Aslan lagi-lagi terjebak dalam situasi yang kian rumit. Kedua orang tuanya mengabarkan akan berkunjung dan celakanya kedua paruh baya tersebut sudah dalam perjalanan menuju kediaman mereka.
"Dengerin aku ya mas...aku tetap tidak mengijinkanmu pergi meski kedua orang tuamu datang. Bukankah itu bagus, mereka harus tau jika aku juga menantu mereka. Bawa saja mereka kemari, aku akan dengan senang hati menyambut kedua mertuaku." Tekan Kinara tak rela jika Aslan kembali ke rumah istri sahnya.
Aslan menyugar rambutnya frustasi. Sikap keras kepala Kinara kerap membuatnya kewalahan.
"Tidak bisa seperti itu Kinara, kau belum mengenal siapa orang tuaku. Terutama papa..papa ada pria yang intoleran terhadap perselingkuhan dengan dalih apapun. Bisa-bisa kita akan di pisahkan saat itu juga jika sampai papa mengetahuinya." Ujar Aslan berusaha untuk memberikan pengertian terhadap istrinya.
"Aku tidak mau tau mas! mas bawa mereka kemari atau aku yang akan ikut mas pulang ke rumah istri mas." Ancam Kinara ngotot. Wanita itu berbicara dengan nada tinggi tanpa peduli jika ia tengah mengandung.
"Astaga, Kinara!" desis Aslan semakin tertekan. Pria itu sampai terduduk lemas di lantai saking stressnya menghadapi sikap keras kepala wanita hamil itu.
"Ini koper aku sudah siap," Kinara tiba-tiba datang dengan menyeret sebuah koper besar berisi pakaian miliknya. Kedua netra Aslan membola sempurna.
"Apa kau sudah gila! ini sama saja bunuh diri Kinara, cobalah untuk berpikir dewasa sejenak. Hubungan kita tak seperti pernikahan kebanyakan, di mana hubungan ini adalah hubungan terlarang. Ya Tuhan!" Aslan benar-benar kewalahan menghadapi sikap keras Kinara yang tak ada obatnya.
"Terserah! kalau mas tetap pergi, aku akan ikut. Kecuali jika mas mau aku membunuh anak ini..jadi, silahkan mas pikirkan dengan bijak." Lagi, kalimat Kinara membuat hati Aslan kian di rundung dilema.
"Tidak bisakah kau tidak egois sekali saja? aku lelah Kinara, perusahaanku sudah di ambang kebangkrutan. Aku butuh keluargaku, aku butuh di pandang sebagai anak yang membanggakan. Bukan malah sebaliknya..." kali ini nada suara Aslan terdengar garau.
Terbiasa menghadapi Via yang penurut dan lembut, membuat Aslan tak mengerti cara mengatasi sikap keras seorang wanita.
"Itu urusanmu mas, aku tidak mau tau. Jika perusahaanmu bangkrut, kita bisa meminta untuk tinggal satu rumah dengan istrimu itu. Toh rumah itu sangat besar juga mewah, dasar istrimu saja yang serakah ingin menguasai rumah itu sendirian." Kinara malah balik menimpakan semua keburukan pada Via yang tak tau apa-apa.
Aslan semakin pusing di buatnya.
"Via tak tau aku ada di kota ini dan menikahi wanita lain tanpa sepengetahuannya. Jadi Via tak ada salah apapun jika kita terpaksa tinggal di rumah sederhana ini. Ini kemauan kita Kinara. Kita yang berbuat maka kita harus menanggung konsekuensinya sendiri." Tekan Aslan tegas.
Pria itu mulai tak sabar menghadapi sikap monopoli istri keduanya. Ia sudah cukup tertekan dengan segala permintaan Kinara serta keluarganya yang tak ada habisnya. Hingga berbuntut pada kemerosotan keuangan perusahaannya. Sedangkan sudah dua bulan ini, ia tak pernah mengirimkan sepeserpun nafkah untuk istri sahnya. Karena semua kartu miliknya di kuasai oleh Kinara sepenuhnya.
Belum lagi tagihan kartu kredit yang membengkak, Aslan hampir gila memikirkannya.
"Dengar mas, aku ini istrimu juga. Jadi aku punya hak yang sama atas semua aset yang kau miliki. Termasuk perusahaan, juga rumah yang di tempati oleh istrimu itu." Oh para dewa, bolehkah Aslan menenggelamkan kepala bebal istrinya ke dalam lumpur hisap?
Pria itu bagai buah simalakama. Hasrat ingin memiliki anak laki-laki agar kelak bisa menjadi pewaris dalam keluarganya. Namun malah berujung masalah yang tak ada habisnya.
"Baik! baiklah! tapi jangan sekali-kali membuat masalah di sana. Atau kita tak akan bisa tinggal di sana dengan tenang." Akhirnya Aslan mengalah. Percuma berdebat dengan Kinara, karena wanita itu memiliki watak yang tak bisa di ajak untuk berkompromi.
Kinara tersenyum penuh kemenangan, wanita itu bergelayut manja di lengan kekar suaminya.
"Makasih sayang..aku janji akan menjadi istri yang baik juga ibu yang baik untuk Ryu." Janji Kinara dengan senyum yang terus mengembang. Aslan menatap netra sang istri dengan berbagai perasaan berkecamuk.
Namun senyumnya mengembang kala mendengar janji Kinara yang akan menjadi ibu yang baik bagi putri kesayangannya. Ia yakin Via pasti akan menerima Kinara sebagai madunya. Dirinya hanya perlu bersikap adil. Begitulah pikir Aslan berharap.
##################
"Suamimu kok belum pulang? apa kau sengaja tak mengabari Aslan tentang kedatangan kami? pantas saja Aslan selama ini jarang berkunjung ke Jakarta, rupanya istrinya sendiri yang mempersulit." Tukas mama Lita menatap jengah ke arah menantunya.
Sejal dahulu, mama Lita memang tak terlalu menyukai Via yang hanyalah anak seorang petani. Di tambah lagi Via melahirkan seorang anak perempuan, kian bertambahlah rasa tidak suka mama Lita terhadap Via.
"Mah! bisa sabar tidak? Via sudah mengatakan jika Aslan sedang dalam perjalanan. Bisa saja di jalan sedikit terjebak macet, mama lupa ketika kita dalam perjalanan tadi kendaraan sedang padat-padatnya." Tegur Sam menatap tak suka akan sikap istrinya.
Mama Lita mencebik lalu melirik jengkel ke arah Via yang setia menunduk sembari meremat jari-jarinya.
"Bagaimana kabarmu juga Ryu nak? maaf papa jarang menghubungi kalian. Belakangan perusahaan sedang butuh fokus yang cukup." Sam berusaha mencairkan suasana tegang tersebut.
Pria itu tak pernah mempermasalahkan status sosial menantunya. Ia bahkan menyayangi Via sama seperti ia menyayangi kedua putrinya.
"Kabar kami baik pa, Ryu juga semakin pintar dan dewasa." Sahut Via mengangkat wajahnya. Dapat ia lihat senyum teduh nan tulus ayah mertuanya, Via tersenyum hangat.
"Papa senang mendengarnya, lalu kenapa Ryu belum pulang sekolah? apa ada kelas tambahan?" gluk
Via merasa kerongkongannya mengering seketika. Ia tak tau akan kedatangan mertuanya, hingga ia membiarkan Ryu jalan-jalan bersama Andra untuk membeli perlengkapan kemping.
"Ryu ada les tambahan pa, mungkin akan pulang sedikit sore. Maaf, Via tidak tau kalau papa dan mama akan datang. Jadi.."
Kalimat Via terpotong begitu saja, kala mulut pedas mama Lita kembali bergema.
"Kau pasti sengaja agar Ryu tak perlu menyambut kedatangan kami. Kau pasti telah menghasut anakmu itu 'kan? dasar menantu tidak benar, suami kerja malah asyik-asyikan keluyuran." Ketus mama Lita membuat hati Via kian tergores.
Ia memang tak mengetahui perihal kedatangan kedua mertuanya.. tu sebabnya ia memutuskan untuk bekerja meski di hari libur. Ia kesepian, Ryu pergi bersama Andra dan ia tak ingin selalu terlibat bersama pria itu. Hingga akhirnya Via memilih untuk ke butik.
Dan mertuanya tak mengetahui perihal butik milik Via, begitupun sang suami. Butik tersebut adalah hadiah dari kedua orang tuanya. Hasil penjualan lahan di kampung halamannya, selain yang di berikan untuk modal usaha sang suami. Kedua orang tuanya pun membeli ruko tersebut dan memodalinya untuk berbisnis apa saja. Dan akhirnya Via memilih membuka toko baju kecil-kecilan, dan berjalan lancar hingga menjadi butik yang cukup terkenal di kota itu.
"Bisa tidak jangan membuat suasana seperti di neraka? kalau mama masih tak bisa menjaga sikap, lebih baik mama menginap di hotel saja. Papa lelah, butuh ketenangan." Sarkas Sam mulai jengah.
Pria itu sudah mewanti-wanti agar sang istri tak membuat ulah, namun mama Lita sama sekali tak mengindahkannya.
"Mama..papa..!" sapa seorang pria yang sudah hampir dua bulan tak pernah Via jumpai. Ekspresi datar Via memancing kecurigaan Sam.
"Maaf, Aslan terjebak macet di jalan." Pria itu menghampiri ke-dua orang tuanya. Pelukan hangat penuh kerinduan di berikan oleh mama Lita kepada putra semata wayangnya.
"Mama sangat merindukanmu sayang, kenapa kau tak pernah mengunjungi mama hmmm? apa istrimu melarangmu untuk mengunjungi orang tuamu sendiri?" tuduh mama Lita membuat Aslan meringis. Apalagi kala ia menangkap ekspresi dingin sang istri yang tak pernah ia lihat selama ini.
"Bukan seperti itu ma.. perusahaan sedang dalam masa kritis, jadi aku terlalu fokus mengurusnya. Bukan karena Via, istriku bahkan sering mengajak ke Jakarta mengunjungi mama dan papa." Sanggah Aslan memberikan pembelaan pada sang istri.
Dan memang Via tak pernah melarangnya, namun dirinya lah yang sedang menciptakan ulah.
"Sudah..sudah..duduklah nak, kenapa kau terus berdiri." Tegur Sam melerai suasana yang mulai kembali memanas. "Peluk papa juga, " pinta Sam merenggangkan kedua tangannya yang langsung di sambut oleh sang anak.
"Maafkan Aslan tak bisa menjemput mama dan papa di bandara," sesal pria itu.
"Tak apa, kami bukan lansia yang bergantung pada anak-anaknya." Canda Sam terkekeh.
"Sayang..." Aslan menatap sang istri penuh kerinduan, namun tatapan acuh Via membuat nyalinya menciut.
"Maaasss! gimana sih, katanya sebentar saja. Aku kepanasan loh di luar nungguin mas," tatapan semua orang tertuju pada satu objek yang cukup menyita perhatian tersebut.
Kedua lutut Aslan serasa lemas tak bertulang. Pria itu menyeka keringat dingin yang mulai mengalir di keningnya dengan panik.
"Maaf, anda siapa?" pertanyaan Sam kian membuat Aslan tak berdaya. Pria itu menatap sang istri dengan tatapan tak terbaca, sedangkan Via memilih bungkam seribu bahasa.
Ia ingin melihat bagaimana suaminya mengatasi masalah yang ia ciptakan sendiri.
"Siapa kau? kenapa main masuk ke rumah orang lain tanpa sopan santun?" cecar mama Lita kesal, karena Kinara tak kunjung menjawab pertanyaan suaminya
"Maaf pa, ma.. kenalkan aku Kinara. Aku adalah istri kedua Aslan, dan rumah ini juga rumahku.. Mengingat aku juga istrinya, artinya aku punya hak yang sama seperti mbak Via." Tukas Kinara lugas tanpa rasa takut dsn malu sedikitpun.
Aslan memejamkan kedua matanya menahan ketakutan. Sam menatap tajam ke arah putranya yang masih setia menutup kedua matanya.
Sementara mama Lita berusaha untuk mencerna kalimat yang baru saja di sampaikan oleh wanita asing tersebut.
"Jadi kau membiarkan suamimu menikah lagi dengan wanita lain? dasar wanita gila!" Hardik mamam Lita tiba-tiba. Via tersentak namun sedetik kemudian wanita itu tersenyum miring.
"Aku bahkan tak mengetahui jika suamiku telah menikah lagi. Mungkin mama bisa bertanya secara langsung, pada putra kebanggaan mama ini. Aku pun ingin mendengar jawabannya, dan aku harap mendapatkan sebuah jawaban yang bisa diterima oleh akal sehatku." Balas Via tegas.
Aslan tercengang, Via yang ia lihat saat ini, seperti bukan Via istrinya. Tak pernah Via berucap dengan begitu lantang terhadap ibunya. Terlebih Via selalu takut bila berhadapan dengan sang ibu.
"Jelaskan Aslan! papa pun ingin mendengarnya secara langsung," suara berat Sam menguar bagai ledakan bom waktu di telinga Aslan. Pria itu melangkah dengan lemah ke arah sang istri.
Tatapan sendu Aslan berikan agar sang istri menyelamatkan ia dari situasi saat ini, namun Via menatapnya dengan tatapan datar.
"Maafkan aku sayang...aku tak berniat untuk mengkhianatimu. Ini semua kesalahanku sejak awal..aku tak pernah bermaksud untuk menyakitimu."
"Tapi kenyataannya kau menyakitiku, mengkhianati juga menghancurkan segalanya tanpa sisa." Potong Via cepat. "Kenapa?" suara lirih Via terasa menusuk hingga ke tulang belakang Aslan.
Ia tau Via hanya berusaha terlihat tegar di hadapannya. Namun sebenarnya hati wanita itu hancur lebur tak berbentuk lagi.
"Karena mas Aslan menginginkan anak laki-laki, dan aku telah memberikannya. Kami sedang menantikan kelahiran anak laki-laki pertama kami, aku harap mbak Via menerimaku dengan tangan terbuka. Karena mulai hari ini, aku akan tinggal di sini." Sahut Kinara tanpa di minta.
Wanita itu dengan lugas mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah itu dan alasan kenapa Aslan berpaling.
Via terkekeh getir, kini luka itu kian menganga tanpa bisa ia obati lagi.
"Kalau begitu silahkan...aku yang akan mengalah. Aku tak sanggup berbagi suami dengan wanita lain, terlebih wanita tak tau malu yang tiba-tiba datang dan berbicara tentang hak yang tak seharusnya." Ucap Via menekan sesak yang menekan da da nya.
Sam menatap pilu sang menantu. Hatinya pun sakit mengetahui pengkhianatan yang di lakukan oleh putranya.
"Papa tak pernah mengajarimu untuk menjadi pria breng sek, Aslan! bahkan saat mamamu tak kunjung mengandung setelah pernikahan kami, papa dengan sabar menunggu keajaiban itu datang." Tukas Sam dengan nada kecewa.
Aslan tak mampu berkata-kata, kalimat sang ayah terasa menghujam jantungnya.
"Jadi benar kau sedang mengandung anak laki-laki?" suara mama Lita tiba-tiba menyela situasi tegang terus. Kinara tersenyum puas melihat binar kebahagiaan yang tak tersembunyikan dari wajah mama Lita. Ia yakin akan di pertahankan sebagai menantu kesayangan.
"Benar ma, kami sudah beberapa kali melakukan USG. Hasilnya tetap sama," sahut Kinara penuh kemenangan.
Mama Lita melangkah menghampiri Kinara dengan senyum lebar.
"Duduklah, wanita hamil besar tak baik berdiri terlalu lama. Maaf, mama tak tau jika kau juga istrinya Aslan. Selamat datang di rumah suamimu, kau punya hak untuk tinggal di sini sama seperti Via." Ujar mama Lita membuat hati Kinara berbunga-bunga.
"Ma! jangan keterlaluan, ini rumah Via. Mama tak ada hak untuk meminta siapapun tinggal di sini tanpa persetujuan menantu kita." Sergah Sam tak suka.
"Kinara juga menantu kita dan sedang hamil calon pewaris keluarga Kartawijaya. Jadi Kinara jauh lebih berhak untuk tinggal di sini," balas mama Lita sengit.
"Astaga ma! apa mama waras?" ucap Sam menatap frustasi.
"Tak apa, silahkan. Seperti yang aku katakan tadi, aku yang akan mengalah. Aku tak sanggup berbagi, jadi akulah yang akan pergi." Tukas Via menyela. Aslan menatap tak percaya pada istrinya.
Ia pikir Via akan menurunkan ego demi bertahan bersamanya.
"Jangan egois Via! ini juga kesalahanmu yang tak bisa memberikan anak laki-laki untuk Aslan." Ujar mama Lita marah akan sikap Via yang ia anggap kurang ajar.
"Aku sadar diri ma, untuk itu aku memilih melepaskan Aslan. Jika kehadiranku dan Ryu bukan lagi sebuah kebahagiaan, maka kami akan pergi dan belajar merelakan." Selesai dengan kalimat yang menggetarkan jiwa Aslan, Via menaiki anak tangga menuju lantai atas.
Sam menatap punggung kecil sang menantu dengan hati perih.
"Andai dahulu aku pun turut melakukan hal yang sama seperti yang Aslan lakukan. Mungkin saat ini anak ba ji ngan ini tak akan pernah terlahir ke dunia dan mencoreng arang di wajahku." Pungkas Sam penuh kekecewaan. Pria itu meninggalkan ruang keluarga menyusul sang menantu ke lantai atas.
Sementara Aslan masih mematung, ia tak percaya Via lebih memilih melepaskannya begitu saja.
To be continued
Maaf atas update yang terlambat.
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana