Morning Sickness

1073 Kata
Srek! Srek! Srek! Plak! Plak! Anjani merobek kertas cheque tersebut dan melemparnya ke wajah Juna, dan juga menampar wajah pria tampan tersebut. Juna terkesiap dibuatnya. Dia tidak menduga jika Anjani akan seberani itu padanya. “Anda memang manusia yang tidak memiliki hati, Pak Juna Mahendra Atmaja, yang terhormat! Dengan begitu mudahnya Anda ingin menukar harga nyawa dengan harta kekayaan Anda!” “Saya memang orang miskin yang tidak berpendidikan. Tetapi saya masih memiliki hati dan otak untuk berpikir jernih. Tidak seperti Anda, yang merupakan konglomerat dan berpindidikan tinggi. Namun, tidak memiliki hati dan otak!” “Setelah apa yang Anda lakukan terhadap saya hingga saya menanggung akibat dari perbuatan b***t Anda itu, dan kini Anda berkata seperti itu. Anda bukan manusia, tetapi iblis. Lebih tepatnya iblis berwujud manusia!” Suara Anjani bergetar dan menggebu-gebu. Dia sudah tak bisa lagi jika hanya berdiam diri atas penghinaan yang Juna berikan padanya. Juna syok mendengar semua ucapan yang terlontar dari mulut Anjani. Sebab dia tahu jika gadis itu adalah gadis yang lemah lembut dan tidak pernah berkata kasar. Mata Juna memerah seraya menatap Anjani dengan lekat. Emosinya pun kini mulai terpancing. Dia mencengkeram bahu gadis tersebut dan meremasnya dengan sangat kuat hingga Anjani meringis menahan sakit. “Beraninya mulutmu berkata seperti itu terhadapku! Memangnya siapa dirimu, Nona Anjani Zeva! Kamu hanyalah gadis kampung yang miskin. Kamu tak ubahnya seperti p*****r!” Juna berteriak di wajah Anjani. Anjani memejamkan mata, lalu kemudian membukanya lagi. Dia membalas tatapan Juna tak kalah tajamnya. “Ya … saya memang orang kampung yang miskin, tetapi saya bukan p*****r. Saya menjadi seperti w************n, itu semua karena ulah Anda, Bapak Juna Mahendra Atmaja!” “Anda yang telah merenggut kesucian saya. Anda yang telah menghancurkan hidup saya. Di sini saya hanyalah sebagai korban. Korban dari permasalahan Anda dengan Ardan. Saya hanyalah korban keegoisan kalian berdua.” Anjani semakin terisak pilu. “Bagaimana jika posisi saya ini ada di posisi keluarga Anda? Bagaimana jika saudara perempuan Anda mengalami nasib seperti yang saya alami ini? Ingat, Pak Juna. Bahwa hukum karma itu berlaku!” Setelah mengatakan itu, Anjani pun berlalu pergi. Dia berjalan dengan tergesa-gesa. Untung saja saat itu karyawan sedang bekerja, jadi tidak ada yang melihat keadaannya yang sangat menyedihkan itu. Juna mematung menatap kepergian Anjani. Dia tidak berusaha mencegah atau mengejarnya. Dia hanya syok dengan keberanian gadis itu yang ternyata bisa bersikap tegas dan bahkan berani menamparnya. Seumur hidupnya, baru Anjani-lah orang pertama yang berani menampar wajahnya, dan juga melontarkan kata-kata pedas. Bahkan orang tuanya pun tidak pernah melakukan hal itu terhadapnya. Juna mengelus-elus pipinya yang masih terasa panas. Tamparan sebanyak dua kali itu masih membekas dan terasa olehnya. Kini matanya tertuju pada robekan kertas cheque yang berserakan di lantai. Lalu dia memungut dan meremasnya. “Berani-beraninya dia menolak cheque pemberianku. Dia pikir dia siapa? Dia hanya wanita kampung yang miskin, tapi angkuh, hhh! Aku yakin, nanti juga dia pasti kembali lagi padaku dan meminta uang untuk biaya aborsi.” Juna tersenyum smirk. Sementata itu, Anjani berjalan menyusuri trotoar dengan berderai air mata. Ketika dia akan menyeberang jalan, tubuhnya hampir saja ditabrak oleh mobil yang kala itu sedang melaju dengan kencang. Ckiitt! Suara rem mobil terdengar nyaring. Sopir mobil itu yang ternyata seorang pria tampan dengan berpakaian formal keluar dengan tergesa-gesa. Dia menghampiri Anjani yang masih mematung sambil menutup telinga dengan kedua tangan, dan matanya pun terpejam rapat. Untuk seperkian detik pria itu dibuat terpaku. Dia tertegun sambil menatap wajah Anjani yang masih memejamkan mata. Namun, sejenak kemudian kesadarannya kembali. Dia mengerjap-ngerjap. “Nona, apakah Nona baik-baik saja? Maaf, karena saya sedang terburu-buru, sehingga saya membawa mobil dengan sangat kencang.” Pria pemilik mobil itu memegang bahu Anjani. Anjani terhenyak dan membuka mata. Matanya bersirobok dengan mata milik pria tersebut. Namun, dia lekas memutus kontak mata mereka. “Sa-saya … baik-baik saja. Maaf, karena saya hampir membuat Anda celaka. Permisi.” Anjani bergegas meninggalkan tempat itu. “Nona, tunggu!” Pria itu memanggil dan mengejarnya. Namun, Anjani sudah berlari dan semakin menjauh. Bibir pria itu terangkat, dia tersenyum menatap punggung Anjani yang semakin menghilang dari pandangan. Lalu dia bergegas masuk ke dalam mobil kembali dan pergi meninggalkan tempat itu. Anjani telah sampai di kontrakannya. Dia mengurung diri seharian hingga malam, sampai melupakan makan. Ucapan Juna yang menyuruhnya menggugurkan kandungan, selalu terngiang-ngiang. Hatinya benar-benar sangat terluka. ‘Apa yang harus aku lakukan? Pak Juna benar-benar sangat menyakiti dan melukai perasaanku. Tidak akan mungkin jika aku masih bertahan bekerja di MA Company. Lebih baik aku berhenti saja bekerja di sana. Tapi —’ ‘Tapi bagaimana dengan denda royalti itu? Jika aku berhenti, maka aku harus mengganti royalti sebesar 300 juta. Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu. Bekerja berpuluh-puluh tahun pun, aku tetap tidak bisa mengumpulkan uang sebanyak itu.’ Anjani kebingungan. Dia sudah membulatkan hati untuk resign, tetapi dia bingung memikirkan royalti yang harus dibayarnya. Jika dia resign dari MA Company, lalu dia akan bekerja apa dan di mana? Mengingat sekarang sangatlah sulit mencari pekerjaan. Anjani memegang perutnya yang masih rata. Dia menangis tergugu. Kini tanggungannya semakin berat, karena dia harus memikirkan bayi dalam kandungannya. “Aku harus kuat. Aku harus tegar. Semua ini demi anak dalam kandunganku. Anakku tidak berdosa. Aku lah yang berdosa atas bencana ini. Aku akan berhenti dari MA Company, dan mencari pekerjaan di tempat lain,” monolognya. Pagi pun tiba. Anjani terbangun karena merasa mual. Dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan kuning yang terasa pahit. Dia teringat dengan perkataan bidan yang membahas tentang morning sickness. Kini dia baru paham maksud dari perkataan bidan tersebut. ‘Ternyata ini yang Bu Bidan maksud dengan morning sickness. Aku baru mengalaminya. Apakah setiap wanita hamil memang mengalami morning sickness?’ batinnya. Pagi itu Anjani bolak-balik kamar mandi. Setiap dia baru akan merebahkan tubuh untuk beristirahat karena tubuhnya lemas, tapi tiba-tiba rasa mual itu secara mendadak menyerangnya. Dengan gontai dia berjalan ke kamar mandi hingga berulang kali. ‘Ah … sepertinya sangat enak dan segar makan buah mangga muda. Tapi yang memetik dari pohonnya langsung. Oh iya, aku pernah melihat di depan rumah ibu kontrakan ada pohon mangga yang sedang berbuah. Lebih baik aku ke sana saja.’ Dengan wajah berseri-seri Anjani menghampiri rumah pemilik kontrakan. Air liurnya sudah menetes membayangkan makan rujak mangga muda. “Assalamualaikum, Bu Tuti.” “Wa’alaikumsalam. Ada apa Anjani, tumben pagi-pagi ke rumah ibu.” Tuti, pemilik kontrakan keluar menghampiri. “Saya mau beli mangga muda punya Ibu. Saya pengen ngerujak.” “Kamu lagi ngidam?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN