Dua orang pria beda generasi tengah duduk di sebuah restoran. Sejak pertama kali tiba, keduanya hanya berucap salam sapa sekedarnya.
"Sejak kapan?" pertanyaan tepat sasaran tersebut terasa bagai busur yang menancap tepat di benak seorang pemuda.
"Sejak pertama kali aku melihatnya berjalan kaki sepanjang lebih dari 2 kilometer. Yang belakangan baru ku ketahui ternyata saat itu, wanita cantik tersebut ketinggalan dompet serta ponselnya. Sehingga dirinya harus menempuh perjalanan melelahkan melawan terik matahari yang serasa membakar kulit kala itu. Wanita yang langsung membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Wanita sederhana yang ku sangka bukanlah istri seseorang, serta menantu dari keluarga terpandang. Lagi, penilaianku salah." Jawaban panjang yang menggores segumpal daging yang di sebut hati, seorang pria paruh baya di hadapan pemuda tersebut.
"Lalu, kau langsung memutuskan untuk tinggal dan menggagalkan pertunanganmu begitu saja? demi wanita cantik nan sederhana, menantuku?" sarkas Sam menatap lurus pria muda di hadapannya dengan tatapan tak terbaca.
"Bagian itu mungkin sedikit berlebihan.. tapi ya. Aku tak menampik pesona menantu anda benar-benar telah menghipnotisku, menjadi pria yang rela melakukan apa saja asal bisa tetap melihatnya setiap saat." Jawaban lugas tanpa keraguan Andra mematik sebuah gemuruh yang tak dapat Sam jelaskan.
"Aku sungguh tak menyangka, putra mahkota keluarga Kingston rela bekerja keras layaknya seorang perantau hakiki." Ujar Sam terkekeh kecil. Pandangannya menyapu pelataran parkiran restoran yang sore itu tampak cukup ramai.
"Kenapa harus Andra? bukankah Sean pun cukup keren? apa kau merasa tak percaya diri akan kadar ketampananmu nak?" canda Sam mencairkan suasana.
Andra terkekeh kecil, ia hanya reflek menyebut namanya Andra ketika interview kerja di minimarket tempatnya bekerja dahulu. Semua demi agar bisa tetap memantau Via dari kejauhan.
"Sean terlalu keren untuk ukuran seorang perantau tanpa identitas sepertiku. Belum lagi aku tampak seperti seseorang yang baru saja kerampokan. Aku bahkan melamar pekerjaan hanya dengan menggunakan celana kargo sepanjang lutut." Cerita Sean mengenang sembari tertawa kecil.
Teringat kala itu, ia harus menyelesaikan sebuah proyek pembangunan sebuah mall besar di kota itu. Dan setelah selesai meeting ia mengalami hari yang sial. Ban mobilnya tiba-tiba saja bocor, dan dirinya bahkan tak mengerti cara mengisi angin ban mobilnya sendiri.
Saat sedang sibuk menelpon sang asisten untuk menghubungi mekanik terdekat, tanpa sengaja ekor matanya menangkap sebuah pemandangan yang merubah hari buruknya, menjadi seindah matahari yang bersinar menantang dari balik awan cerah siang itu.
Saking terpananya Sean, dirinya bahkan tak lagi nyambung ketika sang asisten terus berbicara menanyakan di mana alamat tempat mobilnya mogok.
Namun beberapa menit kemudian, Sean kembali mengumpat kesal. Mobil yang ia harapkan bisa menjadi sarana untuk melakukan pendekatan, dengan wanita yang baru saja merombak hati kerasnya menjadi selembut jelly. Malah kesulitan untuk di jalankan karena kondisi ban nya yang tak imbang.
Sejak saat itu, Sean mengubah semua rencana yang membuatnya berada di kota itu, menjadi misi pedekate terhadap seorang wanita yang ternyata telah menikah tersebut.
Namun Sean tak gentar. Pria itu tetap pada rencananya untuk mencari tau lebih dalam, mengenai kehidupan wanita yang telah memporak-porandakan hatinya.
Setelah mendapatkan informasi mengenai Via melalui kerja keras sang asisten. Akhirnya Sean mengatur strategi perang melawan kedua orangtuanya. Pria itu meninggalkan kehidupan mewahnya hanya demi dapat berdekatan dengan wanita cantik bernama Nurvia Abe.
Sang asisten yang membuatkan identitas palsu berkat kuasa rupiah yang Sean miliki. Setelah resmi bekerja di minimarket, Sean bisa dengan mudah memantau aktivitas Via. Mulai dari mengantar sang anak ke sekolah menggunakan taksi, lalu kembali pulang menggunakan angkot atau ojek online.
Andra mulai memantau kehidupan Via yang lain, kala tanpa sengaja ia melihat wanita itu menangis di dalam sebuah angkot yang juga ia tumpangi. Sean yakin jika wanita kesayangannya itu sedang berada dalam sebuah konflik batin yang cukup hebat. Via tampak seperti wanita yang tabah, perkara kecil tak akan mungkin membuat wanita itu sampai menangis sesakit itu.
Andra tak rela, hatinya ikut berdenyut kala mendapati air mata Via mengalir deras namun dirinya tak mampu sekedar mengusapnya.
Dan dari kejadian beberapa waktu lalu, Sean akhirnya mengetahui jelas siapa suami wanita tercintanya itu. Berbekal sebuah foto yang ia kirim kepada sang asisten, Sean mengetahui jika suami dari Via adalah putra seorang pengusaha properti ternama di Jakarta.
Aslan Kartawijaya. Satu nama yang membuat seluruh jiwa Sean meradang penuh angkara.
Setelah yakin Aslan telah berkhianat, Sean semakin memupuk harapan dan semangat untuk meraih hati Via serta sang putri seutuhnya.
Kembali ke masa kini, Sam tampak beberapa kali menghela nafas panjang. Terasa berat dan Sean menyadari akan hal tersebut. Dapat ia lihat ketulusan di kedua netra Sam terhadap sang menantu.
"Lalu? sekarang apa yang kau rencanakan untuk mengobati luka hati menantuku? aku khawatir kau pun akan turut menggores luka di hati putriku yang malang, jika kedua orang tuamu menolaknya." Tukas Sam akhirnya setelah beberapa saat terdiam dalam kemelut hatinya.
"Aku bukan putra anda yang breng sek itu tuan Sam. Dan kedua orang tuaku bukan tipe orang tua yang menilai calon menantu karena kastanya. Anda pasti mengetahui dengan jelas istri kakakku hanyalah seorang pegawai toko roti. Dan apa anda mendengar berita miring tentang pernikahan kakakku? tidak bukan? mom bahkan sangat menyayangi kak Mirna seperti ia menyayangi kak Salsa." Tukas Sean tegas.
Sam mengangguk-angguk mengerti. Ia tau seberapa berpengaruhnya keluarga Kingston di kalangan para pengusaha kelas atas. Keluarga itu pula di kenal sangat dermawan, dan memiliki banyak yayasan bagi anak-anak tak mampu untuk menimba ilmu secara gratis. Ia pikir setiap orang kaya selalu memiliki berbagai cara untuk mendapatkan perhatian dunia. Namun ia salah telak.
Dirinya lupa bagaimana keluarga Kingston dengan bangga mengumumkan menantu pertama mereka, di hadapan khalayak dengan binar penuh sukacita.
Berbeda dengan keluarganya, yang bahkan tak pernah menyambut sang menantu selayaknya seorang menantu. Via bagai tamu, bahkan Via lebih seperti seorang ba bu ketika berkunjung ke kediaman mereka.
"Aku melupakan bagian itu nak. Maaf atas segala praduga tak berdasar, yang tanpa sengaja terlintas begitu saja di benak rapuhku." Balas Sam setelah terdiam sejenak dalam hati yang gamang.
Sungguh ia masih tak rela Via menjadi menantu orang lain. Via adalah tipe menantu idaman setiap orang tua, termasuk dirinya terkecuali istrinya. Hati wanita itu masih tertutup sempurna hanya perkara seorang pewaris.
"Bisa di mengerti tuan, anda memiliki hak untuk berpersepsi dan aku punya hak untuk mengabaikannya. Yang jelas wanita yang saat ini anda sebut sebagai seorang menantu, kelak akan menjadi the next daughter-in-law Kingston famyli." Pungkas Sean lugas tanpa keraguan.
Sam hanya bisa meremat gagang sendok yang ia pegang, untuk menyalurkan rasa kecewanya terhadap sang putra kebanggaan.
Berkat perbuatan Aslan, ia terancam kehilangan menantu sebaik Via. Berkat sang anak pula, ia harus rela kelak salah satu cucunya harus terlahir di dalam keluarga orang lain.
Via telah jujur soal kehamilannya, karena sang anak yang keceplosan karena bahagianya bisa bertemu dengan sang kakek. Dan dari sana pula, Sam mengetahui jika Aslan telah membohongi sang menantu selama hampir dua bulan lamanya.
Perusahaan keluarga mereka bahkan dalam keadaan baik-baik saja, lagipula ia tak sampai membutuhkan sang anak saat ia pun memiliki menantu laki-laki yang sangat mampu ia andalkan dalam segala hal.
Hatinya sedih karena kebohongan sang anak terhadap menantu serta cucunya.
"Jika kelak kau berhasil meraih hati putriku yang malang, tolong jaga Mereka dengan seluruh hatimu. Dan bila kau bisa membawa Via ke dalam keluarga Kingston, aku tak mengapa jika kau memberikan nama klanmu di belakang nama bayi yang tengah ia di kandung oleh Via saat ini. Itu akan lebih baik, aku pun tenang jika mereka berada di tangan orang yang tepat." Pungkas Sam penuh harapan meski terdengar begitu lirih.
Pria itu lebih memilih untuk merelakan, daripada berusaha untuk mempertahankan Via sebagai menantunya.
"Tentu. Akan ku pastikan Via juga anak-anak kami akan selalu bahagia tanpa perbedaan dan di pandang sebelah mata.." Tandas Sean penuh keyakinan yang terucap begitu lugas.
Keduanya kemudian mulai bercerita tentang banyak hal, termasuk rencana Sam untuk membantu Via terlepas dari pernikahan dengan putranya. Rupanya Sam pria yang sangat konsisten. Ia tak ingin lagi sang istri menindas batin wanita setulus Via.
Sang menantu layak untuk bahagia, dan ia berharap kebahagiaan Via ada Sean.
To be continued
Semoga terhibur, jangan lupa ini hanya cerita fiktif yang di dasari sebuah kisah pilu seorang sahabat.
Kita akan flashback besok, bagaimana pertemuan Sean alias Andra dengan Sam.
Semoga kita semua selalu berbahagia dalam kehidupan kita masing-masing.
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana