Pingsan

1055 Kata
Sejak saat itu, di mana Anjani mengajukan surat pengunduran diri, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Juna, sehingga dia tetap bertahan bekerja di perusahaan milik Juna tersebut. Dan setiap hari Juna selalu berkunjung ke MA Company hanya untuk menuntaskan hasratnya pada Anjani secara paksa. Anjani tak kuasa menolak, pergi pun ia tak mampu. Kini hidupnya benar-benar sudah seperti tawanan sang CEO. Sementara para karyawan wanita selalu histeris setiap kali melihat kedatangan Juna di MA Company, sebab pria tampan itu tidak seperti biasanya berkunjung setiap hari ke perusahaan tersebut. Biasanya dia datang jika akan melakukan audit saja. Mereka mencari perhatian setiap kali berpapasan dengan Juna. Dan bahkan ada banyak wanita yang terang-terangan menawarkan diri untuk dijadikan wanita pemuas hasratnya saja. Namun, Juna tak pernah menggubris mereka. Meskipun para karyawan wanitanya cantik-cantik dan seksi-seksi, tetapi dia tak berminat. Sejak dulu Juna memang tidak pernah mau bermain dengan karyawan di perusahaannya. Ia selalu mencari wanita penghibur di luar sana. Bian yang selalu mencarikan untuknya. Hanya Anjani-lah karyawan wanita satu-satunya yang ia sentuh. Itu pun tanpa disengaja secara langsung, karena ia terlibat urusan dengan Ardan. Sore itu ketika waktu sudah menunjukkan pukul 4.00 pm, saatnya para karyawan pulang bekerja. Namun, tidak dengan Anjani, karena Juna menahannya agar tidak pulang. “Jani, aku ingin malam ini kamu lembur,” ujar Juna. “Lembur apa maksud Bapak? Karena semua karyawan sudah pulang semua, hanya tinggal kita berdua saja dan security yang berjaga malam, Pak. Lagipula, saya akan mengerjakan apa malam-malam di sini, sebab saya bukan bekerja di bagian operator, melainkan hanya sebagai cleaning service yang —” “Cukup! Sekarang kamu sudah berani, ya, berbicara panjang lebar. Kamu sudah mulai berani membantah perintahku, hmm.” Juna menatap tajam seraya tangannya dimasukkan ke saku celana. Dia memotong ucapan Anjani yang menurutnya sudah berani banyak berbicara. Anjani menunduk, dia tak berani menatap wajah Juna yang kini sangat menyeramkan. Dirinya juga bingung sendiri mengapa seberani itu berkata panjang lebar hingga memancing amarah Juna. “Kamu membantahku?” Juna memegang dagu Anjani hingga mendongak. Mata mereka saling berpandangan. “M-maaf, Pak. S-saya tidak berani membantah Anda.” Suara Anjani bergetar. Juna menghela napas, lalu dia melepaskan tangannya dari dagu Anjani. “Ok. Jadi aku ingin malam ini kamu lembur melayaniku di atas ranjang!” Mata Anjani membola mendengarnya. Dia menggeleng dan beringsut mundur. Siang hari tubuhnya sudah lelah dan sakit akibat perbuatan Juna. Dan sekarang, malam hari pun dia masih menginginkan tubuhnya. Tubuhnya lemas seketika. Tungkai kaki sudah tak kuat menopang tubuh hingga akhirnya dia jatuh terduduk di lantai. Air mata pun kini luruh tanpa diminta. Bahunya berguncang. ‘Ya Tuhan, tolong ampuni semua dosaku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menjalani kehidupanku yang semakin hari semakin kelam ini. Di dunia ini tidak ada lagi tempatku mengadu selain padamu. Jika aku tidak ingat dosa yang sangat besar, sudah sejak dulu aku pasti sudah mengakhiri hidupku.’ Anjani berbicara di dalam hati. Tangannya menyusut air mata yang semakin membanjiri pipinya. Juna sedari tadi memperhatikannya. Namun, dia tak mempedulikan perasaan gadis tersebut. “Jani, bangun! Aku sudah tidak tahan lagi rasanya ingin segera menikmati tubuhmu yang sudah menjadi canduku. Cepat, layani aku, puaskan aku!” Malam itu, Juna kembali merudapaksa Anjani. Meskipun sudah sering kali mereka melakukannya, tapi Anjani masih saja memberontak di setiap Juna menggagahinya. Karena dia benar-benar sangat terpaksa dengan semua itu. Berbeda halnya dengan Juna, sebab dia begitu menikmatinya hingga melakukannya berulangkali. Hari-hari pun berlalu. Tanpa terasa sudah 2 bulan lamanya Juna selalu merudapaksa Anjani. Tak kenal lelah pria itu selalu melakukannya siang dan malam di gedung MA Company tanpa diketahui oleh orang lain. Siang itu, seperti biasanya Anjani sedang beristirahat siang. Entah mengapa saat itu dia sangat enggan untuk ke kantin. Sejak pagi perutnya belum dimasuki makanan sedikitpun, tetapi dia tak merasa lapar sama sekali. Anjani memilih pergi menuju mushola yang disediakan di perusahaan tersebut. Dia melaksanakan ibadah 4 rakaat. Setelah itu dia memilih untuk beristirahat di mushola. Namun, baru saja dia akan memejamkan mata, tiba-tiba seorang office boy datang menghampirinya. “Mbak Anjani. Pak Juna manggil Mbak. Katanya cepetan ke ruang kerjanya sekarang. Tadi Pak Juna chat dan nelpon Mbak, tapi gak aktif.” Office boy tersebut berkata sambil berdiri. Anjani terhenyak. Dia baru menyadari jika ponselnya yang diletakkan di loker masih offline. Karena jika di jam kerja, maka ponsel milik seluruh karyawan harus ditaruh. “I-iya, Mas Danang. Terima kasih, ya. Aku ke sana sekarang.” Anjani bangkit. Dengan langkah lesu dia berjalan menuju ruang kerja Juna. Sebenarnya dia sangat malas untuk bertemu dengan sang CEO tersebut, tetapi dia cukup sadar diri. Dirinya yang hanya orang bawahan tak akan mampu menentang sang atasan yang memiliki segalanya. Tok! Tok! Tok! “Masuk!” Suara lantang terdengar menyeramkan di telinga Anjani. Perlahan dia masuk seraya menunduk. “Mengapa aku chat dan telpon, tapi ponselmu tidak aktif?! Apa kamu sengaja tidak mengaktifkan ponselmu untuk menghindari aku? Memangnya mengapa jika aku selalu menghubungimu?” Tanpa berbasa-basi Juna langsung mencecari Anjani dengan pertanyaan beruntun. Anjani bergeming. Dia sudah menduga jika Juna akan sangat murka padanya. Pria itu setiap saat selalu mencari-cari kesalahannya agar selalu ada untuk bahan pelampiasan emosi. “Jani! Jawab aku!” Tangan Juna mencengkeram rahang Anjani. Namun, seketika dia melepaskan cengkeramannya. Dia terkejut ketika kulit tangannya terasa terbakar saat bersentuhan dengan kulit wajah Anjani. “Jani … kulit wajahmu sangat panas sekali. Apa yang ter —” Bruk! Ucapan Juna terputus karena tubuh Anjani terjatuh ke dadanya. Juna seketika panik. Dia langsung membopong tubuh mungil itu, lalu diletakkan di sofa tempat mereka setiap kali bercinta. Juna tidak mengerti apa yang tengah terjadi pada gadis malang di hadapannya. Karena dia tidak pernah menangani hal-hal semacam itu. Juna hanya menatap wajah Anjani yang pias. Anjani terlihat gelisah. Matanya terpejam, tetapi kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, karena dampak suhu tubuhnya yang panas. Seperti ada magnet yang menarik tubuh Juna, hingga membuat pria tersebut perlahan menaiki sofa. Sofa yang luas seperti ranjang itu mampu menampung kedua tubuh manusia itu untuk tidur terlentang. Juna merebahkan tubuhnya di samping Anjani. Lalu dia mendekap tubuh mungil tersebut. Anjani yang tadinya sangat gelisah, tiba-tiba berubah tenang. Dia balas memeluk tubuh tinggi besar itu, lalu meletakkan kepalanya di d**a Juna yang bidang dan berbulu. Tanpa sadar bibir Juna terangkat membentuk sebuah senyuman tipis, kemudian dia pun ikut terlelap. Sepasang anak manusia itu tidur dengan berpelukan. “Baby, apa yang kamu lakukan ..?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN