Mama Lita terlihat antusias kala mendapati tamu tak terduga yang kini tengah berdiri di depan pintu rumah mewahnya.
"Astaga Kinara! mama sampai terkejut. Kenapa tidak mengabari dulu kalau mau datang, mama bisa mempersiapkan penyambutan untukmu. Kau juga, mau ajak istrimu malah tidak mengabari mama sama sekali sih." Omel mama Lita menatap sengit sang anak yang tampak begitu lesu di belakang Kinara.
Pria itu menyeret koper besar di kedua tangannya, dan seorang gadis lain membawa dua koper yang sama besarnya.
"Kami dadakan juga ma, Kinara ngidam pengen lahiran di jakarta. Jadi ya...di sinilah kami." Tukas Aslan berusaha menyampaikan tujuan kedatangan mereka.
Pria itu di landa stress berat. Keberadaan Via masih belum ia temukan, di tambah dirinya di kejar-kejar oleh depkolektor Bank. Tagihan kartu kredit yang menumpuk melebihi tingginya Himalaya, membuat Aslan akhirnya memutuskan untuk sejenak kabur ke ibu kota. Ia ingin berlindung di balik punggung sang ibu. Di tambah lagi Kinara memang ingin anaknya di lahirkan di kota metropolitan itu.
"Ya sudah, namanya juga keinginan ibu hamil. Ayo masuk sayang, anggap saja rumah sendiri." Mama Lita menggandeng Kinara dengan hati-hati menuju ruang keluarga.
Sedangkan kedua bola mata Kinara menatap liar seisi rumah seolah tengah memindai apa saja isi rumah mewah tersebut. Senyumnya mengembang sempurna. Banyak rencana tersusun di benak Kinara untuk menguasai aset keluarga itu melalui putranya.
Tentu saja ma, aku akan dengan senang hati menganggap rumah ini milikku. Monolog Kinara di dalam hatinya.
"Duduk sayang, kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh." Kinara tersenyum malu-malu, padahal hatinya bersorak gembira.
"Ah ya, ini siapa ya? calon pengasuh anak kalian?" mata gadis tersebut melotot sempurna, saat dirinya di katai seorang pengasuh.
Apa wanita tua ini tak melihat penampilanku yang sudah seperti putri sultan ini? dasar nenek-nenek reyot rabun!" gerutu Kansa adik dari Kinara.
Kinara tersenyum kikuk menatap adiknya.
"Ini namanya Kansa ma, adiknya Kinar. Kalau mama tak keberatan, Kansa boleh untuk ikut tinggal sementara di sini selama Kansa belum mendapatkan panggilan kerja." Tukas Kinara hati-hati. Ia tak ingin gegabah, atau adiknya akan terlempar dari rumah mewah itu.
"O..bo..."
"Tidak!" belum sempat mama Lita menyelesaikan kalimatnya, suara gadis lain menguar datar tak bersahabat.
"Rumah ini bukan penampungan! dan bila ingin menginap, silahkan saja. Kamar belakang masih kosong, di sini tidak ada yang gratis." Tandas gadis tersebut dengan nada dingin.
Aslan bangkit dari duduknya lalu menghampiri gadis itu.
"Kakak kangen dek," saat akan merengkuh tubuh adiknya yang sudah tiga tahun tak pernah ia jumpai, gadis itu melangkah mundur sembari mengibas-ngibas telapak tangannya.
"Kakak bau sampah!" gadis itu menekan kata sampah dengan tatapan tajam serasa menusuk raga Kinara.
"Karisa, jangan seperti itu nak. Kakakmu sangat merindukanmu," tegur sang ibu lembut. Namun gadis itu sama sekali tak peduli. Sedangkan Aslan masih mematung di tempatnya, Karisa selalu bersikap manja terhadapnya walau gadis itu Memiliki sifat yang dingin terhadap orang lain.
Namun sekarang mendapatkan penolakan, hati Aslan sangat sakit bukan main. Seolah sang adik menolak kehadirannya di rumah itu dengan jelas melalui sikapnya.
"Hai..maaf, aku tak mengetahui namamu. Mas Aslan tak pernah menceritakan tentangmu, jadi aku pikir mas Aslan anak tunggal." Sela Kinara tersenyum manis. Ia harap kehamilannya dapat meluluhkan hati keras gadis itu. Ia tak rela keluar dari sana tanpa membawa apa-apa.
"Aku juga minta maaf," ujar Karisa tersenyum smirk. Kinara kian melebarkan senyuman nya , ia pikir telah berhasil meluluhkan hati Karisa. Namun beberapa detik kemudian, wanita itu kembali di buat syok terapi oleh perkataan tajam Karisa.
"Maaf karena aku tak menerima tamu di rumahku, dan maaf juga karena aku paling benci seorang pelakor. Jadi, bawa kembali koper rongsokan itu keluar dari tempat kalian masuk tadi dan enyah dari rumahku.". Tukas Karisa tanpa ekspresi.
"Karisa! jangan keterlaluan seperti ini, kakakmu hanya ingin menginap beberapa hari saja sampai istrinya melahirkan. Kenapa kau begitu kejam nak, tolong mengertilah situasi. Kita ini keluarga nak, tolong menolong itu perlu dan wajib." Nasihat mama Lita mengiba.
"Maaf ma, tidak mengurangi rasa hormatku terhadap mama juga kak Aslan. Tapi yang aku ketahui kakak iparku adalah kak Via, wanita cantik tanpa dempul puluhan centi di wajahnya. Dan lagi, ini bukan rumah singgah untuk pasien jarak jauh. Silahkan mencari hotel saja, karena aku tak menerima penumpang gelap di kediamanku yang bersih. Jika mama tak tega, mama bisa ikut dengan kak Aslan menginap di hotel atau menyewakan apartemen untuk mereka. Dua puluh menit, rumahku harus sudah steril dari hama pengerat ini." Kejamnya kalimat yang di lontarkan oleh Karisa serasa menumbuk sanubari Aslan.
Dahulu, ia begitu dekat dengan saudarinya kala masih bersama Via. Meski sang ibu kerap memperlakukan Via layaknya seorang pembantu, namun kedua saudarinya begitu menyayangi Via seperti seorang saudara.
"Tolong dek, hanya dua minggu saja. Setelah itu kakak akan mencari rumah kontrakan," ujar Aslan memohon belas kasihan sang adik. Kinara melotot tak percaya, bagaimana bisa ia jauh-jauh datang ke kota itu hanya untuk tinggal di rumah kontrakan.
"Mas! gimana sih, aku gak mau ya, tinggal di rumah kontrakan." Protes Kinara keceplosan memperlihatkan sikap aslinya. Aslan memejamkan kedua matanya menahan dongkol. Dirinya sedang berusaha membujuk sang adik, malah istrinya dengan suka rela membuat masalah semakin runyam.
"Ckckckck! ternyata sifat aslimu langsung terlihat kala mendapati kakakku sudah tak lagi memiliki apapun. Sungguh wanita menyedihkan!" desis Karisa membuat Kinara mati kutu.
Wanita itu salah tingkah sambil melirik pada mama Lita yang kini juga tengah menatapnya.
"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya kasihan terhadap bayi kami jika harus tinggal di kontrakan. Di tempat seperti itu pasti tidak steril dan kumuh. Maksudku..."
"Apa kau putri seorang sultan Kinara? apa rumah orang tuamu seperti istana? sehingga kau tak bisa hidup dalam kesederhanaan." Deg!
Jantung Kinara bagai di pompa. Wanita itu merasa tersinggung oleh kata-kata Karisa.
"Jangan berpikir setelah kau berhasil menikahi kakakku dengan cara yang rendah, kau bisa menikmati semuanya. Kau salah Kinara, kakakku tak memiliki apapun selain apa yang ia miliki saat bersamamu. Dan rumah ini adalah rumahku, mutlak dan aku tak suka ada aroma-aroma calon parasit ikut menghuni kediaman mewahku." Lanjut Karisa lantang.
Kinara hanya bisa meremat ujung dress menahan dongkol.
"Dan asal kau tau, kak Via bahkan rela tinggal di kontrakan kumuh, sempit dan bekerja sebagai buruh cuci demi kelangsungan hidup keluarganya. Dan lihat, setelah kakakku berada di puncak. Pria breng sek ini langsung bertingkah layaknya seorang sultan." Tandas Karisa membuat Aslan menunduk dalam. Sedalam sesal yang kian mengoyak hatinya.
"Mas.." rengek Kinara agar Aslan bertindak. Ia benar-benar tak rela keluar dari rumah bagai istana tersebut.
"Dek, kakak mohon.." pinta Aslan lagi berusaha mengiba empati dari sang adik.
"Nak.. jangan seperti ini, kakakmu sedang dalam kesulitan. Bantulah dia, hanya dua minggu saja. Setelah itu mama akan mencarikan kakakmu rumah baru, mama mohon nak." Mama Lita pun turut mengiba.
Meski sebagai anak bungsu, namun Karisa di besarkan oleh sang oma sejak usia tiga hari. Aslan yang sering sakit-sakitan sejak kecil membuat Karisa tak mendapatkan perhatian penuh dari sang ibu. Terlebih mama Lita memang sang condong terhadap putranya, yang ia gadang-gadang sebagai seorang pewaris keluarga Kartawijaya.
Jadilah mereka tak memiliki kedekatan emosional terhadap Karisa. Kecuali Sarah. Anak sulung keluarga Kartawijaya itu memang sejak usia satu minggu di besarkan oleh sang bibi yang tak memiliki anak perempuan. Kakak dari Sam tersebut membawa Sarah atas persetujuan mama Lita.
Mama Lita sedikit kecewa karena ia harus melahirkan anak sulung perempuan. Dan setelah mendapatkan Aslan, maka terpenuhilah segala ambisinya akan seorang pewaris.
Jadi, kedua anak perempuan keluarga Kartawijaya memang tak begitu dekat dengan mama Lita. Rumah yang mereka tempati adalah milik Karisa. Rumah mewah itu di hadiahkan oleh sang oma saat Karisa berusia 15 tahun. Gadis cerdas itu menyelesaikan pendidikan dasarnya di umur 15 tahu. Lalu masuk universitas di luar negeri. Rumah itupun di tempati oleh mama Lita sekeluarga.
Itu karena Sam saat itu terseret dalam sebuah kasus kecelakaan beruntun. Di mana mobil Sam adalah penyebab dari kecelakaan yang menewaskan lebih dari 5 orang sekaligus di tempat kejadian. Sedangkan lebih dari 10 orang lainnya mengalami luka-luka dan harus di rawat intensif.
Sam mengalami koma sedangkan seluruh asetnya terpaksa di jual untuk menjamin para korban dan keluarga yang di tinggalkan. Besarnya tuntutan keluarga korban membuat perusahaan Sam akhirnya bangkrut. Untung Sang menantu berbaik hati walau Sarah sempat menolaknya.
Daniel mengakuisisi perusahaan sang mertua menjadi milik istrinya. Dengan begitu perusahaan furniture yang sekarang di kelola oleh Sam adalah milik putrinya, Sarah.
Singkat cerita, ketegangan masih mendominasi di rumah mewah Karisa.
Apalagi adik dari Kinara mencoba peruntungan untuk memberikan nasihat terhadap Karisa.
"Tolonglah kak, kakakku sedang hamil besar. Cucu pewaris keluarga ini, jangan egois. Bukankah rumah ini juga rumah kakak iparku? jadi jangan seolah-olah kakakku adalah tamu di rumah suaminya sendiri." Demi para malaikat maut, Karisa begitu ingin menyumpal mulut lancang Kansa menggunakan mesin pemotong rumput milik pak Ujang.
"Rumah siapa tadi? astaga kak, apa kau tak mengatakan jika kau ini hanyalah anak mama yang tak pandai dalam hal apapun kecuali mengkhianati kakak iparku yang baik hati." Karisa tergelak lucu, kala mendengar kalimat Kansa yang tak tau malu.
"Dengar baik-baik, angsa! rumah ini murni milikku tanpa ada sepeserpun uang orang tuaku. Dan asal kau tau, kedua orang tuaku ini hanyalah dua orang tua miskin yang bernaung di bawah anak-anak hebat sepertiku juga kakak perempuanku. Jadi? apa kau yakin masih ingin bertahan dengan kakakku saat kau tau jika kakakku hanya pria biasa." Kinara terdiam. Wanita itu berusaha mencerna kalimat Karisa yang membuat lututnya terasa lemas seketika.
"Dasar pembohong kau mas! harusnya kau katakan jika kau hanya pria miskin yang mengandalkan orang tuamu saja. Laki-laki breng sek! ba ji ngan!" maki Kinara memukul da da bidang Aslan.
Pria itu hanya diam membisu, mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari istri mudanya.
"Hei! lepaskan putraku wanita ja la ng!" seru mama Lita tak terima. Aslan adalah putra kesayangannya, ia bahkan rela tak merawat kedua putrinya demi bisa mencurahkan semua perhatian serta kasih sayangnya terhadap putranya itu.
"Kalian penipu! mama bilang akan membuatkanku pernikahan megah setelah aku melahirkan. Tapi apa ini, kalian hanyalah benalu sama sepertiku!" teriak Kinara lepas kendali. Wanita itu tak lagi dapat mengontrol kalimatnya, itu membuat Kansa khawatir.
Ia khawatir sang kakak yang memiliki temperamen buruk akan keceplosan mengenai bayi yang sedang kakaknya kandung.
"Kak sudah..sudah..kita masih punya anakmu, bagaimanapun mereka tidak akan tega membiarkan Aslan menjadi seorang gelandangan. Tenanglah, ingat tujuan kakak hingga sejauh ini. Jangan sampai gagal gara-gara kakak tak dapat mengontrol emosi kakak." Bisik Kansa memeluk tubuh sang kakak.
Deru nafas Kinara perlahan mereda. Wanita itu berkali-kali menarik nafas dalam-dalam agar dapat mengontrol dirinya.
"Maafkan aku mas...aku hanya syok. Aku tak bermaksud untuk mengatakan hal buruk, kau tau wanita hamil memiliki tingkat emosional yang sering tak terkendali." Ujar Kinara berusaha membela diri. Ia pun Sadar telah bertindak berlebihan di hadapan mertua juga suaminya.
"Tidak apa, ayo bangun. Kita duduk dulu untuk membicarakannya. Karisa, beri kakak iparmu waktu nak. Mama akan mencarikan kakakmu rumah setelah ini, mama ingin meminjam mobilmu untuk..."
"Tidak bisa! aku juga membutuhkannya untuk itu aku membelinya." Potong Karisa cepat.
Lagi-lagi Aslan hanya bisa menatap nanar wajah datar sang adik yang bahkan tak sudi untuk menatapnya.
"Mobilmu kan banyak nak, hanya satu dan akan mama ganti bahan bakarnya nanti." Tukas mama Lita memelas.
"Menggunakan uang yang aku berikan? sama saja aku yang melakukannya hanya beda pemerannya saja. Tidak bisa, mobilku sudah bersih. Aku tak suka ada kuman menempel meski hanya secuil." Tukas Karisa kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.
Kansa menatap Karisa dengan tatapan penuh kebencian. Ia berniat akan membalas perbuatan Karisa yang telah menguliti harga diri sang kakak habis-habisan.
Lihat saja nona kaya, akan aku balas perbuatanmu ini pada kami kelak. Monolog Kansa dalam hatinya. Gadis itu tersenyum licik sambil terus memindai isi rumah mewah itu.
Andai saja ini rumah mertua kakak, pasti akan menyenangkan tinggal di istana ini seperti seorang putri raja. Ah, aku harus membantu kakak agar dapat menyingkirkan gadis sombong itu dari sini. Tak peduli ini rumahnya sendiri, aku harus pandai memprovokasi kak Kinara agar mempengaruhi suaminya untuk merebut rumah ini.
Banyak rencana tersusun di otak picik Kansa, tanpa ia ketahui jika gadis yang hendak ia manipulatif bukanlah gadis biasa.
To be continued
Semoga terhibur, terimakasih telah mampir dan membaca novel ini.
Maaf untuk penguncian bab di Dark Stain readers terkasih
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana