Aslan menatap tak percaya, pada lembaran berkas yang baru beberapa paragraf ia baca. Gelengan lemah pria itu menandakan jika ia masih belum bisa, merelakan sang istri lepas dari genggamannya.
"Tidak, ini pasti ada kesalahan. Bagaimana mungkin Via mengajukan permohonan gugatan cerai kepadaku. Ini tak masuk akal, Via tak pernah bisa hidup tanpaku di sampingnya. Terutama Ryu. Tidak! ini pasti salah, seseorang pasti telah memprovokasi permasalahan rumah tanggaku. Via tak akan mungkin berani mengambil keputusan sebesar ini seorang diri." Aslan yakin sang istri tak akan bisa bertahan tanpanya.
Terlebih Via tak memiliki pekerjaan yang menghasilkan. Aslan yakin Via pasti sedang di tekan oleh keadaan atau ada seseorang yang membuat wanitanya terpaksa mengambil keputusan besar itu.
"Mita, tolong kosongkan jadwalku siang ini. Aku akan keluar dan mungkin tak akan kembali ke kantor hingga sore." Selesai menghubungi sang sekretaris, Aslan kemudian meraih kunci mobilnya.
Pria itu akan mencari keberadaan sang istri melalui alamat yang tertera di lembaran berkas perceraian mereka.
"Aku tak akan melepaskanmu sayang, tolong mengertilah posisiku saat ini. Aku butuh seorang pewaris yang masih belum mampu kau berikan." Gumam Aslan berjalan cepat menuju elevator.
Mita yang hendak menyusul langkah lebar sang atasan tertinggal di belakang dengan hati nelangsa. Bagaimana tidak, Aslan melupakan pertemuan pentingnya dengan seorang calon investor yang akan menyelamatkan perusahaan tersebut dari kebangkrutan.
Di tempat berbeda, seorang wanita bertingkah layaknya seorang permaisuri. Sejak ia menempati kediaman mewah Aslan. Sejak saat itu pula ia mulai menguasai setiap sudut rumah tersebut. Kinara bahkan membawa sang adik untuk tinggal bersamanya, meski Aslan sudah menyampaikan keberatannya.
Namun Kinara yang bebal tak menggubris sama sekali. Wanita itu bertindak semaunya sampai-sampai Sam harus mengalah, dan menginap di sebuah hotel agar kewarasannya tetap terjaga.
Sedangkan mama Lita sudah kembali ke Jakarta, karena sang putri bungsu mengalami sedikit insiden kecil.
"Aku sudah bilang kalau aku maunya kolak sagu mutiara bukan pisang! apa kau tuli, hah!" bentak Kinara marah.
Sejak ia tinggal di sana, Kinara merekrut beberapa pekerja melalui jasa agen penyalur tenaga kerja rumah tangga. Aslan hanya bisa menghela nafas panjang, agar kesabarannya tak pupus di tengah jalan.
Keuangan perusahaan sedang merosot tajam, sementara pengeluaran melampaui penghasilan yang ia dapatkan. Belum lagi Kinara baru saja membeli sebuah mobil baru keluar terbaru untuk adiknya. Lengkaplah sudah beban di pundak Aslan.
"Maaf nyonya, saya salah. Saya akan segera menggantinya dengan yang anda minta," jawab sang ART dengan nada penuh ketakutan.
"Tak perlu, aku sudah tak menginginkan nya lagi." Kinara lantas menuangkan semangkuk panas kolak pisang di atas kepala wanita muda nan polos tersebut. Hingga membuat gadis lugu itu berteriak histeris, akibat kuah panas kolak yang terasa mengoyak kulit kepala juga wajahnya.
Sedangkan Kinara tersenyum miring tanpa rasa bersalah. Wanita itu meninggalkan Murniati begitu saja di lantai dingin ruang keluarga.
"Ya Allah nduk, tega nian nyonya memperlakukanmu seperti ini." Wanita paruh baya itu merupakan bibi dari gadis malang itu. Dengan tenaganya yang tak seberapa, Mbok Purwasih merangkul Murniyati menuju pintu samping.
"Panas bi...panas... Murni mau berendam bi... panas..." rintih gadis malang itu menahan rasa panas di wajahnya.
Kulit kuning Langsat milik Murni terlihat memerah akibat di basuh kuah kolak panas.
"Ya.. sebentar bibi ambilkan es batu dulu..duduk sini..." dengan perlahan mbok Purwasih mendudukkan Murniati di sebuah kursi kayu di tempat ia biasa mencuci pakaian.
Tak lama wanita itu tergopoh membawa sebaskom es batu yang sudah ia hancurkan ala kadarnya.
"Bibi siram ya nduk...tahan, ini dingin sekali." Murni hanya bisa mengangguk pasrah. Ia butuh air dingin untuk melegakan rasa panas yang terasa membakar kulit wajahnya.
Di tempat lain, Aslan tengah berjalan menuju sebuah gang sempit yang tak bisa ia masuki dengan menggunakan mobil mewahnya.
"Apa Via sama sekali tak memiliki tabungan, sampai harus tinggal di tempat kumuh seperti ini." Monolog Aslan berbicara sendiri. Ia kesal sekaligus sedih mendapati kenyataan yang tak sesuai ekspektasinya.
Ia pikir Via memiliki simpanan uang, dari jatah bulanan yang ia berikan selama ini. Namun nyatanya wanita itu memilih tinggal di tempat kumuh, yang bisa di pastikan harga kontrakannya pasti lebih murah.
"Permisi pak, saya mau tanya..apa di sini ada warga baru bernama Via?" pria 40an itu mengernyit heran, ia baru mendengar nama itu sebagai warga barunya. Karena nama Via ada dua orang di gang tersebut, itu kenapa mereka lebih suka memanggil keduanya dengan nama anak masing-masing.
"Maaf pak, nama Via di gang ini ada dua orang. Tapi semuanya warga lama," terang bapak-bapak tadi tersenyum ramah.
"Ah ya, nama lengkapnya Nurvia Abe. Siapa tau saja bapak pernah bertemu, wanita itu adalah istri saya." Jelas Aslan lagi.
Pria tersebut terlihat tengah berpikir keras, namun tak lama kemudian bapak Tersebut langsung teringat dengan warga baru yang di panggil mbak Nur.
"Ah saya ingat, mungkin yang masnya maksud adalah mbak Nur. Bukankah nama istri mas Nurvia, bukan?" Aslan mengangguk cepat dengan senyum lebar.
"Nah, nanti masnya belok kanan dari sini, di depannya ada rumah petak berwarna hijau. Tanya saja di sana, saya kurang tau istri bapak di lokal yang mana soalnya." Kekeh pria itu.
Aslan mengangguk paham. Lalu pamit pergi untuk menjumpai sang istri yang sangat ia rindukan. Namun sayang, Via tak berada di rumah. Wanita itu rupanya sedang menjemput sang anak ke sekolah. Aslan nampak kesal sendiri, kenapa ia bisa melupakan perihal sang anak yang bersekolah di tempat yang sama.
Sungguh Aslan mengutuk dirinya, karena terlalu pusing menghadapi Kinara serta adiknya, Aslan sampai melupakan sang anak.
"Nyari siapa mas?" tanya seorang wanita yang baru saja selesai menyapu lantai teras depan. Dengan sapu yang masih tergenggam di tangannya, wanita itu dengan percaya diri menghampiri Aslan.
"Oh tidak...ini, saya lagi nunggu istri sama anak Saya pulang." Sahut Aslan berusaha untuk beramah tamah.
"Suaminya mbak Nur ya?" lagi, Aslan hanya bisa mengangguk.
"Kok baru datang sekarang? masnya kemana aja? pasti asyik dengan daun muda 'kan? makanya sampai lupa sama anak istrinya. Kasian lagi sama mbak Nur, kemarin sempat pendarahan Untung kami sebagai tetangga sigap menolong hingga bayinya tidak kenapa-kenapa." Tukas wanita itu dengan nada sinis.
Tubuh Aslan membeku, ia seperti kehilangan separuh kesadarannya saat mendengar kata bayi yang wanita itu ucapkan.
"Istri saya hamil?" beo Aslan seperti orang bodoh.
"Cih! istri sendiri hamil sudah hampir 4 bulan malah tidak tau. Dasar suami tidak bertanggungjawab. Taunya menanam benih terus main serong sama wanita lain. Laki-laki sama saja, habis manis sepah di buang. Untung saja mbak Nur sudah meninggalkan masnya, kalau tidak bisa tambah sakit hati kalau tau suaminya sendiri tak mengetahui tentang kehamilannya." Ketus wanita itu kian menjadi.
Ia tak sengaja mendengar seorang pria paruh baya mengatakan perihal proses perceraian, antara sang tetangga baru dengan suaminya yang rupanya telah menikah lagi dengan wanita lain. Itu kenapa ia langsung pasang badan ketika melihat Aslan di sana.
"Mending masnya pergi deh, merusak pemandangan saja. Lagi pula mbak Nur pasti pulangnya malam, karena dia harus bekerja untuk menghidupi anak juga calon bayinya." Lagi dengan wajah jutek, wanita itu sengaja menyapu teras kontrakan Via dengan asal.
Itu agar Aslan meninggalkan tempat itu. Benar saja, debu yang di hasilkan oleh wanita tadi berhasil mengusir Aslan dari sana.
"Rasak'no, makanya jadi laki jangan jelalatan sama wanita lain. Istri cantiknya kaya boneka Barbie begitu malah di selingkuhi sama kuda lumping." Gerutu wanita itu menatap kesal punggung Aslan yang kini menghilang sempurna di balik tikungan.
"Siapa yang di selingkuhi Win?" suara pak RT membuat Winda cengengesan tidak jelas.
"Itu pak... barusan suaminya mbak Nur dateng. Eh, setan banget tu laki..masa istrinya bunting dia kaga tau. Bukankah suami seperti itu patutnya di sebut suami berhati iblis ya pak..." cerocos Winda janda kembang korban pria sejenis Aslan.
Itu kenapa emosinya langsung menanjak naik kala melihat wajah Aslan yang menurutnya menyebalkan. Pria-pria setipe mantan suaminya, yang melakukan kesalahan namun tak merasa bersalah sama sekali.
"Oh.. mungkin laki-laki yang tadi nanya nama mbak Nur dengan nama Via." Ujar ketua RT tersebut manggut-manggut.
"Lah, kan nama lengkapnya mbak Nur kan Nurvia. Pak RT gimana sih, kebanyakan main catur di pos ronda jadi rada-rada eror." Ujar Winda nyablak enteng.
Pak RT hanya menggeleng saja, semua orang tau Winda yang suka asal kalau buka suara. Namun wanita itu memiliki hati yang baik terhadap sesama.
"Ya sudah, tak mau ke kelurahan dulu urus surat domisilinya mbak Nur Via." Tukas pak RT membuat Winda dongkol. Pria itu berlalu pergi dengan hati geli melihat ekspresi kesal di wajah Winda.
"Untung RT, kalau bukan dah tak sodok sapu baru tau." Winda berdumel kesal. Pak RT baginya adalah sang juru selamat di dunia nyata. Karena melalui kejujuran serta jiwa sosial sang ketua RT, ia pun mendapatkan imbasnya. Winda mendapatkan bantuan pemerintah berupa sembako serta uang tunai meski bagi orang lain tak seberapa, namun bagi Winda yang seorang janda dengan dua anak. Bantuan tersebut sangatlah berarti.
################
Aslan kebingungan karena ia tak mendapati sang anak di sekolahnya. Jam pulang putrinya sudah lewat lebih dari setengah jam kala ia sampai di depan gerbang sekolah. Dan tak ada yang mengetahui tentang anaknya, karena yang ada di sekolah tersebut hanya tinggal anak-anak kelas 5 dan 6 saja.
"Kemana lagi ayah harus mencari kalian sayang...ayah kangen nak..bun..apa kalian tidak merindukan ayah?" frustasi, itulah yang di rasakan oleh Aslan.
Pikirannya kacau balau mencari keberadaan sang istri, dan istri lainnya baru saja mengabarinya melalui pesan singkat jika wanita itu baru saja melakukan perawatan bersama sang adik. Dan nominalnya membuat Aslan nyaris menabrak bebas para pengendara di depan mobilnya.
50 juta rupiah yang Kinara sebutkan di dalam pesan singkat tersebut, membuat jantung Aslan bagai di cabut paksa dari raganya.
Tagihan kartu kreditnya saja belum terbayarkan hingga sekarang, di tambah lagi Kinara baru saja menghabiskan uang dalam jumlah fantastis hanya untuk perawatan kecantikan.
"Halo mas.." sahut Kinara dengan suara girang. Ia pikir Aslan akan langsung mentransfer jumlah yang ia minta, namun suaminya itu malah mencecarnya dengan berbagai kalimat menyakitkan.
"Astaga Kinara! apa kau sudah gila? itu uang jumlahnya tidak sedikit dan keuangan kita sedang tak baik-baik saja sekarang. Cobalah berpikir rasional kinari, aku lelah. Aku bahkan belum mendapatkan investor sama sekali dan kau malah melakukan perawatan tak perlu dengan jumlah yang di luar logika." Cecar Aslan yang mulai muak dengan kelakuan boros Kinara.
"Eh mas! denger ya, aku melakukan perawatan juga untuk menyenangkanmu. Jadi jangan hanya bisa menyalahkan saja, cobalah bekerja lebih keras lagi. Kau saja yang pemalas! dasar anak mama, manja!" klik.
Aslan mengeram menekan amarahnya. Bisa-bisanya Kinara malah mengatainya seenak jidat. Kini Aslan benar-benar semakin yakin untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Via. Ia akan mengambil alih hak asuh anaknya ketika lahir, dan yakin Via akan lapang d**a merawat putranya.
Sungguh pemikiran pria paling picik yang pernah ada. Via pasti akan semakin membenci Aslan jika saja wanita itu mengetahui rencana sang suami yang begitu rendah.
Menjadikannya seorang baby sitter bagi putranya dari seorang pelakor, lalu bagaimana dengan putranya sendiri.
Hasil USG menyatakan bayi Via adalah bayi laki-laki, meski masih belum bisa di pastikan 100 persen, namun dokter cukup yakin akan prediksinya.
Dan diam-diam Sean telah menyiapkan nama untuk menyambut calon putranya tersebut. Pria itu pun sedang menyiapkan diri, untuk menjadi seorang ayah bagi Ryu juga sang adik.
Kedua orang tuanya pun sudah tak sabar menunggu Sean memboyong Via serta anaknya ke Jakarta. Bahkan calon istri yang mereka pilih untuk putra bungsu mereka tersebut telah resmi di batalkan. Tentu saja dengan segala syarat yang di ajukan oleh pihak wanita yang merasa telah di permainkan.
Namun begitu, keluarga Kingston tak keberatan walau harus menggelontorkan dana tak main-main, agar wanita serakah yang mereka sangka seorang bidadari tersebut enyah dari circle keluarga Kingston.
Kembali pada Aslan yang masih di landa emosi jiwa. Di tempat berbeda, Sean baru saja selesai membuatkan makan siang untuk Ryu juga ibunya.
"Makan siang sudah siaaap..." seru Sean dari balik pintu ruangan Via. Senyum sumringah Ryu langsung mengembang sempurna.
"Makasih calon papanya Ryu," ucap gadis kecil itu seraya memberikan hadiah kecupan kecil di pipi Sean.
Via hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat bagaimana sang anak begitu dekat dengan Sean. Ia, dirinya sudah mengetahui siapa Sean yang ia kenal sebagai Andra selama ini. Sang mertua telah mengatakan yang sebenarnya. Namun tentu saja dengan sedikit bumbu kebohongan.
Sam mengatakan jika Sean sedang di asingkan oleh kedua orang tuanya karena sifat boros yang pria itu miliki. Sean yang baru berusia 24 tahun, jelas masih sangat labil di mata Via. Wajar jika orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya.
Rupanya Sam benar-benar serius, ingin menumpuk harapan di pundak Sean agar dapat membawa Via ke dalam kebahagiaan yang sesungguhnya.
"Bunda ayo makan, papa Sean udah bikinkan bubur tuh." Ajak Ryu mengajak sang ibu serta.
Via mengesah lelah, ia tak suka bubur namun kondisinya masih belum cukup sehat untuk mengkonsumsi makanan padat.
"Ayuk bun...papa Sean sudah nyiapin makan siang buat bubun sama adek babynya." Ucap Sean menimpali.
Via mendelik dengan tatapan galak namun pria itu sama sekali tak peduli. Sean dengan telaten mengipasi bubur panas milik Via tanpa menghiraukan tatapan sengit wanita kesayangannya itu.
"Sudah anget bun, ayo makan. Ryu mau papa suapin tidak?" melihat Ryu yang tak kunjung menyentuh makanannya, membuat Sean peka.
Senyum Ryu langsung mengembang sempurna. Rupanya gadis kecil itu merasa sedikit cemburu pada perhatian Sean terhadap ibu dan calon adiknya.
"Ryu sekarang manja ya," celetuk Via melontarkan candaan. Ryu tertawa nyengir memamerkan gigi kecilnya yang putih dan rapi.
"Habis Ryu kangen sama perhatian ayah.. tapi sekarang sudah tidak lagi. Ryu'kan sudah punya papanya adik bayi," ujar anak itu polos. Namun terkandung sebuah kejujuran dari mulut mungilnya.
Hati Via mencelos, rasa sakit itu kembali terasa. Sean yang tak ingin Via kembali mengingat luka hatinya, lekas mengambil alih situasi.
"Tentu saja, papanya adik bayi juga papanya Ryu, bukan? jadi jangan bersedih lagi, perhatian papa Sean akan selalu tertuju pada Ryu, adik bayi juga bunda." Tandas Sean mengusap lembut pipi bulat Ryu.
Kasih sayang Sean terpancar nyata, dan tak di buat-buat. Via dapat merasakan ketulusan pria itu, namun wanita itu selalu menampik rasa yang mulai muncul tanpa ia minta.
To be continued
Bab panjang lagi gaes, semoga puas bacanya ya heheee
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana