“Nduk … Kamu baik-baik saja? Kamu sejak tadi terus mengernyitkan kepala.” Tanya Abi Hamzah yang khawatir melihat Hasna yang sesekali juga menarik napasnya panjang seolah tengah menahan sakit. “Hasna baik-baik saja, Abi. Hanya sedikit gugup, tidak pernah menyangka jika pada akhirnya pernikahan Hasna harus gagal.” Bisik Hasna dengan air mata yang kembali jatuh. Kini keduanya tengah menuju ke Surabaya. “Tidak apa-apa, putriku. Jangan kamu jadikan sebuah beban semua ini, Insya Allah ini adalah pilihan yang terbaik. Mungkin memang Fayez hadir dalam hidupmu untuk memberikan beberapa pelajaran, pun sebaliknya dengan Fayez. Kamu memiliki Abi, sayang.” Abi Hamzah menggenggam tangan Hasna berusaha menguatkannya. Sungguh, pria paruh baya itu juga sebenarnya hancur melihat pernikahan putrinya di

