Bab 7

1600 Kata
Tok tok tok Ketukan halus di depan pintu kamarnya membuat Via menoleh. Wanita itu tersenyum hangat kala melihat siapa yang telah mengetuk pintu kamarnya. "Masuklah pa.." ujar Via mempersilahkan sang mertua untuk masuk. Sedangkan dirinya tengah mengemasi beberapa barang miliknya yang memang tidaklah banyak. Selama menikah, Via sangat jarang membeli pakaian baru. Ia hanya fokus memperhatikan penampilan sang suami juga putri sulungnya. Namun jangan salah, penampilan Via pun tak seburuk penampilan ibu rumah tangga yang tak pandai merawat diri. Sebagai seorang perancang busana, Via sangat pandai memadu padankan pakaian lamanya hingga menciptakan style yang menarik untuk di pandang mata. "Kau benar-benar akan pergi nak? kenapa kau yang harus pergi? papa tak rela nak," lirih Sam menatap sendu sang menantu. "Aku tak sanggup berbagi pa.. bukankah aku ini wanita yang serakah?" Via terkekeh kecil. Ada luka yang tengah ia tahan agar tak berdarah dihatinya. "Tinggallah, papa akan menyelesaikan masalah ini dengan cara yang benar. Papa tak ingin kehilangan menantu sebaik dan setulus dirimu. Papa mohon Via..papa tau ini adalah permintaan yang paling egois. Memintamu bertahan dalam kubangan luka yang jelas terlihat nyata, tapi papa sungguh tak ingin kau pergi dari kehidupan Aslan. Akan itu hanya sedang salah memilih jalan, mari kita sama-sama menariknya kembali ke jalan yang seharusnya." Pinta Sam penuh permohonan. Via menghentikan aktivitasnya, lalu membalas tatapan sendu ayah mertuanya. Wanita itu meraih tangan yang 10 tahun lalu telah memberinya restu. "Via akan tetap menjadi anak papa, sampai kapanpun selama papa tak keberatan. Jika papa meminta Via untuk bertahan sebagai istri Aslan, mohon maafkan Via pa. Via Tak bisa..luka yang di torehkan anak papa itu sudah teramat dalam. Sampai-sampai Via tak tau harus mulai mengobatinya dari sudut mana. Terlalu dalam dan menyakitkan.. Via tak sanggup pa.." setetes bening mengalir tanpa permisi, Via tak berusaha untuk menahannya lagi. Ia butuh seseorang untuk menjadi saksi dari luka hatinya, dan kebetulan orang yang paling tepat di waktu yang tepat pula. Sang ayah mertua. "Menangislah nak, papa akan menjadi tempatmu bersandar jika Aslan sudah tak mampu untuk menjadi pundak kokoh bagimu." Tangis Via semakin menjadi, diam-diam di balik pintu, Aslan menitikkan air matanya. Sesakit ini rasanya melihat sang istri berada di titik paling rapuh. Dan yang paling menyakitkan, ia tak mampu menjadi tempat bersandar bagi sang istri. Bahkan ia lah penyebab luka itu ada, karena dirinya air mata itu mengalir bagai anak sungai. "Jika memang perpisahan adalah jalan akhir untuk kebaikan kita bersama, aku ikhlas melepaskanmu sayang." Lirih Aslan sembari mengusap kedua pipinya yang basah oleh air mata. Pria itu akhirnya memilih turun untuk menemui istri juga ibunya yang tengah asyik mengobrol, tanpa peduli pada perasaan wanita lain yang tengah tersakiti sangat parah di rumah itu. "Papa akan mengantarmu nak, papa mohon.. jangan tolak pria tua tak berguna ini." Mohon Sam mengiba. Sebuah keputusan yang berat baginya melepaskan Via dari lingkaran keluarganya. Namun terus menyaksikan wanita baik itu tersakiti, Sam pun tak sanggup. "Tidak perlu pa, mama akan semakin membenciku. Aku akan menghubungi papa ketika aku sudah tiba di tempat tujuanku. Kami tak akan melupakan papa, terutama Ryu yang selalu ingin berjumpa dengan kakeknya." Sam mengesah dalam ketidakberdayaan. Dirinya bahkan masih merindukan cucunya, namun bertemu pun belum, takdir telah berhasil merenggut kerinduan tersebut hingga mengoyak hatinya. "Baiklah, dan ini..tak seberapa memang, tapi papa harap cukup untukmu mencari rumah kontrakan. Papa akan mengirimkan uang padamu sebagai tanggung jawab papa terhadap cucu papa. Tolong jangan tolak lagi, atau papa akan semakin sedih." Via mengangguk saja. Dengan satu koper ukuran sedang dan dua tas jinjing yang berisi pakaian milik putrinya, Via memantapkan hati untuk meninggalkan kediaman mewah tersebut. Yang padahal jika di tilik ulang, rumah itu di beli oleh kedua orang tuanya. Namun sayang, kala itu kepercayaan kedua orangtuanya begitu besar terhadap Aslan. Sehingga saat pembelian rumah tersebut, mereka mempercayakan semuanya pada pria breng sek itu. Via tau, jika kedua orangtuanya tak ingin membuat Aslan merasa tak berharga sebagai seorang suami, oleh sebab itu ia meminta agar sertifikat rumah itu di atasnamakan nama suaminya. Namun kini, Via keluar dari rumah miliknya bagai orang asing yang menumpang. Wanita itu tersenyum miris, kala matanya menangkap sebuah pemandangan yang tak pernah ia dapatkan. Bagaimana antusiasnya mama Lita memperlakukan Kinara bak seorang ratu. "Kelak sesal akan menjemput ibu mertuamu yang bodoh itu nak. Jangan khawatir, percayalah pada lingkaran takdir. Karma tak pernah salah menuju tempat tujuannya," ucap Sam yang rupanya ikut menghentikan langkahnya di belakang tubuh kecil Via. Via menoleh dengan senyum pedih yang mengembang sempurna, wanita itu kembali melanjutkan langkah menuruni anak tangga. Aslan beranjak namun cekalan tangan Kinara membuat Aslan tak berkutik. Pria itu hanya bisa menatap sang istri dengan tatapan mata berkaca-kaca. Saat mengkhianati Via, ada setitik rasa bersalah di hatinya, namun kini saat melihat wanita itu memilih pergi dan melepaskannya. Hati Aslan merasa sesak luar biasa. Ia tak pernah berpikir hingga sejauh saat ini, ia pikir Via yang penurut akan mengalah dan menerima Kinara dengan tangan terbuka. Namun Aslan salah, ia lupa jika Via hanyalah manusia biasa. Wanita yang memiliki hati selembut sutra, namun ketika hati itu ia goreskan luka, maka tetap meninggalkan perih yang menyakitkan. Kini ia mulai yakin, jika Via telah mengetahui perselingkuhannya sejak semua pesannya tak lagi terbalaskan, juga Panggilannya yang mulai di abaikan. Rupanya sudah selama itu sang istri menahan rasa sakit akibat perbuatannya. Namun Via tetaplah wanita terhormat yang memilih bungkam dan menunggu waktu yang tepat untuk memberinya sedikit kejutan. "Jika kau sudah melangkah keluar dari rumah ini, maka jangan berharap kau akan di terima kembali. Semua adalah keputusanmu, bukan putraku yang mengusirmu pergi." Suara mama Lita menghentikan langkah Via yang kini hanya tinggal selangkah lagi melewati gawang pintu. Via menoleh dengan senyum tegar yang ia miliki. "Tentu saja ma..aku bukan wanita yang plin plan dan serakah. Ketika aku memilih untuk pergi, maka aku tak akan pernah kembali meski hanya sekedar menoleh. Silahkan daur ulang sampah yang telah aku buang, aku harap sampahku lebih berguna untukmu. Karena di tanganku, sampah itu sama sekali tak memberikanku manfaat apapun." Tukas Via kemudian melontarkan senyum terbaiknya. Rupanya selega ini rasanya, saat kita mampu membalas perbuatan seseorang hanya dengan melempari kata-kata mutiara yang serasa mengoyak seluruh jiwa. Aslan, Pria itu tercekat kala mendengar kalimat pedas yang baru saja di lontarkan oleh Via. Aslan tak pernah menyangka, luka yang ia torehkan mampu merubah seorang Via yang lemah lembut, menjadi begitu berbahaya saat mulutnya mulai berucap kata. "Dasar wanita tidak tau di untung, kau pikir kau siapa tanpa putraku hah?!" rupanya kalimat Via membuat harga diri sang mertua terluka. "Aku bukan siapa-siapa ma, aku hanya seorang Nurvia Abe wanita miskin dari desa terpencil. Dan aku berterima kasih atas kemurahan hati putra mama karena telah memungut wanita sederhana sepertiku. Terimakasih pula atas tumpangan di rumah mewah ini, sungguh aku tak akan melupakan semua kebaikan yang telah Aslan berikan kepadaku selama ini." Via menekan setiap kalimatnya sambil menatap Aslan dengan tatapan tanpa ekspresi. Sakit hati yang ia rasakan, rupanya telah mengikis habis rasa yang ia miliki untuk pria itu hingga tak bersisa. Sedangkan Aslan merasa tertohok oleh kalimat sang istri. Ia tau jika Via tengah menyindirnya habis-habisan. Perkataan Via serasa menguliti harga dirinya sebagai seorang suami, yang selama ini hidup dari bantuan kedua mertuanya tanpa di ketahui oleh keluarga besarnya. "Cih! baguslah kalau kau sadar.. Sekarang pergilah, dan jangan jadikan anakmu sebagai alasan untuk memeras putraku. Kau membawanya, artinya Ryu adalah tanggung jawabmu sepenuhnya. Aslan akan memiliki anak sendiri, dan jangan sekali-kali membebani putranya dengan dalih kebutuhan Ryu." Sam menggeleng dengan senyum perih. "Aku tak pernah menyangka, jika wanita sederhana yang aku nikahi tak lebih dari setengah iblis dalam rupa manusia." Tukas Sam kemudian berjalan menghampiri Via kemudian meraih koper sang menatap. "Ayo kita pergi nak..papa akan mengantarmu." Ujar pria itu lembut. Via tak lagi menolak, hatinya tersentuh dalam kala mendapati pembelaan yang terus di lontarkan oleh sang ayah mertua terhadapnya. "Papamu benar-benar tidak waras. Wanita yang tak mampu memberikan seorang pewaris, malah ia bela mati-matian." Sungut mama Lita kesal. Sang suami lebih memilih membela Via ketimbang memperlihatkan keramahan terhadap Kinara, yang akan memberikan mereka seorang cucu laki-laki. Aslan tak mampu berkata-kata, pria itu masih enggan mengeluarkan sepatah katapun untuk menanggapi celotehan sang ibu. Hatinya mendadak hampa, ada yang hilang seiring langkah Via menjauh meninggalkan kediaman mereka. Kenapa Via? kenapa hatiku malah sesakit ini melihatmu pergi tanpa setetespun air mata? apakah sebegitu dalam luka yang aku torehkan? sampai-sampai menatapkupun tak ada lagi kehangatan yang terpancar dikedua mata teduhmu. Aslan menatap setiap sudut rumah yang begitu rapi dan bersih. Via sangat pandai berbenah, hampir setiap hari Via membersihkan setiap sudut ruangan di waktu senggang. Aslan tersenyum simpul, ada kerinduan yang menelusup ke dalam benaknya hingga menekan kalbunya. Mungkinkah kini ia mulai merasakan sesuatu yang di sebut dengan, belenggu sesal? Aslan harap rasanya tak semenyakitkan ketika ia melukai hati tulus istrinya. Tanpa Aslan sadari, jika ia baru saja mencicil rasa sakit yang ia berikan kepada sang istri. To be continued Terimakasih atas atensi kalian terhadap novel ini. Seorang teman berkata, "cerita ini telah menggambarkan bagaimana pernikahanku berjalan menuju sebuah kehancuran. Kuatnya pengaruh seorang pelakor, mampu menggoyahkan pondasi kokoh yang ku bangun sejak awal pernikahan yang aku impikan." Aku hanya tersenyum simpul, tak tau harus menanggapinya dari sudut mana. Hatiku pun ikut merasakan perih yang sama. Hanya saja berbeda porsi. Luka yang sahabatku alami melebihi jutaan del lebih menyakitkan. Aku hanya mampu menjadi tempatnya berbagi kisah. Menjadi seorang pendengar yang baik lalu menanggapi keluhan hatinya dengan sedikit saran tanpa mampu memberikan sebuah jalan keluar. Semoga di kehidupan kita semua, kita tak pernah merasakan apa yang seorang sahabatku ini alami. Setiap wanita memiliki kadar ketegaran hati yang berbeda-beda. Termasuk bagaimana menghadapi situasi genting dalam sebuah pernikahan. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN