Bab 11

1304 Kata
Sepanjang perjalanan, wajah Kinara di tekuk sempurna. Harapan nya pupus sebelum berkembang. Karisa rupanya bukan lawan yang sebanding untuk di hadapi. Gadis itu memiliki tingkat ketajaman lidah di atas level rata-rata. Kansa yang duduk di jok depan hanya bisa terdiam dengan banyak rencana di kepalanya. Lihat saja gadis sombong, kau akan merasakan akibatnya karena berani bermain-main denganku. Hari ini kau boleh merasa menang, tapi tidak lain kali. Akan ku balas berkali-kali lipat lebih menyakitkan dari yang kau berikan hari ini. Karisa terus bermonolog dalam hatinya. Gadis itu kesal karena harapan nya untuk ikut menikmati kemewahan di kediaman mewah Karisa, pupus tersapu angin keangkuhan Karisa begitu saja. "Kita mampir makan dulu ya ma, aku belum makan sedari berangkat." Celetuk Aslan di tengah kesunyian. Mama Lita sontak kaget mendengar pengakuan sang anak. Wanita itu menatap datar ke arah Kinara, karena merasa wanita itu tak memperhatikan kebutuhan putranya. Apalagi soal mengisi perut. Dahulu Aslan tak pernah mengeluhkan lapar saat masih bersama Via. Meski ia membenci wanita miskin itu, namun soal perhatian serta kebutuhan putranya. Ia akui Via memang dapat di andalkan dalam segala hal kecuali kemiskinanya yang membuat mama Lita tak menyukainya. "Kau ini bagaimana, suamimu belum makan bukannya di belikan makanan atau apa." Omel mama Lita mulai jengah. Menerima Kinara bukan karena hatinya tulus, namun karena menginginkan bayi yang Kinara kandung saja. "Loh, kok aku ma? aku mana tau kalau mas Aslan belum makan. Lah wong dia tiba-tiba datang dari kantor langsung ngajak berkemas. Ya mana sempat aku kepikiran mas Aslan sudah makan atau belum." Sergah Kinara tak terima dengan tatapan penuh intimidasi sang mertua. "Sudah..sudah. Aku hanya mengatakan aku lapar bukan meminta kalian bertengkar." Aslan mencoba menghentikan pertikaian mulut ibu juga istrinya. Tak akan ada habisnya jika kedua wanita keras kepala itu mulai angkat suara. Sedangkan Kansa masih dalam pemikirannya sendiri. Gadis itu menatap liar sisi jalan seperti sedang mencari mangsa. Tatapan matanya berhenti tepat di sebuah mobil mewah yang ada di depan mobil yang berada tepat di samping mobil yang di kendarai oleh Aslan. Mobil mewah kaum hirarki kelas atas itu tampak memperlihatkan seorang pria tampan di balik kaca spionnya. Kaca jendela yang sengaja di turunkan, membuat wajah tampannya terekspos dengan jelas. Senyum seringai terbit di bibir Kansa. Dengan lincah jari lentiknya mengetikkan sesuatu di ponselnya. Gadis itu rupanya mencatat nomor plat mobil tersebut dengan senyum sumringah. "Kau kenapa dek? senyum-senyum seperti orang cacingan." Celetuk Kinara dari jok depan. Kansa melirik sekilas sang kakak lalu kembali fokus pada ponselnya. Sesekali gadis itu melirik mobil yang terlihat mulai bergerak seiring dengan lampu merah telah berganti. Akan aku temukan kau, tambang emasku. Monolog Kansa dalam hatinya. Ia berharap dapat menemukan pria tampan itu dan mulai menggodanya. Lalu akan ia jerat dengan taktik lama. "Kok makan di sini sih mas?" protes Kansa yang kini terlihat enggan untuk turun dari dalam mobil. Ia gengsi jika harus makan di tempat seperti itu. "Jangan banyak protes Kansa, kakak cape, laper. Turun! kalau tidak terserah! tidak akan ada jatah makan malam untukmu. " Tekan Kinara tegas. Ia hanya lelah jika harus berdebat lagi. Sungguh tubuhnya seperti membawa jutaan ton beban berat, dan ia tak sabar bayi sialan itu lekas keluar dari tubuh indahnya yang kini bagai buah semangka. "Dengar Kansa, mas tak memiliki cukup uang untuk makan di restoran. Kita sedang dalam fase krisis keuangan sekarang, tolong mengertilah." Pinta Aslan mengiba. Ia sangat lapar dan butuh segera istirahat. Namun adik iparnya malah kembali membuat ulah. "Ck, kakakku kok apes bener nikah sama mas. Kenapa mas tidak jual saja rumah yang kalian tinggalkan itu. Toh tidak ada yang akan menempatinya, bukan?" sungguh otak picik Kansa terus berkerja meski di tengah situasi tak memungkinkan seperti saat ini sekalipun. "Apa hakmu memintaku menjual rumah yang bukan milikmu?" sarkas Aslan dengan nada geram. Kinara lekas menggenggam kepalan tangan sang suami untuk meredakan emosi suaminya itu. Kansa sedikit tersentak, Aslan tak pernah berbicara dengan nada tinggi terhadapnya meski pria itu kesal. "Kau ini hanya menumpang, jadi tau dirilah sedikit. Ayo Nak, mama juga belum sempat makan siang tadi." Sela mama Lita jengah. Wanita itu keluar terlebih dahulu lalu di susul oleh Aslan berikut istrinya. Mau tak mau Kansa terpaksa mengikuti ketiganya keluar. Dengan gaya bak putri Sultan, Kansa berjinjit jijik melihat genangan air yang ada di depan warung makan tersebut. "Iyuhhh! jorok banget sih!" dumel gadis itu jengkel. Mama Lita lagi-lagi melemparkan tatapan tak suka terhadap sikap Kansa. "Loh mama? Aslan? kok kalian bisa ada di sini?" sapa seorang pria tampan yang terlihat jelas seorang keturunan campuran. Tubuh tinggi atletis yang menggoda iman kaum hawa, di tambah rupanya yang sangat mempesona. Siapapun akan terhipnotis pada pandangan pertama. "Daniel? kau juga sedang ingin makan di sini nak? wah kebetulan sekali, mama sama Aslan juga mau makan. Ayo sama-sama saja, di mana mejamu?" mama Lita terlihat antusias sedangkan Aslan tampak pias. Sementara kedua makhluk hawa yang di penuhi dengan hawa naf su keserakahan mulai menebar pesona. Kinara bahkan tak sadar dengan kondisi tubuhnya yang sama sekali tak layak untuk menggoda seorang pria. Dan Kansa, gadis itu seperti mendapatkan jutaan kilo mas yang berjatuhan dari atas langit. Pria yang ia lihat di balik kaca spion tadi rupanya adalah Daniel. Kakak ipar Aslan, suami dari Sarah Kartawijaya. "Aku tidak makan di sini ma, seperti biasa. Pesan di bawa pulang untuk nyonya kesayangan," tukas Daniel dengan kekehan kecil. Pria bucin itu tak pernah absen untuk membawakan sang istri makanan apa saja yang istrinya titipkan untuk ia beli. Rahang Kansa serasa terlepas dari tempatnya. Ia tak menyangka jika pria tampan bernama Daniel itu telah memiliki seorang istri. "Ya sudah tak apa, lain kali kami akan mampir ke rumah kalian. Titip salam mama untuk Sarah," ujar mama Lita sedikit kecewa. Ia berharap kali ini tak mengeluarkan sepeserpun uang untuk membayar makanan mereka. Karena ia yakin sang anak pasti sedang tak memegang uang yang banyak untuk saat ini. "Siap ma, kapan saja. Kalau begitu aku pamit duluan. Lan, mampir-mampirlah ke kantor, aku tak tau jika kau sedang berkunjung ke Jakarta. Sarah sangat merindukan Via juga Ryu, ajak mereka ke rumah nanti malam Sarah pasti akan sangat senang." Deg! jantung Aslan berdebar tak karuan. Menghadapi adiknya saja ia tak sanggup, apalagi mulut pedas level akhir sang kakak. "Baik kak, tapi aku datang sendirian. Via menemani Ryu karena belum libur sekolah," jawab Aslan dengan gugup. Kinara hendak protes namun cengkraman tangan Aslan membuatnya bungkam. "Ah, ini ma. Maaf jika tidak sopan. Karena aku tak bisa menemani kalian makan, maka biar aku yang traktir." Daniel mengeluarkan beberapa lembar pecahan berwarna merah, lalu memberikannya kepada sang mertua. Mama lita tak dapat menahan kedutan sumringah di kedua sudut bibirnya. Wanita itu lekas menyambut uang yang di berikan oleh Daniel secepat kilat. Sekolah seseorang tengah mengincar untuk merebutnya. Sementara Kansa tersenyum kian lebar. Melihat begitu murah hatinya Daniel terhadap mertuanya, ya yakin jika pria itu pasti pria yang sangat kaya raya. Calon target yang tepat. Hari ini aku memang tak terlihat, tampan. Tapi di lain waktu, pesonaku akan bersinar mengalahkan sinar istrimu. Gumam Kansa dalam hati dangkalnya. Ia yakin Daniel hanya jual mahal seperti kebanyakan pria jika berada di depan orang lain. Namun ketika di serahkan barang baru, maka akan kelaparan seperti kucing liar. Begitulah pikiran Kansa. to be continue Terima telah mengikuti author, dan terimakasih pembaca setia telah meramaikan novel ini. Note : Ada celetukan komentar dari pembaca yang mengatakan novel ini sangat monoton dan biasa saja seperti kebanyakan novel konflik rumah tangga lainnya. Mohon maaf pembaca yang baik, author memang tak pandai dalam meramu kata-kata menjadi alur cerita yang menarik dan berbeda seperti harapan kalian. Tapi terimakasih sudah mampir dan menambah views novel author. Itu sangat berarti. Semoga ke depannya author bisa membuat karya yang lebih berbobot lagi dan sesuai harapan pembaca sekalian. Terimakasih banyak sebelumnya sudah berkenan mampir, walau akhirnya pergi dengan meninggalkan kata-kata yang sedikit membuat penulis down. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN