Emosi Juna langsung memuncak ketika telinganya mendengar dan matanya melihat beberapa karyawan wanita yang sedang menggunjingkan sang istri. Kata-kata yang mereka lontarkan sungguh tidak pantas, karena telah menghina wanita yang sangat dicintainya. Para karyawan wanita itu menunduk ketakutan. Mereka sampai berlutut di hadapan Juna untuk memohon agar tidak dipecat. Namun, Juna bergeming. Hatinya membeku. Kini, istri dan anaknya adalah segalanya bagi Juna. Jadi, jika ada yang menyakiti mereka, maka dia akan menjadi garda terdepan. Anjani sejak tadi mengelus-elus punggungnya. Dia sangat paham karakter sang suami jika sedang emosi, maka apa yang dia perintahkan harus terlaksana. “Sayang, sabar. Jangan marah-marah. Tolong redam emosimu.” Juna menatap Anjani dengan lekat. Dia sungguh tak habi

