Juna sangat dipusingkan dengan teror yang dilakukan oleh penculik anaknya. Setiap penculik itu menghubunginya, selalu menggunakan nomor yang baru, lalu kartu yang sebelumnya dipatahkan dan dibuang, agar tidak bisa dilacak keberadaannya. Bian sudah menyelidikinya. Seperti biasa, dia menyewa jasa detektif, tapi penculik itu sangat pintar mengecoh. Sementara keadaan Anjani kian memburuk. Perutnya tak henti kram. Dia stres memikirkan nasib kedua anaknya. Semua keluarga Atmaja ikut merasakan kesedihan atas peristiwa tersebut. Ketika malam hari, ponsel Juna kembali berdering. Kala itu Juna sedang berada di dalam kamar mandi. Anjani yang melihatnya terpaksa mengangkat panggilan tersebut. “Jika kamu mau kedua anakmu selamat, maka kamu harus bercerai dengan suamimu! Tapi jika kamu tidak mau m

