Bab 12

1709 Kata
Setibanya di rumah, sang istri telah menunggu seperti biasanya. Senyum Daniel mengembang sempurna sedangkan ekspresi Sarah datar-datar saja seperti papan setrika. "Apa aku terlambat sayang?" sapa Daniel pada istri galaknya itu. "Katakan kau membelinya di tempat biasa?" Sarah balik melontarkan tanya. "Tentu." Jawab Daniel pasti. "Untuk yang tercinta harus yang spesial. Dan ya, kau tak akan menyangka aku bertemu siapa di sana sayang. Coba tebak?" dahi Sarah mengerut dalam. "Aku tak suka tebak-tebakan. Katakan, siapa yang kau temui di sana. Apa mantan terindahmu, sayang?" intonasi Sarah mulai tak enak di dengar, Daniel tersenyum simpul menahan degup jantungnya. Akhirnya Daniel menjawab sendiri tebak-tebakan nya, karena khawatir akan menciptakan aksi bisu berkepanjangan yang biasa sang istri tunjukkan kala merasa kesal pada dirinya. "Aku bertemu mama juga Aslan." Sahut Daniel cepat. Sarah melongo, tak percaya namun berita itu berasal dari sumber terpercaya. Tak mungkin Daniel salah mengenali ibu juga adiknya. "Sungguh? apa mereka sedang melakukan lelucon di sana?" ucap Sarah tak percaya. Sang ibu adalah seorang yang sangat antipati terhadap lingkungan kelas bawah seperti itu. Jika itu hanya Aslan, mungkin Sarah akan langsung percaya. Adiknya sudah terbiasa hidup sederhana bersama sang istri, dan itu tak lagi mengherankan bagi Sarah. "Sepertinya mereka hendak makan di sana." Jawab Daniel menebak. Sebab sang ibu mertua sempat mengajaknya untuk makan bersama. Sarah hanya terdiam di belakang punggung sang suami. Wanita itu seperti tengah berpikir keras, bagaimana bisa ibunya makan di tempat sekelas warung makan. "Sayang?" Daniel membuyarkan lamunan sang istri kala mereka telah tiba di undakan anak tangga. Ia khawatir istrinya terjatuh saat naik karena terus melamun. "Eh? ah maaf sayang..aku hanya speechless saja mendengar apa yang baru saja kau sampaikan. Apa Karisa mulai membatasi pemakaian kartu kredit mama?" Daniel mengangkat bahunya tanda ia pun tak mengetahui dengan pasti. "Sudahlah, sesekali mama memang perlu di berikan sedikit pembatasan. Lupakan saja. Tapi, kau bilang ada Aslan di sana? kenapa kau tak memintanya membawa Via juga Ryu menginap di rumah kita? kau tau bagaimana mama memperlakukan Via seperti seorang pembantu. Aku tak suka itu," cecar Sarah yang baru teringat akan adik iparnya itu. "Itulah yang ingin aku bahas denganmu sayang," Daniel terlihat ragu dan itu membuat Sarah kian penasaran. "Katakan dengan jelas, aku tak suka di buat penasaran." kejar Sarah yang sudah tak sabar mendengarkan kelanjutan kalimat ambigu suaminya. "Duduk dulu, nanti kau bisa limbung jika aku menyampaikan berita yang tak kalah mengejutkan ini." Sarah menurut saja. Wanita itu meletakkan kantung plastik yang berisi makanan di atas meja. "Katakan sekarang," tuntut Sarah menatap sang suami intens. "Begini, tadi saat bertemu mama juga Aslan. Aku bukan hanya bertemu keduanya, tapi..." Daniel menatap netra coklat istrinya dengan perasaan was-was. "Lanjutkan," pinta Sarah menekan. "Tapi ada dua orang wanita lainnya bersama mereka." Lanjut Daniel akhirnya. "Ck, aku kira apa. Berhentilah membuat jantungku berdetak tak karuan sayang. Bercandamu sama sekali tak lucu," ketus Sarah kesal. Wanita itu kembali meraih kantong plastik lalu beranjak dari duduknya. "Hei sayang, kau belum mendengar endingnya. Maksudku kedua wanita itu bukan Via juga Ryu. Tapi dua wanita dewasa, dan salah satunya adalah seorang wanita hamil tua dan satunya mungkin berusia sekitar 20an. Dan wanita hamil itu bergandengan tangan begitu mesra dengan Aslan." Terang Daniel menceritakan apa yang ia lihat tadi. "Astaga! aku sampai melupakan sesuatu. Sebentar," Daniel merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Pria itu membuka sesuatu yang ia anggap perlu istrinya lihat. "Ini, lihatlah video ini. Aku merekamnya saat di dalam mobil," ujar Daniel menyerahkan ponselnya. Sarah menonton video berdurasi 30 itu dengan seksama. Air muka Sarah terlihat langsung berubah merah padam. Inilah yang Daniel takutkan. Istrinya bukan tipe orang yang bisa mentolerir sebuah perselingkuhan dengan dalih apapun. "Dasar pria ba ji ngan!" desis Sarah tanpa sadar menggenggam erat ponsel sang suami. "Sayang.. sudahlah, tanganmu bisa sakit nanti." Bujuk Daniel meraih pelan ponselnya. Bukannya ia takut benda itu rusak, namun ia tak rela istrinya terluka karena orang lain. Meski itu adalah saudara istrinya sendiri. "Jadi ini alasan Aslan kembali ke Jakarta. Lalu bagaimana dengan Via juga Ryu sayang? mereka pasti sedang terluka oleh perbuatan b***t Aslan." Meski segalak singa, namun Sarah tetaplah wanita biasa. Hatinya mudah tersentuh oleh hal-hal seperti ini. Daniel merengkuh tubuh mungil istrinya dengan sayang. "Hubungi Via dam tanyakan kabarnya juga Ryu. Pancing Via masuk ke dalam pertanyaan intimu, jangan langsung mencecarnya dengan pertanyaan yang bisa saja kembali menorehkan luka di hatinya hmmm?" Nasihat Daniel. Sarah hanya bisa mengangguk. Hatinya sakit mendapati sang adik telah mengkhianati adik iparnya yang baik. ##################### Di tempat nun jauh dari ibu kota, seorang wanita terlihat tengah memeriksakan kandungannya. Hari ini ia merasakan sesuatu yang tidak beres pada kehamilannya, itulah mengapa ia terpaksa datang lebih awal dari jadwal yang di tentukan oleh dokter. "Kehamilan ibu baik-baik saja, tapi..." "Tapi apa dok?" potong Via tak sabar. Sean menggenggam lembut tangan Via yang mulai terasa basah oleh keringat kecemasan. "Ini sebuah keajaiban bu Nurvia. Kehamilan kembar yang baru terdeteksi di usia kandungan yang sudah menginjak lima bulan. Luar biasa. Ultrasonografi saja baru bisa merekam si mungil cantik yang bersembunyi di balik tubuh kokoh sang kakak laki-lakinya." Terang si dokter membuat Via mematung. Pun Sean, pria itu tersenyum lebar dengan mata berembun. "Apa itu normal dok, maksudku..." "Normal bu, dan aku mengerti akan kecemasan ibu. Kondisi kehamilan seperti ini biasa kami sebut dengan hidden twins. Biasa terjadi saat bayi kembar berbagi kantong ketuban, umumnya hamil kembar memiliki kantong ketuban masing-masing. Dan biasa pada saat pemeriksaan, si bayi bersembunyi di celah rahim ibunya. Jadi tidak terdeteksi. Tapi untuk kondisi bayi ibu sendiri, tampak normal dan ukurannya memang lebih kecil dari saudaranya. Tapi tak masalah. Ibu hanya perlu rutin mengkonsumsi vitamin dan menambah sedikit porsi makan dan makanan yang sehat lainnya. Berat badan ibu hanya bertambah 1 kilogram selama dua bulan terakhir. Itu tak baik untuk ibu hamil. Apalagi yang di kandung ada dua kehidupan," nasihat sang dokter panjang lebar. Sean menatap intens wanita yang kini tengah duduk di sampingnya. Ia tau Via memikirkan banyak hal sehingga membuat wanita itu sulit untuk berkonsentrasi pada kehamilannya. "Saya akan selalu mengingatkan istri saya dok," suara Sean tiba-tiba menyela. Via tersadar jika sejak tadi pria pemaksa itu berada di sampingnya. Wanita itu balas menatap Sean dengan berbagai pikiran berkecamuk. "Baiklah, ini resepnya saya tambahkan satu jenis suplemen lagi. Di habiskan ya bu, pak tolong di ingatkan agar ibunya tak melupakan nasihat saya. Wanita hamil biasanya sedikit pelupa," canda sang dokter tertawa kecil. Sean mengangguk paham, lalu keduanya pamit keluar dari ruangan sang dokter. Sepanjang perjalanan pulang, Via terus mengusap lembut permukaan perutnya. Sean sesekali melirik ke arah Via namun wanita itu hanya fokus menatap ke bawah perutnya saja. "Mereka sehat, jangan terlalu mencemaskan berlebihan. Kau hanya perlu melakukan apa yang dokter katakan dan dengarkan aku juga. Jangan sering mengabaikan jam makanmu, itu bisa berpengaruh pada nutrisi yang di perlukan oleh twins." Ujar Sean lembut. Pria itu meraih pelan jemari lembut Via ke dalam genggaman tangannya. Via tak menolaknya. Entahlah, perhatian Sean benar-benar menghipnotis. Via yang tak mudah jatuh cinta, kini dengan mudahnya berpaling cepat dari kisah cinta pertamanya. "Terimakasih sudah memberikan kami perhatianmu, aku tak tau harus membalasnya dengan apa." Timpal Via menatap wajah Sean yang rupanya lebih tampan jika dari jarak sedekat itu. "Kau hanya perlu membuang jauh perasaanmu dari pria breng sek itu, lalu menerima lamaranku. Sesederhana itu Via sayang," balas Sean dengan tatapan serius. Via memalingkan wajahnya ke sisi jalanan. Ia masih ragu dengan hatinya sendiri. Hampir tiga bulan mengenal Sean, rasa di hatinya ikut berubah seiring berjalannya waktu. Cinta yang dulu menggebu pada mantan suaminya, kini perlahan mulai memudar. Atau bahkan lenyap tak bersisa. "Mom sangat ingin bertemu denganmu secara langsung. Mommy mengatakan jika aku membayar seorang wanita agar perjodohanku di batalkan. Bukankah itu tuduhan yang kejam? ck, mom memang sangat menyebalkan." Sean menggerutu di ujung kalimatnya. Via terkekeh kecil, ia sering di hubungi oleh wanita cantik yang ia sangka kakak perempuan Sean. Namun rupanya adalah seorang ibu yang berharap putranya segera menikah. "Tunggulah sampai twins lahir, aku akan memberikan jawaban." Ujar Via tiba-tiba. Sean sampai menginjak pedal rem secara mendadak. Untung saja Via menggunakan seatbelt juga kendaraan yang Sean kemudikan tak terlalu laju. Sehingga Via tetap aman. "Maaf...maafkan aku..apa twins baik-baik saja. Kau pusing, kita kembali ke rumah sakit." Sean begitu panik. Pria itu sampai mengecek kondisi Via dengan memegang kedua lengan wanita hamil itu. "Aku tak apa, sungguh." Sahut Via meyakinkan. Ia hanya terkejut, ia pikir Sean hampir saja menabrak seseorang sehingga menghentikan mobilnya secara mendadak. "Sungguh?" Via mengangguk cepat. Ekspresi panik di wajah Sean membuat hatinya tersentuh. Tanpa sadar wanita itu menatap netra abu-abu di depannya tak berkedip. Pun Sean, pria itu menatap Via sama lekatnya. Jarak yang hanya sejengkal, membuat deru nafas keduanya saling bersahutan. Entah siapa yang memulai, bibir tebal Sean sudah mendarat sempurna di bibir tipis Via. Sebuah kecupan hangat bagai sengatan listrik yang menjalar di seluruh tubuh keduanya. Via mendorong pelan tubuh Sean kemudian berpaling menahan pias di wajahnya. Sean kembali duduk tegak di kursinya dengan salah tingkah. Ia tak menyangka memiliki keberanian senekat itu. Itu adalah ciuman pertamanya. Sean meraba bibir nya seperti seorang gadis. "Maaf," ujar Sean merasa bersalah. "Tapi aku tak menyesal memberikan ciuman pertamaku pada wanita yang aku cintai." Lanjut Sean tersenyum penuh rona kebahagiaan. Sedangkan Via merasa sangat malu. Ia merutuki dirinya yang begitu mudah larut dalam suasana. Sean meraih tangan Via langsung menautkan jari mereka. Perjalanan pulang ke butik kembali di lanjutkan. Sepanjang sisa perjalanan, keduanya sama-sama terdiam. Namun tidak dengan Sean, ia tetap bertindak dengan sesekali memberikan kecupan di punggung tangan Via. Sungguh pria yang begitu romantis. Andai saja Aslan tak mengkhianati wanita sebaik Via, mungkin saat ini dirinya lah yang melakukan hal tersebut. Dan mungkin saja, Sean akan menjadi tokoh pebinor yang akan mendapatkan sumpah serapah dari banyak orang, karena berniat merebut istri pria lain. Namun kembali lagi pada lingkaran takdir. Sean rupanya lebih di berkati karena hadir sebagai seorang pelipur lara bagi Via juga putrinya. sungguh rencana Tuhan tak ada yang dapat menebaknya. Semua selalu indah pada waktunya. To be continue Terimakasih atas support kalian, membuat author berinisiatif untuk memberikan sedikit hadiah kecil ini. Satu bab tambahan semoga bisa memberikan bacaan yang memuaskan. Terimakasih sudah berkunjung, tinggal dan terus mengikuti. Bagi yang mampir lalu pergi, pergilah tanpa meninggalkan kemelut hati bagi author remahan rengginang ini. Terimakasih banyak untuk semua pembaca yang hebat. Penuh cinta akak Rose _Ana
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN