar peduli pada perusahaan suaminya, yang ia butuhkan hanyalah uang Aslan. Dan semua kebutuhannya berikut keluarganya terpenuhi. "Arrgggg!" Aslan mengeram tertahan, ia semakin pusing dengan segala permintaan Kinara yang selalu mengatasnamakan bayi mereka. Sedangkan keuangan perusahaan telah banyak ia pakai untuk kepentingan pribadi. Dan sang ayah telah merongrongnya dengan berbagai pertanyaan, mengenai saham perusahaan yang kian merosot tajam. Terbersit di hati Aslan untuk meminta suntikan dana lagi dari sang ayah, namun masih ada rasa gengsi di hatinya. Perusahaan tersebut juga merupakan hasil dari uang yang di pinjamkan oleh sang mertua, yang meski hingga kini belum ia kembalikan sama sekali. Padahal beberapa tahun terakhir, perusahaannya berkembang cukup pesat. Sang mertuapun tak pernah menuntut pengembalian dana tersebut, bahkan kerap memberikan sang istri uang meskipun tak banyak. "Apa aku gadai saja rumah yang di tempati Via ke Bank?" monolog Aslan berbicara sendiri. Ia benar-benar telah kewalahan menghadapi sikap boros istri sirinya, belum lagi mertuanya kerap meminta uang meski sudah ia jatahkan setiap bulan. "Ia, bukankah rumah itu atas namaku. Pasti tak akan sulit untuk proses penggadaiannya," ucap Aslan lagi tersenyum lega. Ia seperti mendapatkan secercah harapan di kala pikirannya mulai buntu. Teringat beberapa tahun lalu, ia memulai kehidupan bersama Via dari titik paling bawah. Tak adanya restu, membuat Aslan harus bekerja keras bagai kuda. Beruntung di tahun ketiga pernikahannya, sang mertua rela menjual beberapa bidang lokasi yang memiliki nilai jual yang cukup menggiurkan. Semua uang tersebut di berikan padanya sebagai modal usaha. Aslan membangun perusahaan kecil yang bergerak di bidang penyuplaian alat berat. Dan dari sanalah kehidupannya mulai merangkak naik dan seperti saat ini. Namun sayang, di puncak karirnya yang sedang bersinar cerah, Aslan mulai tergoda untuk menyicipi daun muda. Mengikuti circle pertemanan yang tak sehat, Aslan akhirnya goyah juga pada pesona wanita penghibur bernama Kinara. Wanita perantauan dari pulau jawa. Awalnya semua berjalan lancar, namun seiring berjalannya waktu, Kinara mulai berani menghubunginya terlebih dahulu. Aslan mulai resah namun juga tertantang. Hingga hubungan itu berlanjut hingga menghasilkan kehidupan baru. Aslan pun kian terjebak oleh keadaan, tak ada jalan mundur lagi. Aslan melangkah maju meski tak tau akan berakhir kemana hubungan terlarang itu. ################## Berbeda dengan kehidupan Aslan yang mulai kacau oleh keserakahannya sendiri, kehidupan Via pun putrinya nampak tak mengalami perubahan apa-apa. Via bahkan tampak makin cerah saja dengan kehamilannya. Sedangkan sang anak semakin dekat dengan Andra. Apa lagi sejak seminggu ini, Andra bekerja di butik sang ibu sebagai cleaning service. Ryu kian lengket dengan pemuda tampan itu. "Su su nya bu," ucap Andra sambil meletakkan segelas s**u vanilla di atas meja kerja Via. Via menoleh sebentar seraya mengucapkan terimakasih lalu kembali fokus pada desain gaun yang sedang ia kerjakan. "Di minum dulu, nanti dingin tidak enak lagi." Lagi, Via hanya menoleh, ia mulai terbiasa dengan perhatian kecil Andra terhadapnya. Bukan hanya dirinya, Andra pun begitu perhatian pada sang anak. Andra menawarkan diri sebagai ojek pribadi Ryu, dan tentu saja membuat gadis kecil itu kegirangan. Via pun tak dapat menolaknya karena Ryu bahkan sampai merajuk padanya, karena ia sempat menolak ide tersebut. "Ya.. sebentar lagi, ini masih tanggung." Balas Via yang masih fokus pada sketsanya. Andra hanya bisa menggeleng pasrah, ia tak bisa memaksa terlalu berlebihan meski ia ingin. Via bukan istrinya namun jauh di dalam hati Andra, ia sangat berharap wanita itu segera menjadi seorang janda. Sungguh harapan yang teramat sangat laknat. Mau bagaimana lagi, hatinya kadung cinta mati pada wanita hamil itu. "Ya sudah, jangan sampai lupa di minum. Aku keluar dulu," Andra akhirnya mengalah, ia sering mendapati Via melupakan su su nya dan berakhir di saluran pembuangan wastafel. Via mengangguk seraya tersenyum simpul. Hatinya selalu menghangat kala mendapati perhatian Andra. Lagi, Via menggeleng samar. Mungkin hanya perasaan seorang kakak terhadap adiknya. Karena ia sudah menganggap Andra seperti adiknya sendiri. Jarak lima tahun usia mereka cukup membuat logika Via bekerja dengan cermat. Ia yang hanya seorang anak tunggal, sangat senang dengan kehadiran Andra yang dia anggap sebagai adik baginya. Tok tok tok Seorang wanita muda masuk dengan beberapa lembar jas di tangannya. "Jasnya sudah selesai bu, siap kemas. Apakah pengantaran hari ini menggunakan jasa kurir seperti biasa? bukan apa-apa, Andra mengatakan dirinya siap untuk mengantar pesanan jika memang tak masalah jika ia merangkap pekerjaan." Tutur Vera menatap sang atasan. Via terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menghubungi seseorang melalui telepon kantor. Berselang beberapa menit, Via akhirnya menyerahkan pengiriman jas tersebut pada Andra. Itu karena kurir yang biasa mereka gunakan jasanya, hari ini sedang libur. "Jangan sampai salah alamat ya Ndra, bisa berabe. Jas premium ini, gaji kita berdua di gabungkan selama tiga bulan pun tak akan sanggup untuk menggantinya." Tukas Vera mewanti-wanti. Ia khawatir Andra salah alamat, berikut cemas Andra akan merusak paket tersebut karena memang tidak di lipat. Hanya di masukan ke dalam plastik khusus. "Ck, aman lah. Tidak percayaan amat sih," gerutu Andra berdecak. Vera tak menggubris, ia lebih care pada keselamatan jas-jas tersebut. "Ini kunci mobilnya, dan sekalian kau isi bahan bakarnya. Ini uangnya, kalau kurang tolong talangi dulu." Ucap Vera enteng. Wanita itu menyerahkan kunci mobil berikut uang untuk mengisi bahan bakar mobil. "Dasar tukang memanfaatkan situasi," dumel Andra menatap kesal ke arah Vera yang hanya memperlihatkan cengiran tanpa dosa. "Dah.. berangkat gih, ini jas udah di tungguin sama pemiliknya. Mau di pakai segera katanya," usir Vera mendorong pelan bahu Andra menuju pintu keluar. "Titip ibu bos ya..." ucap Andra sebelum menghilang di balik pintu kaca butik. Vera hanya bisa menggeleng samar. Ia tau Andra memiliki maksud tertentu dengan melamar pekerjaan di butik itu. Itu jelas terlihat dari sering Andra memprioritaskan sang bos juga anaknya ketimbang pekerjaannya sendiri. Namun Andra tak pernah lalai dalam mengerjakan pekerjaannya. Terbukti seluruh lantai butik tersebut selalu nampak bersih dan ruangannya pun selalu tertata rapi. "Dasar bocah.. jatuh cinta kok sama istri orang yang usianya bahkan jauh lebih tua darinya." Gumam Vera tersenyum kecil. "Siapa yang jatuh cinta sama istri orang Ver?" suara Via membuat jantung Vera bagai kesetrum. "Ya ampun bu... hampir saja jantung saya loncat dari tempatnya." Ujar Vera mengusap da da nya kaget. Via terkekeh kecil, melihat sang karyawan yang nampak pias menatapnya. "Jadi? siapa tadi?" ulang Via penasaran. "Ah itu...ada, teman aku bu. Dia jatuh cinta sama istri tetangganya sendiri, seperti tidak ada wanita singel saja." Jawab Vera mengarang bebas. Via hanya mengangguk saja. Ia tak berniat untuk bertanya lebih lanjut, hanya sekedar iseng menjahili karyawannya ini. "Ibu mau Kemana?" tanya Vera yang melihat sang atasan terlihat bersiap untuk keluar. "Jemput Ryu ke sekolah," sahut Via yang sibuk membalas chat ojek online yang ia pesan. "Bukannya biasa di jemput sama Andra ya bu?" tanya Vera heran. "Kurang minum apa kurang gaji nih?" canda Via terkekeh jahil. "Andra 'kan antar barang," lanjut Via membuat Vera menepuk jidatnya sendiri. Wanita muda itu cengengesan karena ia lupa jika Andra sedang ada tugas lain. "Ya sudah bu, hati-hati di jalan." Tukas Vera sebelum Via pamit pergi. Sedangkan Andra sedikit kesulitan untuk menemukan alamat rumah yang ia tuju, karena sang pemilik nomor ponsel tak kunjung mengangkat panggilannya. "Ini rumahnya yang mana sih? sama semua modelnya, tidak kreatif banget kontraktornya." Omel Andra yang sudah dua kali memutar perumahan tersebut. Drrrtt drrrtt drrrtt Dengan cepat Andra mengangkat panggilan tersebut. "Ini siapa? kenapa terus menghubungi istri saya sejak tadi?" pertanyaan dengan nada tinggi tersebut membuat Andra mengernyit heran. "Saya kurir dari butik yang akan mengantarkan pesanan jas pak. Maaf jika panggilan saya membuat kisruh dalam rumah tangga bapak. Lebih baik bapak arahkan saya menuju alamat rumah bapak agar saya tak lagi menghubungi istri bapak." Sarkas Andra menahan dongkol. Terdengar suara dengusan kasar di seberang telepon. Andra akhirnya tiba di alamat tujuan, setelah di arahkan oleh si pria galak tadi. "Bukankah itu wanita yang tempo hari?" gumam Andra menelisik. Untung saja ia menggunakan masker juga topi. "Maaf pak...saya hanya ingin mengantarkan paket, bukan bermaksud untuk menggoda istri bapak. Saya juga akan segera menikah dalam waktu dekat, setelah wanita yang saya incar menjadi seorang janda." Lanjut Andra dalam hatinya. Seorang wanita hamil berjalan Menuju ke arah mereka, Andra semakin yakin wanita itu adalah wanita yang sama. "Tiga 'kan mas?" tanyanya memastikan. Andra mengangguk tanpa berkata. Andra menatap si wanita juga suami wanita itu bergantian. Ia seperti pernah melihat pria itu namun entah di mana. "Saya sudah membayar di muka, jadi barangnya langsung di tinggal saja." Tandas wanita itu pada Andra. Lagi, Andra hanya mengangguk lalu pamit pergi. Namun saat di dalam mobil, Andra dengan iseng memotret pria itu berikut istrinya. Ia masih penasaran, karena si pria begitu familiar dengan seseorang yang pernah ia lihat entah di mana. "Semoga saja benar..maka akan lebih mudah untuk menjemput hilalku." Gumam Andra tersenyum senang. Entah siapa yang Andra maksud, namun sepertinya tampak menguntungkan bagi dirinya. To be continued Say hi untuk Via, Andra dan si cantik Ryu. Bab selanjutnya kita akan menjemput konflik meski masih seringan kapas. Tetap stay dan jangan lupa berikan dukungan kalian. Dengan penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN